Cegah Poso Jadi Lebanon

Oleh
Tjipta Lesmana



KETIKA belajar bahasa Spanyol di Kedutaan Argentina di Jakarta sekitar 36 tahun 
yang lampau, guru saya mengajarkan sebuah ungkapan sebagai berikut: 
"Barangsiapa tidak tahu tapi tidak sadar bahwa ia sesungguhnya tidak tahu 
adalah orang dungu, tinggalkan dia! Barangsiapa tidak tahu tapi sadar bahwa ia 
memang tidak tahu adalah orang jujur. Ajarkanlah dia! Barangsiapa tahu tapi 
tidak sadar bahwa ia tahu adalah orang sedang tidur. Bangunkanlah dia! 
Barangsiapa tahu dan sadar bahwa ia tahu adalah orang pintar. Ikutilah dia!"
Seorang pemimpin yang baik mestinya masuk dalam kategori "Manusia ke-4": ia 
tahu, sekaligus sadar bahwa ia memang tahu. Konsekuensinya, ia tahu apa yang 
harus diperbuat untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi. Manusia "tipe ke-1" 
adalah pemimpin paling jelek: ia tidak tahu permasalahan, tapi ngotot sok tahu. 
Akibatnya, segala langkah dan kebijakan yang diambilnya meleset, bahkan 
berakibat blunder. Tapi, di Indonesia, banyak pemimpin yang termasuk kategori 
manusia "tipe ke-3". Pemimpin seperti ini mendapat predikat NATO: No action, 
talk only.

 
Ia sebenarnya tahu permasalahan, tapi rakyat melihat ia seperti tidur terus, 
sehingga tidak ada tindakan konkret dan berani untuk mengatasi permasalahan 
bangsa. Masalah Poso, misalnya, sejak era Gus Dur, pemerintah sudah tahu, tapi 
dibiarkan terus, sehingga makin ruwet, kelompok-kelompok radikal kian kuat. 
Tanyakanlah para pejabat di Badan Intelijen Negara (BIN) atau intelijen 
militer, mereka pasti bisa memaparkan persoalan Poso. 


Dari kelompok mana saja mereka, berapa kekuatannya, berapa senjata api yang 
dimiliki, dan apa tujuan perjuangan mereka, semua lengkap datanya. Laporan demi 
laporan sudah lama diberikan kepada Presiden. Tapi, Presiden kita dari dulu 
sampai hari ini no action. 
Ada tiga kemungkinan untuk menjelaskan mengapa Presiden diam saja. Pertama, 
laporan itu "sekadar" laporan intelijen. Menurut pihak kepolisian, laporan 
intelijen tidak bisa dijadikan dasar bagi mereka untuk bertindak. Ketika AM 
Hendropriyono, Kepala BIN, pada tahun 2000, mengungkapkan bahwa instansinya 
telah menemukan tempat latihan teroris di Poso, Kapolri Jenderal Da'i Bachtiar 
menjawab enteng: "Ini baru laporan intelijen". Sejumlah politisi di DPR dan 
Menteri Kehakiman Yusril Ihza Mahendra bahkan mengecam Hendro atas 
pernyataannya itu.
Tanggal 24 Februari lalu, Kapolda Sulawesi Tengah mengemukakan bahwa 
orang-orang yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) yang ditangkap polisi 
sebenarnya hanya pelaksana. Operatornya orang-orang dari luar Sulawesi. 
Bukankah ini berita yang sudah sangat basi? Untuk menyebut "orang dari Jawa" 
saja, polisi tidak berani, apalagi menyebut kota di pulau Jawa. Aparat kita 
seperti katak dalam tempurung: tahu, tapi takut untuk mengungkapkan. 


Semua orang tahu bahwa polisi bekerja berdasarkan TKP (Tempat Kejadian 
Peristiwa). Kalau belum ada bom meletus, atau nyawa manusia melayang, polisi 
tidak bisa bertindak. Tapi, apa artinya kerja polisi jika bom sudah meletus dan 
menewaskan sekian banyak manusia tidak berdosa, termasuk tiga gadis pelajar 
yang dipenggal lehernya? 


Akibatnya, sebelum polisi berhasil mengungkap satu kasus, bom lain sudah 
meledak; begitu seterusnya sehingga polisi kedodoran. Dalam masalah teroris, 
langkah preventif dan represif yang keras lebih penting daripada langkah TKP. 
Aparat harus berani menyerbu "sarang tikus" dan menghancurkan "tikus-tikus" 
berbahaya sehingga mereka tidak lagi sempat melancarkan teror. Di sinilah 
kelemahan dan kekurangan polisi. Di sinilah, polisi harus didukung oleh aparat 
intelijen di luar polisi, termasuk intelijen TNI. 


Kedua, Presiden terlalu khawatir akan stabilitas pemerintahnya jika para 
teroris itu ditindak sekerasnya. Sebagian besar komponen bangsa padahal 
menentang dan mengutuk terorisme. Para tokoh NU dan Muhammidyah pun tidak 
mendukung terorisme. Seharusnya kepada tokoh-tokoh lintas agama diberikan 
briefing yang jelas dan lengkap tentang persoalan yang kita hadapi. 


Ketiga, pimpinan kita tampaknya memang lebih suka tidur daripada mengambil 
tindakan yang berisiko "panas"; atau berlagak tak ada masalah. Wakil Presiden 
Jusuf Kalla mengatakan aparat keamanan sudah tahu "siapa mereka sebenarnya". 
Kalau sudah tahu apa lagi yang ditunggu? Apakah menunggu sampai Poso berubah 
menjadi Lebanon? Kisah Lebanon amat tragis dan memilukan. Selama 15 tahun 
negeri ini hancur karena perang saudara, terutama antara kelompok Shiah dan 
Sunni. Baru lima tahun lalu perang saudara berakhir tuntas. Namun, setahun 
terakhir Lebanon kembali terancam perang saudara. Ini karena beberapa negara 
asing ikut bermain demi meraih kepentingan politiknya. Poso oleh kelompok 
tertentu dijadikan "Medan Jihad". Sasaran akhir mereka sudah sama-sama kita 
ketahui. Kelompok mereka, dari segi militer, kian hari kian kuat. 


Jangan heran jika polisi pun terkesan "takut" ketika hendak menggerebek mereka. 
Dan korban jiwa tidak bisa dielakkan, sebab mereka melawan dengan senjata api 
pula. Tapi, pemimpin negara yang betul-betul committed untuk mempertahankan 
keutuhan bangsa dan negara takkan pernah takut dengan persoalan HAM. Pada era 
Orde Baru, Soeharto tidak mentolerir kelompok mana pun yang mempersenjatai diri 
mereka, apalagi yang semena-mena menyerang kelompok masyarakat lain. 


Memang Soeharto kemudian dikecam, antara lain, karena tindakannya memberangus 
HAM rakyatnya sendiri. Tapi, kalau mau jujur, hendaknya kita semua bertanya: 
mana lebih penting, HAM atau keamanan? Apa arti HAM jika bangsa terancam pecah, 
atau banyak warga terus diteror atau sekelompok masyarakat memaksakana 
kehendaknya terhadap kelompok lain?


Pada saat-saat tertentu yang kritis, pemimpin bangsa harus berani tegas dan 
mengambil segala langkah untuk memerangi terorisme. Max Weber menulis "A state 
has a monopoly on the legitimate use of physical force within a given 
territory". Pemimpin yang tidak berani menggunakan physical force untuk 
menghancurkan kelompok teroris sebaiknya mundur saja, sebab itu berarti dia 
telah mengkhianati fungsi pokoknya, yaitu melindungi rakyatnya. n

Penulis pengajar ilmu komunikasi Universitas Pelita Harapan


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke