http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=268620

Minggu, 28 Jan 2007,


SBY Dianggap Khawatir Purnawirawan 


Terkait Pandangan Istana Tolak Hak Pilih Anggota TNI


JAKARTA - Sikap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melarang anggota TNI 
mencoblos pada Pemilu 2009 dinilai anggota Komisi I DPR Yudi Chrisnandy sebagai 
bentuk kekhawatiran dan ketakutan yang berlebihan dari presiden. Kekhawatiran 
itu terkait dengan semakin maraknya gerakan politik para purnawirawan TNI yang 
belakangan ini bersikap kritis terhadap pemerintahan SBY. 

Gerakan politik para sesepuh militer itu dikhawatirkan akan berpengaruh 
terhadap institusi TNI jika memiliki hak pilih politiknya. "Penyikapan itu 
memang mengesankan ada kekhawatiran yang berlebihan dari presiden, itu tidak 
proporsional," katanya kemarin. 

Yudi tidak menyebut langsung para pensiunan jenderal yang akan berpengaruh bila 
militer aktif ikut memilih. Dalam catatan Jawa Pos, sejumlah purnawirawan kini 
memang bergabung di berbagai partai politik. Seperti, Wiranto bersama mantan 
KSAD Soebagyo HS, mantan KSAL Bernhard Sondakh dan mantan Wapangab Fahrur Rozi 
yang bergabung di Partai Hanura. Di PPP ada mantan Kassospol Letjen Yunus 
Tosfiah dan mantan Jaksa agung Letjen Andi Ghalib, di PDIP ada beberapa mantan 
pangdam seperti Theo Safe'i dan Sambiring Maliala. Di Partai Demokrat SBY yang 
juga jenderal menjadi ketua Dewan Pembina. 

Walaupun menduga ada kehkawatiran SBY dengan keumungkinan pecahnya militer bila 
ikut pemilu, Yudi melihat sikap presiden itu sudah benar. Menurut dia, saat ini 
memang ada gelagat dari sejumlah pihak yang memiliki tendensi kepentingan 
politik tertentu yang akan manfaatkan pengaruh TNI. "Hal itu hanya akan 
menimbulkan polemik dan polarisasi TNI untuk membangun demokrasi," tutur 
anggota Fraksi Partai Golkar di DPR itu. 

Lagi pula, ujar Yudi, saat ini TNI belum mampu mencapai titik standar 
profesional minimal. Bahkan, lanjut dia, pemahaman politik dan demokrasi di 
kalangan personel TNI, terutama di kalangan non perwira belum memadai. "Hal itu 
sangat mengkhawatirkan bagi timbulnya konflik kepentingan di elemen politik di 
internal kesatuan militer, barak militer, asrama militer, bahkan di komunitas 
intelejen," katanya. 

Karena itu, Yudi meminta semua pihak untuk tidak terburu-buru mendesak TNI 
untuk segera menggunakan hak pilih politiknya. "Saya menemui para prajurit di 
barak-barak, mereka tidak begitu menghiraukan tentang hak pilihnya, yang mereka 
butuhkan adalah peningkatan kesejateraan dan sarana pengembangan 
profesionalitas," ujarnya.

Yudi berpendapat, hak pilih TNI baru layak dipertimbangkan pada Pemilu 2014. 
"Itu masih mempertimbangkan, karena semua tergantung kesiapan internal TNI dan 
kesadaran para pemilik kekuatan politik untuk tidak menjadikan TNI sebagai 
target politisasi," ujarnya.

Sementara itu, mantan Ketua MPR RI Amien Rais, yang termasuk berada di baris 
depan menentang militer ikut pemilu, menghargai sikap SBY itu. Menurut dia, 
jika TNI benar-benar diberi hak politik, maka kesatuan militer itu akan berubah 
menjadi partai politik yang bersenjata. "Itu bahaya bagi kehidupan demokrasi," 
ujar guru besar UGM itu di kantor PP Muhammadiyah Jl Menteng Raya, Jakarta 
Jumat lalu. 

Selain itu, masuknya kekuatan TNI dalam area perpolitikan nasional akan rentan 
ditumpangi oleh kepentingan-kepentingan eksklusif. Karenanya, lanjut mantan 
ketua umum DPP PAN itu, menjadi penting untuk merumuskan kebijakan politik yang 
tegas untuk menempatkan kekuatan militer dalam fungsinya yang proporsional di 
pertahanan dan keamanan negara. 

Alumnus Chicago University, AS itu berpandangan bahwa TNI merupakan oase 
terakhir pertahanan bangsa. Karenanya, Amien berharap supaya institusi TNI 
tidak dilumpuhkan dari dalam melalui pengaruh-pengaruh kepentingan partai 
politik. "Jadi sikap SBY itu sudah jernih," katanya.(aku


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke