Lembaga Sastra Pembebasan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Date: Mon, 29 Jan 2007 08:57:23 -0800 (PST)
From: Lembaga Sastra Pembebasan <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: KISAH PAHIT SEORANG TAHANAN G30S "BULEMBANGBU" Oleh N. Syam. H ( VI )
KISAH PAHIT SEORANG TAHANAN G30S
BULEMBANGBU
Oleh N. Syam. H
Salemba: - Pertemuan Keluarga Yang kedua - hal. 50 - 63
Pertemuan keluarga yang kedua ini pun diadakan saat hari besar, dalam rangka
menyambut Tahun Baru 1968. Dan dalam perayaan Natal dan Tahun Baru bagi para
tapol Nasrani atau Katolik ada juga kesempatan kebaktian. Malam Natal tahun itu
Dewan Gereja memberikan bingkisan kepada para tapol, bingkisan itu berupa
sekotak nasi lengkap dengan lauk pauknya untuk makan malam, menunya tentu saja
menu khas Natal . Menurut ukuran para tahanan, menu itu sungguh sangat
istemewa. Nasi komplit dengan lauknya daging dan sudah tentu masih ditambah
kue-kue Natal yang belum pernah kami temui selama menjadi tahanan. Hanya
sayangnya, bingkisan mewah seperti itu sudah tidak utuh lagi ketika sampai di
tangan kami. Yang dimaksud dengan tidak utuh itu bukan isinya yang berkurang,
tetapi jumlah bingkisan itu yang jadi berkurang. Ya, kami hanya menerima satu
kardus nasi untuk berdua.
Dalam benakku terlintas pikiran, apa iya yang namanya Dewan Gereja setega
itu, memberikan seorang tahanan hadiah Natal, yang hanya berupa nasi saja kok
cuma separo kardus?, kalau memang tidak mencukupi apakah tidak lebih baik jika
volumenya saja yang dikecilkan, sehingga gampang membaginya. Rasanya tidak
mungkin, suatu Dewan Gereja yang sangat pemurah dalam membantu umatnya
melakukan hal semacam itu. Taruhlah di seluruh Jakarta ada sepuluh ribu orang
tahanan di penjara, apakah Dewan Gereja tidak mampu mecukupinya?. Hati kecilku
berkata tentu, mereka pasti mampu.
Ya begitulah nasib para tahanan, menerima apa saja yang diberikan dan apa
adanya menurut kehendak dan keputusan mereka yang sedang berkuasa. Akhirnya
kami berkesimpulan, masih menerimanya saja sudah untung, seandainya bingkisan
tidak disampaikan pada kami, kami pun tidak akan bisa berbuat apa-apa. Jadi
sudah sepatutnya kami bersyukur. Terima kasih Dewan Gereja.
Kembali pada pertemuan keluarga. Seperti biasa pertemuan keluarga diadakan
pada pagi hari, tidak seperti pertemuan yang dahulu, pertemuan kali ini tidak
dilakukan di lapangan, tapi diadakan di belakang kantor penjara, juga ada rasa
sopan sedikit, halaman belakang kantor digelari tikar. Hatiku sedikit gembira
ada harapan untuk bisa bertemu lagi dengan keluargaku.
Benar saja hari itu aku mendapat kunjungan, aku kembali bertemu dengan istri
dan anakku serta Ucih, gadis cilik yang momong anakku. Sesaat setelah kami
bertemu, istriku membuka percakapan, Gimana mas, sehat nggak sakit kan ?
Sehat, pagi ini aku sangat sehat, semangat dan gairah untuk hidup terus
bersamamu bangkit kembali. Ya cuma waktunya kapan?. Kau telah memenuhi
janjimu, jawabku sambil memangku anakku.
Janji apa mas?
Lupa?, kapan kau pernah bilang padaku, mas, biar masuk kandang macan kalau
sama sampeyan saya mau dan berani. Gitu kan ingat?
Aku kini ada di kandang macan, suatu ketika jika sang macan lapar bisa saja
aku disantap, dikunyah dan ditelannya. Kini kau datang ke kandang macan,
walaupun hanya di luar jeruji. Kau tetap istriku yang cantik dan setia.
Kupeluk dia dan kucium kedua pipinya, istriku meneteskan air mata.
Kembali aku teringat saat dulu aku melamarnya. Disuatu malam aku mengajaknya
jalan-jalan menikmati udara malam kota Jakarta , kami berjalan-jalan sampai di
sekitar proyek jalan By Pass. Capek jalan ngalor- ngidul duduklah kami di
tumpukan balok-balok beton.
Aku kenal dengan pacarku memang sudah lama banget, dengan keluarganya pun aku
sudah kenal lama karena kebetulan memang satu kantor, di pharmasi. Tidak kurang
dari sepuluh tahun aku mengenalnya. Aku berkata dalam batinku, aku tidak bisa
berbuat seperti ini terus-terusan tanpa ujung, kasihan dia. Maka kuberanikan
diri, menyampaikan niat suciku. Kutempelkan bibirku di telinganya, lalu
kukatakan kepadanya dalam bahasa Jawa,
Dik, maukah kau menjadi istriku?
Pacarku menjawabnya dalam bahasa Jawa pula, Mosok aku emoh,mas
Deg nratap hatiku, apakah aku terlanjur berkata demikian, sudah siapkah aku
menjadi suaminya?. Aku ingat banget, di dalam novel Siti Nurbaya, di sana ada
adegan ketika Samsul Bachri menyatakan cintanya pada Siti Nurbaya, Maukah kau
kelak menjadi istriku?, dan Siti Nurbaya pun menjawab, Masak tak mau.
Persis, pacarku menjawab seperti jawaban Siti Nurbaya, hanya beda bahasa, jika
Siti Nurbaya menjawab dalam bahasa Indonesia , pacarku menjawab dalam bahasa
Jawa. Memang pacarku Jawanya masih medok.
Mas, ojo meneh dadi bojo, iku pancen sing tak arep-arep, senajan mlebu
kandang macan nek karo sampeyan, aku wani. (apa lagi jadi istri itu memang
yang kuharapkan, walau memasuki kandang macan sekalipun kalau sama mas, aku
berani).
Nggak terasa tanganku menggapai pundaknya, kupepetkan dadaku kedadanya,
rapet. Kucium bibirnya, kuputar-putar lidahku dalam mulutnya. Sesaat aku lupa
segalanya, cintaku diterimanya dengan penuh keikhlasan.
Ya, itulah janjinya dulu, dan kini setelah ia menjadi istriku, ia membuktikan
janjinya itu.
Mas, maafkan saya mas, sangat mungkin aku tidak bisa lagi membesuk sampeyan.
Anggap saja besukkanku kali ini adalah besukkan terakhir, ya anggap saja
begitu, supaya sampeyan tidak terlalu berharap, dan kalau suatu ketika aku bisa
membesuk lagi, itu adalah anugerah Tuhan
Lho memang kenapa?, kau dipecat dari kantormu?, apa kau tidak bekerja lagi?
Nggak mas, saya nggak dipecat, saya tetap bekerja di kantor, tapi saya
sekarang tidak tinggal di Utan Kayu lagi. Rumah kantor harus dikosongkan
Ada petugas yang mengusirmu?, lalu kau sekarang tinggal dimana?
Bukan mas, tidak ada petugas yang datang mengusir. Ada seorang perempuan
yang datang dan mengatakan kalau dia adalah istri dari pemilik rumah kantor
itu. Jadi saya harus meninggalkan rumah itu segera. Katanya rumah itu akan
dijualnya, nanti kalau sudah laku, saya mau diberi ganti rugi
Aku jadi bingung, rumah yang aku tinggali bersama keluargaku itu memang
adalah rumah kantor, aku menempatinya pun atas izin kantor, dan memang setahuku
rumah itu seratus persen rumah kantor. Kok sekarang ada seseorang datang dan
mengaku istri dari pemilik rumah kantor. Aneh?, siapa dia?. Terlintas dibenakku
tentang sebuah pesan yang pernah kuterima dulu saat Santi Aji, oh mungkin
perempuan itu adalah istri dari rekan sekantorku itu. Ya bener, ingat aku
sekarang.
Kapan itu terjadi? tanyaku
Sudah lama juga, lebih dari sebulan yang lalu
Lantas sekarang kau tinggal dimana?, diberi ganti rugi berapa?
Nggak, nggak dikasih ganti rugi. Rumah itu ternyata nggak dijualnya, tapi
rumah itu malah akan dibangunnya dan ditempatinya sendiri. Sekarang aku tinggal
di rumah kontrakan, jauh dari Utan Kayu. Terpaksa barang-barang simpananku tak
jual semua untuk kontrak rumah, mas kan tahu berapa banyak sih simpanan barang
milikku, itu pun masih kurang, aku harus menambahnya dengan uang dari pinjaman
kantor untuk bisa kontrak selama setahun. Kalau nanti sudah habis setahun dan
tidak bisa memperpanjang kontrak, ya nggak tahu. Maaf ya mas, bukan maksud saya
untuk membebani pikiran sampeyan. Percayalah nanti juga ada jalan keluarnya.
Weh lha benar-benar sebuah pukulan telak. Kok bisa-bisanya rumah kantor
diakui sebagai rumah milik suaminya, dan akan dibangun untuk menjadi rumah
tinggalnya. Tega benar dia. Ya baiklah kalau rumah kantor bisa diakui dan
dihaki menjadi rumah miliknya itu tidak apa-apa, aku malah cenderung
menyokongnya dari pada rumah itu dijarah buto ijo. Tetapi yang menjadi ganjalan
dan yang mengenaskan, kok dia benar-benar tega, menyuruh istriku meninggalkan
rumah tanpa memberi pesangon sedikitpun. Keadaan sudah jungkir balik, rasa ego,
tamak, dengki, srei bermunculan. Kedok sudah terbuka, kini wajah aslinya nampak
jelas.
Ya sudahlah mau apa lagi, memang rumah itu bukan milik kita, kataku, Apa
lagi aku kini ada dalam kurungan penjara, seandainya dalam keadaan bebas pun
aku juga belum tentu bisa berbuat banyak, aku ini kan hanya orang di bawah
perintah. Tapi adik sehat kan ?
Sehat mas, berdoa saja mas, agar mas bisa cepat bebas, biar kita bisa
berkumpul lagi, membesarkan anak kita
Oh tentu, aku selalu berdoa, terutama buat si gendhuk dan ibunya. Biarlah
kau tak bisa kirim besukkan juga tak apa, biar sekepal penjara masih kasih
makan aku, yang terpenting adalah anak kita, berikan segalanya untuk anak kita,
terutama soal makan dan kesehatannya jangan sampai terlantar. Eh ya, adik kirim
rokok kok cuma sebatang?, kan lebih baik rokoknya diganti saja dengan tembakau
saja, biar awet
Ya mas, memang kiriman rokoknya hanya sebatang dan nggak ada tembakaunya.
Maaf ya mas, rokok itu pengasih dari orang tua. Kata beliau, rokok itu harus
dihisap mas sendiri, nggak boleh dihisap oleh orang lain, mas juga nggak boleh
menghisap rokok yang lain, kecuali rokok yang itu saja. Itulah sebabnya kiriman
rokok hanya sebatang, kalau dicampur dengan rokok yang lain atau tembakau,
nanti yang dihisap bisa rokok yang lain, bukan yang khusus itu. Rokok itu ada
isinya mas
Orang tua itu dukun, maksudmu?, siapa yang kasih ajaran macam itu?
Ya mas, dari teman sekantor, ada yang ngasih saran agar aku berikhtiar
melalui orang tua
Oh begitu, ya bagus, terima kasih kepada yang memberi saran. Memang yang
namanya ikhtiar itu baik, tapi menurutku kok rasanya kurang tepat dik
Kurang tepatnya dimana mas?
Masak kau nggak ngerti?. Begini ya aku kasih tahu, bahwa persoalan
penahananku ini adalah persoalan politik yang erat hubungannya dengan negara
atau pemerintah, ini persoalan nasional bukan persoalan pribadi perseorangan,
bahkan persoalan peristiwa '65 itu menjalar sampai kedunia internasional. Jadi
penyelesaian para tahanan seperti diriku ini semuanya itu tergantung pada
sarana politik yang bisa merubah sikap para penguasa. Selama sarana itu tidak
ada, ya tetap saja para tapol akan menempati posisi seperti ini. Pak dukun
tidak akan mungkin bisa membebaskan para tahanan. Karena biasanya pak dukun itu
kan hanya menangani persoalan pribadi, perorangan, seperti misalnya kalau ingin
mendapatkan cinta dari lawan jenis melalui ilmu pelet, atau ingin menyakiti
seseorang dengan cara santet menyantet, nah itu baru bisa lewat pak dukun.
Tiwas ngenteke duwit kan lebih baik uang itu digunakan buat keperluan anak
kita. Dan jangan dikira loh dik, beliau-beliau itu juga suka main dukun, bahkan
simpanan dukun mereka bukan sembarang dukun, bukan seperti dukun kampung
kebanyakan, tidak sedikit dari beliau-beliau itu yang mempunyai pegangan ajimat
yang keampuhannya sangat mumpuni segala keperluan. Jadi jangan diulang lagi ya
dik, percuma nggak ada gunanya, tapi yang sudah ya sudahlah
Ya mas, maaf kalau saya keliru
Ya nggak apa-apa, namanya juga ikhtiar
Tak terasa waktu pertemuan berakhir, anakku diambil dari pangkuanku, sambil
menggandeng anak kami istriku sekali lagi mengatakan agar aku tidak terlalu
berharap dengan kiriman besukkannya, kalau ada rezeki walaupun hanya sepotong
singkong tentu akan diantarnya.
Istriku telah memenuhi janjinya, dia telah menunjukkan kesetiaannya, walaupun
mungkin sedikit keliru, ikhtiar itu adalah caranya menunjukkan rasa
keinginannya agar aku, suaminya ini dapat segara bebas kembali. Dan ternyata
masih ada juga orang-orang yang menunjukkan rasa kepeduliannya serta rasa
simpati dan empati terhadap kebebasanku. Ya kepada mereka-mereka itu aku
ucapkan terima kasih.
Kembali ke Blok-O, aku nikmati kiriman besukkan dari istriku, aku tidak ambil
pusing dengan rokok dari pak dukun, selesai makan bersama aku hisap rokok itu,
kutarik dalam-dalam asap rokok, kunikmati benar asap rokok itu, siapa tahu
kiriman ini benar-benar kiriman terakhir. Besok atau lusa aku akan menjadi
salah satu tahanan yang harus bisa hidup hanya dari jatah penjara saja. Kalau
memang aku masih diberi umur panjang, masih deberi kesempatan untuk hidup,
tentu aku akan bisa hidup walau dengan apa adanya. Insya Allah, ya
mudah-mudahan saja.
Oplosing para tahanan berjalan lagi, kali ini aku dipindah ke Blok-G. Blok-G
ini adalah blok dengan sel tunggal, sebuah kamar besar. Rata-rata penghuninya
sangat kurus-kurus, kurang makan, dari jumlah seluruh penghuni sel ini yang
menerima kiriman besukkan tidak lebih dari 20 % saja, itu pun tidak menentu. Di
Blok-G ini aku jatuh sakit, agak parah juga, mungkin sakitku ini akibat dari
pikiran-pikiranku yang belum bisa tenang karena terlalu memikirkan nasib
keluarga di luar, aku selalu terpikir tentang bagaimana dengan keadaan rumah
kontrakan keluargaku, bagaimana keadaan anakku kalau ditinggal ibunya ke
kantor, bagaimana makanan anakku bergizikah atau hanya sekedar asal makan saja.
Tapi yang jelas dan pasti aku sakit juga karena kurang makan.
Di Blok-G ini juga aku mulai mengenal yang namanya goles alias sego teles
atau nasi basah. Goles ini dikirim oleh teman-teman yang bertugas di dapur
karena adanya rasa solider tentunya. Mungkin nasi ini adalah kumpulan dari
nasi-nasi yang lengket di sabluk atau di kotak besar tempat menampung nasi dari
sabluk. Kalau sabluk dan kotak ini dicuci, rontokan nasinya lumayan juga. Nah
rontokan sisa-sisa nasi itu lalu dikumpulkan dan dimasukan kantong plastik,
kemudian dikirim ke blok-blok yang dianggap memerlukannya dengan cara
diselundupkan kedalam dandang yang berisi air panas. Blok-G sering menerima
kiriman goles ini, biar benyek, sepo anyep tapi kalau perut sudah lapar tidak
pernah menolaknya, mulut dan perut yang kelaparan tetap mau menerimanya dan
tetap saja terasa enak.
Tiga bulan lebih aku menjadi penghuni Blok-G, kiriman besukkan memang tidak
pernah kunjung tiba. Seperti yang dikatakan istriku, aku jangan terlalu
berharap mendapat kiriman besukkan, kalau ada rezeki biarpun hanya sepotong
singkong pasti akan dikirimkannya.
Benar juga, rupanya rezeki itu barangkali sudah datang, ketika suatu hari
namaku dipanggil oleh teman yang bertugas mengambil dan membawa kiriman
besukkan, meriangku langsung saja hilang. Tiga bulan lebih aku tidak pernah
makan lebih dari jatah penjara, aku juga tidak pernah mimpi akan dapat kiriman
besukkan yang begitu komplit. Ya saat itu aku mendapat kiriman besukkan yang
terdiri dari tiga tas. Satu tas berisi nasi dan lauknya, satu tas lainnya
berisi tembakau dan makanan kering yang bisa tahan lama dan satu tas lagi
berisi pakaian.. Kiriman pakaian itu antara lain adalah kaus dan celana dalam,
celana panjang, baju-baju halus seperti sutra dan ada pula jaket dari bahan
verlak halus. Aku tidak pernah merasa memiliki pakaian-pakaian itu, lantas dari
mana semua pakaian ini?. Kalau boleh aku menerka-nerka, mungkin kiriman pakaian
ini datang dari sahabatku, bapaknya Koko, tapi kenapa?.
Dari kabar burung yang pernah kudengar, penjara Salemba akan segera
dikosongkan.
Mungkin keluarga dan teman-teman yang di luar sudah lebih tahu akan hal itu,
entah lewat radio atau pun media cetak. Kemungkinan adanya pemindahan para
tapol akan segera terjadi, kemana?. Nggak tahu. Mana mungkin tapol seperti aku
bisa tahu dan mengerti, tapol kan hidupnya terisolasi, lepas dari keluarga,
jauh dari berita dan informasi dunia luar. Kehidupan di penjara itu kan hanya
menghitung waktu, kapan bisa bebas atau kapan maut menjemput?.
Kiriman besukkaanku yang mempunyai bobot istimewa, lebih dari bobot besukkan
yang pernah aku terima, rupanya menjadi besukkan yang benar-benar terakhir
kali, sampai tiba saatnya aku tinggalkan penjara Salemba yang jahanam itu, tak
pernah lagi aku menerima kiriman besukkan dari keluarga. Dengan adanya kiriman
besukkan itu oleh kepala blok aku diserahi tugas menanggung seorang teman,
bernama Ahmadi untuk diajak makan bersamaku.
Tak lama sesudah aku menerima kiriman istimewa ada oplosing lagi, aku
dipindah lagi, kali ini ke Blok-P. Di blok ini aku kembali bertemu dengan pak
Hasyim Rahman, tapi beliau tidak lagi menjadi kepala blok, beliau hanya menjadi
warga blok biasa.
Karena beliau sudah kenal lama denganku, maka aku diajaknya untuk satu sel
dengannya ditambah lagi dengan seorang teman lain yang hidupnya juga tergantung
dari jatah penjara.
Saat itu bertepatan dengan hari Jumat, aku absen shalat Jumat, hanya karena
harus menata sel yang baru. Kesibukan para petugas penjara tampak lain dari
biasanya, kepala sekuriti sibuk keluar masuk blok. Berita tentang pengiriman
para tapol ke Pulau Buru makin santer, terang dan jelas. Rupanya sudah bukan
menjadi rahasia lagi, kepindahan para tapol hanya tinggal menunggu waktu saja,
mungkin hanya tinggal satu dua hari, mungkin bisa nanti malam, segalanya bisa
mungkin, bisa terjadi kapan saja. Para petugas penjara
Salemba dan para tapol penghuninya, hanya tinggal menunggu perintah saja.
Ayo siap, tinggalkan tempat ini, kemudian akan kukirim dan kubuang kalian ke
Pulau Buru!
Kepala sekuriti, Peltu Marjuki, sok berlagak seperti seniman atau budayawan.
Tak ada pesta tanpa akhir, begitu ucapnya pada kami. Buat si Kliwon ini,
penjara Salemba adalah tempatnya berpesta. Benar juga barangkali, memang
penjara bagaikan neraka buat kami para tahanan, tetapi penjara bagi mereka yang
berkuasa adalah tempat mereka berpesta.
Bagaimana tidak, coba saja pikirkan berapa banyak para narapidana yang bila
malam tiba bisa dengan bebas pulang ke rumah dan tidur dengan istri, berapa
pula banyaknya para pembobol uang negara yang bisa dengan mudah lolos dari
penjara dan kemudian lari ke negara tetangga.
Di penjara Salemba ada seorang tahanan yang bernama Aslam, dia disebut juga
sebagai si Raja Karet, orangnya gede tinggi, kekayaannya barangkali sudah tidak
bisa dihitung lagi, di dalam penjara saja untuk keperluan mandinya pun ada yang
melayaninya. Aku tidak tahu persis tentang status tahanannya, apakah dia
seorang tapol atau tahanan kriminil. Nah, pada hari raya Idul Adha atau disebut
juga hari Raya Kurban, atau Lebaran Haji, sang raja karet ini menawarkan pada
penguasa penjara untuk mendatangkan sapi atau kerbau sebanyak lima ekor atas
tanggungannya, nanti seluruh daging hewan itu sepenuhnya untuk keperluan makan
para tapol, asalkan dia bisa diizinkan pulang untuk bertemu dengan keluarganya.
"Ayo kawallah saya pulang untuk bertemu keluarga saya," demikian pintanya.
Sayangnya keinginan si raja karet ini tidak dapat terlaksana, tapol tetap
tidak menerima apa-apa pada hari raya, jatah makan tetap saja tipis dengan
sayur bening bayam, keinginan pak Aslam untuk menyumbang daging untuk para
tahanan tidak terwujud. Tapi anehnya sejak hari raya Idul Adha pak Aslam tidak
tampak lagi batang hidungnya di Salemba. Kemana perginya beliau?. Barangkali
hanya uang yang ada di kantong para penguasa itulah yang tahu.
Malam sebelum tidur pak Hasyim mengajak aku dan seorang teman satu sel
bernama Sanadi, ngobrol.
Pak Sam, nih tembakau Mole dan rokok Bentoelnya, lintinglah seperti dulu
saat di Blok-Q, nanti kita bisa merokok ramai-ramai, kalau perlu kita bisa
merokok sampai pagi. Siapa tahu sel ini adalah sel terakhir kita, kemudian
besok atau lusa kita akan berpisah
Ya pak, sini kulintingnya,
Dulu sewaktu di Blok-Q aku biasa jadi pembantunya pak Hasyim, menisikan
sarung atau celananya yang lepas jahitannya pasti aku yang mengerjakan, tentu
saja karena ada imbalannya yang cukup baik.
Kalian boleh bergembira, tak lama lagi kalian akan bebas bertemu dengan
keluarga lagi. Hanya kalau nanti kalian sudah bebas jangan lupa sama saya, ya.
Kalau saya sih tidak akan bebas, prosesnya masih panjang. Saya mesti diproses
lewat pengadilan, nah hasil proses pengadilan itu nanti bisa berupa
macam-macam. Bisa saja saya diputus bebas, tapi ini tidak mungkinlah. Bisa juga
saya divonis mati, atau setidaknya dipenjara seumur hidup
Pak, selaku, Apakah benar dengan kabar yang katanya para tapol akan
dipindahkan ke Pulau Buru?. Dimana letak Pulau Buru itu, pak?
Pulau Buru itu termasuk wilayah Indonesia bagian timur, letaknya tidak jauh
dari Ambon . Pulau Buru itu termasuk ke dalam Provinsi Maluku
Lha kalau kita dipindahkan ke sana , apakah di sana juga sudah ada
penjaranya?. Seperti dulu saat jaman penjajahan, banyak orang-orang yang
dibuang ke Digul atau Tanah Merah. Kemudian setelah mereka bebas disebut
Digolis. Jangan-jangan seperti itu pak?
Saya nggak tahu, tetapi hakekatnya setiap tempat dimana ada tahanannya
adalah penjara. Sudahlah kalian nggak perlu ngerti tentang Pulau Buru, besok
atau lusa kalian pasti akan bebas. Tunggu saja saatnya akan segera tiba. Masih
mau merokok nggak?, kalau nggak sebaiknya mari kita tidur sambil menunggu
kabar, bagaimana jadinya esok pagi
Kami bertiga pun segera pergi tidur. Tapi nyatanya aku sulit untuk tidur,
berbagai macam pikiran berkecamuk di benakku, terbayang olehku bagaimana nanti
kalau aku bebas, ketemu keluarga lagi seperti gambaran pak Hasyim, yang
nampaknya sangat meyakinkan dan memberiku harapan terang. Lha kalau nanti aku
benar bisa bebas apa iya kebebasanku itu karena hasil kerjanya pak dukun
melalui sebatang rokok khusus. Tetapi sayangnya ketika aku diperiksa aparat di
Salemba ini aku tidak membaca doa yang telah diajarkan oleh tetanggaku, bung
Aziz. Jika kelak bung Aziz bisa bebas, apakah bebasnya itu karena membaca doa
itu. Aduh sayang sekali, kenapa doa itu nggak aku baca saat aku diperiksa.
Seandainya saja doa itu kubaca dan rokok dari pak dukun tidak hanya satu
batang, barangkali tentunya kebebasanku akan nampak terang dan jelas di depan
mata. Tapi rokoknya hanya satu batang dan doanya tak kubaca, rasa gelap,
khawatir dan juga penyesalan menumpuk dibenakku. Kembali aku coba menekan
segala pikiran yang menyesakkan ini, kukuatkan mentalku. Apa pun yang akan
terjadi, hingga sampai pada hal yang paling buruk pun, aku harus siap. Aku
sendiri pernah mengingatkan Pak Daryo,
Pak, penjara ini belum apa-apa, ini baru B yang pertama, masih ada dua B
yang lain menunggu kita. B dibuang atau B dibunuh, semuanya bukan tidak
mungkin bisa terjadi.
Kembali modal pertamaku saat di Kodim Budi Kemuliaan muncul, Tenang kancane
akeh kok!. Kalau sudah begitu hatiku sedikit tenang dan tentram. Mudah-mudahan
saja apa yang dikatakan oleh Pak Hasyim benar, aku akan segera bebas.
Belum tidur pak Sam?, kenapa, nggak bisa tidur?. Sudahlah tidur, nggak usah
dipikirkan, tunggu saja saatnya kalian pasti akan bebas. Apa yang dikatakan
Peltu Marjuki itu benar, tak ada pesta tanpa akhir. Segalanya yang ada di dunia
ini kan dibatasi oleh waktu. Coba saja mana ada hal yang tidak dibatasi oleh
waktu, tidak ada. Sampai kapanpun yang namanya waktu itu pasti tiba. Kalau pak
Sam pernah nonton sebuah tontonan yang menurut pak Sam baik dan enak ditonton,
taruhlah pak Sam nonton wayang kegemaran pak Sam, keindahan wayangnya makin
terasa karena dibatasi oleh waktu. Waktu itu berjalan terus pak, waktu tak
pernah berhenti, mandeg di jalan. Waktu yang tak pernah kita hitung itu,
tahu-tahu membawa kita menjadi tua seperti sekarang ini. Sebenarnya orang yang
tidak mau tahu akan waktu dan tidak pernah memperhitungkan waktu, hakekatnya
adalah orang yang merugi, karena waktu itu tidak pernah dapat kembali mundur.
Bagi mahkluk hidup terutama manusia yang hidupnya dibatasi
oleh waktu, waktu itu adalah satu faktor penting yang perlu diperhitungkan.
Time is Money kata pedagang. Jangan buang-buang waktu,
Lengbet, meleng sabet, kata para pencoleng. Para pencoleng itu sangat
memperhitungkan dan menghargai waktu. Nggak peduli apakah itu pencoleng di
pasar atau kah pencoleng uang negara, mereka semua bekerja dengan memanfaatkan
waktu.
Eh akhirnya kami nggak jadi tidur, ngobrol lagi bertiga dan kami kembali
merokok lagi.
Eh dik Sanadi, kata pak Hasyim kepada teman satu sel yang lain, Mau tanya
apa? atau sudah punya rencana apa kalau besok atau lusa dik Sanadi benar bisa
bebas?
Ah nggak pak, saya nggak mau tanya apa-apa, ya mau tanya apa, saya ini kan
nggak ngerti apa-apa pak. Bisa sampai masuk penjara ini pun saya nggak ngerti.
Kenapa saya bisa sampai masuk penjara padahal saya kan nggak berbuat apa-apa
Sebagai seorang pemuda, apakah dik Sanadi pernah masuk sebuah organisasi?
Ya itu pak karena ikut-ikutan teman-teman di kampung saya masuk Pemuda
Rakyat
Diajari apa saat di Pemuda Rakyat?, disuruh baca buku politik ya?
Nggak pak, nggak disuruh baca buku apa-apa, mana saya ngerti, sekolah SD
saja saya nggak tamat
Lantas ngapain di Pemuda Rakyat?
Itu loh pak, saya kan seneng sama itu yang namanya drum band. Saya tertarik
sekali jadi saya ingin bisa main seperti mereka itu. Saya seneng sekali melihat
orang yang memukul tambur yang gede itu pak, tangan kirinya memukul kulit
tambur sebelah kanan, tangan kanannya memukul kulit tambur sebelah kiri, jadi
tangannya menyilang terus-terusan kaya baling-baling, wah gagah sekali
kelihatannya. Apalagi itu cewek yang jadi komandannya, memberi komando sambil
membawa tongkat yang diputar-putar, kadang-kadang berjalan mundur lalu tongkat
dilempar ke atas, saat jatuh diterima tangan kanan dan terus diputar-putar
lagi, wah pendeknya menarik sekali pak. Saya kepingin bisa seperti mereka maka
itu saya mendaftar menjadi anggota Pemuda Rakyat.
Oh tambur besar itu namanya drum dik, dan cewek yang memberi komando sambil
membawa tongkat itu disebut dengan majoret. Lantas kau pernah diberi pelajaran
apa saja?, apa dikursuskan misalnya? tanya pak Hasyim lagi.
Dikursuskan apa, cuma kalau lagi kumpul-kumpul kami suka diomongin tentang
perjuangan. Katanya Indonesia ini amat kaya raya punya segalanya dan sekarang
kita sudah merdeka, tapi kenapa kita ini umumnya kok masih miskin dan bodoh,
begitu pak katanya
Kata siapa?
Ya itu kata yang ngomongin, kayaknya sih dia salah satu pembina senior di
organisasi. Maka itu katanya pak, kita sebagai pemuda harus berjuang melawan
kemiskinan dan kebodohan. Lha caranya berjuang tidak bisa sendiri-sendiri tapi
harus dilakukan bersama-sama, nah untuk bisa melakukan bersama-sama itu
syaratnya ya harus melalui organisasi. Itulah sebabnya kita harus mempunyai
organisasi yang namanya Pemuda Rakyat. Lewat Pemuda Rakyat inilah kita akan
melawan kemiskinan dan kebodohan, gitu katanya pak. Lama-lama saya jadi anu pak
Anu kenapa?
Anu pak, saya jadi mulai berani nanya
Tanya apa?
Jadi saya pernah tanya, melawan kebodohan dan melawan kemiskinan lewat
organisasi itu bagaimana?. Dijawab, bagus bung, bung sudah mulai berani
bertanya, itu tandanya bung sudah ada kemajuan. Saya jadi geli pak, masak cuma
nanya kayak begitu saja sudah dibilang ada kemajuan
Bener itu, kata pak Hasyim, "Itu memang satu kemajuan, ngomong, bertanya
apalagi menjawab dalam kumpulan orang banyak itu tidak semua orang bisa dan
berani. Banyak orang pintar tetapi ketika harus bicara dimuka umum, di mimbar
misalnya kepintarannya jadi hilang, gelagepan ndak bisa omong apa-apa, kakinya
gemetar, mukanya pucat. Jadi kalau dik Sanadi itu mau dan berani bertanya itu
adalah satu kemajuan, ayo teruskan, apa jawaban pertanyaanmu itu?
Katanya, gini bung misalnya ada seorang pejabat taruhlah misalnya seorang
menteri yang menyalah gunakan kewenangannya. Saya tanya lagi pak, menteri sama
manteri itu apa sih bedanya bung?. Eh saya malah ditepukin tangan sama
teman-teman, malah ada yang nyeletuk, ayo Di tanya terus!
Pak Hasyim ketawa, aku pun jadi ikut ketawa geli. Selanjutnya pak Hasyim
berkata lagi.
Di, ternyata diam-diam anda punya pengalaman yang menarik juga. Pertanyaan
dik Sanadi itu bisa jadi sebenarnya adalah juga menjadi pertanyaan para anggota
lainnya yang sebenarnya mereka juga belum mengerti tapi mau tanya mereka tidak
berani. Ayo teruskan ceritanya, nggak tidur juga nggak apa-apa, rokoknya juga
masih ada, mungkin besok atau lusa kalian akan bebas dan kita akan berpisah
jadi anggap saja ini kumpul yang terakhir dan cerita-cerita semacam ini bisa
menjadi kenangan kita.
Gini lo bung, Hadi melanjutkan ceritanya, Manteri dan menteri itu
sama-sama sebuah jabatan. Kalau manteri itu jabatan sebagai pegawai negeri
sipil sedangkan kalau menteri itu jabatan anggota kabinet pemerintah. Kalau
menteri itu jabatan yang mengepalai suatu departemen misalnya Departemen
Sosial, Departemen Keuangan dan lain-lainnya. Menteri itu bukan pegawai negeri
sipil, masa jabatannya sebatas waktu yang ditetapkan oleh undang-undang,
misalnya pemerintah saat ini yang dipimpin oleh presiden Soekarno, maka kabinet
dengan para menterinya yang menjadi pembantu presiden masa jabatannya sesuai
dengan ketetapan yang diatur oleh undang-undang. Kalau di Indonesia masa
jabatan para menteri itu adalah lima tahun sesuai dengan masa pemerintahan
presiden yaitu lima tahun.
Kalau seorang menteri dalam melaksanakan tugas memimpin departemen sebagai
pembantu presiden tidak dapat dijalankan dengan baik, bisa saja menteri itu
dicopot dan diganti oleh orang lain, kemudian dia dikembalikan ke tempat
asalnya.
Saya lalu tanya lagi, yang dimaksud dengan tempat asalnya itu bagaimana
bung?, apa di kampung gitu misalnya?, eh saya kembali ditepukin tangan pak.
Lalu sang pembina menjawab lagi, bukan bung, yang dimaksud ke tempat asalnya
itu begini, kalau sebelum dia diangkat menjadi menteri, dia adalah seorang
pengusaha maka setelah berhenti jadi menteri dia akan kembali menjadi pengusaha
lagi tapi kalau dia sebelumnya adalah seorang pegawai negeri sipil maka setelah
berhenti jadi menteri dia kembali menjadi pegawai negeri sipil dan kalau dia
seorang anggota partai maka dia akan dikembalikan ke partainya. Lha kalau
manteri itu misalnya manteri rumah sakit atau manteri hewan, dia adalah seorang
pegawai yang masa jabatannya dibatasi oleh usianya. Jadi kalau pak manteri itu
usianya telah mencapai 65 tahun, maka menurut undang-undang pak manteri harus
pensiun. Pak manteri tidak bisa dipecat begitu saja kecuali dia melanggar
undang-undang kepegawaian.
Misalnya manteri kesehatan di sebuah rumah sakit yang telah biasa melayani
pasien dalam memberikan obat, yang tentunya sesuai dengan petunjuk dokter, si
pasien yang menderita penyakit ini dikasih obat ini, pasien yang menderita
penyakit itu dikasih obat itu, nah karena bertahun-tahun pekerjaannya begitu
maka sang manteri merasa hapal bener dengan obat-obatan yang harus diberikan
pada para pasien, kemudian pak manteri menyalah gunakan jabatannya, misalnya
dia mengaku sebagai dokter, nah dia ini bisa dipecat zonder debat, begitu bung,
ngerti ya.
Bung, pertanyaan saya tentang melawan kemiskinan dan kebodohan lewat
organisasi kan belum dijawab bung, Hadi kembali melanjutkan ceritanya.
Oh ya begini bung, misalnya ada seorang menteri, menteri sosial misalnya, si
menteri ini menyelewengkan dana yang mestinya untuk kepentingan masyarakat yang
lemah ekonominya tidak disalurkan dengan baik, dana yang disediakan untuk
membangun sekolahan di desa juga mampir ke saku pak menteri. Nah perbuatan
semacam ini tentunya tidak bisa dibiarkan begitu saja. Maka kemudian kita
galang front pemuda, kita ajak organisasi-organisasi pemuda lainnya untuk
melawan si menteri yang suka menyeleweng ini agar si menteri dapat ditindak
tegas oleh hukum dan undang-undang. Itulah pada dasarnya berjuang lewat
organisasi. Sudah tentu prosesnya tidaklah segampang itu, jadi paham ya bung.
Saya jawab, ngerti bung, terima kasih dan saya kembali ditepukin tangan sama
teman-teman.
Wah, kata pak Hasyim, Ternyata dik Sanadi bisa juga bercerita dengan baik
dan lancar, padahal katanya Sekolah Dasar saja nggak tamat, ya sudah
sepantasnya kalau dik Sanadi dikasih tepuk tangan. Kalau pak Sam punya cerita
apa?, ayo cerita pak, biarlah nggak tidur juga nggak apa-apa, besok pagi-pagi
kalau air panas datang kita bikin kopi, kan masih ada kopi dan gula sedikit,
cukuplah satu muk untuk bertiga
Gini pak Hasyim, mendengar cerita pengalaman dik Sanadi ini saya jadi
teringat pada pengalaman saya sendiri saat di Blok-G, ceritanya begini, salah
seorang tapol yang bernama pak Yunus yang juga pernah satu blok dengan kita di
Blok-Q mendapat tugas dari pak Haji Bahrun untuk memberikan pelajaran shalat di
Blok-G. Pada waktu diadakan tanya jawab saya bertanya tentang sujud sahwi. Pak
Yunus, sujud sahwi itu sujud yang bagaimana, apa kegunaannya dan kapan kita
harus melakukan sujud sahwi?
Lha ini pertanyaan yang bener-bener baik. Saudara-saudara pertanyaan pak Sam
ini sangat baik sekali, saya tahu persis kok, pak Sam ini bertanya tentang
sujud sahwi bukan karena pak Sam tidak tahu tentang sujud sahwi, tetapi kalau
pak Sam ini bertanya tentang sujud sahwi sebenarnya pak Sam menanyakan hal ini
untuk saudara-saudara yang belum mengerti tapi nggak mau atau memang malu untuk
bertanya.
Saya jadi geli pak, lha wong saya ini bener-bener tanya karena nggak ngerti
kok dianggap mewakili temen-temen lain yang tidak mau atau malu bertanya. Lha
kalau nanti ada temen lain yang bener-bener menganggap saya ini pinter lantas
menanyakan sesuatu tentang melakukan shalat yang baik dan benar, dan kemudian
saya tidak bisa menjawab kan bikin malu pak.
Begini saudara-saudara, kata pak Yunus, lanjutku, Sujud sahwi itu adalah
sujud yang dilakukan karena adanya cacat atau kesalahan dalam melakukan shalat,
baik shalat fardu maupun shalat sunat. Hukum melakukan sujud sahwi adalah sunat
bagi imam dan orang yang melakukan shalat sendirian, yang disebut juga
munfarid. Sedangkan bagi makmum tergantung pada imamnya, jika imam melakukan
sujud sahwi, maka makmum harus melakukan sujud sahwi juga, jika imam tidak
melakukannya maka makmum tidak boleh melakukannya. Lalu kapan kita melakukan
sujud sahwi, ya itu tadi jika shalat kita rusak karena kekurangan atau
kelebihan rakaat yang telah kita kerjakan, misalkan kalau kita melakukan shalat
ashar yang mestinya empat rakaat, tapi karena lupa baru tiga rakaat kita telah
melakukan tahiyat akhir, atau setelah kita melakukan lima rakaat baru melakukan
tahiyat akhir, atau jika kita merasa ragu berapa rakaat shalat yang telah kita
kerjakan, maka lakukanlah sujud sahwi sebelum melakukan
salam. Dalam sujud sahwi itu kita baca tasbih yaitu, Subhaana man laa yanaamu
wa laa yashuu sebanyak tiga kali, sedang arti dari bacaan tasbih itu adalah,
Maha Suci Zat yang tidak pernah tidur dan tidak pernah lupa.
Nah itulah saudara-saudara jawaban saya tentang sujud sahwi. Hayo siapa yang
mau tanya lagi, jangan seperti temen kita yang namanya Darmin, katanya sudah
khatam Al-Quran empat puluh kali, tapi saat mengimami shalat ashar, shalatnya
rusak berantakan, mau denger ceritanya nggak?", kata pak Yunus.
Ya mau pak! jawab kami ramai-ramai.
Gini ceritanya saudara-saudara, ketika Qommat untuk shalat ashar sudah
diserukan oleh muazin, maka bung Darmin yang kebetulan diminta untuk menjadi
imam segera bergegas berdiri di barisan terdepan untuk memimpin shalat. Pak
imam melakukan takbir dengan mengangkat kedua telapak tangannya, lalu
diteruskan dengan membaca doa iftitah tentunya. Tapi eeh dasar Darmin, cuma
omongnya doang yang gede, dia membaca surat Al-Fatiah dengan suara keras,
seperti layaknya saat melakukan shalat maghrib, isya atau subuh. Eh kok ya ada
salah seorang makmum yang sempet-sempetnya nyeletuk, gimana sih pak Min ini
shalat ashar kok disuarakan dengan suara keras, yang boleh dan harus disuarakan
keras dalam shalat ashar dan lohor kan cuma takbir dan tidal, eh temen di
sampingnya nimpali juga, hus! kalau shalat nggak boleh ngomong, diam. Dan
celakanya, dasar si Darmin mendengar ada makmumnya yang ngomong eh malah dia
nengok kebelakang sambil ngomong, siapa sih itu yang cerewet, lha karuan saja
shalat jadi berantakan, saya pun jadi ketawa sampai perut ini sakit, begitulah
cerita pak Yunus, kataku."
Kami bertiga pun ketawa ngakak membayangkan tingkah si imam yang bernama
Darmin.
Pak Sam waktu itu ikut shalat?
Nggak pak, saya tahu hal itu dari ceritanya pak Yunus, cuma saya memang
pernah kumpul dengan pak Darmin itu sejak di Kodim, suatu saat saya pernah
diajak ngobrol tentang agama. Dia bilang gini, dik Sam, kau itu kan orang Jawa
toh, ngerti nggak apa gunanya orang melakukan shalat?, para ustad dan kyai itu
kan selalu menyerukan kata tegakkan shalat dan bayarlah zakat, lakukan perintah
Allah dan jauhkan laranganNya, yang pada ujungnya kita nanti pasti akan masuk
kedalam surgaNya.
Tak kandani yo (saya bilangin ya), buat orang Jawa surga dan neraka itu nggak
perlu jauh-jauh dicari di akhirat, kau ngerti senepo nggak?, orang Jawa itu
memberi makna surga dan neraka lewat senepo tadi. Surga dalam bahasa Jawa
disebut Suwargo dan neraka disebut Neroko. Dalam bahasa Jawa itu, Suwargo
adalah rangkaian tiga kata yang terdiri dari kata Su artinya nafsu, War
artinya luar atau keluar, dan Go itu artinya lego atau puas, jadi arti
harafiah Suwargo itu adalah nafsunya keluar, hatinya lego, jadi kita akan
mendapatkan rasa puas dan kenikmatan bila kita telah dapat mengeluarkan atau
membuang hawa nafsu kita. Ada pun Neroko itu terdiri dari kata Ner atau nere
yang artinya adalah tujuan, kemauan atau maksud, O dari kata ora artinya
tidak dan Ko dari kata teko artinya datang, kesampaian atau berhasil, jadi
kata Neroko kalau diurai menjadi kata nere ora teko yang artinya maksud, arah
tujuan atau kemauannya tidak kesampaian, maka alhasil hatinya jadi
panas. Seorang tetangga misalnya bisa beli mobil bagus, sedangkan kita walau
dengan memaksakan diri tetap nggak mampu beli mobil, kita lalu jadi iri, hati
kita jadi panas. Maka itu nggak perlu jauh-jauh mencari surga atau neraka,
nggak usah pake nunggu mati, di dunia ini banyak surga dan nerakanya. Apakah
tahanan ini nggak merupakan neraka bagi kita?, jelas-jelas penahanan kita ini
adalah merupakan neraka bagi kita, bung."
Eh entengnya pak Darmin ngomong tentang surga dan neraka, itu kan cuma
otak-atik gatuk, pak.
Sampai disitu cerita tidak berlanjut, adzan subuh yang biasa disuarakan oleh
saudara Surip mengalun panjang. Pintu sel dibuka, kami bertiga segera bergegas
ambil air sembahyang untuk melakukan shalat subuh berjemaah.
Pagi makin terang, seperti kemarin kesibukan pagi hari ini makin
menjadi-jadi. Para petugas hilir-mudik khususnya petugas sekuriti, si Kliwon
tentunya. Benar juga pak Kliwon dengan pengeras suara masuk ke Blok-P,
diperintahkanlah semua penghuni blok untuk keluar dan berkumpul di halaman blok.
Nah saudara-saudara seperti apa yang telah aku katakan beberapa hari lalu,
tidak ada pesta tanpa akhir. Hari ini tiba saatnya pesta itu berakhir, untuk
itu aku perintahkan kalian semua segera berkemas-kemas, bungkusin
pakaian-pakaianmu, alat makan, rantang dan sendok boleh dibawa, tapi tikar
nggak usah dibawa.
Baju koko dan celana ukuran tiga perempat pun dibagi-bagikan, di setiap
punggung baju dituliskan angka gede-gede, bahannya dari blaco putih, potongan
tokdel, jahitan asal nempel, nggak pakai ukuran gede kecilnya pemakai, pokoknya
asal dibagi. Aku dapat baju bernomer punggung 25, buatku ukuran baju itu
timbang pas, tapi karena badanku saat itu sangat kurus, ukuranku makin jadi
kecil dan baju koko itu terasa sangat longgar di badanku.
Diakui atau tidak rasa panik dan was-was terasa di hati dan nampak di wajah
masing-masing para tahanan. Mau dikemanakan kami ini, benarkah kami akan
dibebaskan, seperti kata Pak Hasyim, ataukah benar kami akan di Pulau Buru-kan,
bahkan ada desas-desus yang mengatakan kami akan dibuang di Laut Banda, laut
paling dalam di Indonesia, benarkah itu?. Semua pertanyaan itu tak terjawab.
Jawaban satu-satunya, tunggu saja nanti kau akan ketahui sendiri.
Karena kesibukan masing-masing dan rasa cemas serta was-was yang menyelimuti
setiap pribadi tak terkecuali diriku, aku jadi tak memperhatikan pak Hasyim
lagi, kemana beliau pergi, apakah beliau juga mengenakan baju koko dan
bercelana tiga perempat, semua itu sudah tak terpikirkan lagi bahkan kami pun
tak sempat saling bersalaman, tanda perpisahan. Urusan diri sendiri menjadi
prioritas. Melawan sebisa mungkin atau mati bareng seandainya terjadi teror
pemusnahan, syukur kalau bisa selamat. Kami mulai bergerak, berbondong-bondong
meninggalkan Blok-P dan Salemba yang kami huni selama dua setengah tahun ini.
Barang-barang pribadi kami yang disimpan di gudang seperti sepatu dan ikat
pinggang tidak dikembalikan. Aku tinggalkan penjara Salemba dengan hanya
beralas kaki gapyak, kiriman dari keluarga.
Sejak pertama kali kakiku menginjak Salemba, pintu masuk yang kulalui mulai
dari pintu halaman sampai pintu sel berjumlah enam pintu. Jumlah pintu itu pun
tidak berubah, saat aku keluar dari pintu sel sampai pintu pagar tetap
berjumlah enam buah. Sejenak aku sempat melihat suasana di luar tembok penjara,
sempat telihat sebuah becak lewat, melintas di depan penjara, becak itu pun
tetap tak berubah, tetap saja dikayuh dengan kaki dan juga tetap beroda tiga.
Banyak sekali orang-orang berdiri di kiri kanan jalan, berjajar seperti
layaknya menyambut tamu agung negara, apakah dari sekian banyaknya orang-orang
itu ada keluarga dari para tahanan yang turut menyaksikan, entahlah.
Akhir penahanan di Salemba memang dilakukan di luar hari besukkan, jadi kalau
esok atau lusa saat hari besukkan tiba tentunya akan banyak sekali keluarga
para tapol yang kecelik dan tentunya rasa cemas dan was-was akan mewarnai
pikiran keluarga kami.
Ya hanya suasana itu saja yang sempat kulihat, perintah menaiki truk terbuka
mulai diteriakkan. Deretan truk, berapa jumlahnya nggak usah dihitung lagi,
pokoknya banyak. Kami mulai masuk ke dalam truk, kami tidak ada yang boleh
berdiri, semuanya harus duduk seperti dulu waktu kami diangkut dari Kodim ke
Salemba.
Komplit sudah tak ada satu pun yang tertinggal, pluit panjang ditiup, truk
paling depan mulai bergerak ke arah barat menuju jalan By Pass. Tiba giliran
truk yang kutumpangi berjalan, kulambaikan tanganku, Selamat tinggal Salemba,
kuucapkan terima kasih banyak atas kebaikanmu. Selama dua setengah tahun aku
tinggal bersamamu, kau bukakan dan kau tutupkan pintu sel tempatku tidur, kau
antarkan jatah makanku, kau jaga aku dengan pistolmu, semua itu kau berikan
dengan cuma-cuma, gratis tanpa bayar. Aku cukup membayar semua itu dengan
derita, rasa pilu dan kehinaan. Terima kasih Salemba, selamat tinggal!
Sampai di ujung jalan Rawasari truk berbelok ke kiri, ke arah Tanjung priok.
Deretan orang-orang yang menyaksikan rombongan kami di sepanjang jalan tak
kurang banyaknya seperti di depan Salemba. Mungkin saja, namanya juga manusia
tentu ada bermacam pendapat dan penilaian mereka tentang tindakan pemerintah
yang sedang berkuasa terhadap kami, para tapol ini, mungkin diantara mereka ada
yang bersyukur bahkan mungkin ada juga yang menyumpahi kami, Rasakan hai
pengkhianat dan pemberontak, kalian harus mati ditelan ombak dan jadi penghuni
dasar laut untuk membayar perbuatanmu. Tapi mungkin ada juga yang merasa iba
dan berpikir, mereka itu pada umumnya tidak tahu menahu dan tidak mengerti
tentang peristiwa 30 September 65, mereka hanya terkena imbas akibat perbuatan
orang-orang yang berambisi. Mereka divonis di luar proses pengadilan, sungguh
tidak adil dan sangat tidak manusiawi. Bahkan mungkin juga diantara mereka ada
yang berdoa, Ya Allah, kasihanilah mereka itu,
lindungilah mereka dan berikan mereka keselamatan, ya Allah.
Kendaraan jalan terus, dari Koja belok ke kiri ke arah kota . Ternyata kami
tidak dibawa ke Tanjung Priok. Jam 7 malam kami sampai di setasiun Kota Beos.
Kereta malam telah menanti, boleh juga kereta malam itu disebut KLB, Kereta api
Luar Biasa. Luar biasanya bukan pada fasilitasnya, seperti pada jaman tahun
1947-1948 an silam. KLB tempo lalu benar-benar luar biasa karena penumpangnya
seorang presiden beserta para pejabat tinggi negara, penjagaan keselamatan para
penumpang dan layanannya memang betul-betul luar biasa. Sedang KLB yang akan
kami tumpangi luar biasa karena seluruh penumpangnya adalah para tapol. Dengan
penjagaan yang juga ketat, perjalanan KLB kami pun di luar jadwal kereta api
umumnya. KLB kami tidak perlu harus menunggu kereta dari arah depan maupun arah
belakang. KLB kami berjalan terus tanpa pernah berhenti, yang harus menunggu
justru adalah kereta-kereta api penumpang umum lainnya, kereta-kereta itu harus
menunggu KLB kami lewat.
Di Beos telah siap menunggu para petugas, sebelum memasuki kereta, kami
menerima jatah makan malam. Satu dus nasi utuh dengan lauk rendang dan telur,
ya kali ini benar-benar utuh, tidak seperti tempo hari saat kami menerima
bingkisan Natal dari Dewan Gereja, yang hanya separuh dus saja, separuhnya lagi
entah menguap kemana, hanya mereka, para petugas di Salemba saja yang tahu.
Kami nikmati jatah makan malam itu, soal bagaimana kelanjutan nasib kami
nanti, itu soal nanti, yang penting makan nasi rendang saja dulu. Tapi namanya
manusia tetap saja ada yang karena saking setresnya memikirkan nasib apa yang
akan menimpanya nanti hingga jadi tidak doyan makan, bahkan ada yang namanya
pak Dulmanan wajahnya jadi pucat pasi bahkan sempat tak sadarkan diri, kakinya
dingin dan keringat dingin mengucur deras dari tubuhnya. Hal ini akhirnya jadi
layatan, pak Dul, K.O sebelum bertanding. Sesudah pak Dul siuman, Pak Jai
menasehatinya, Pak Dul, jangan cemas pak, nggak usah terlalu khawatirlah,
nggak nantinya kita ini dibunuh bareng-bareng, Tuhan pasti akan mengutuk mereka
jika mereka melakukan hal itu. Percayalah pak, jodoh, rezeki dan maut itu ada
di tangan Tuhan. Ayo sekarang dimakan nasinya, nasi dan lauknya itu enaknya
keliwat kok nggak doyan, ayo dimakan, kalau nggak makan nanti malah mati karena
ulah sendiri.
Mulailah pak Dul bisa memahami nasihat pak Jai, nasi jatah pun mulai
dimakannya. Tak lama setelah itu kepala stasiun mengacungkan tanda perintah
jalan bagi kereta, peluit berbunyi panjang. Pak masinis menengok kebelakang,
gaung kereta berbunyi nyaring, kereta mulai bergerak, pelan. Selamat tinggal
Jakarta!
Baik sebelum maupun sesudah kereta berangkat, pintu gerbong selalu tertutup
rapat dengan penjagaan ketat tentunya. Senjata laras panjang dengan sangkur
telanjang di ujungnya, siap beraksi mana kala ada tapol yang mencoba-coba
melarikan diri. Kejadian semacam itu bukan tidak mungkin tak terjadi bagi orang
yang mempunyai kenekatan luar biasa, mungkin saja karena rasa takut dan rasa
putus asa akan membuat seseorang menjadi nekat, ditengah perjalanan mereka
menghantam si penjaga atau jika kebetulan si penjaga lengah karena ngantuk,
maka bisa saja kesempatan itu digunakan sebaik-baiknya. Loncat dari kereta dan
kabur di tengah kegelapan malam.
Kereta berjalan terus dengan kencang tanpa henti, ngetan apa ngulon arah
kereta ini tak kuketahui dengan jelas, hanya sekilas tadi sempat nampak papan
nama setasiun Purwokerto karena kereta berjalan agak pelan. Setasiun Purwokerto
termasuk setasiun besar untuk lintas selatan Jakarta-Surabaya. Kalau begitu
arah kereta ini menuju ke selatan, sudah bisa diraba bahwa kereta tidak akan
menuju Surabaya karena jika kereta menuju Surabaya tentunya akan mengambil
lintas utara yang lebih dekat.
KLB berjalan terus, bang wetan menampakan merahnya tanda pagi telah tiba. Jam
7 pagi KLB berhenti, setasiun kecil dengan papan nama bertuliskan Maos menjadi
titik henti KLB.
Semakin jelas lagi sekarang mau di kemanakan kami ini sebenarnya. Perintah
untuk turun dari kereta dikomandokan, pintu kereta dibuka lebar-lebar. Petugas
militer dengan senjata AK-nya di tangan siap menarik pelatuk menjaga di
kiri-kanan setiap pintu. Kami turun berturut-turut dengan membawa bungkusan
sisa milik kami dari Salemba. Kami diperintahkan jongkok berjajar memanjang
dengan kedua telapak tangan merangkul kuduk. Kosong sudah perut gerbong KLB,
halaman setasiun Maos tak mampu menampung, rombongan tapol ini jongkok berjajar
sampai menyeberang jalan. Penduduk di sekitar setasiun nampak berderet
menonton, ya sejak keluar dari Salemba kami selalu jadi tontonan masyarakat,
mungkin menarik bagi mereka. Barangkali ada juga orang yang sebenarnya hendak
ke pasar jadi tertunda, menyempatkan diri nonton rombongan orang-orang
berpakaian serba tanggung berwarna putih dengan bertuliskan angka di setiap
punggungnya.
Kami duduk sambil merangkul kuduk, kami diinspeksi, boleh jadi oleh komandan
Kodim atau Koramil setempat, penghitungan jumlah tapol dimulai. Petugas
pencatat siap dengan buku dan bolpen di tangannya, seorang petugas dengan
kentesnya mulai menghitung. Kentesnya menyambar setiap kepala yang dihitungnya
sambil berujar, Nih sarapan pagi untuk kalian, ucapan yang sangat menghina
tapi hal itu menjadi sah-sah saja bagi mereka, apalagi kok cuma memukul,
membunuh tapol pun seolah hukumnya sah dan wajib, tak ada dosa bagi mereka,
yang ada adalah pahala.
Selesai kami dihitung dengan sarapan kentes, kami digiring naik truk lagi
sampai Cilacap. Prediksi pak Hasim ternyata salah, aku dan dik Sanadi ternyata
tidak dibebaskan, kami hanya bebas dari penjara Salemba tapi masuk ke penjara
lainnya. Ya kami hanya pindah alamat.
*****
Bersambung ke nr. VII - NUSA KAMBANGAN ...
Lembaga SASTRA PEMBEBASAN
Address: Postbus 2063, 7301 DB Apeldoorn Netherlands
E-Mail: [EMAIL PROTECTED]
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65: http://www.prog
Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
---------------------------------
Finding fabulous fares is fun.
Let Yahoo! FareChase search your favorite travel sites to find flight and hotel
bargains.
[Non-text portions of this message have been removed]
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/