Lembaga Sastra Pembebasan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
   
  Date: Mon, 29 Jan 2007 08:57:23 -0800 (PST)
From: Lembaga Sastra Pembebasan <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: KISAH PAHIT SEORANG TAHANAN G30S "BULEMBANGBU" Oleh N. Syam. H ( VI ) 

   
    KISAH PAHIT SEORANG TAHANAN G30S
   
  BULEMBANGBU
Oleh  N. Syam. H

   
   
   Salemba:  - Pertemuan Keluarga Yang kedua - hal. 50 - 63    
  Pertemuan keluarga yang kedua ini pun diadakan saat hari besar, dalam rangka 
menyambut Tahun Baru 1968. Dan dalam perayaan Natal dan Tahun Baru bagi para 
tapol Nasrani atau Katolik ada juga kesempatan kebaktian. Malam Natal tahun itu 
Dewan Gereja memberikan bingkisan kepada para tapol, bingkisan itu berupa 
sekotak nasi lengkap dengan lauk pauknya untuk makan malam, menunya tentu saja 
menu khas Natal . Menurut ukuran para tahanan, menu itu sungguh sangat 
istemewa. Nasi komplit dengan lauknya daging dan sudah tentu masih ditambah 
kue-kue Natal yang belum pernah kami temui selama menjadi tahanan. Hanya 
sayangnya, bingkisan mewah seperti itu sudah tidak utuh lagi ketika sampai di 
tangan kami. Yang dimaksud dengan tidak utuh itu bukan isinya yang berkurang, 
tetapi jumlah bingkisan itu yang jadi berkurang. Ya, kami hanya menerima satu 
kardus nasi untuk berdua. 
   
  Dalam benakku terlintas pikiran, apa iya yang namanya Dewan Gereja setega 
itu, memberikan seorang tahanan hadiah Natal, yang hanya berupa nasi saja kok 
cuma separo kardus?, kalau memang tidak mencukupi apakah tidak lebih baik jika 
volumenya saja yang dikecilkan, sehingga gampang membaginya. Rasanya tidak 
mungkin, suatu Dewan Gereja yang sangat pemurah dalam membantu umatnya 
melakukan hal semacam itu. Taruhlah di seluruh Jakarta ada sepuluh ribu orang 
tahanan di penjara, apakah Dewan Gereja tidak mampu mecukupinya?. Hati kecilku 
berkata tentu, mereka pasti mampu.
   
  Ya begitulah nasib para tahanan, menerima apa saja  yang diberikan dan apa 
adanya menurut kehendak dan keputusan mereka yang sedang berkuasa. Akhirnya 
kami berkesimpulan, masih menerimanya saja sudah untung, seandainya bingkisan 
tidak disampaikan pada kami, kami pun tidak akan bisa berbuat apa-apa. Jadi 
sudah sepatutnya kami bersyukur. Terima kasih Dewan Gereja.
   
  Kembali pada pertemuan keluarga. Seperti biasa pertemuan keluarga diadakan 
pada pagi hari, tidak seperti pertemuan yang dahulu, pertemuan kali ini tidak 
dilakukan di lapangan, tapi diadakan di belakang kantor penjara, juga ada rasa 
sopan sedikit, halaman belakang kantor digelari tikar. Hatiku sedikit gembira 
ada harapan untuk bisa bertemu lagi dengan keluargaku.
   
  Benar saja hari itu aku mendapat kunjungan, aku kembali bertemu dengan istri 
dan anakku serta Ucih, gadis cilik yang momong anakku. Sesaat setelah kami 
bertemu, istriku membuka percakapan, “Gimana mas, sehat nggak sakit kan ?”
   
  “Sehat, pagi ini aku sangat sehat, semangat dan gairah untuk hidup terus 
bersamamu bangkit kembali. Ya cuma waktunya kapan?. Kau telah memenuhi 
janjimu,” jawabku sambil memangku anakku.
   
  “Janji apa mas?”
   
  “Lupa?, kapan kau pernah bilang padaku, mas, biar masuk kandang macan kalau 
sama sampeyan saya mau dan berani. Gitu kan ingat?” 
   
  “Aku kini ada di kandang macan, suatu ketika jika sang macan lapar bisa saja 
aku disantap, dikunyah dan ditelannya. Kini kau datang ke kandang macan, 
walaupun hanya di luar jeruji. Kau tetap istriku yang cantik dan setia.” 
Kupeluk dia dan kucium kedua pipinya, istriku meneteskan air mata. 
   
  Kembali aku teringat saat dulu aku melamarnya. Disuatu malam aku mengajaknya 
jalan-jalan menikmati udara malam kota Jakarta , kami berjalan-jalan sampai di 
sekitar proyek jalan By Pass. Capek jalan ngalor- ngidul duduklah kami di 
tumpukan balok-balok beton. 
   
  Aku kenal dengan pacarku memang sudah lama banget, dengan keluarganya pun aku 
sudah kenal lama karena kebetulan memang satu kantor, di pharmasi. Tidak kurang 
dari sepuluh tahun aku mengenalnya. Aku berkata dalam batinku, aku tidak bisa 
berbuat seperti ini terus-terusan tanpa ujung, kasihan dia. Maka kuberanikan 
diri, menyampaikan niat suciku. Kutempelkan bibirku di telinganya, lalu 
kukatakan kepadanya dalam bahasa Jawa, 
   
  “Dik, maukah kau menjadi istriku?” 
   
  Pacarku menjawabnya dalam bahasa Jawa pula, “Mosok aku emoh,mas”
  Deg nratap hatiku, apakah aku terlanjur berkata demikian, sudah siapkah aku 
menjadi suaminya?. Aku ingat banget, di dalam novel Siti Nurbaya, di sana ada 
adegan ketika Samsul Bachri menyatakan cintanya pada Siti Nurbaya, “Maukah kau 
kelak menjadi istriku?”, dan Siti Nurbaya pun menjawab, “Masak tak mau.” 
Persis, pacarku menjawab seperti jawaban Siti Nurbaya, hanya beda bahasa, jika 
Siti Nurbaya menjawab dalam bahasa Indonesia , pacarku menjawab dalam bahasa 
Jawa. Memang pacarku Jawanya masih medok. 

  “Mas, ojo meneh dadi bojo, iku pancen sing tak arep-arep, senajan mlebu 
kandang macan nek karo sampeyan, aku wani.” (apa lagi jadi istri itu memang 
yang kuharapkan, walau memasuki kandang macan sekalipun kalau sama mas, aku 
berani).
   
  Nggak terasa tanganku menggapai pundaknya, kupepetkan dadaku kedadanya, 
rapet. Kucium bibirnya, kuputar-putar lidahku dalam mulutnya. Sesaat aku lupa 
segalanya, cintaku diterimanya dengan penuh keikhlasan.
   
  Ya, itulah janjinya dulu, dan kini setelah ia menjadi istriku, ia membuktikan 
janjinya itu.
   
  “Mas, maafkan saya mas, sangat mungkin aku tidak bisa lagi membesuk sampeyan. 
Anggap saja besukkanku kali ini adalah besukkan terakhir, ya anggap saja 
begitu, supaya sampeyan tidak terlalu berharap, dan kalau suatu ketika aku bisa 
membesuk lagi, itu adalah anugerah Tuhan”
   
  “Lho memang kenapa?, kau dipecat dari kantormu?, apa kau tidak bekerja lagi?”
   
  “Nggak mas, saya nggak dipecat, saya tetap bekerja di kantor, tapi saya 
sekarang tidak tinggal di Utan Kayu lagi. Rumah kantor harus dikosongkan”
   
  “Ada petugas yang mengusirmu?, lalu kau sekarang tinggal dimana?”
   
  “Bukan mas, tidak ada petugas yang datang mengusir. Ada seorang perempuan 
yang datang dan mengatakan kalau dia adalah istri dari pemilik rumah kantor 
itu. Jadi saya harus meninggalkan rumah itu segera. Katanya rumah itu akan 
dijualnya, nanti kalau sudah laku, saya mau diberi ganti rugi”
   
  Aku jadi bingung, rumah yang aku tinggali bersama keluargaku itu memang 
adalah rumah kantor, aku menempatinya pun atas izin kantor, dan memang setahuku 
rumah itu seratus persen rumah kantor. Kok sekarang ada seseorang datang dan 
mengaku istri dari pemilik rumah kantor. Aneh?, siapa dia?. Terlintas dibenakku 
tentang sebuah pesan yang pernah kuterima dulu saat Santi Aji, oh mungkin 
perempuan itu adalah istri dari rekan sekantorku itu. Ya bener, ingat aku 
sekarang.
   
  “Kapan itu terjadi?” tanyaku
   
  “Sudah lama juga, lebih dari sebulan yang lalu”
   
  “Lantas sekarang kau tinggal dimana?, diberi ganti rugi berapa?”
   
  “Nggak, nggak dikasih ganti rugi. Rumah itu ternyata nggak dijualnya, tapi 
rumah itu malah akan dibangunnya dan ditempatinya sendiri. Sekarang aku tinggal 
di rumah kontrakan, jauh dari Utan Kayu. Terpaksa barang-barang simpananku tak 
jual semua untuk kontrak rumah, mas kan tahu berapa banyak sih simpanan barang 
milikku, itu pun masih kurang, aku harus menambahnya dengan uang dari pinjaman 
kantor untuk bisa kontrak selama setahun. Kalau nanti sudah habis setahun dan 
tidak bisa memperpanjang kontrak, ya nggak tahu. Maaf ya mas, bukan maksud saya 
untuk membebani pikiran sampeyan. Percayalah nanti juga ada jalan keluarnya.”
   
  Weh lha benar-benar sebuah pukulan telak. Kok bisa-bisanya rumah kantor 
diakui sebagai rumah milik suaminya, dan akan dibangun untuk menjadi rumah 
tinggalnya. Tega benar dia. Ya baiklah kalau rumah kantor bisa diakui dan 
dihaki menjadi rumah miliknya itu tidak apa-apa, aku malah cenderung 
menyokongnya dari pada rumah itu dijarah buto ijo. Tetapi yang menjadi ganjalan 
dan yang mengenaskan, kok dia benar-benar tega, menyuruh istriku meninggalkan 
rumah tanpa memberi pesangon sedikitpun. Keadaan sudah jungkir balik, rasa ego, 
tamak, dengki, srei bermunculan. Kedok sudah terbuka, kini wajah aslinya nampak 
jelas.
   
  “Ya sudahlah mau apa lagi, memang rumah itu bukan milik kita,” kataku, “Apa 
lagi aku kini ada dalam kurungan penjara, seandainya dalam keadaan bebas pun 
aku juga belum tentu bisa berbuat banyak, aku ini kan hanya orang di bawah 
perintah. Tapi adik sehat kan ?”
   
  “Sehat mas, berdoa saja mas, agar mas bisa cepat bebas, biar kita bisa 
berkumpul lagi, membesarkan anak kita”
   
  “Oh tentu, aku selalu berdoa, terutama buat si gendhuk dan ibunya. Biarlah 
kau tak bisa kirim besukkan juga tak apa, biar sekepal penjara masih kasih 
makan aku, yang terpenting adalah anak kita, berikan segalanya untuk anak kita, 
terutama soal makan dan kesehatannya jangan sampai terlantar. Eh ya, adik kirim 
rokok kok cuma sebatang?, kan lebih baik rokoknya diganti saja dengan tembakau 
saja, biar awet”
   
  “Ya mas, memang kiriman rokoknya hanya sebatang dan nggak ada tembakaunya. 
Maaf ya mas, rokok itu pengasih dari orang tua. Kata beliau, rokok itu harus 
dihisap mas sendiri, nggak boleh dihisap oleh orang lain, mas juga nggak boleh 
menghisap rokok yang lain, kecuali rokok yang itu saja. Itulah sebabnya kiriman 
rokok hanya sebatang, kalau dicampur dengan rokok yang lain atau tembakau, 
nanti yang dihisap bisa rokok  yang lain, bukan yang khusus itu. Rokok itu ada 
isinya mas”
   
  “Orang tua itu dukun, maksudmu?, siapa yang kasih ajaran macam itu?”
   
  “Ya mas, dari teman sekantor, ada yang ngasih saran agar aku berikhtiar 
melalui orang tua” 
   
  “Oh begitu, ya bagus, terima kasih kepada yang memberi saran. Memang yang 
namanya ikhtiar itu baik, tapi menurutku kok rasanya kurang tepat dik”
   
  “Kurang tepatnya dimana mas?”
   
  “Masak kau nggak ngerti?. Begini ya aku kasih tahu, bahwa persoalan 
penahananku ini adalah persoalan politik yang erat hubungannya dengan negara 
atau pemerintah, ini persoalan nasional bukan persoalan pribadi perseorangan, 
bahkan persoalan peristiwa '65 itu menjalar sampai kedunia internasional. Jadi 
penyelesaian para tahanan seperti diriku ini semuanya itu tergantung pada 
sarana politik yang bisa merubah sikap para penguasa. Selama sarana itu tidak 
ada, ya tetap saja para tapol akan menempati posisi seperti ini. Pak dukun 
tidak akan mungkin bisa membebaskan para tahanan. Karena biasanya pak dukun itu 
kan hanya menangani persoalan pribadi, perorangan, seperti misalnya kalau ingin 
mendapatkan cinta dari lawan jenis melalui ilmu pelet, atau ingin menyakiti 
seseorang dengan cara santet menyantet, nah itu baru bisa lewat pak dukun. 
   
  Tiwas ngenteke duwit kan lebih baik uang itu digunakan buat  keperluan anak 
kita. Dan jangan dikira loh dik, beliau-beliau itu juga suka main dukun, bahkan 
simpanan dukun mereka bukan sembarang dukun, bukan seperti dukun kampung 
kebanyakan, tidak sedikit dari beliau-beliau itu yang mempunyai pegangan ajimat 
yang keampuhannya sangat mumpuni segala keperluan. Jadi jangan diulang lagi ya 
dik, percuma nggak ada gunanya, tapi yang sudah ya sudahlah”
   
  “Ya mas, maaf kalau saya keliru”
   
  “Ya nggak apa-apa, namanya juga ikhtiar”
   
  Tak terasa waktu pertemuan berakhir, anakku diambil dari pangkuanku, sambil 
menggandeng anak kami istriku sekali lagi mengatakan agar aku tidak terlalu 
berharap dengan kiriman besukkannya, kalau ada rezeki walaupun hanya sepotong 
singkong tentu akan diantarnya. 
   
  Istriku telah memenuhi janjinya, dia telah menunjukkan kesetiaannya, walaupun 
mungkin sedikit keliru, ikhtiar itu adalah caranya menunjukkan rasa 
keinginannya agar aku, suaminya ini dapat segara bebas kembali. Dan ternyata 
masih ada juga orang-orang yang menunjukkan rasa kepeduliannya serta rasa 
simpati dan empati terhadap kebebasanku. Ya kepada mereka-mereka itu aku 
ucapkan terima kasih.
   
  Kembali ke Blok-O, aku nikmati kiriman besukkan dari istriku, aku tidak ambil 
pusing dengan rokok dari pak dukun, selesai makan bersama aku hisap rokok itu, 
kutarik dalam-dalam asap rokok, kunikmati benar asap rokok itu, siapa tahu 
kiriman ini benar-benar kiriman terakhir. Besok atau lusa aku akan  menjadi 
salah satu tahanan yang harus bisa hidup hanya dari jatah penjara saja. Kalau 
memang aku masih diberi umur panjang, masih deberi kesempatan untuk hidup, 
tentu aku akan bisa hidup walau dengan apa adanya. Insya Allah, ya 
mudah-mudahan saja.
   
  Oplosing para tahanan berjalan lagi, kali ini aku dipindah ke Blok-G. Blok-G 
ini adalah blok dengan sel tunggal, sebuah kamar besar. Rata-rata penghuninya 
sangat kurus-kurus, kurang makan, dari jumlah seluruh penghuni sel ini yang 
menerima kiriman besukkan tidak lebih dari 20 % saja, itu pun tidak menentu. Di 
Blok-G ini aku jatuh sakit, agak parah juga, mungkin sakitku ini akibat dari 
pikiran-pikiranku yang belum bisa tenang karena terlalu memikirkan nasib 
keluarga di luar, aku selalu terpikir tentang bagaimana dengan keadaan rumah 
kontrakan keluargaku, bagaimana keadaan anakku kalau ditinggal ibunya ke 
kantor, bagaimana makanan anakku bergizikah atau hanya sekedar asal makan saja. 
Tapi yang jelas dan pasti aku sakit juga karena kurang makan.
   
  Di Blok-G ini juga aku mulai mengenal yang namanya “goles” alias sego teles 
atau nasi basah. Goles ini dikirim oleh teman-teman yang bertugas di dapur 
karena adanya rasa solider tentunya. Mungkin nasi ini adalah kumpulan dari 
nasi-nasi yang lengket di sabluk atau di kotak besar tempat menampung nasi dari 
sabluk. Kalau sabluk dan kotak ini dicuci, rontokan nasinya lumayan juga. Nah 
rontokan sisa-sisa nasi itu lalu dikumpulkan dan dimasukan kantong plastik, 
kemudian dikirim ke blok-blok yang dianggap memerlukannya dengan cara 
diselundupkan kedalam dandang yang berisi air panas. Blok-G sering menerima 
kiriman goles ini, biar benyek, sepo anyep tapi kalau perut sudah lapar tidak 
pernah menolaknya, mulut dan perut yang kelaparan tetap mau menerimanya dan 
tetap saja terasa enak.
   
  Tiga bulan lebih aku menjadi penghuni Blok-G, kiriman besukkan memang tidak 
pernah kunjung tiba. Seperti yang dikatakan istriku, aku jangan terlalu 
berharap mendapat kiriman besukkan, kalau ada rezeki biarpun hanya sepotong 
singkong pasti akan dikirimkannya. 
   
  Benar juga, rupanya rezeki itu barangkali sudah datang, ketika suatu hari 
namaku dipanggil oleh teman yang bertugas mengambil dan membawa kiriman 
besukkan, meriangku langsung saja hilang. Tiga bulan lebih aku tidak pernah 
makan lebih dari jatah penjara, aku juga tidak pernah mimpi akan dapat kiriman 
besukkan yang begitu komplit. Ya saat itu aku mendapat kiriman besukkan yang 
terdiri dari tiga tas. Satu tas berisi nasi dan lauknya, satu tas lainnya 
berisi tembakau dan makanan kering yang bisa tahan lama dan satu tas lagi 
berisi pakaian.. Kiriman pakaian itu antara lain adalah kaus dan celana dalam, 
celana panjang, baju-baju halus seperti sutra dan ada pula jaket dari bahan 
verlak halus. Aku tidak pernah merasa memiliki pakaian-pakaian itu, lantas dari 
mana semua pakaian ini?. Kalau boleh aku menerka-nerka, mungkin kiriman pakaian 
ini datang dari sahabatku, bapaknya Koko, tapi kenapa?. 
   
  Dari kabar burung yang pernah kudengar, penjara Salemba akan segera 
dikosongkan. 
   
  Mungkin keluarga dan teman-teman yang di luar sudah lebih tahu akan hal itu, 
entah lewat radio atau pun media cetak. Kemungkinan adanya pemindahan para 
tapol akan segera terjadi, kemana?. Nggak tahu. Mana mungkin tapol seperti aku 
bisa tahu dan mengerti, tapol kan hidupnya terisolasi, lepas dari keluarga, 
jauh dari berita dan informasi dunia luar. Kehidupan di penjara itu kan hanya 
menghitung waktu, kapan bisa bebas atau kapan maut menjemput?.
   
  Kiriman besukkaanku yang mempunyai bobot istimewa, lebih dari bobot besukkan 
yang pernah aku terima, rupanya menjadi besukkan yang benar-benar terakhir 
kali, sampai tiba saatnya aku tinggalkan penjara Salemba yang jahanam itu, tak 
pernah lagi aku menerima kiriman besukkan dari keluarga. Dengan adanya kiriman 
besukkan itu oleh kepala blok aku diserahi tugas menanggung seorang teman, 
bernama Ahmadi untuk diajak makan bersamaku.
   
  Tak lama sesudah aku menerima kiriman istimewa ada oplosing lagi, aku 
dipindah lagi, kali ini ke Blok-P. Di blok ini aku kembali bertemu dengan pak 
Hasyim Rahman, tapi beliau tidak lagi menjadi kepala blok, beliau hanya menjadi 
warga blok biasa.
   
  Karena beliau sudah kenal lama denganku, maka aku diajaknya untuk satu sel 
dengannya ditambah lagi dengan seorang teman lain yang hidupnya juga tergantung 
dari jatah penjara.
   
  Saat itu bertepatan dengan hari Jum’at, aku absen shalat Jum’at, hanya karena 
harus menata sel yang baru. Kesibukan para petugas penjara tampak lain dari 
biasanya, kepala sekuriti sibuk keluar masuk blok. Berita tentang pengiriman 
para tapol ke Pulau Buru makin santer, terang dan jelas. Rupanya sudah bukan 
menjadi rahasia lagi, kepindahan para tapol hanya tinggal menunggu waktu saja, 
mungkin hanya tinggal satu dua hari, mungkin bisa nanti malam, segalanya bisa 
mungkin, bisa terjadi kapan saja. Para petugas  penjara
  Salemba dan para tapol penghuninya, hanya tinggal menunggu perintah saja. 
“Ayo siap, tinggalkan tempat ini, kemudian akan kukirim dan kubuang kalian ke 
Pulau Buru!”
   
  Kepala sekuriti, Peltu Marjuki, sok berlagak seperti seniman atau budayawan. 
“Tak ada pesta tanpa akhir,” begitu ucapnya pada kami. Buat si Kliwon ini, 
penjara Salemba adalah tempatnya berpesta. Benar juga barangkali, memang 
penjara bagaikan neraka buat kami para tahanan, tetapi penjara bagi mereka yang 
berkuasa adalah tempat mereka berpesta. 
   
  Bagaimana tidak, coba saja pikirkan berapa banyak para narapidana yang bila 
malam tiba bisa dengan bebas pulang ke rumah dan tidur dengan istri, berapa 
pula banyaknya para pembobol uang negara yang bisa dengan mudah lolos dari 
penjara dan kemudian lari ke negara tetangga.
   
  Di penjara Salemba ada seorang tahanan yang bernama Aslam, dia disebut juga 
sebagai si Raja Karet, orangnya gede tinggi, kekayaannya barangkali sudah tidak 
bisa dihitung lagi, di dalam penjara saja untuk keperluan mandinya pun ada yang 
melayaninya. Aku tidak tahu persis tentang status tahanannya, apakah dia 
seorang tapol atau tahanan kriminil. Nah, pada hari raya Idul Adha atau disebut 
juga hari Raya Kurban, atau Lebaran Haji, sang raja karet ini menawarkan pada 
penguasa penjara untuk mendatangkan sapi atau kerbau sebanyak lima ekor atas 
tanggungannya, nanti seluruh daging hewan itu sepenuhnya untuk keperluan makan 
para tapol, asalkan dia bisa diizinkan pulang untuk bertemu dengan keluarganya. 
"Ayo kawallah saya pulang untuk bertemu keluarga saya," demikian pintanya. 
   
  Sayangnya keinginan si raja karet ini tidak dapat terlaksana, tapol tetap 
tidak menerima apa-apa pada hari raya, jatah makan tetap saja tipis dengan 
sayur bening bayam, keinginan pak Aslam untuk menyumbang daging untuk para 
tahanan tidak terwujud. Tapi anehnya sejak hari raya Idul Adha pak Aslam tidak 
tampak lagi batang hidungnya di Salemba. Kemana perginya beliau?. Barangkali 
hanya uang yang ada di kantong para penguasa itulah yang tahu.
   
  Malam sebelum tidur pak Hasyim mengajak aku dan seorang teman satu sel 
bernama Sanadi, ngobrol.
   
  “Pak Sam, nih tembakau Mole dan rokok Bentoelnya, lintinglah seperti dulu 
saat di Blok-Q, nanti kita bisa merokok ramai-ramai, kalau perlu kita bisa 
merokok sampai pagi. Siapa tahu sel ini adalah sel terakhir kita, kemudian 
besok atau lusa kita akan berpisah”
   
  “Ya pak, sini kulintingnya,”
   
  Dulu sewaktu di Blok-Q aku biasa jadi pembantunya pak Hasyim, menisikan 
sarung atau celananya yang lepas jahitannya pasti aku yang mengerjakan, tentu 
saja karena ada imbalannya yang cukup baik.
   
  “Kalian boleh bergembira, tak lama lagi kalian akan bebas bertemu dengan 
keluarga lagi. Hanya kalau nanti kalian sudah bebas jangan lupa sama saya, ya. 
Kalau saya sih tidak akan bebas, prosesnya masih panjang. Saya mesti diproses 
lewat pengadilan, nah hasil proses pengadilan itu nanti bisa berupa 
macam-macam. Bisa saja saya diputus bebas, tapi ini tidak mungkinlah. Bisa juga 
saya divonis mati, atau setidaknya dipenjara seumur hidup”
   
  “Pak,” selaku, “Apakah benar dengan kabar yang katanya para tapol akan 
dipindahkan ke Pulau Buru?. Dimana letak Pulau Buru itu, pak?”
   
  “Pulau Buru itu termasuk wilayah Indonesia bagian timur, letaknya tidak jauh 
dari Ambon . Pulau Buru itu termasuk ke dalam Provinsi Maluku”
   
  “Lha kalau kita dipindahkan ke sana , apakah di sana juga sudah ada 
penjaranya?. Seperti dulu saat jaman penjajahan, banyak orang-orang yang 
dibuang ke Digul atau Tanah Merah. Kemudian setelah mereka bebas disebut 
Digolis. Jangan-jangan seperti itu pak?”
   
  “Saya nggak tahu, tetapi hakekatnya setiap tempat dimana ada tahanannya 
adalah penjara. Sudahlah kalian nggak perlu ngerti tentang Pulau Buru, besok 
atau lusa kalian pasti akan bebas. Tunggu saja saatnya akan segera tiba. Masih 
mau merokok nggak?, kalau nggak sebaiknya mari kita tidur sambil menunggu 
kabar, bagaimana jadinya esok pagi”
   
  Kami bertiga pun segera pergi tidur. Tapi nyatanya aku sulit untuk tidur, 
berbagai macam pikiran berkecamuk di benakku, terbayang olehku bagaimana nanti 
kalau aku bebas, ketemu keluarga lagi seperti gambaran pak Hasyim, yang 
nampaknya sangat meyakinkan dan memberiku harapan terang. Lha kalau nanti aku 
benar bisa bebas apa iya kebebasanku itu karena hasil kerjanya pak dukun 
melalui sebatang rokok khusus. Tetapi sayangnya ketika aku diperiksa aparat di 
Salemba ini aku tidak membaca doa yang telah diajarkan oleh tetanggaku, bung 
Aziz. Jika kelak bung Aziz bisa bebas, apakah bebasnya itu karena membaca doa 
itu. Aduh sayang sekali, kenapa doa itu nggak aku baca saat aku diperiksa. 
   
  Seandainya saja doa itu kubaca dan rokok dari pak dukun tidak hanya satu 
batang, barangkali tentunya kebebasanku akan nampak terang dan jelas di depan 
mata. Tapi rokoknya hanya satu batang dan doanya tak kubaca, rasa gelap, 
khawatir dan juga penyesalan menumpuk dibenakku. Kembali aku coba menekan 
segala pikiran yang menyesakkan ini, kukuatkan mentalku. Apa pun yang akan 
terjadi, hingga sampai pada hal yang paling buruk pun, aku harus siap. Aku 
sendiri pernah mengingatkan Pak Daryo,   
   
  “Pak, penjara ini belum apa-apa, ini baru “B” yang pertama, masih ada dua “B” 
yang lain menunggu kita. “B” dibuang atau “B” dibunuh, semuanya bukan tidak 
mungkin bisa terjadi.”
   
  Kembali modal pertamaku saat di Kodim Budi Kemuliaan muncul, “Tenang kancane 
akeh kok!”. Kalau sudah begitu hatiku sedikit tenang dan tentram. Mudah-mudahan 
saja apa yang dikatakan oleh Pak Hasyim benar, aku akan segera bebas.
   
  “Belum tidur pak Sam?, kenapa, nggak bisa tidur?. Sudahlah tidur, nggak usah 
dipikirkan, tunggu saja saatnya kalian pasti akan bebas. Apa yang dikatakan 
Peltu Marjuki itu benar, tak ada pesta tanpa akhir. Segalanya yang ada di dunia 
ini kan dibatasi oleh waktu. Coba saja mana ada hal yang tidak dibatasi oleh 
waktu, tidak ada. Sampai kapanpun yang namanya waktu itu pasti tiba. Kalau pak 
Sam pernah nonton sebuah tontonan yang menurut pak Sam baik dan enak ditonton, 
taruhlah pak Sam nonton wayang kegemaran pak Sam, keindahan wayangnya makin 
terasa karena dibatasi oleh waktu. Waktu itu berjalan terus pak, waktu tak 
pernah berhenti, mandeg di jalan. Waktu yang tak pernah kita hitung itu, 
tahu-tahu membawa kita menjadi tua seperti sekarang ini. Sebenarnya orang yang 
tidak mau tahu akan waktu dan tidak pernah memperhitungkan waktu, hakekatnya 
adalah orang yang merugi, karena waktu itu tidak pernah dapat kembali mundur. 
Bagi mahkluk hidup terutama manusia yang hidupnya dibatasi
 oleh waktu, waktu itu adalah satu faktor penting yang perlu diperhitungkan. 
“Time is Money” kata pedagang. Jangan buang-buang waktu, 
   
  “Lengbet”, meleng sabet, kata para pencoleng. Para pencoleng itu sangat 
memperhitungkan dan menghargai waktu. Nggak peduli apakah itu pencoleng di 
pasar atau kah pencoleng uang negara, mereka semua bekerja dengan memanfaatkan 
waktu.”
   
  Eh akhirnya kami nggak jadi tidur, ngobrol lagi bertiga dan kami kembali 
merokok lagi.
   
  “Eh dik Sanadi,” kata pak Hasyim kepada teman satu sel yang lain, “Mau tanya 
apa? atau sudah punya rencana apa kalau besok atau lusa dik Sanadi benar bisa 
bebas?”
   
  “Ah nggak pak, saya nggak mau tanya apa-apa, ya mau tanya apa, saya ini kan 
nggak ngerti apa-apa pak. Bisa sampai masuk penjara ini pun saya nggak ngerti. 
Kenapa saya bisa sampai masuk penjara padahal saya kan nggak berbuat apa-apa”
   
  “Sebagai seorang pemuda, apakah dik Sanadi pernah masuk sebuah organisasi?”
   
  “Ya itu pak karena ikut-ikutan teman-teman di kampung saya masuk Pemuda 
Rakyat”
   
  “Diajari apa saat di Pemuda Rakyat?, disuruh baca buku politik ya?”
   
  “Nggak pak, nggak disuruh baca buku apa-apa, mana saya ngerti, sekolah SD 
saja saya nggak tamat”
   
  “Lantas ngapain di Pemuda Rakyat?”
   
  “Itu loh pak, saya kan seneng sama itu yang namanya drum band. Saya tertarik 
sekali jadi saya ingin bisa main seperti mereka itu. Saya seneng sekali melihat 
orang yang memukul tambur yang gede itu pak, tangan kirinya memukul kulit 
tambur sebelah kanan, tangan kanannya memukul kulit tambur sebelah kiri, jadi 
tangannya menyilang terus-terusan kaya baling-baling, wah gagah sekali 
kelihatannya. Apalagi itu cewek yang jadi komandannya, memberi komando sambil 
membawa tongkat yang diputar-putar, kadang-kadang berjalan mundur lalu tongkat 
dilempar ke atas, saat jatuh diterima tangan kanan dan terus diputar-putar 
lagi, wah pendeknya menarik sekali pak. Saya kepingin bisa seperti mereka maka 
itu saya mendaftar menjadi anggota Pemuda Rakyat.”
   
  “Oh tambur besar itu namanya drum dik, dan cewek yang memberi komando sambil 
membawa tongkat itu disebut dengan majoret. Lantas kau pernah diberi pelajaran 
apa saja?, apa dikursuskan misalnya?” tanya pak Hasyim lagi.
   
  “Dikursuskan apa, cuma kalau lagi kumpul-kumpul kami suka diomongin tentang 
perjuangan. Katanya Indonesia ini amat kaya raya punya segalanya dan sekarang 
kita sudah merdeka, tapi kenapa kita ini umumnya kok masih miskin dan bodoh, 
begitu pak katanya”
   
  “Kata siapa?”
   
  “Ya itu kata yang ngomongin, kayaknya sih dia salah satu pembina senior di 
organisasi. Maka itu katanya pak, kita sebagai pemuda harus berjuang melawan 
kemiskinan dan kebodohan. Lha caranya berjuang tidak bisa sendiri-sendiri tapi 
harus dilakukan bersama-sama, nah untuk bisa melakukan bersama-sama itu 
syaratnya ya harus melalui organisasi. Itulah sebabnya kita harus mempunyai 
organisasi yang namanya Pemuda Rakyat. Lewat Pemuda Rakyat inilah kita akan 
melawan kemiskinan dan kebodohan, gitu katanya pak. Lama-lama saya jadi anu pak”
   
  “Anu kenapa?”
   
  “Anu pak, saya jadi mulai berani nanya”
   
  “Tanya apa?”
   
  “Jadi saya pernah tanya, melawan kebodohan dan melawan kemiskinan lewat 
organisasi itu bagaimana?. Dijawab, bagus bung, bung sudah mulai berani 
bertanya, itu tandanya bung sudah ada kemajuan. Saya jadi geli pak, masak cuma 
nanya kayak begitu saja sudah dibilang ada kemajuan”
   
  “Bener itu,” kata pak Hasyim, "Itu memang satu kemajuan, ngomong, bertanya 
apalagi menjawab dalam kumpulan orang banyak itu tidak semua orang bisa dan 
berani. Banyak orang pintar tetapi ketika harus bicara dimuka umum, di mimbar 
misalnya kepintarannya jadi hilang, gelagepan ndak bisa omong apa-apa, kakinya 
gemetar, mukanya pucat. Jadi kalau dik Sanadi  itu mau dan berani bertanya itu 
adalah satu kemajuan, ayo teruskan, apa jawaban pertanyaanmu itu?”
   
  “Katanya, gini bung misalnya ada seorang pejabat taruhlah misalnya seorang 
menteri yang menyalah gunakan kewenangannya. Saya tanya lagi pak, menteri sama 
manteri itu apa sih bedanya bung?. Eh saya malah ditepukin tangan sama 
teman-teman, malah ada yang nyeletuk, ayo Di tanya terus!”
   
  Pak Hasyim ketawa, aku pun jadi ikut ketawa geli. Selanjutnya pak Hasyim 
berkata lagi.
   
  “Di, ternyata diam-diam anda punya pengalaman yang menarik juga. Pertanyaan 
dik Sanadi itu bisa jadi sebenarnya adalah juga menjadi pertanyaan para anggota 
lainnya yang sebenarnya mereka juga belum mengerti tapi mau tanya mereka tidak 
berani. Ayo teruskan ceritanya, nggak tidur juga nggak apa-apa, rokoknya juga 
masih ada, mungkin besok atau lusa kalian akan bebas dan kita akan berpisah 
jadi anggap saja ini kumpul yang terakhir dan cerita-cerita semacam ini bisa 
menjadi kenangan kita.”
   
  “Gini lo bung,” Hadi melanjutkan ceritanya, “Manteri dan menteri itu 
sama-sama sebuah jabatan. Kalau manteri itu jabatan sebagai pegawai negeri 
sipil sedangkan kalau menteri itu jabatan anggota kabinet pemerintah. Kalau 
menteri itu jabatan yang mengepalai suatu departemen misalnya Departemen 
Sosial, Departemen Keuangan dan lain-lainnya. Menteri itu bukan pegawai negeri 
sipil, masa jabatannya sebatas waktu yang ditetapkan oleh undang-undang, 
misalnya pemerintah saat ini yang dipimpin oleh presiden Soekarno, maka kabinet 
dengan para menterinya yang menjadi pembantu presiden masa jabatannya sesuai 
dengan ketetapan yang diatur oleh undang-undang. Kalau di Indonesia masa 
jabatan para menteri itu adalah lima tahun sesuai dengan masa pemerintahan 
presiden yaitu lima tahun. 
   
  Kalau seorang menteri dalam melaksanakan tugas memimpin departemen sebagai 
pembantu presiden tidak dapat dijalankan dengan baik, bisa saja menteri itu 
dicopot dan diganti oleh orang lain, kemudian dia dikembalikan ke tempat 
asalnya. 
   
  Saya lalu tanya lagi, yang dimaksud dengan tempat asalnya itu bagaimana 
bung?, apa di kampung gitu misalnya?, eh saya kembali ditepukin tangan pak. 
Lalu  sang pembina menjawab lagi, bukan bung, yang dimaksud ke tempat asalnya 
itu begini, kalau sebelum dia diangkat menjadi menteri, dia adalah seorang 
pengusaha maka setelah berhenti jadi menteri dia akan kembali menjadi pengusaha 
lagi tapi kalau dia sebelumnya adalah seorang pegawai negeri sipil maka setelah 
berhenti jadi menteri dia kembali menjadi pegawai negeri sipil dan kalau dia 
seorang anggota partai maka dia akan dikembalikan ke partainya. Lha kalau 
manteri itu misalnya manteri rumah sakit atau manteri hewan, dia adalah seorang 
pegawai yang masa jabatannya dibatasi oleh usianya. Jadi kalau pak manteri itu 
usianya telah mencapai 65 tahun, maka menurut undang-undang pak manteri harus 
pensiun. Pak manteri tidak bisa dipecat begitu saja kecuali dia melanggar 
undang-undang kepegawaian. 
   
  Misalnya manteri kesehatan di sebuah rumah sakit yang telah biasa melayani 
pasien dalam memberikan obat, yang tentunya sesuai dengan petunjuk dokter, si 
pasien yang menderita penyakit ini dikasih obat ini, pasien yang menderita 
penyakit itu dikasih obat itu, nah karena bertahun-tahun pekerjaannya begitu 
maka sang manteri merasa hapal bener dengan obat-obatan yang harus diberikan 
pada para pasien, kemudian pak manteri menyalah gunakan jabatannya, misalnya 
dia mengaku sebagai dokter, nah dia ini bisa dipecat zonder debat, begitu bung, 
ngerti ya.”
   
  “Bung, pertanyaan saya tentang melawan kemiskinan dan kebodohan lewat 
organisasi kan belum dijawab bung,” Hadi kembali melanjutkan ceritanya.
   
  “Oh ya begini bung, misalnya ada seorang menteri, menteri sosial misalnya, si 
menteri ini menyelewengkan dana yang mestinya untuk kepentingan masyarakat yang 
lemah ekonominya tidak disalurkan dengan baik, dana yang disediakan untuk 
membangun sekolahan di desa juga mampir ke saku pak menteri. Nah perbuatan 
semacam ini tentunya tidak bisa dibiarkan begitu saja. Maka kemudian kita 
galang front pemuda, kita ajak organisasi-organisasi pemuda lainnya untuk 
melawan si menteri yang suka menyeleweng ini agar si menteri dapat ditindak 
tegas oleh hukum dan undang-undang. Itulah pada dasarnya berjuang lewat 
organisasi. Sudah tentu prosesnya tidaklah segampang itu, jadi paham ya bung. 
Saya jawab, ngerti bung, terima kasih dan saya kembali ditepukin tangan sama 
teman-teman.”
   
  “Wah,” kata pak Hasyim, “Ternyata dik Sanadi bisa juga bercerita dengan baik 
dan lancar, padahal katanya Sekolah Dasar saja nggak tamat, ya sudah 
sepantasnya kalau dik Sanadi dikasih tepuk tangan. Kalau pak Sam punya cerita 
apa?, ayo cerita pak, biarlah nggak tidur juga nggak apa-apa, besok pagi-pagi 
kalau air panas datang kita bikin kopi, kan masih ada kopi dan gula sedikit, 
cukuplah satu muk untuk bertiga”
   
  “Gini pak Hasyim, mendengar cerita pengalaman dik Sanadi ini saya jadi 
teringat pada pengalaman saya sendiri saat di Blok-G, ceritanya begini, salah 
seorang tapol yang bernama pak Yunus yang juga pernah satu blok dengan kita di 
Blok-Q mendapat tugas dari pak Haji Bahrun untuk memberikan pelajaran shalat di 
Blok-G. Pada waktu diadakan tanya jawab saya bertanya tentang sujud sahwi. Pak 
Yunus, sujud sahwi itu sujud yang bagaimana, apa kegunaannya dan kapan kita 
harus melakukan sujud sahwi?”
   
  “Lha ini pertanyaan yang bener-bener baik. Saudara-saudara pertanyaan pak Sam 
ini sangat baik sekali, saya tahu persis kok, pak Sam ini bertanya tentang 
sujud sahwi bukan karena pak Sam tidak tahu tentang sujud sahwi, tetapi  kalau 
pak Sam ini bertanya tentang sujud sahwi sebenarnya pak Sam menanyakan hal ini 
untuk saudara-saudara yang belum mengerti tapi nggak mau atau memang malu untuk 
bertanya.”
   
  “Saya jadi geli pak, lha wong saya ini bener-bener tanya karena nggak ngerti 
kok dianggap mewakili temen-temen lain yang tidak mau atau malu bertanya. Lha 
kalau nanti ada temen lain yang  bener-bener menganggap saya ini pinter lantas 
menanyakan sesuatu tentang melakukan shalat yang baik dan benar, dan kemudian 
saya tidak bisa menjawab kan  bikin malu pak. 
   
  “Begini saudara-saudara,” kata pak Yunus, lanjutku, “Sujud sahwi itu adalah 
sujud yang dilakukan karena adanya cacat atau kesalahan dalam melakukan shalat, 
baik shalat fardu maupun shalat sunat. Hukum melakukan sujud sahwi adalah sunat 
bagi imam dan orang yang melakukan shalat sendirian, yang disebut juga 
munfarid. Sedangkan bagi makmum tergantung pada imamnya, jika imam melakukan 
sujud sahwi, maka makmum harus melakukan sujud sahwi juga, jika imam tidak 
melakukannya maka makmum tidak boleh melakukannya. Lalu kapan kita melakukan 
sujud sahwi, ya itu tadi jika shalat kita rusak karena kekurangan atau 
kelebihan rakaat yang telah kita kerjakan, misalkan kalau kita melakukan shalat 
ashar yang mestinya empat rakaat, tapi karena lupa baru tiga rakaat kita telah 
melakukan tahiyat akhir, atau setelah kita melakukan lima rakaat baru melakukan 
tahiyat akhir, atau jika kita merasa ragu berapa  rakaat shalat yang telah kita 
kerjakan, maka lakukanlah sujud sahwi sebelum melakukan
 salam. Dalam sujud sahwi itu kita baca tasbih yaitu, Subhaana man laa yanaamu 
wa laa yashuu sebanyak tiga kali, sedang arti dari bacaan tasbih itu adalah, 
Maha Suci Zat yang tidak pernah tidur dan tidak pernah lupa.
   
  Nah itulah saudara-saudara jawaban saya tentang sujud sahwi. Hayo siapa yang 
mau tanya lagi, jangan seperti temen kita yang namanya Darmin, katanya sudah 
khatam Al-Quran empat puluh kali, tapi saat mengimami shalat ashar, shalatnya 
rusak berantakan, mau denger ceritanya nggak?", kata pak Yunus.
   
  “Ya mau pak! “ jawab kami ramai-ramai. 
   
  Gini ceritanya saudara-saudara, ketika Qommat untuk shalat ashar sudah 
diserukan oleh muazin, maka bung Darmin yang kebetulan diminta untuk menjadi 
imam segera bergegas berdiri di barisan terdepan untuk memimpin shalat. Pak 
imam melakukan takbir dengan mengangkat kedua telapak tangannya, lalu 
diteruskan dengan membaca doa iftitah tentunya. Tapi eeh dasar Darmin, cuma 
omongnya doang yang gede, dia membaca surat Al-Fatiah dengan suara keras, 
seperti layaknya saat melakukan shalat maghrib, isya atau subuh. Eh kok ya ada 
salah seorang makmum yang sempet-sempetnya nyeletuk, gimana sih pak Min ini 
shalat ashar kok disuarakan dengan suara keras, yang boleh dan harus disuarakan 
keras dalam shalat ashar dan lohor kan cuma takbir dan “tidal, eh temen di 
sampingnya nimpali juga, hus! kalau shalat nggak boleh ngomong, diam. Dan 
celakanya, dasar si Darmin mendengar ada makmumnya yang ngomong eh malah dia 
nengok kebelakang sambil ngomong, siapa sih itu yang cerewet, lha karuan saja
 shalat jadi berantakan, saya pun jadi ketawa sampai perut ini sakit, begitulah 
cerita pak Yunus,” kataku."
   
  Kami bertiga pun ketawa ngakak membayangkan tingkah si imam yang bernama 
Darmin.
   
  “Pak Sam waktu itu ikut shalat?”
   
  “Nggak pak, saya tahu hal itu dari ceritanya pak Yunus, cuma saya memang 
pernah kumpul dengan pak Darmin itu sejak di Kodim, suatu saat saya pernah 
diajak ngobrol tentang agama. Dia bilang gini, dik Sam, kau itu kan orang Jawa 
toh, ngerti nggak apa gunanya orang melakukan shalat?, para ustad dan kyai itu 
kan selalu menyerukan kata tegakkan shalat dan bayarlah zakat, lakukan perintah 
Allah dan jauhkan laranganNya, yang pada ujungnya kita nanti pasti akan masuk 
kedalam surgaNya.”
   
  Tak kandani yo (saya bilangin ya), buat orang Jawa surga dan neraka itu nggak 
perlu jauh-jauh dicari di akhirat, kau ngerti senepo nggak?, orang Jawa itu 
memberi makna surga dan neraka lewat senepo tadi. Surga dalam bahasa Jawa 
disebut Suwargo dan neraka disebut Neroko. Dalam bahasa Jawa itu, Suwargo 
adalah rangkaian tiga kata yang terdiri dari kata “Su”  artinya nafsu, “War”  
artinya luar atau keluar, dan “Go”  itu artinya lego atau puas, jadi arti 
harafiah Suwargo  itu adalah nafsunya keluar, hatinya lego, jadi kita akan 
mendapatkan rasa puas dan kenikmatan bila kita telah dapat mengeluarkan atau 
membuang hawa nafsu kita. Ada pun Neroko itu terdiri dari kata “Ner”  atau nere 
 yang artinya adalah tujuan, kemauan atau maksud, “O” dari kata ora artinya 
tidak dan “Ko” dari kata teko artinya datang, kesampaian atau berhasil, jadi 
kata Neroko kalau diurai menjadi kata nere ora teko yang artinya maksud, arah 
tujuan atau kemauannya tidak kesampaian, maka alhasil hatinya jadi
 panas. Seorang tetangga misalnya bisa beli mobil bagus, sedangkan kita walau 
dengan memaksakan diri tetap nggak mampu beli mobil, kita lalu jadi iri, hati 
kita jadi panas. Maka itu nggak perlu jauh-jauh mencari surga atau neraka, 
nggak usah pake nunggu mati, di dunia ini banyak surga dan nerakanya. Apakah 
tahanan ini nggak merupakan neraka bagi kita?, jelas-jelas penahanan kita ini 
adalah merupakan neraka bagi kita, bung." 
   
  “Eh entengnya pak Darmin ngomong tentang surga dan neraka, itu kan cuma 
otak-atik gatuk, pak.”
   
  Sampai disitu cerita tidak berlanjut, adzan subuh yang biasa disuarakan oleh 
saudara Surip mengalun panjang. Pintu sel dibuka, kami bertiga segera bergegas 
ambil air sembahyang untuk melakukan shalat subuh berjemaah.
   
  Pagi makin terang, seperti kemarin kesibukan pagi hari ini makin 
menjadi-jadi. Para petugas hilir-mudik khususnya petugas sekuriti, si Kliwon 
tentunya. Benar juga pak Kliwon dengan pengeras suara masuk ke Blok-P, 
diperintahkanlah semua penghuni blok untuk keluar dan berkumpul di halaman blok.
   
  “Nah saudara-saudara seperti apa yang telah aku katakan beberapa hari lalu, 
tidak ada pesta tanpa akhir. Hari ini tiba saatnya pesta itu berakhir, untuk 
itu aku perintahkan kalian semua segera berkemas-kemas, bungkusin 
pakaian-pakaianmu, alat makan, rantang dan sendok boleh dibawa, tapi tikar 
nggak usah dibawa.”
   
  Baju koko dan celana ukuran tiga perempat pun dibagi-bagikan, di setiap 
punggung baju dituliskan angka gede-gede, bahannya dari blaco putih, potongan 
tokdel, jahitan asal nempel, nggak pakai ukuran gede kecilnya pemakai, pokoknya 
asal dibagi. Aku dapat baju bernomer punggung 25, buatku ukuran baju itu 
timbang pas, tapi karena badanku saat itu sangat kurus, ukuranku makin jadi 
kecil dan baju koko itu terasa sangat longgar di badanku.
   
  Diakui atau tidak rasa panik dan was-was terasa di hati dan nampak di wajah 
masing-masing para tahanan. Mau dikemanakan kami ini, benarkah kami akan 
dibebaskan, seperti kata Pak Hasyim, ataukah benar kami akan di Pulau Buru-kan, 
bahkan ada desas-desus yang mengatakan kami akan dibuang di Laut Banda, laut 
paling dalam di Indonesia, benarkah itu?. Semua pertanyaan itu tak terjawab. 
Jawaban satu-satunya, tunggu saja nanti kau akan ketahui sendiri. 
   
  Karena kesibukan masing-masing dan rasa cemas serta was-was yang menyelimuti 
setiap pribadi tak terkecuali diriku, aku jadi tak memperhatikan pak Hasyim 
lagi, kemana beliau pergi, apakah beliau juga mengenakan baju koko dan 
bercelana tiga perempat, semua itu sudah tak terpikirkan lagi bahkan kami pun 
tak sempat saling bersalaman, tanda perpisahan. Urusan diri sendiri menjadi 
prioritas. Melawan sebisa mungkin atau mati bareng seandainya terjadi teror 
pemusnahan, syukur kalau bisa selamat. Kami mulai bergerak, berbondong-bondong 
meninggalkan Blok-P dan Salemba yang kami huni selama dua setengah tahun ini. 
Barang-barang pribadi kami yang disimpan di gudang seperti sepatu dan ikat 
pinggang tidak dikembalikan. Aku tinggalkan penjara Salemba dengan hanya 
beralas kaki gapyak, kiriman dari keluarga.
   
  Sejak pertama kali kakiku menginjak Salemba, pintu masuk yang kulalui mulai 
dari pintu halaman sampai pintu sel berjumlah enam pintu. Jumlah pintu itu pun 
tidak berubah, saat aku keluar dari pintu sel sampai pintu pagar tetap 
berjumlah enam buah. Sejenak aku sempat melihat suasana di luar tembok penjara, 
sempat telihat sebuah becak lewat, melintas di depan penjara, becak itu pun 
tetap tak berubah, tetap saja dikayuh dengan kaki dan juga tetap beroda tiga. 
Banyak sekali orang-orang berdiri di kiri kanan jalan, berjajar seperti 
layaknya menyambut tamu agung negara, apakah dari sekian banyaknya orang-orang 
itu ada keluarga dari para tahanan yang turut menyaksikan, entahlah. 
   
  Akhir penahanan di Salemba memang dilakukan di luar hari besukkan, jadi kalau 
esok atau lusa saat hari besukkan tiba tentunya akan banyak sekali keluarga 
para tapol yang kecelik dan tentunya rasa cemas dan was-was akan mewarnai 
pikiran keluarga kami.  
   
  Ya hanya suasana itu saja yang sempat kulihat, perintah menaiki truk terbuka 
mulai diteriakkan. Deretan truk, berapa jumlahnya nggak usah dihitung lagi, 
pokoknya banyak. Kami mulai masuk ke dalam truk, kami tidak ada yang boleh 
berdiri, semuanya harus duduk seperti dulu waktu kami diangkut dari Kodim ke 
Salemba. 
   
  Komplit sudah tak ada satu pun yang tertinggal, pluit panjang ditiup, truk 
paling depan mulai bergerak ke arah barat menuju jalan By Pass. Tiba giliran 
truk yang kutumpangi berjalan, kulambaikan tanganku, “Selamat tinggal Salemba, 
kuucapkan terima kasih banyak atas kebaikanmu. Selama dua setengah tahun aku 
tinggal bersamamu, kau bukakan dan kau tutupkan pintu sel tempatku tidur, kau 
antarkan jatah makanku, kau jaga aku dengan pistolmu, semua itu kau berikan 
dengan cuma-cuma, gratis tanpa bayar. Aku cukup membayar semua itu dengan 
derita, rasa pilu dan kehinaan. Terima kasih Salemba, selamat tinggal!”
   
  Sampai di ujung jalan Rawasari truk berbelok ke kiri, ke arah  Tanjung priok. 
Deretan orang-orang yang menyaksikan rombongan kami di sepanjang jalan tak 
kurang banyaknya seperti di depan Salemba. Mungkin saja, namanya juga manusia 
tentu ada bermacam pendapat dan penilaian mereka tentang tindakan pemerintah 
yang sedang berkuasa terhadap kami, para tapol ini, mungkin diantara mereka ada 
yang bersyukur bahkan mungkin ada juga yang menyumpahi kami, “Rasakan hai 
pengkhianat dan pemberontak, kalian harus mati ditelan ombak dan jadi penghuni 
dasar laut untuk membayar perbuatanmu.” Tapi mungkin ada juga yang merasa iba 
dan berpikir, mereka itu pada umumnya tidak tahu menahu dan tidak mengerti 
tentang peristiwa 30 September 65, mereka hanya terkena imbas akibat perbuatan 
orang-orang yang berambisi. Mereka divonis di luar proses pengadilan, sungguh 
tidak adil dan sangat tidak manusiawi. Bahkan mungkin juga diantara mereka ada 
yang berdoa, “Ya Allah, kasihanilah mereka itu,
 lindungilah mereka dan berikan mereka keselamatan, ya Allah.”
   
  Kendaraan jalan terus, dari Koja belok ke kiri ke arah kota . Ternyata kami 
tidak dibawa ke Tanjung Priok. Jam 7 malam kami sampai di setasiun Kota ‘Beos’. 
Kereta malam telah menanti, boleh juga kereta malam itu disebut KLB, Kereta api 
Luar Biasa. Luar biasanya bukan pada fasilitasnya, seperti pada jaman tahun 
1947-1948 an silam. KLB tempo lalu benar-benar luar biasa karena penumpangnya 
seorang presiden beserta para pejabat tinggi negara, penjagaan keselamatan para 
penumpang dan layanannya memang betul-betul luar biasa. Sedang KLB yang akan 
kami tumpangi luar biasa karena seluruh penumpangnya adalah para tapol. Dengan 
penjagaan yang juga ketat, perjalanan KLB kami pun di luar jadwal kereta api 
umumnya. KLB kami tidak perlu harus menunggu kereta dari arah depan maupun arah 
belakang. KLB kami berjalan terus tanpa pernah berhenti, yang harus menunggu 
justru adalah kereta-kereta api penumpang umum lainnya, kereta-kereta itu harus 
menunggu KLB kami lewat.
   
  Di Beos telah siap menunggu para petugas, sebelum memasuki kereta, kami 
menerima jatah makan malam. Satu dus nasi utuh dengan lauk rendang dan telur, 
ya kali ini benar-benar utuh, tidak seperti tempo hari saat kami menerima 
bingkisan Natal dari Dewan Gereja, yang hanya separuh dus saja, separuhnya lagi 
entah menguap kemana, hanya mereka, para petugas di Salemba saja yang tahu.
   
  Kami nikmati jatah makan malam itu, soal bagaimana kelanjutan nasib kami 
nanti, itu soal nanti, yang penting makan nasi rendang saja dulu. Tapi namanya 
manusia tetap saja ada yang karena saking setresnya memikirkan nasib apa yang 
akan menimpanya nanti hingga jadi tidak doyan makan, bahkan ada yang namanya 
pak Dulmanan wajahnya jadi pucat pasi bahkan sempat tak sadarkan diri, kakinya 
dingin dan keringat dingin mengucur deras dari tubuhnya. Hal ini akhirnya jadi 
layatan, pak Dul, K.O sebelum bertanding. Sesudah pak Dul siuman, Pak Jai 
menasehatinya, “Pak Dul, jangan cemas pak, nggak usah terlalu khawatirlah, 
nggak nantinya kita ini dibunuh bareng-bareng, Tuhan pasti akan mengutuk mereka 
jika mereka melakukan hal itu. Percayalah pak, jodoh, rezeki dan maut itu ada 
di tangan Tuhan. Ayo sekarang dimakan nasinya, nasi dan lauknya itu enaknya 
keliwat kok nggak doyan, ayo dimakan, kalau nggak makan nanti malah mati karena 
ulah sendiri.”
  Mulailah pak Dul bisa memahami nasihat pak Jai, nasi jatah pun mulai 
dimakannya. Tak lama setelah itu kepala stasiun mengacungkan tanda perintah 
jalan bagi kereta, peluit berbunyi panjang. Pak masinis menengok kebelakang, 
gaung kereta berbunyi nyaring, kereta mulai bergerak, pelan. Selamat tinggal 
Jakarta! 
   
  Baik sebelum maupun sesudah kereta berangkat, pintu gerbong selalu tertutup 
rapat  dengan penjagaan ketat tentunya. Senjata laras panjang dengan sangkur 
telanjang di ujungnya, siap beraksi mana kala ada tapol yang mencoba-coba 
melarikan diri. Kejadian semacam itu bukan tidak mungkin tak terjadi bagi orang 
yang mempunyai kenekatan luar biasa, mungkin saja karena rasa takut dan rasa 
putus asa akan membuat seseorang menjadi nekat, ditengah perjalanan mereka 
menghantam si penjaga atau jika kebetulan si penjaga lengah karena ngantuk, 
maka bisa saja kesempatan itu digunakan sebaik-baiknya. Loncat dari kereta dan 
kabur di tengah kegelapan malam. 
   
  Kereta berjalan terus dengan kencang tanpa henti, ngetan apa ngulon arah 
kereta ini tak kuketahui dengan jelas, hanya sekilas tadi sempat nampak papan 
nama setasiun Purwokerto karena kereta berjalan agak pelan. Setasiun Purwokerto 
termasuk setasiun besar untuk lintas selatan Jakarta-Surabaya. Kalau begitu 
arah kereta ini menuju ke selatan, sudah bisa diraba bahwa kereta tidak akan 
menuju Surabaya karena jika kereta menuju Surabaya tentunya akan mengambil 
lintas utara yang lebih dekat. 
   
  KLB berjalan terus, bang wetan menampakan merahnya tanda pagi telah tiba. Jam 
7 pagi KLB berhenti, setasiun kecil dengan papan nama bertuliskan Maos menjadi 
titik henti KLB.
  Semakin jelas lagi sekarang mau di kemanakan kami ini sebenarnya. Perintah 
untuk turun dari kereta dikomandokan, pintu kereta dibuka lebar-lebar. Petugas 
militer dengan senjata AK-nya di tangan siap menarik pelatuk menjaga di 
kiri-kanan setiap pintu. Kami turun berturut-turut dengan membawa bungkusan 
sisa milik kami dari Salemba. Kami diperintahkan jongkok berjajar memanjang 
dengan kedua telapak tangan merangkul kuduk. Kosong sudah perut gerbong KLB, 
halaman setasiun Maos tak mampu menampung, rombongan tapol ini jongkok berjajar 
sampai menyeberang jalan. Penduduk di sekitar setasiun nampak berderet 
menonton, ya sejak keluar dari Salemba kami selalu jadi tontonan masyarakat, 
mungkin menarik bagi mereka. Barangkali ada juga orang yang sebenarnya hendak 
ke pasar jadi tertunda, menyempatkan diri nonton rombongan orang-orang 
berpakaian serba tanggung berwarna putih dengan bertuliskan angka di setiap 
punggungnya.
   
  Kami duduk sambil merangkul kuduk, kami diinspeksi, boleh jadi oleh komandan 
Kodim atau Koramil setempat, penghitungan jumlah tapol dimulai. Petugas 
pencatat siap dengan buku dan bolpen di tangannya, seorang petugas dengan 
kentesnya mulai menghitung. Kentesnya menyambar setiap kepala yang dihitungnya 
sambil berujar, “Nih sarapan pagi untuk kalian”, ucapan yang sangat menghina 
tapi hal itu menjadi sah-sah saja bagi mereka, apalagi kok cuma memukul, 
membunuh tapol pun seolah hukumnya sah dan wajib, tak ada dosa bagi mereka, 
yang ada adalah pahala.
   
  Selesai kami dihitung dengan sarapan kentes, kami digiring naik truk lagi 
sampai Cilacap. Prediksi pak Hasim ternyata salah, aku dan dik Sanadi ternyata 
tidak dibebaskan, kami hanya bebas dari penjara Salemba tapi masuk ke penjara 
lainnya. Ya kami hanya pindah alamat. 
                                             
                                                              *****
   
  Bersambung ke nr. VII -  NUSA KAMBANGAN ...

  

 
                          Lembaga SASTRA PEMBEBASAN

  Address: Postbus 2063, 7301 DB Apeldoorn – Netherlands
E-Mail: [EMAIL PROTECTED] 
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/ 
Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65: http://www.prog














Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/   
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/ 






 
---------------------------------
Finding fabulous fares is fun.
Let Yahoo! FareChase search your favorite travel sites to find flight and hotel 
bargains.

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke