REPUBLIKA
Jumat, 26 Januari 2007

Genteng Bocor Haji Kita 

Oleh : Zaim Uchrowi 


Apa hubungan haji dengan lantai basah? Tak ada memang. Bagitu pula kasus 
kelaparan jamaah haji selama hampir 30 jam saat wukuf di Arafah. Namun, bila 
boleh diibaratkan, kasus itu seperti 'lantai basah' perhajian kita.

Musim haji memang usai. Tapi, kisah tentang kelaparan tersebut masih terus 
dibicarakan. Soal makanan di Arafah, biasanya, ditangani oleh muassasah. Yakni, 
para juragan bisnis haji, yang mendapat konsesi dari Kementerian Haji Saudi. 
Dalam berbisnis, mereka berpraktik sebagai oligopoli. Tanpa pesaing luar. 
Dengan begitu mereka bisa seenaknya menentukan harga. Yakni, 300 riyal untuk 14 
kali makan. Padahal, biaya makan wajar cuma 7-10 riyal setiap kali makan.

Itu yang dipersoalan DPR kita. ''Mengapa mahal?'' tanya mereka. Depag 
meresponsnya dengan minta muassasah menurunkan biaya makan itu. Biasa cari 
menang sendiri, para pebisnis haji itu mana peduli. Depag pun mencari 
perusahaan katering pengganti. Di saat begitu, muncul penawaran dari Ana 
Entreprise. Katanya itu perusahaan milik kerabat Raja. Direkomendasikan pula 
oleh Departemen Dalam Negeri. Harganya 250 riyal. Kementerian Haji Saudi 
menolak. Tapi, Departemen Dalam Negeri menjaminnya. Depag menerima tawaran itu, 
dan meninggalkan muassasah. Hasilnya: hampir 189 ribu jamaah tak memperoleh 
makanan hingga, konon, 30 jam. Di tengah suhu udara yang sangat dingin pula.

Siapa yang sebenarnya salah? Pihak Ana Entreprise dan muassasah baku tuding. 
Muassasah menuding rivalnya tidak profesional. Pihak sebaliknya menuding 
muassasah menyabot pembangunan dapur di Arafah. Apa pun sebabnya, jamaah tak 
makan. Depag yang dituntut dan dipersalahkan. Depag sangat tahu ''kelakuan'' 
para pebisnis Haji Saudi. Juga bahwa menyerahkan pekerjaan begitu besar pada 
satu pihak sangat rawan. Toh Depag mengambil keputusan yang berbuahkan petaka 
itu.

Investigasi akan berarti buat menyingkap tragedi itu. Tapi, dalam 
penyelenggaraan haji secara utuh, penyingkapan kasus katering itu tak lebih 
dari sekadar mengelap ''lantai basah'' agar kering. Persoalannya tidak sekadar 
mengeringkan lantai, sebab gentengnya bocor. Yang harus ditangani adalah 
''genteng bocor'' itu. Jika tidak, maka ''lantai basah'' tak terhindarkan 
seperti yang terjadi selama ini. Tragedi kuota yang membuat jamaah gagal 
berangkat atau tragedi Mina yang menewaskan begitu banyak jamaah di tahun-tahun 
silam adalah semacam ''lantai basah'' itu.

Tiga hal menjadi ''genteng bocor'' perhajian kita selama ini. Genteng bocor 
pertama adalah mental korup para pelaksana. Berbagai kasus terdahulu banyak 
berpangkal pada persoalan ini. Menteri Maftuh Basyuni berhasil dengan baik, 
mengatasi penyakit kronis ini. Namun, Pak Maftuh belum menyentuh persoalan 
kedua: Sistem pelaksanaan haji kita. Apalagi untuk menggarap persoalan ketiga, 
yakni menjadikan kita sebagai mitra penting Pemerintah Saudi dalam kebijakan 
pengelolaan ibadah haji di sana. Kedua ''genteng bocor'' itulah yang harus 
diatasi.

Perbaikan sistem harus berpangkal pada revisi secara mendasar Undang-Undang No 
17 Tahun 1999. Pokok revisi yang diperlukan adalah penegakan prinsip good 
governance. Salah satu prinsip tersebut adalah pemilahan tegas antara 
''regulator'' dan ''operator''. Sebagai ''regulator'' tentu Depag. Tapi, siapa 
operator yang menangani transportasi, akomodasi, konsumsi, hingga layanan 
kesehatan dan penunjuk jalan? Lembaga semacam Tabung Haji Malaysia, badan usaha 
milik daerah, koperasi, atau perusahaan swasta? Masalah ini perlu dikaji 
bersama secara cermat.

Pada 1995, saya menulis Resonansi berjudul 'Haji Pareto'. Haji saya sebut akan 
selalu banyak persoalan. Alasannya, pengelolaan haji sama sekali tidak 
melibatkan sains. Padahal, sains adalah ayat kauniyah yang sangat diperlukan 
buat menopang ayat Alquran dan hadis. Sains membantu memetakan akar persoalan 
berdasar pengalaman terdahulu, sekaligus prediksi perkembangan masa depan. 
Sains membantu menunjukkan titik optimal setiap aspek pengelolaan. Dari sana 
dapat ditentukan bagaimana model pengelolaan haji paling ideal. Dua belas tahun 
berlalu, pengelolaan haji masih terus mengabaikan sains. Maka, persoalan demi 
persoalan terus bermunculan.

Aspek penting lainnya yang kurang diperhatikan adalah dalam hal kerja sama 
dengan pihak Saudi. Selama ini kita terkesan ''rendah diri''. Kita serahkan 
beberapa urusan penting haji pada Saudi. Padahal, Saudi adalah bangsa dan 
negara yang sangat lemah dalam manajemen publik. Maka, saban tahun haji tak 
lepas dari persoalan. Kasus kelaparan jamaah di Arafah juga tak lepas persoalan 
Saudi. Saatnya kita bangkit dan penuh rasa percaya diri menjadi mitra yang baik 
dan disegani untuk selalu dapat memberi masukan pada Saudi.

Kita memerlukan sistem pengelolaan haji yang solid dan profesional. Untuk itu 
perlu masa transisi dua-empat tahun dari sistem pengelolaan sekarang. Dengan 
begitu, insya Allah kita tidak akan lagi sibuk ''mengelap lantai basah'' 
perhajian setiap tahun karena genteng bocornya sudah diatasi


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke