From: "angel" <[EMAIL PROTECTED]>

: Mas Dipo, saya orang awam di bidang technology automotive. Membaca
: issue nuclear yang mas Dipo tulis di bawah ini, saat menulis ini
: saya sedang berpikir, apakah technology mampu mengganti bahan bakar
: minyak dengan energy yang di hasilkan oleh energy nuclear? Saya
: pikir, energy is energy pasti bisa di transform ke dalam berbagai
: bentuk.

Angel, awam juga manusia :) punya harapan dan hak bersuara, terutama 
ketika satu-satunya harapan yang dimiliki (bumi) terus-menerus 
diperkosa secara brutal sampai tak sempat lagi mengerang "setooop..." 
apalagi memberi harapan pada penghuninya.

Sebagai sesama awam, mari kita bicara saja secara awam. Tentang 
harapan, tentang idea. Soal perumusan dan penerapannya, biarlah 
menjadi urusan mereka-mereka yang 'tidak awam' dan bergumul di 
ruang-ruang rapat serta laboratorium. Kita-kita di alam maya ini, 
cukup bertukar kata yang inspiratif.

: >
:  Kita bayangkan, sampai kapan industry automotive bisa bertahan
: dengan ketergantungan bahan baku minyak? Saat ini sudah sangat jelas
: terlihat, kenaikan bahan bakar minyak di dalam penggunaan automotive
: sangat relevan dengan ketahanan ekonomi suatu negara. Power
: struggling sedang dan akan terus berlangsung demi emas hitam
: tersebut, yang jelas emas hitam tersebut tidak akan beregenerasi
: dengan cepat bukan? Jadi pasti masalah2 besar demi memperebutkan
: sumber daya alam tersebut akan terus meningkat, sampai pada saatnya
: pasti mencapai kulminasi yang tidak kita inginkan bukan?

Sebetulnya, dengan Amerika Serikat menolak menandatangani Kyoto 
Protocol atau juga bersikap 'sok unik' dalam Earth Summit di Rio, 
dunia dipaksa memulai pendakian ke puncak yang tidak kita inginkan.

Antara lain itu sebabnya tahun 2002 lalu jutaan orang di London, 
Paris, Tokyo, Sydney, LA, JKT, Delhi dll, serempak memprotes serangan 
militer AS ke Irak yang dicurigai sebagai sikap ndablegnya AS untuk 
terus menyemprotkan CO2 ke udara melalui penguasaan sumber-sumber 
minyak di Irak. Kecongkakan yang dinilai para demonstran sebagai 
mengakselerasi pendakian ke titik kulminasi.

Dengan demikian bisa dimengerti jika jutaan demonstran melihat kaitan 
erat antara serbuan militer ke Irak dan perkosaan terhadap ibu 
pertiwi. Antara pemanasan global + perubahan iklim dan kerakusan 
kapitalis.

Kita semua menjadi saksi bahwa BBM bukan cuma konsumsi industri 
otomotif, tetapi bahkan menjadi bahan bakar utama yang menopang 
peradaban modern. Seingga krisis BBM dengan sendirinya juga menjadi 
krisis peradaban. Dan kemarin itu, si "semak berjalan" berusaha 
membelokkannya seolah krisis BBM cuma persoalan otomotif. Jelas dia 
terlalu bodoh kalau tidak mau melihat akibat yang timbul terhadap 
perekonomian global ketika tahun lalu harga minyak dunia mental
menembus jauh di luar batas kewajaran.

Bisa dimengerti jika negara-negara yang 20 tahun terakhir bisa membaca 
gelagat, tidak ragu lagi untuk membekali diri dengan energi nuklir.

: >
:  Bayangan saya, jika nuclear bisa di gunakan sebagai sumber energy
: di dalam bidang perlistrikan, mengapa tidak bisa di bidang sumber
: bahan bakar di automotive? Dapat kita bayangkan depot2 pertamina di
: suply bukan lagi oleh bahan bakar minyak.

Bayangan saya, tangki mobil / motor kita nantinya bukan lalu diisi 
bahan radioaktif, melainkan turunan dari itu. Kalaupun harus 
beradioaktif, jelas konstruksi kendaraannya tidak lagi memerlukan 
roda; mungkin lebih mengarah ke sistem teleport atau semacam itu. 
Perkembangan seperti ini sudah barang tentu akan mendapat perlawanan 
keras dari pabrikan otomotif konvensional yang terlanjur menikmati 
cara meraup keuntungan dengan jualan alat angkut beroda.

: >
: Saya tidak mengerti impact negative dari pengganti energy minyak
: dengan nuclear, tetapi jika dikatakan bahan nuclear itu jauh lebih
: murah dibandingkan minyak, mengapa masalah tersbut tidak dipikirkan?

Itulah yang terpikirkan oleh negara-negara seperti India, Pakistan, 
Iran, maupun Korea Utara. Dengan begitu, setidaknya dalam berdiplomasi 
pun mereka punya posisi tawar untuk menghadapi lima pemilik hak veto 
yang "kebetulan" adalah negara-negara bertenaga nuklir.

Betul, tidak ada salahnya untuk mulai serius memikirkan langkah yang 
diambil India dll. itu.

Seperti kata ryszard kapuscinski yang wafat 23 Januari kemarin:
"Tanpa berusaha mencoba cara-cara lain dalam memandang, merasakan, 
mengungkapkan, kita tidak akan mengerti apapun soal dunia"


: >
:
:  Salam Hangat
:  Angel




Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke