REFLEKSI:  Hemat saya sebaliknya, tanpa matematik filsafat menjadi lemah, 
karema pada umumnya para filsafah adalah penggemar matematik. Selain itu 
dibutuhkan berbahasa yang bukan gado-gado. 

http://www.suarapembaruan.com/News/2007/01/12/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 
Tanpa Filsafat, Pendidikan Matematika Menjadi Lemah

[SURABAYA] Lemahnya pendidikan matematika di Indonesia merupakan akibat tidak 
diajarkannya filsafat atau latar belakang ilmu matematika. Dampaknya, siswa, 
bahkan mahasiswa, pandai mengerjakan soal, tetapi tidak bisa memberikan makna 
dari soal itu. Matematika hanya diartikan sebagai sebuah persoalan 
hitung-hitungan yang siap untuk diselesaikan atau dicari jawabannya. 

Demikian diungkapkan Prof Dr Maman A Djauhari guru besar dari ITB dalam acara 
pembukaann Konferensi Matematika dan Statistika antara Indonesia-Malaysia, yang 
digelar di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Kamis (11/1) 
siang. 

Konferensi untuk kedua kalinya ini digelar selama dua hari,11-12 Januari, 
diikuti para pakar matematika dan statistika dari Malaysia dan Indonesia dengan 
pemaparan hasil kajian oleh lima orang doktor dan profesor dari Malaysia. 


Pengguna Ilmu 

Dikatakan Maman, karena tidak menyampaikan tentang filsafat matematika, ke 
depan Indonesia masih tetap sebagai bangsa yang hanya sebagai pengguna ilmu, 
bukan penemu ilmu. ''Kondisi ini sangat memprihatinkan, karena memang pola 
pendidikan kita mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, tidak 
diposisikan sebagai orang yang disiapkan untuk menjadi penemu ilmu. Siswa dan 
mahasiswa lebih diposisikan sebagai pengguna ilmu. Fakta ini sangat 
memprihatinkan dibanding dengan kita dicap hanya sebagai bangsa pengguna 
teknologi,'' katanya. 

Akibat dari semua itu kata dia, sering ditemui siswa atau mahasiswa tidak mampu 
memberikan penjelasan atau interpretasi terhadap sebuah soal dalam matematika. 

Misalnya, Maman menyodorkan sebuah contoh, betapa para siswa SMA dan mahasiswa 
akan dengan mudah dan dipastikan benar, manakala diminta untuk mengerjakan soal 
determinan dari sebuah materik. Tapi ketika ditanya lebih lanjut apa makna dan 
pengertian dari determinan yang telah dikerjakannya itu, hampir dapat 
di-pastikan, tidak ada yang mengerti. 

"Inilah problem dasar pada pendidikan matematika kita di Indonesia. Siswa atau 
mahasiswa tidak dibiasakan untuk menginterpretasikan sebuah persoalan. Padahal, 
kita tahu, matematika itu adalah interpretasi manusia terhadap fenomena alam,'' 
katanya. 

Terhadap kelemahan itu, kata Maman memang tidak ingin kemudian melakukan 
perubahan terhadap kurikulum matematika yang sudah ada, tapi ia hanya berharap 
ada perubahan paradigma dan cara pandang baru tentang bagaimana unsur-unsur 
filsafat itu bisa diberikan kepada siswa dan mahasiswa. 

"Tentu ini ditujukan kepada para guru dan dosen agar apa yang diberikan kepada 
para peserta didiknya harus dilengkapi dengan berbagai penjelasan dan latar 
belakang terhadap sebuah rumus yang telah diyakininya itu, sebagai sebuah 
pengetahuan filsafat,'' katanya. [029] 


Last modified: 11/1/07 

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke