REFLEKSI: Salakah dikatakan bahwa bagi Indonesia bukan lagi ancaman, tetapi kenyataan penderitaan hidup sehari-hari bagi rakyat mayoritas, karena semua lapangan dan tingkat struktur negara baik sipil, militer mau pun agama dikuasai oleh tukang tipu muslihat bin garong. Akibatnya angka jumlah rakyat miskin terus meningkat menjulang ke angkasa nan biru, sejajar dengan itu menghilang pula kekayaan alam milik rakyat dalam proposi yang tidak terbayangkan. Kenang-kenangan yang ditinggalkan hanya berupa tanah-tanah gundul berasap dan lobang-lobang besar tanda perut bumi yang makin kosong .Indonesia menjadi negara ilusi.
http://www.lampungpost.com/aktual/berita.php?id=1384 Sabtu, 18 November 2006 EKONOMI RI Ajak APEC Cegah Ancaman Ekonomi ANCAMAN PEREKONOMIAN, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berpidato dengan tema ''The Economic Threats of The Future: Are The Responses of Today Adequate?'' (Ancaman Ekonomi ke Depan: Cukupkah Respons Saat Ini?) pada Forum CEO APEC di Hanoi, kemarin.(AFP) HANOI (Lampost Online) - Indonesia mengajak peningkatan kerja sama antaranggota Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) untuk memerangi ancaman keamanan ekonomi. Ajakan itu disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di depan peserta CEO Summit pada forum KTT APEC di Hanoi, Vietnam, kemarin. "Tidak ada satu negara pun di dunia ini yang mampu mengatasi ancamanancaman itu sendirian. Sebab, ancaman tersebut sifatnya lintas negara," ujar Presiden SBY. Ancaman tersebut, lanjut Presiden, bisa berasal dari krisis finansial, aksi teroris, bencana alam seperti tsunami, gempa bumi, kebakaran hutan, serta penyakit sejenis SARS dan flu burung. Presiden SBY tiba di Vietnam kemarin pukul 15.05 WIB, lebih cepat 10 menit dari waktu yang dijadwalkan. Turut dalam rombongan antara lain Ibu Negara Ani Yudhoyono, Mensesneg Yusril Ihza Mahendra, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) M Lutfi, serta Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) MS Hidayat. Presiden dan rombongan dijemput Menlu Hassan Wirajuda, Mendag Mari Elka Pangestu, dan Duta Besar Indonesia untuk Vietnam Artauli Tobing. Hari ini, Presiden akan mengikuti pertemuan antara negara-negara Asia Tenggara anggota APEC dan Amerika Serikat (AS), serta pertemuan bilateral dengan PM Singapura Lee Hsien Loong. Presiden juga akan mengikuti pertemuan para pemimpin ekonomi APEC sesi pertama dan pertemuan dengan APEC Business Advisory Council (ABAC). Presiden menjelaskan, ketika APEC didirikan pada 1989, saat itu belum ada ancaman ekonomi dunia. Tanpa disadari, ancaman tersebut kemudian muncul di banyak negara. Namun yang disesalkan, tidak ada langkah jangka panjang untuk mengatasi ancaman tersebut. Kemiskinan, kata Presiden, adalah ancaman yang paling penting diwaspadai. Berdasarkan data statistik, hampir tiga miliar penduduk dunia memiliki pendapatan kurang dari USD2 (Rp18.000) per hari. Selain itu, ancaman lain yang tidak kalah serius adalah korupsi. "Kami di Indonesia menyatakan korupsi sebagai musuh masyarakat nomor satu," kata Presiden. Karena itu, lanjut Presiden, harus ada langkah penting untuk mewujudkan Asia Pasifik sebagai kawasan bebas korupsi. Untuk mewujudkan hal itu, perlu kerja sama yang lebih erat antarnegara anggota. Menurut Presiden, partisipasi 27 negara di ADB/OECD dalam Inisiatif Antikorupsi di Asia Pasifik merupakan perkembangan positif. "Ini sangat penting untuk rakyat kita, untuk bisnis, dan untuk APEC," tandasnya. Flu Burung Pada bagian lain, Presiden SBY mendesak anggota APEC secara intensif memerangi virus flu burung sekaligus mencari rencana ekonomi yang tepat jika penyakit tersebut menjadi pandemik. Data World Health Organization (WHO) menunjukkan, sejak kemunculannya pada 2003 lalu, virus berjuluk H5N1 ini telah membunuh sedikitnya 153 orang di dunia. Dari jumlah itu, sepertiganya adalah penduduk Indonesia. Tanpa penanganan yang terpadu, kata Presiden, virus ini bakal mengancam populasi manusia, yang juga berimbas pada pertumbuhan ekonomi. Dikhawatirkan, ke depan, virus ini bermutasi dan dapat menular dari manusia ke manusia. Pada Minggu (19/11), Presiden antara lain akan menghadiri sesi kedua pertemuan para pemimpin ekonomi APEC, jamuan santap siang resmi, serta mengikuti Deklarasi Pemimpin Ekonomi APEC. Presiden dan rombongan akan meninggalkan Hanoi menuju Jakarta sekitar pukul 16.45. Sambutan Bush Sepi Presiden AS George W Bush yang tiba lebih dulu di Vietnam tetap konsisten mengangkat isu perang Irak. Bush menghubungkan perang Irak dan perang Vietnam dengan mengatakan bahwa perang AS melawan Vietnam puluhan tahun silam memberikan pelajaran berharga bagi tentara AS. Pelajaran itu adalah kesabaran dalam menangani perang. "Kami pasti akan berhasil. Kecuali jika kita menyerah," katanya. Lebih lanjut Bush mengatakan, jika saat ini banyak orang yang menginginkan kesuksesan terjadi dalam waktu singkat. Tapi dalam masalah Irak, Bush mengatakan bahwa hal itu perlu waktu. Sebelumnya, Bush sempat bertemu dengan Perdana Menteri Australia John Howard. Kepada Howard, Bush berbicara tentang perubahan strategi di Irak. Sejak Partai Republik, pendukung Bush kalah dalam pemilu sela 7 November lalu, Bush ditekan Kongres dan Senat AS untuk mengubah kebijakan di Irak. Banyak anggota Kongres dan Senat AS yang menghubungkan perang Irak dengan perang Vietnam. Bush dianggap mengulang sejarah kegagalan perang Vietnam di Irak. Mereka menyarankan Bush menarik mundur pasukannya di Irak. Di pihak lain, Bush bersikeras yakin kemenangan Irak sudah di depan mata. Kedatangan Bush di Hanoi tidak mendapat sambutan warga setempat. Karena mereka lebih menyukai mantan Presiden Bill Clinton daripada Bush. Saat Clinton berkunjung ke Vietnam pada 2000 silam, banyak warga Hanoi menyambutnya dengan antusias. Mereka bahkan rela tidak tidur untuk bisa melihat wajah Clinton. "Saya kira rakyat Vietnam lebih senang Clinton daripada Bush," kata Nguyen Tran Thang, warga Hanoi yang tinggal di dekat Hotel Sheraton tempat Bush dan istrinya, Laura menginap. "Dulu, saat Clinton datang, banyak warga di sini yang memakai kaus bertuliskan 'Saya Cinta Clinton'." Sementara saat Bush datang, tidak ada seorang warga pun yang sengaja berdiri melihatnya. Hanya ada barisan pengawal yang mengiringi Bush dari bandara ke hotel. Satu-satunya warga yang menyambut kedatangan Bush adalah seorang biarawati berusia 30 tahun. Dia mengatakan ingin melambaikan tangan kepada Bush sebagai pertanda bahwa rakyat Vietnam berwatak ramah. Namun karena penjagaan yang super ketat, dia tidak bisa mendekat dan meluluskan rencananya. Atasi Kemiskinan Presiden China Hu Jintao sibuk berbicara di depan ratusan pebisnis yang hadir dalam Konferensi Tingkat Tinggi APEC. Hu mendesak para pengusaha untuk tidak hanya memfokuskan usahanya guna menembus pasar global. Tapi lebih dari itu, imbuh Hu, harus ada kebijakan untuk menyejahterakan rakyat. "Saya mohon pada Anda agar lebih memprioritaskan bisnis dan membuka pasar yang lebih luas di negaranegara berkembang," himbau Hu. Lebih lanjut Hu mengatakan bahwa tujuan APEC salah satunya untuk mempersempit jarak antara si kaya dan si miskin. Karena itu, Hu berharap ada partisipasi bisnis antara semua negara anggota APEC agar tujuan ini tercapai. Hu menyarankan agar ada bantuan dan fasilitas lebih bagi pertumbuhan ekonomi dan perdagangan di negaranegara berkembang. Pidato Hu ini cukup berbeda di banding para petinggi lain di APEC. Jika sebelumnya Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice lebih menyoroti isu perdagangan bebas, flu burung dan terorisme, Hu lebih memilih isu ekonomi berbasil sosial. Pidato Hu ini disambut meriah oleh hadirin. Sejak APEC di bentuk pada 1989, gerakan antiperdagangan bebas, terutama organisasi buruh, menuduh APEC sebagai forum para pengusaha dan orang kaya. Mereka yakin kebijakan APEC hanya menguntungkan pihak pengusaha, bukan para buruh. (Ant/AFP/Rtr/CR-22) [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
