http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2007010800553515
Senin, 8 Januari 2007
BURAS
Di Balik Deman Berdarah!
H.Bambang Eka Wijaya:
SEORANG ibu bergegas membawa balitanya ke puskesmas. "Tolong Dokter,
tubuh anak saya panas sekali!" ratapnya. "Kata tetangga kalau panasnya tinggi
cepat bawa ke dokter, takut kalau demam berdarah!"
Dokter segera memeriksa si balita. "Perutnya kosong gembung!" ujar
dokter. "Apa nafsu makannya tak ada?"
"Nafsu makan?" sambut si ibu. "Dia sering menangis minta makan!
Makanannya yang tak ada! Bapaknya cari duit untuk belanja kadang dapat kadang
tidak! Jadi, kadang makan kadang tidak!"
"Kenapa sampai tak makan? Kan ada raskin!" tegas dokter. "Juga ada
posyandu, membagi makanan tambahan untuk balita!"
"Raskin kan harus dibayar!" jawab ibu. "Soal posyandu, saya dengar juga
begitu! Tapi saya cari di sekitar kami, katanya dulu ada, sekarang tak ada
lagi!"
"Begitu?" ujar dokter. "Kuberi obat buang angin, tunggu suster menyiapkan
makanan!"
"Jadi anak saya tak kena demam berdarah?" kejar ibu.
"Kita cek darahnya!" jelas dokter. "Sebelum itu harus diatasi dulu angin
dan kekosongan perutnya! Masuk angin seperti ini tak kalah serius akibatnya
dari demam berdarah!"
"Kalau masuk angin akibat lapar panjang kena demam berdarah pula, berarti
sakitnya parah, ya Dok?" tanya ibu.
"Jelas!" jawab dokter. "Karena lapar panjang atau malanutrisi itu sember
penyakit! Dengan menderita malanutrisi tubuh balita jadi rentan, kekebalan
tubuhnya rendah, mudah dijangkiti segala macam penyakit! Apalagi kalau kena
demam berdarah, jelas bisa fatal akibatnya!"
"Kalau tubuhnya lebih kuat, diserang demam berdarah masih bisa bertahan?"
kejar ibu.
"Mayoritas pasien demam berdarah yang kondisi fisiknya lebih baik bisa
bertahan!" jawab dokter.
"Kalau begitu penyakit lapar panjang yang membuat tubuh balita fatal jika
kena penyakit lain sebenarnya lebih berbahaya dari demam berdarah yang kalau
kondisi tubuhnya baik, mayoritas tak berakibat fatal?" sambut ibu. "Tapi kenapa
demam berdarah mendapat prioritas perawatan, sedang lapar panjang tak
diprioritaskan seperti itu?"
"Karena demam berdarah urusan dokter, jadi diprioritaskan dokter!" tegas
dokter. "Sedang lapar panjang bukan urusan dokter, tapi urusan ekonom dan
politisi! Jadi kalau hal itu tak diprioritaskan bukan salah dokter karena bukan
tanggung jawab dokter!"
"Lantas yang diprioritaskan mereka yang bertanggung jawab itu apa?" kejar
ibu.
"Ibu, dokter tidak kompeten mendiagnosis tanggung jawab orang lain!"
tegas dokter. "Tapi jika tanggung jawab mereka dijalankan dengan baik, kerja
dokter lebih ringan karena tubuh rakyat lebih kebal terhadap penyakit!"
"Kenapa dokter tak ambil alih saja tanggung jawab mereka agar
prioritasnya lebih jelas?" kejar ibu.
"Tak bisa!" tegas dokter. "Tanggung jawab membuat prioritas itu diberikan
rayat!"
"Jadi karena rakyat yang memberikan prioritas, dikira rakyat sudah tak
lagi butuh prioritas?" timpal ibu. "Maka itu mereka lebih memprioritaskan
kepentingan sendiri!" ***
[Non-text portions of this message have been removed]
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/