http://www.indomedia.com/bpost/012007/15/opini/opini4.htm
Tiket Murah Risiko Mahal HILANGNYA pesawat Adam Air dalam penerbangan Surabaya - Manado pada 1 Januari lalu, mengundang kecaman yang tak henti-hentinya dari masyarakat. Sasaran pertama tentulah pemerintah sebagai penanggung jawab penyelenggaraan berbagai angkutan, yang dinilai tidak ketat dalam menerapkan peraturan sehingga rentan menimbulkan risiko. Semua orang prihatin karena begitu lama upaya pencarian lewat darat, laut dan udara tak membuahkan hasil. Bahkan tanda-tanda yang sudah terbaca lewat berbagai penemuan reruntuhan badan pesawat pun, tidak segera memberi jawaban di mana pesawat dan penumpangnya. Sejarah penerbangan komersial di Indonesia mencatat, sejak beroperasinya penerbangan komersial baru sekarang pesawat terbang begitu gampang dijangkau oleh masyarakat yang berkantong tipis. Ini berkat persaingan dalam bisnis penerbangan yang makin ketat, sehingga harga tiket menjadi jauh lebih murah dibanding sebelumnya. Pesawat dari maskapai apa pun, sekarang selalu dipadati penumpang dengan tujuan ke berbagai daerah. Angkasa di dalam negeri menjadi begitu sibuk. Kapal laut atau kereta api eksekutif di Jawa yang harga tiketnya nyaris sama dengan pesawat, menjadi sepi penumpang. Kebetulan masyarakat sekarang ingin serba cepat. Kita juga melihat kesibukan di bandara yang tiada henti dari pagi sampai malam, aktivitasnya luar biasa. Terminal I Bandara Soekarno - Hatta Jakarta yang menjadi pusat kegiatan dari berbagai maskapai penerbangan dalam negeri, tidak lagi memberi kesan sebuah bandara yang biasanya bersih dan elit. Kini ojek pun mangkal di sana untuk melayani penumpang pesawat yang ingin berhemat. Di bandara yang lain lebih kacau lagi, ada orang yang menunggu pesawat sambil tidur menggelar tikar atau selonjor di kursi tunggu, bahkan ada yang menyempatkan mandi di kamar kecil. Gambaran di atas menunjukkan betapa pesawat terbang telah menjadi sarana untuk masyarakat luas, bukan hanya yang berduit. Dan, ternyata maskapai penerbangan masih bisa untung. Jadi, kalau selama ini maskapai penerbangan di Indonesia dimonopoli negara dengan harga tiket yang selangit, seharusnya bisa untung besar juga. Nyatanya tidak demikian. Baru setelah persaingan usaha penerbangan dibuka, semuanya terjawab. Kuncinya adalah manajemen. Berbagai maskapai penerbangan swasta berani beroperasi dengan harga tiket yang murah dan bisa meraih keuntungan. Memang jangan mengharapkan penerbangan yang nyaman dan pelayanan istimewa. Cukup segelas air mineral. Tetapi di sinilah orang sering lengah, penekanan biaya di sana-sini menyebabkan hak penumpang dikurangi. Misalnya WC yang tidak bersih atau kursi yang nyaris jebol. Ini masih mendingan, kalau hak penumpang atas keselamatan penerbangan juga ikut dirampas demi penghematan, tentu sangat berbahaya. Memang tidak ada perusahaan yang menginginkan demikian. Tetapi sekali lagi, kelengahan itu bisa saja terjadi. Pesawat Adam Air bukan sekali ini saja mengalami bencana, meski tidak seberat yang sekarang. Sebelumnya pesawat Adam Air mendarat darurat di lapangan terbang kecil di Nusa Tenggara Barat, gara-gara navigasinya tidak berfungsi. Untung masih bisa menemukan landasan, jika tidak apa jadinya. Kecelakaan Adam Air dengan 102 penumpang termasuk awak pesawat yang terjadi sekarang, kabarnya juga karena navigasi tidak berfungsi. Sebelum kehilangan kontak sama sekali, pilot pesawat tersebut sempat menghubungi menara Bandara Hasanuddin Makasar untuk menanyakan di mana posisi Adam Air sekarang. Jika navigasi berfungsi, pilot tak perlu kebingungan. Pengalaman seperti ini harus makin memicu pemerintah untuk menegakkan aturan dalam dunia penerbangan. Pesawat tidak boleh dipaksakan terbang kendati penumpang menunggu, jika kondisinya memang tidak laik. Jangan hanya menggunakan asuransi pesawat sebagai rujukan. Di mana pun, pesawat komersial pasti diasuransikan. Namun, jika kondisinya tidak memenuhi syarat perusahaan asuransi akan menolaknya. Tetapi ini bukan alasan untuk memberi izin terbang, faktor keselamatan yang lain tetap harus diperhitungkan. Perusahaan asuransi di mana pun tak akan pernah rugi apalagi bangkrut hanya dengan memberikan klaim. Kita harapkan pemerintah makin besungguh-sungguh menerapkan aturan. Apa gunanya harga tiket murah kalau risikonya mahal. Bukan hanya pesawat, terhadap perusahaan pelayaran yang baru saja mendapat musibah dengan tenggelamnya Kapal Senopati Nusantara dengan 600 penumpang lebih, atau kereta api yang terus menerus mendapat musibah tabrakan, teguling atau anjlok, pemerintah juga harus tegas menerapkan aturan dan sanksi. [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
