TNI AU Didesak Hentikan Kekerasan di Rumpin
Jakarta (ANTARA News) - Warga Kampung Cibitung, Desa Sukamulya, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor mendesak Markas Besar TNI Angkatan Udara (AU) untuk menghentikan aksi kekerasan di wilayah tersebut, menyusul penolakan warga setempat atas rencana pembangunan Markas Komando (Mako) Detasemen Bravo 90 (Den Bravo 90) di daerah itu. Selain itu, warga juga mendesak agar Mabes TNI AU menghentikan pembangunan Mako Den Bravo 90, sampai sengketa tanah dengan warga diputuskan oleh pihak pengadilan, kata salah seorang sumber ANTARA di Jakarta, Senin. "Setelah bentrokan yang terjadi Senin (22/1) aparat masih kerap melakukan `sweeping` siang dan malam hari, mencari dalang bentrokan yang menimbulkan banyak korban sipil itu," ungkapnya. Menurut dia, banyak warga kampung Cibitung terutama laki-laki yang mengungsi ke dearah lain dan hingga kini belum kembali ke rumahnya karena takut didatangi dan `diculik` aparat untuk dimintai keterangan. Menanggapi itu, Kepala Dinas Operasi Pangkalan Udara (Lanud) Atang Sendjaya Kolonel Deri Pemba Syafar membantah bahwa pihaknya melakukan `sweeping` terhadap para warga, pasca-bentrokan tersebut. Aparat yang kini berjaga, katanya, hanya berjumlah 27 orang dari Skadron Paskhas 461 TNI AU Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Bentrokan antara warga dan aparat TNI AU merupakan akumulasi dari penolakan warga terhadap rencana pembangunan Mako Den Bravo 90 yang memakan lahan sekitar 449 hektare tersebut. Warga dan pihak TNI AU sama-sama merasa memiliki dasar hukum kuat atas lahan tersebut. TNI AU memiliki bukti kepemilikan atas tanah itu berdasar Surat Keputusan Kepala Staf Angkatan Perang Nomor 023/P/KSAP/50 tanggal 25 Mei 1950 yang menyatakan lapangan terbang serta bangunan-bangunan yang termasuk lapangan dan alat-alat yang berada di lapangan dan sungguh-sungguh diperlukan untuk memelihara lapangan-lapangan tersebut menjadi milik Angkatan Udara Republik Indonesia. Sedangkan warga merasa berhak atas lahan itu berdasar SK Bupati Bogor pada 2003. Akibatnya, beberapa kali demo oleh warga kerap dilakukan bahkan pada November 2006 warga setempat melakukan aksi demo di depan Istana Negara Jakarta, ujar sumber ANTARA menambahkan. Pada bentrokan antara warga dan aparat TNI AU, sejumlah warga dan anggota TNI AU mengalami luka parah dan sebagian besar harus menjalani perawatan di rumah sakit. Dalam bentrokan itu, satu orang anggota TNI AU, Letnan Dua (tek) Panca mengalami luka parah, rahang bergeser, bibir pecah dan harus dijahit tiga dan puluhan orang lainnya mengalami lebam pada beberapa bagian tubuhnya akibat lemparan batu. Sementara dari warga setempat tercatat empat warga yakni Asep (40) tertembak di peluru karet bagian leher, Usup (45) luka di bagian kepala kena pukulan tongkat dari karet, serta Rosita (14) pelajar kelas 2 SMP yang tangan kanannya patah setelah jatuh ke sawah ketika menghindari kejaran prajurit dan Ilham (28) yang mengalami luka di bagian wajahnya. Menindaklanjuti persoalan di Desa Sukamulya, Kecamatan Rumpin, Bogor, Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (Kontras) bersama sejumlah warga Rumpin, akan melakukan pemaparan kepada Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Herman Prayitno di Mabes TNI AU, Selasa (30/1).(*) Copyright © 2006 ANTARA 30 Januari 2007 0:40 http://www.antara.co.id/print/index.php?id=52175 [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
