Lembaga Sastra Pembebasan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
   
  Date: Tue, 30 Jan 2007 12:56:26 -0800 (PST)
From: Lembaga Sastra Pembebasan <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: KISAH PAHIT SEORANG TAHANAN G30S "BULEMBANGBU" Oleh N. Syam. H ( VII ) 

   
    KISAH PAHIT SEORANG TAHANAN G30S
   
  BULEMBANGBU
Oleh  N. Syam. H

   
     
  NUSA KAMBANGAN - Hal. 63 - 78
   
  Emakku  pernah bilang, “Pakdemu dibuang ke Nusa Kambangan karena ulahnya 
menghajar saksi dalam sidang pengadilan.” 
   
  Nusa Kambangan adalah tempat terakhir bagi nara pidana kelas berat. Menurut 
cerita orang-orang yang pernah ke sana dan bahkan pernah tinggal di sana Nusa 
Kambangan adalah tempat yang sangat mengerikan. Banyak kejadian-kejadian 
misteri yang dapat terjadi di sana, hal-hal yang tidak masuk akal pun banyak 
mewarnai pulau ini.
  Nusa Kambangan adalah salah satu dari 17.000 untaian jambrut katulistiwa kata 
Multatuli. 
   
  Tapi kenapa orang tidak pernah menyebut Nusa Kambangan dengan kata “Pulau 
Nusa Kambangan” seperti halnya Pulau Bali, Pulau Seribu, Pulau Jawa dan 
pulau-pulau lainnya, tapi orang-orang cukup menyebutnya dengan “Nusa Kambangan” 
saja. Karena keindahan pulau Bali maka terciptalah lagu “Pulau Bali”, untuk 
pulau Jawa pun ada lagu keroncongnya, Lalu apakah di Nusa Kambangan tidak ada 
keindahannya, tidak ada kelebihannya?. Boleh jadi memang begitu, seandainya , 
ya seandainya saja Nusa Kambangan itu satu pulau yang memiliki keindahan dan 
kelebihan, mungkin pemerintah kolonial dulu sudah menjadikan Nusa Kambangan 
sebagai tempat peristirahatan dengan membangun villa, bungalow serta hotel 
seperti halnya dengan pulau Bali atau Puncak-Cipanas dan tempat-tempat lainnya 
untuk ber-week end bagi para pejabat.
   
  Celaka memang, Nusa Kambangan ini namanya terlanjur dicemari dengan keseraman 
dan kemisteriusannya. Namanya lengket dan tak terlepas dari kisah penguasa Laut 
Kidul. Menurut kepercayaan orang Jawa, penguasa laut kidul atau laut selatan 
adalah seorang putri yang teramat cantik, yang disebut dengan “Nyi” atau “Nyai 
Roro Kidul”.  Yang kalau diartikan, kata “Nyi” atau “Nyai” itu sebutan bagi 
seorang wanita, sedang ‘Roro’ berarti gadis atau perawan dan Kidul yang berarti 
selatan adalah tempat kediamannya atau tempatnya bersemayam. Lalu siapa “Nyi 
Roro Kidul” itu?, siapa nama aslinya dan dari mana asal-usul sosok tokoh yang 
melegenda ini?. 
   
  Beberapa versi cerita telah mewarnai tokoh ini. Di Jawa sendiri juga terdapat 
beberapa versi cerita mengenai asal-usul tokoh “Nyi Roro Kidul”. Di kampungku, 
di Jawa Timur sana, Nyai Roro Kidul diyakini sebagai sosok makhluk halus yang 
jahat, jika di kampungku atau di desa sekitarnya sedang diserang oleh suatu 
wabah penyakit maka masyarakat meyakini bahwa saat itu Nyi Roro Kidul sedang 
punya hajat mantu dan untuk mengadakan perhelatannya itu sang Nyai memerlukan 
banyak sayuran kacang lanjaran. Para pembantu dan bala tentara pun dikerahkan 
untuk mencari sayuran itu, sayang sekali ternyata para pembantunya itu agak 
budeg, tak pernah jelas menerima perintah. Kacang lanjaran diartikannya sebagai 
anak-anak yang masih muda atau lanjar dalam bahasa Jawa, maka disebarkanlah 
wabah penyakit bagi anak-anak lanjar. Nah kalau sudah begitu datanglah wangsit 
yang diterima oleh para sesepuh desa yang melakukan tapa tirakat untuk 
menghentikan wabah penyakit yang disebarkan oleh para
 pembantu Nyi Roro Kidul itu tadi. 
   
  Menurut wangsit itu untuk menghentikan wabah penyakit para penduduk desa 
dianjurkan untuk melakukan cegah lek (jangan tidur sore-sore), jangan tidur di 
atas dipan atau tempat tidur lainnya melainkan tidur di lantai, di atas tanah 
dengan beralas tikar, agar tidak tersandung kaki para bekasakán. Diyakini oleh 
mereka  para bekasakán kalau berjalan kakinya tidak ngambah lemah (tidak 
menempel tanah). Atau dikatakan pantat para badan halus ini berbentuk kerucut, 
jadi mereka tidak bisa kerja dengan duduk untuk ngerjain orang-orang yang 
sedang tidur di atas lantai. 
   
  Lain lagi dengan masyarakat Sunda, mereka mempunyai versi lain tentang cerita 
Nyi Roro Kidul ini. Menurut versi Sunda Nyai Roro Kidul adalah penjelmaan dari 
Putri Kandita, anak Prabu Siliwangi. Menurut ceritanya suatu hari Putri Kandita 
dan sang ibunda terkena guna-guna yang menyebabkan wajah keduanya menjadi buruk 
penuh dengan koreng, sehingga mereka pun lalu diusir, keluar dari keraton. 
Dalam perjalanan sang ibunda wafat, tinggalah sang putri seorang diri. Sang 
putri berjalan seorang diri menyusuri pantai selatan. Karena kelelahan sang 
putri pun tertidur, dalam tidurnya ini sang putri bermimpi, mendapat petunjuk 
dari Dewata, jika sang putri ingin wajahnya kembali cantik, sang putri harus 
menceburkan dirinya ke Laut Kidul. Maka saat ia terbangun, tanpa berpikir 
panjang lagi sang putri pun segera menerjunkan dirinya ke dalam laut, Putri 
Kandita pun akhirnya hilang tanpa bekas di dalam Laut Kidul. Sejak kejadian itu 
ketentraman penduduk di sekitar pantai Laut Selatan mulai
 terganggu, mereka selalu diganggu oleh sesosok wanita berwajah cantik yang 
setiap hendak ditangkap selalu hilang lenyap begitu saja. Nah sejak saat itu 
lah  sebutan Nyai Roro Kidul menjadi populer di kalangan masyarakat.
   
  Menurut versi Jawa Tengah pun agak berbeda. Kepercayaan keluarga Keraton Solo 
dan Yogyakarta pada Nyai Roro Kidul cukup beralasan, karena tanpa Nyi Roro 
Kidul agaknya keberadaan kerajaan Mataram, yang kini diwariskan pada Kasunanan 
Surakarta dan Kesultanan Ngayogyakarta tidak akan ada, begitu menurut 
kepercayaan Jawa. Cerita tentang Nyai Roro Kidul itu sendiri muncul di kalangan 
keraton pada jaman ketika Jaka Tingkir alias Panji Mas bergelar Sultan 
Hadiwijaya bertahta di Pajang (1500-1582).
   
  Awal ceritanya begini : Suatu hari terjadilah perebutan kekuasaan antara Jaka 
Tingkir dengan Ariyo Penangsang. Jaka Tingkir yang saat itu menjadi Adipati 
Pajang memiliki penasehat ulung di bidang strategi perang bernama Kyai Gede 
Pemanahan, atas nasehatnya Hadiwijaya memperoleh kemenangan dalam peperangan 
itu. Ariyo Penangsang pun mati terbunuh. Kemudian pusat kerajaan Demak 
dipindahkan  ke Pajang. Sebagai tanda terima kasih, Kyai Gede Pemanahan 
mendapat hadiah sebidang tanah yang terletak di kota Gede atau Mataram. Kyai 
Gede Pemanahan pun lalu pindah ke Kota Gede dan sebagai penggantinya 
diangkatlah anak Kyai Gede Pemanahan, bernama Sutawijaya yang kemudian diberi 
gelar ‘Senopati Ing Alaga Sayidin Panotogomo’ (Panglima Perang dan pengatur 
Agama). Sampai pada akhirnya Sutawijaya pun berambisi untuk menjadi raja dan 
untuk mencapai maksudnya itu, sang Senopati itu lalu menjalani tapa brata di 
sebuah batu karang di tengah laut selatan. Dalam tapanya itu Sutawijaya mendapat
 gangguan dari seorang wanita cantik yang mengaku bernama Nyi Roro Kidul, tapi 
gangguan itu tak berhasil menggagalkan semedi sang Senopati, yang terjadi Nyai 
Roro Kidul malah jatuh cinta pada Sutawijaya. Usai melakukan semedi keduanya 
sepakat untuk menikah dan Nyi Roro Kidul sebagai istri Sutawijaya siap membantu 
perjuangan suaminya. Sutawijaya adalah mahkluk kasar (kasat mata) sedang Nyi 
Roro Kidul adalah mahkluk halus, kedatangan mereka berdua di kerajaan Pajang 
tidak menimbulkan pergunjingan. Singkat cerita hajat Sutawijaya pun akhirnya 
kesampaian, kudeta terjadi dan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir mati terbunuh. 
Kerajaan Pajang di pindah ke Kota   Gede, inilah cikal bakal kerajaan Mataram. 
Setelah Sutawijaya mangkat ia pun digantikan oleh Sultan Anyokrowati atau 
Pangeran Sedo Krapyak. Begitu seterusnya, Nyi Roro Kidul tetap mendampingi 
raja-raja Mataram sampai dengan Hamengku Buwono VIII. 
   
  Menurut pengakuan Sultan Hamengku Buwono IX, Nyi Roro Kidul itu adalah 
eyangnya. Nenek beliau pun mengaku pernah bertemu dengan eyangnya itu setelah 
menjalani semedi dan puasa. Pada malam-malam tertentu Nyi Roro Kidul datang ke 
keraton dengan mengendarai kereta kencana. Tanda-tanda kedatangannya bisa 
berupa seberkas sinar atau berupa pelangi yang masuk ke dalam keraton, atau 
bisa juga berupa angin kecil yang berputar-putar di bagian  keraton disertai 
dengan bau wangi yang sangat semerbak, demikian kata Sri Sultan.
   
  Ketika Amangkurat II masih bertahta di Kasunanan Surakarta Hadiningrat atau 
ketika Sultan Hamengku Buwono VII di singgasana Kasultanan Ngayogyakarta 
Hadiningrat. Konon Nyi Roro Kidul sering datang ke keraton cuma untuk melihat 
cucu-cucu dan cicit-cicitnya. 
   
  Menurut cerita kedua kerajaan Jawa Tengah itu, Surakarta Hadiningrat dan 
Ngayogyakarta Hadiningrat akan tetap tegak keberadaannya selama cerita tentang 
Nyi Roro Kidul belum sirna dari kalangan masyarakat Jawa.
   
  Nyi Roro Kidul sering digambarkan sebagai perempuan berparas sangat ayu. 
Bertubuh langsing, berambut panjang ikal mayang, kulit putih, hidung mancung, 
pipi lesung pipit, bibir tipis, mata jeli dan bersuara merdu. Pendek cerita 
sempurna tanpa cacat. Tetapi menurut Sri Sultan Hamengku Buwono IX wajah Nyi 
Roro Kidul dapat berubah-ubah. Pada bulan purnama wajah Kanjeng Ratu Kidul ini 
sangat cantik sekali, tapi ketika bulan mengecil wajah Kanjeng Ratu Kidul 
tampak keriput. 
   
  Kira-kira kecantikan Nyi Roro Kidul itu sama dengan cantiknya Dewi Banowati 
atau Dewi Banuwati (istri raja Astina). Kata Ki dalang, Dewi Banowati itu dari 
ujung rambut sampai telapak kaki sempurna tanpa cacat, setiap hari 
kecantikannya bertambah menurut irama bulan. Jika tanggal muda jadi muda, kalau 
tanggal tua jadi perawan sunti.
   
  Pelukis Basuki Abdullah pun mereka-reka kecantikan Kanjeng Ratu Kidul, lewat 
lukisan cat minyaknya yang banyak disukai oleh para kolektor lukisan. Dan 
lukisan itu kini terpajang di Samudra Beach Hotel kamar 308, Pelabuhan Ratu – 
Jawa Barat.
   
  Tidak keliru kalau Nyi Roro Kidul itu memang ayu. Versi komik Joko Tarub pun 
mengatakan Nyi Roro Kidul itu adalah jelmaan Dewi Nawang Wulan yang setelah 
menemukan pakaiannya kembali, dia pulang ke khayangan. Tetapi kedatangannya ke 
khayangan itu ditolak, karena dia sudah dicemari noda hitam. Dia tidak lagi 
murni sebagai dewi karena telah bercampur dengan manusia yang bernama Joko 
Tarub. (Warnasari, No.118 Nov 1988).
  Nah itulah  Nusa Kambangan yang termasuk wilayah kekuasaan Kanjeng Ratu 
Kidul. 
   
  Ngomong tentang Nusa Kambangan tidak bisa lepas dari keberadaannya sebagai 
penjara, dan bicara tentang penjara tentu tidak terlepas dari derita dan nista, 
kekerasan dan cemohan pun jadi hal biasa, tinju lepas, tendangan bebas tak 
perlu diulas lagi, setiap hidung pun telah memaklumi. Bukan kebetulan kalau 
tokoh jahat si Lowo Ijo dalam serial Mahesa Jenar, diceritakan juga bersarang 
di Nusa Kambangan.
   
  Dari pantai Cilacap dengan ponton kami menyeberangi segara anakan, nggak lama 
hanya beberapa menit, sampailah ke daratan yang berupa perbukitan dengan tanah 
tandus. 
  Sepintas nampak tak ada kehidupan pedesaan. Tak aku lihat seorang pun 
berjalan membawa hasil ladangnya, tak kulihat juga adanya perumahan penduduk. 
Sebagai penjara yang tentunya mempunyai aparat dengan anak istrinya, perumahan 
tempat tinggalnya pun tak kuketahui, mestinya sih ada tapi di mana, itu yang 
nggak kuketahui. Yang nampak adalah bangunan yang akan kami huni, ya itu 
penjaranya.
   
  Konon ada beberapa penjara di pulau ini, ada penjara Karang Tengah, inilah 
yang jadi tempat hunianku dengan rombongan, ada Penjara Gliger, ada juga yang 
bernama Candi. Bukan Candi Semarang Kidul, perumahan rakyat yang berhias lampu, 
yang kalau malam terlihat keindahannya dari kejahuan. Tetapi Candi Nusa 
Kambangan adalah candi penjara.
   
  Rombonganku diketuai oleh pak Slamet, Drs.Sospol dan kalau nggak salah 
diwakili oleh Pak Pram (novelis kenamaan). Karena lamanya pemeriksaan di 
Cilacap, kami datang di Karang Tengah sudah tertinggal makan siang. Ampas makan 
malam di setasiun Beos rupanya telah meninggalkan kantong nasi. Tidak ada 
sarapan pagi tadi, yang ada kami sarapan pagi dengan pukulan kentes di setiap 
kepala, satu pukulan. Di pimpin oleh pak Slamet dan di wakili oleh pak Pram 
hati ini jadi mantep dan tenang. Mereka adalah orang-orang pintar dan 
pemberani, yang selalu bicara tentang perjuangan. Dalam setiap bukunya, penulis 
ini tak pernah lepas dari perjuangan. Novelnya yang pertama kali aku baca 
adalah “Perburuan”, novel ini memperoleh hadiah pertama dari Balai Pustaka. 
   
  Den Hardo yang diburu pasis Jepang berlindung dan menyamar sebagai pengemis. 
Pak Pram, baik omong keseharian mau pun dalam novelnya selalu sakleg. Kalau 
bicara tahi ya tahi. Jalan ceritanya perburuan aku sudah lupa, lebih dari 
setengah abad yang lalu aku membaca buku itu, cuma dalam akhir cerita yang 
kuingat adalah tekad den Hardo untuk membalas dendam pada petinggi Jepang itu. 
Ketika pekik kemerdekaan bergelora, semangat kepemudaan den Hardo memuncak. 
Dicarinya para petinggi Jepang. Salah satu petinggi Jepang hendak di pancung 
batang lehernya. Dengan pedang samurai di pancungnya leher si petinggi Jepang, 
namun meleset yang kena cuma umbun-umbunnya, batok kepala terkelupas, benda 
putih yang namanya otak muntub-muntub, antara mau keluar dan tenggelam dari 
ubun-ubunnya. Walaupun hanya membaca tapi itu mengerikan. Dan novelnya Pram 
memang begitu, kalau memang harus ngomong jorok ya ditulis jorok.  
   
  Di kemudian hari aku baca bukunya ‘Bumi Manusia’. Tuan Herman penguasa 
perkebunan tebu mati karena kebanyakan minum-minuman keras, gantinya seorang 
Belanda juga bernama Tuan Fleibeyer, rupanya tuan ini adalah seorang play boy, 
pemburu perempuan, terutama gadis-gadis. Barangkali sudah banyak gadis-gadis di 
sekitar perkebunan yang dinodainya. Oleh karena itu jika diketahui Tuan 
Fleibeyer masuk desa kebanyakan perempuan desa itu pada lari, terutama para 
gadis-gadisnya. Suatu ketika seorang gadis melihat Tuan Fleibeyer masuk desa, 
nggak pakai tempo lagi dia langsung lari sambil berteriak, “Ee ayo pada lari, 
Tuan Peligayer masuk kita mau dijarah!”, dan perempuan-perempuan desa itu 
terutama para gadis-gadisnya segera kabur, bersembunyi. Orang kampung itu lugu, 
buat mengucap kata yang beraksen Belanda itu susah, lidahnya kaku, ucapannya 
hanya disesuaikan dengan bunyi yang didengarnya, bunyi Peligayer mirip dengan 
Fleibeyer.
   
  Di Blok-Q, Salemba, tempo hari pernah aku tanyakan kepada pak Pram. “Pak, 
saya baca di koran Angkatan Bersenjata, ada berita tentang perlawanan bapak 
ketika hendak ditangkap, bener nggak pak?”
   
  “Ya bener, bener banget. Apa sih dosanya orok saya kok popoknya dibuangi, apa 
pula dosanya itu pohon mangga pake dirusak?. Mau tangkep ya tangkep saja, masak 
begitu harus diam saja dan tak boleh melawan?”
   
  Kami masuki barak tahanan, seratus tahanan masuk dalam satu barak. Barak yang 
kuhuni berhadapan dengan pos penjagaan yang tak pernah melepaskan pengawasannya 
terhadap para tapol. Ada tiga buah kentongan besar-besar, seperti kentongan 
lurah di desa. Ketiga kentongan digantungkan di pojok aula, apa fungsinya 
kentongan itu?. Nggak tahu. 
  Kalau kentongan di desa jelas untuk memanggil aparat desa, bunyi kentong satu 
misalnya, kentongan dipukul sekali dengan jarak baru dipukul sekali lagi dan 
seterusnya, itu tanda para aparat desa harus berkumpul di kelurahan, kalau 
kentongan di pukul tiga kali berturut-turut itu tanda ada kebakaran, kentong 
titir ada rajapati, tapi itu di kampung atau di desa. Nah, di Nusa Kambangan 
ini lain, ketiga kentongan itu dipukul bareng oleh tiga orang tahanan kriminal, 
layaknya seperti mengiramakan sebuah lagu, enak juga didengar, bahkan seorang 
teman suka joget di barak saat kentongan itu dipukul. Itulah tapol PKI dimana 
dan kapan saja bahkan dengan perut lapar pun masih sempat bercanda, ya mau apa 
lagi?, dipikir terus malah tiwas ngenes, lebih baik ketawa dan coba bergembira, 
hitung-hitung memupuk mental, menebalkan keberanian, siapa tahu suatu saat 
nanti bisa bebas dan kami tidak jadi orang sinting.
   
  Lalu apakah bunyi kentongan itu tanda waktunya shalat?, rasanya nggak juga, 
wong mesjid juga nggak ada, boro-boro mesjid, langgar dan musolah juga nggak 
ada. Jadi 40 hari kami di Nusa Kambangan kami tak pernah melakukan shalat, 
mungkin saja masih ada yang melakukan shalat walau pun dalam keadaan darurat. 
Memang shalat hukumnya wajib, tak boleh ditinggalkan kapan saja, dimana saja, 
dalam keadaan berperang pun shalat harus jalan terus, bahkan saat maut akan 
tiba shalat tetap wajib ditegakkan.
   
  Kalau di kampungku jika waktu senggang para ibu-ibu suka melakukan kotekan 
dengan menggunakan lesung (penumbuk gabah), emakku pinter memainkan kotekan, 
lagunya Celeng Mogok atau Asu Gancet. Lantas untuk apa bunyi kentongan itu di 
Nusa Kambangan?. Terkesan dalam telingaku, bunyi-bunyian tadi sepertinya 
mengundang bala tentara Nyai Roro Kidul, "Hai Nyai, datanglah ke Karang Tengah, 
di sini ada banyak mangsa, di sini ada manusia-manusia berjiwa binatang, 
manusia laknat. Datanglah Nyai, lahap dan habiskan saja manusia-manusia seperti 
ini!" 
   
  Makan sore tiba, di manapun menu penjara ya tetap menu penjara, kalau di 
Salemba sekali sayur bayem selamanya tetap sayur bayem, kalau di Nusa Kambangan 
sekali daun singkong selamanya ya tetap daun singkong.. Tapi kali ini rupanya 
ada rasa kemanusiaan sedikit, jatah makan siang yang tak sempat kami makan pada 
waktunya karena kedatangan kami terlambat, disatukan dengan jatah makan sore, 
jadi jatah makan sore kelihatan banyak, ikan asinnya pun ada dua, ya untuk hari 
itu kami makan agak lumayan, tapi hari-hari selanjutnya ya kembali ke jatah 
aslinya. Apa sih masalah yang paling mendasar bagi para tahanan kalau bukan 
urusan perut yang lapar. Kalau di Salemba kurang makan masih mungkin di atasi 
dengan makanan kiriman dari keluarga, masih juga bisa membantu mereka yang 
sudah terputus dari keluarga. Lha kalau di Nusa Kambangan ini, mau mengharapkan 
kiriman dari siapa?. Di Nusa Kambangan, baik yang mampu maupun yang tidak mampu 
nasibnya sama saja, tidak bisa berharap memperoleh
 bantuan dari siapa pun. Sangat sulit membayangkan keluarga datang dengan 
membawa besukkan. Oleh karena itu hati kecilku berharap janganlah aku 
berlama-lama di penjara yang satu ini, kalau memang aku akan dibuang ke Pulau 
Buru atau kemana saja, ayo cepatlah, jangan aku terlalu lama menderita kurang 
makan, mandi air tawarpun nyaris tak pernah apalagi nyuci pakaian ya lewat saja.
   
  Di Nusa Kambangan ini kami pun pernah digiring seperti bebek untuk mandi di 
laut, mandi dengan air laut yang asin, badan terasa lengket, buat orang yang 
sakit rematik mungkin mandi di laut bisa jadi obat itu pun biasanya dilakukan 
pada malam hari atau pada waktu sesudah subuh. Di dalam penjara memang ada yang 
sakit tulang, aku pun merasa tulang-tulangku sakit semua tapi bukan karena 
rematik melainkan sakit akibat siksaan para petugas, tinju, jotosan dan 
bantingan adalah jatah setiap para tahanan.
   
  Suatu ketika kandang dibuka, ada perintah mandi dengan air tawar. Sebuah bak 
air besar ukuran kira-kira dua kali empat meter, penuh berisi air tawar. Saat 
peluit ditiup tanda mandi boleh dimulai, kami pun berebut, yang fisiknya kuat 
bisa bergerak cepat, lepas pakaian dan mandilah, itupun baru beberapa gayung 
saja peluit tanda berhenti mandi pun telah berbunyi. Mau coba melanggar, jangan 
tanya, si bandit-bandit kriminal siap menghajar. Begitu berulang kali.
   
  Tapi namanya juga orang banyak, watak pun beraneka corak, ada beberapa tapol 
yang nekat, mereka melepas pakaiannya, begitu peluit tanda mulai mandi 
berbunyi, tanpa ambil pusing mereka langsung saja menceburkan diri ke dalam 
bak. Apa jadinya?. Jago-jago kepruk pun segera mengayunkan bogem mentahnya yang 
sudah gatal, bahkan yang tidak berbuat pun terkena imbasnya. Lalu bagaimana 
denganku?. Aku tapol yang lemah secara fisik, berebut pun nggak mampu, pasti 
kalah dengan mereka yang berbadan kuat. Dengan usahaku yang apa adanya, 
alhamdulillah aku sempat juga kebagian mandi dengan air tawar walau hanya 
sebanyak dua gayung. Sesudah itu tak pernah lagi ada tontonan manusia berebut 
mandi di tanah airnya sendiri yang kaya akan segala macam sumber air yang 
melimpah. Memang itulah nasib para tahanan penuh dengan derita dan hinaan, 
kalau tidak begitu bukan penjara namanya.
   
  Selama 40 hari di Nusa Kambangan, aku lupa bulan apa waktu itu, para tapol ya 
kok sempat juga mengadakan pentas sandiwara dengan judul “Sekejap Mata”. Pentas 
sandiwara ini atas perintah para pejabat penjara ataukah prakarsa para tapol 
sendiri aku juga nggak ngerti. Kalau pentas itu permintaan para petinggi 
penjara bisa-bisa saja, tapi kalau itu kemauan para tapol sendiri rasanya kok 
nggak mungkin. Mana boleh jadi wong perut lapar kok mau macam-macam, apakah 
mengharapkan imbalan, dapat makanan tambahan?. Sampai selesai pentas jatah 
makan ya tetap nasi seperes batok kelapa gading dengan lauk sepotong ikan asin 
serta sup daun singkong tanpa merica.
   
  Apapun keadaannya tapol tetap tapol, harus menuruti semua perintah. Pentas 
jalan terus. Rupanya ibu-ibu Dharma Wanita hadir menonton, buat para ibu-ibu 
ini yang barangkali tak pernah mendapat tontonan di wilayah penjara ini, pentas 
tersebut adalah hal yang luar biasa. Sangat sulit dibayangkan kalau selama ini 
isi penjara yang terdiri dari manusia-manusia kriminal atau bandit itu bisa 
diharapkan mampu menghibur para penggede beserta istrinya, maklum nggak di 
mana-mana yang namanya kelompok kriminal itu perkara rokok sebatang saja pun 
bisa adu tinju. 
   
  Pak Muji turun tangan mensutradarai pentas ini. Orang yang satu ini memang 
cekatan dalam bidang seni pentas, aku kenal bener sama beliau, bahkan di tahun 
1949 aku pernah berkumpul dengan beliau di daerah gerilya, desa Pejok, 
kecamatan Sumberejo, Bojonegoro.
  Ibu-ibu Dharma Wanita dibikin tercengang oleh adegan-adegan pentas, mereka 
juga dibikin terpingkal-pingkal oleh adegan di Pasar Baru, pasalnya seorang 
pedagang dari suku Padang bersaing dengan seorang pedagang dari suku Jawa. 
Orang Padang memang terampil dalam berdagang, kalau menawarkan barang dagangan 
nggak henti-hentinya, pakai pantun pula, “Hujan rintik-rintik angin lalu, 
barangnya baik-baik siap merayu, sayang anak sepuluh perak, pilih warna pilih 
model, cocok harga barang boleh dibawa. Ayo siapa lagi, banting harga buat 
keluarga!” Si pedagang dari Jawa yang nggak pandai berpantun, ngomongnya pun 
belekak-belekuk coba membalas, “Jangan percaya omongannya mana ada harga 
dibanting kalau nomor satu, harga dibanting karena tidak laku. Teliti sebelum 
membeli, kalau dasarnya barang jelek biar diapain juga tetap jelek!” Si 
pedagang dari Padang merasa barang dagangannya dicemooh nyaut lagi, “Orang 
berdagang di pasar bebas terserah saja bagaimana caranya bisa laku. Siapa yang
 terampil itu yang berhasil, siapa cepat itu yang dapat. Ayo siapa lagi, obral 
besar, laris manis tanjung kimpul, barang habis duit kumpul!” Dalam adegan itu 
memang si pedagang dari Padang ramai dikerumuni pembeli. Si pedagang Jawa 
jengkel, "Dasar Padang bengkok lo!”, si Padang pun membalas "Jawa kowek lo!” 
Bertengkar mulut pun terjadi, polisi yang sedang patroli melerainya. 
  Surut tertawa salah seorang ibu ada yang bertanya pada tapol, “Mas, kenapa 
sih orang Padang kok disebut Padang bengkok?”
   
  “Gini bu, Padang itu kan ibu kota tanah Minangkabau. Lha kata Minangkabau ini 
menurut ceritanya berasal dari kata "Menang Kerbau". Dulu kerajaan Majapahit 
ditantang mengadu kerbau oleh tanah Minang. Lha Majapahit kok ditantang , ya 
nggak akan nolak. Dikirimlah seekor kerbau pilihan, kerbau yang gagah dengan 
tanduk runcing seperti belati. Sesampai di arena aduan, lawan tidak menampilkan 
kerbau jantan yang gagah melainkan mengeluarkan seekor gudel (anak kerbau) 
dengan pisau tajam yang diikatkan di kepalanya. Rupanya si gudel ini sudah 
seminggu nggak dikasih netek (nyusu) ke induknya, maka begitu dilepas di arena, 
melihat ada kerbau di sebelah sana ya dikira induknya, karuan saja tak pakai 
tempo lagi si gudel lari mencari tetek induknya, sundul sana sundul sini, ya 
nggak ketemu, wong kerbau jantan, si gudel makin bernafsu mencari tetek 
induknya, disundul-sundulkanlah kepalanya di perut si kerbau jantan, pisau 
tajam  yang diikatkan di kepala si gudel pun merobek perut si
 jantan. Matilah si kerbau jantan, makanya tanah Minang disebut Minangkabau, 
asal kata dari menang kerbau tadi itu. Ternyata bu, okol (otot) kalah sama 
akal.”
   
  “Oh begitu, lha kalau orang Jawa dibilang Jawa kowek itu ceritanya bagaimana?”
   
  “Wah kalau itu saya nggak ngerti bu, cuma barangkali karena kowek itu dari 
kata kowe (engkau) yang dipelesetkan menjadi kowek. Dan karena kata kowek ini 
sudah biasa diucapkan oleh siapa saja yang sedang berolok-olok dengan orang 
Jawa, sepertinya sudah menjadi setempel bagi orang Jawa.”
   
  Adegan lain seorang tukang obat berpropaganda tentang kemanjuran obatnya, 
satu macam obat bisa meyembuhkan berbagai macam penyakit. Pilek, encok, 
meriang, panas dingin, ngilu dan lain sebagainya bisa sembuh dengan obat ini. 
Di samping mempromosikan obat dia juga mempromosikan kepandaian meramalnya. 
Seorang  konsumen pun datang menanyakan nasibnya.
   
  “Pak, tolonglah pak, bagaimana caranya supaya saya mudah memperoleh rejeki 
yang halal?. Beri saya ilmunya, pak”
   
  “Wah itu permintaan susah mas, saya nggak mampu”
   
  “Lha tadi kan bapak ngomong siapa saja boleh tanya tentang nasib”
   
  “Iya mas, tapi untuk memperoleh rejeki yang halal itu memang susah, lha wong 
yang haram saja sudah habis!”
   
  Gerr, penontonpun tertawa kepingkel-pingkel. Pentas selesai, tak ada imbalan 
apa-apa. Tapi para tapol telah membuat para penonton kagum atas kemampuan para 
tapol. Mungkin juga ada di antara mereka, para penonton yang merasa iba dan 
tidak percaya kalau tapol-tapol itu adalah benar para pembunuh karena tapol itu 
juga banyak orang-orang pinternya, sikap dan tingkah lakunya santun, bicaranya 
juga lembut.  Akhirnya para pemain hanya ngomong,
   
  “Apa sih dosanya membuat orang lain senang dan tertawa!”. 
   
  Yang lainpun ikut ngomong, “Jangan dihitung ruginya saja bung!, kita bisa 
keluar kandang beberapa jam saja seperti ini juga sudah satu keuntungan, 
ditambah lagi kita bisa cuci mata”
   
  “Cuci mata apa!”, sahut yang lain
   
  “Eh, bagaimana sih kau ini penonton pentas tadi kan banyak perempuannya, 
banyak ibu-ibunya, jangan perhatikan yang tua bung, yang muda-muda tadi juga 
banyak, mungkin yang masih perawan juga ada, lumayanlah mata ini sempat melihat 
perempuan yang cakep-cakep. Kecantikan perempuan-perempuan yang jauh dari 
pengaruh moderen kota-kota besar itu adalah kecantikan alami, bukan kecantikan 
yang dibuat-buat, kecantikan dasar bung!, dasarnya memang sudah cantik, lha 
kalau dasarnya sudah cantik kemudian dilengkapi dengan sarana yang memadai 
apakah nggak mungkin membuat lelaki jadi tergila-gila?. Sangat mungkin kan ?, 
sampai-sampai mereka siap berbuat apa saja, ya berbuat yang harampun menjadi 
halal demi untuk si cantik. Ngaku sajalah bung, kita ini laki-laki jangan sok 
suci, belagak alim. Alim karena pura-pura itu namanya munafik!”
   
  Kalau aku pikir-pikir omongan teman ini benar juga. Batinku pun membenarkan 
omongan teman tadi. Memang sempat juga aku perhatikan di antara para ibu-ibu 
tadi ada yang kecantikan dan model berpakaiannya agak lain dari yang lainnya, 
mungkin dia sudah sering jalan-jalan ke kota besar. Sepertinya pengaruh kota 
besar sudah menjadi bagian hidupnya. 
   
  Berpakaian dengan celana ketat hingga pantat kelihatan sangat menonjol. 
Kaosnya ngepres di badan, bagian dada agak terbuka lebar, sehingga barang yang 
mestinya terlindung nampak mau loncat keluar, melihat hal seperti itu nggak 
kusadari mataku menjadi melotot liar.  Lha kalau tahu ada pemandangan kaya 
begitu nggak dilihat kan mubazir.
   
  Saat itu aku masih terbilang muda, belum berumur empat puluh tahun, nggak aku 
pungkiri, aku seorang lelaki yang masih hidup, syarafku pun masih hidup dan 
bekerja dengan normal, kelengkapanku sebagai lelaki pun masih bekerja dengan 
baik. Jadi terus terang saja, melihat pemandangan yang seperti itu sifat 
kejantananku pun bangkit. Terpisah dari keluarga yang sudah mencapai tiga tahun 
lebih, menjadi faktor pendorong bangkitnya sifat-sifat tersebut. Ingatanku jadi 
melayang jauh ke Jakarta . Bagaimana keadaan anak dan istriku, masihkah ia 
menjanda sepihak karena terpaksa, ataukah saat ini sudah ada laki-laki lain 
yang menjadi suaminya sebagai pengganti diriku, dan apakah anakku sudah punya 
adik lain bapak?. Aku belum kenyang momong anakku. Anakku belum sempat menggoda 
bapaknya ini, belum sempat pula dia menangis, meronta dan merengek minta 
dibelikan mainan oleh bapaknya. Terlintas pula ingatan di Budi Kemuliaan, 
membayangkan si ibu baru dan si bapak baru hidup damai, santai dan
 harmonis bersama si kecil. Oh alangkah indahnya kehidupan mereka. Aku 
dipisahkan dari keluarga oleh rezim yang berkuasa, sampai kapan?, nggak seorang 
pun yang tahu. Mau tanya pada rumput yang bergoyang?, itu pun hanya sebuah 
nyanyian.
   
  Jadi sudahlah diteruskan pun tak ada guna, yang penting jaga kesehatan sebisa 
mungkin, buang jauh-jauh dan basmi pikiran-pikiran yang menggoda agar tidak 
menjadi sinting, siapa tahu esok atau lusa atau entah kapan saja ada 
keberuntungan yang mampir, memihakku dan aku bisa kembali pada keluarga yang 
kucintai.
   
  Selesai pentas giliran kepala sipir penjara memberi sambutannya.
   
  “Saudara-saudara, kami sangat berterima kasih, saudara-saudara telah 
menghibur kami. Ternyata saudara-saudara adalah orang-orang yang pintar. Dalam 
keadaan darurat  tanpa persiapan serta sarana apapun saudara-saudara mampu 
berkarya begitu menarik. Tetapi sayang saudara-saudara, kalian pinter tapi 
keblinger. Apa sih sebabnya kok kalian bisa sampai di sini?. Itu yang saya 
katakan keblinger. Lha wong kalian orang-orang pintar seperti ini kok ya mulang 
sarak. Apa lagi itu yang namanya Slamet, kepala rombongan kalian, dia itu kan 
sudah sarjana, titelnya Doktorandus Sosial Politik, secara nalar apa kekurangan 
dia, kurang makan nggak, nggak bisa nyandang juga nggak, nggak bisa nyekolahin 
anak, omong kosong itu, keleleran nggak punya rumah, saya juga nggak percaya. 
Lantas apa yang dia cari?. Met, rungokno (dengarkan) Met. Kau mengerti nggak 
gegayuhaning wong urip (jangkauan orang hidup) menurut falsafah Jawa?. 
Sederhana saja kok. Met catat ini, kalau nggak ya kau ingat-ingatlah
 agar kau hidup selamat dunia akhirat, wong jenengmu dewe wis ngarani (orang 
namamu sendiri sudah bicara) ‘Slamet!’, kok mengalami hidup macam begini dan 
kalau sekarang ini kau ada di sini, ini bukan tempat yang terakhir Met. 
  Nampaknya kau akan melanjutkan perjalanan lagi, jauh kemana nanti kau akan 
tahu sendiri. Di sini kau hanya barang titipan, mau dikemanakan lagi, itu 
urusan yang punya mau, apakah itu salah kalau saya katakan keblinger?”
   
  Tuntutan hidup menurut falsafah Jawa itu adalah “Buangen sing limo iku lan 
gayuhan sing limo iku”  (Buanglah yang lima itu tapi carilah yang lima itu), 
kelihatannya aneh, membuang yang lima kok mencari yang lima, apa sih itu?.
   
  "Nah dengarkan baik-baik.
  Buanglah yang lima itu adalah membuang “Mo-limo” yaitu ; 
   
  Satu “Main”  (judi). Jagat ini sudah menjadi saksi, nggak ada orang yang 
hidupnya mapan, tenang dan tentram apa lagi jadi kaya karena main judi.
   
  Dua “Minum”, sami mawon, pada wae, karena minum bisa berbuat diluar nalar, 
mabuk, ngamuk, maki orang tanpa sadar.
   
  Tiga “Madat”, karena madat badan jasmani jadi rusak, kesehatan berantakan, 
jalan pikiran jadi kacau balau. Lihat saja remaja-remaja kita sekarang yang 
rusak dan teler akibat narkoba.
   
  Keempat adalah “Madon” (main perempuan), main dengan perempuan liar atau 
pelacur disamping bisa merusak rumah tangga juga bisa merusak keturunan, 
seorang bayi yang nggak tahu dan nggak ngerti apa-apa hidupnya mengalami cacat 
fisik akibat bapaknya mengidap penyakit kelamin seperti sphylis, raja singa, 
vietnam rose dan lain-lain
   
  Yang ke lima “Maling”. Nah kalau sudah sampai yang kelima ini sangatlah 
berbahaya. Maling arti harafiahnya memasuki rumah orang, mengambil sesuatu yang 
bukan miliknya. Tapi maling juga bisa berarti luas dari arti harafiahnya. 
Maling di jaman moderen, ooh jangan ditanya akibatnya. Ada maling yang disebut 
dengan ungkapan musang berbulu ayam, maling ini bukan seperti maling 
kebanyakan. Jas dan dasi pakainnya sehari-hari, mobil mewah seperti Mercedes 
atau BMW adalah kendaraan tumpangannya, nah dengan penampilan seperti itu siapa 
yang berani bilang mereka maling?. Tapi di balik itu semua eeh nggak tahunya 
negara kebobolan di mana-mana. Seandainya kalian itu orang-orang yang bebas, 
yang dibolehkan membaca koran dan mendengar berita, tentu akan kaget, setiap 
hari berita koran dihiasi dengan berita korupsi.”
   
  Aku kaget, badanku disenggol teman di sebelahku serta bisiknya, “Tuh, itu 
bapak kepala kok berani memberi informasi tentang kerusakan negara akibat 
korupsi, kalau ketahuan yang lebih berkuasa bisa ditangkap dia, itu omongan kan 
sudah kebablasan. Tuh lihat lagi ikat pinggangnya, kendor melorot kebawah 
keberatan pistolnya kali, tuh!”
   
  “Oh iya,” kataku, “Itu kan akibat ngomongnya terlalu bersemangat, jadi tak 
terasa pistolnya merosot kebawah”
   
  Si teman terus berbisik, “Pistolnya pak kepala itu diproduksi di jaman Lois 
XIV, “Raja Matahari”
   
  “Ah bisa saja ente ngomong”
   
  “Eh, bener,” katanya
   
  “Raja Matahari itu siapa?” tanyaku
   
  “Raja Matahari itu ya si Lois XIV tadi, dia menganggap dirinya penguasa 
mutlak, seperti halnya matahari yang merupakan pusat dari alam semesta dan 
menjadi sumber segala kehidupan. Demikian juga Lois XIV menganggap dirinya 
sebagai pusat kehidupan di Perancis. Itulah sebabnya dia disebut Raja Matahari. 
Istana Versailles pun dibangunnya dengan biaya yang sangat tinggi. Untuk itu 
dia menekan dan menguras pajak rakyatnya habis-habisan. Tak heran kalau 
kemudian timbul benih-benih pemberontakan yang merupakan cikal bakal Revolusi 
Perancis. Bung, katanya pistol buatan abad ke delapan belas itu nggak semua 
orang bisa menggunakannya, terlalu kuno”
   
  “Ah sekuno-kunonya pistol kalau pelornya melesat  tetap saja bisa mematikan.”
   
  “Mematikan apa?, wong sebelum pistolnya bunyi orang yang mau ditembak sudah 
lari duluan”
   
  “Ya tapi kan secepat-cepatnya orang lari, masih lebih cepat larinya peluru”
   
  “Nggak mungkin bung, yang mau ditembak kan sudah keburu ngumpet”
   
  “Mana bisa begitu”
   
  “Lha iya, orang bilang pistol seperti punya pak kepala itu kalau mau dipakai 
menembak harus diangetin dulu, dipanggang dulu, gitu”
   
  “Gila lo, menghina tuh!”
   
  Pak kepala meneruskan sambutannya, “Buang dan jauhkan ‘Mo-limo’itu, upayanen 
wo limo. Ngerti nggak, ‘Wo’ itu huruf Jawa kalau huruf latinnya ‘W’, kebalikan 
dari huruf ‘M’. Jungkir dan balikan huruf ‘M’ itu, kepalanya jadi kaki, kakinya 
jadikan kepala, dia akan mempunyai arti yang jungkir balik juga dengan arti 
“Mo-limo”.
   
  “Wo” sepisan (kesatu) itu Wareg, artinya kenyang, nggak kurang makan, karena 
kenyang pikiran jadi tenang dan tentram, nggak ada niat cendolo (melanggar) 
aturan, nggak ada niat jahat.
   
  “Wo” kedua Waras, artinya sehat lahir batin, apa lagi kalau yang dimakan itu 
empat sehat lima sempurna. Perut kenyang, badan sehat ini akan menyebabkan 
orang jadi nggak malas bekerja dan berpikir. Dengan bekerja dan berpikir sehat, 
rejeki jadi mudah dicari, kalau toh sakit ya bisa dan mampu untuk berobat.
   
  “Wo” ketiga itu Wutuh, artinya bisa nyandang dengan baik, nggak kumal seperti 
nggak pernah ganti pakaian, karena dengan berpakaian yang baik dan sopan kita 
bisa bergaul dengan sesama, kita menghormati dan menghargai orang maka orang 
lain pun akan menghormati dan menghargai kita. Kan enak dilihat dan dirasakan.
   
  “Wo” keempat adalah Wulang, artinya pendidikkan, orang hidup itu perlu 
wulang, nggak cukup hanya kenyang thok!, kalau hanya asal kenyang saja itu sama 
halnya dengan yang berkaki empat. Bayangkan seandainya hidup ini tanpa 
pendidikkan, kira-kira ya kayak hidupnya orang-orang primitif, menutupi 
auratnya saja dengan ala kadarnya, dengan rumput atau kulit kayu, seperti 
koteka itu.”
   
  Kami sempat tertawa, boleh juga si bapak ini.
   
  “Iya toh!” katanya, “Coba saja tanpa pendidikkan apa kita bisa merdeka 
seperti sekarang ini?. Kemerdekaan yang kita miliki ini kan berkat bapak-bapak 
bangsa, para pendiri republik ini yang memiliki pendidikkan lebih, hingga 
menjadi orang-orang yang tidak bisa dibodohi terus-terusan. Pendidikkan 
sebaiknya juga bukan pendidikkan lahiriyah saja, tapi pendidikkan rohani juga 
perlu melengkapinya. Lha kalau sudah begitu kita ini bisa menjadi bangsa yang 
sehat dan kuat lahir batinnya. Bener nggak kira-kira omongan saya ini?”
   
  “Bener pak!”, kami menjawab ramai-ramai. Pak kepala menjadi bungah, bangga. 
Teman-teman tersenyum, apa sih dosanya membuat orang senang?.
   
  “Nah "Wo" yang kelima itu Wismo (rumah, tempat tinggal). Rumah adalah tempat 
kita berteduh dari hujan dan panas, tempat berkumpul sanak kadang, tempat 
beralamat. Rumah merupakan idaman setiap orang hidup. Seorang anak, misalnya, 
sebelum dia berkeluarga kumpul serumah dengan orang tua adalah wajar. Tetapi 
kalau dia sudah beristri atau bersuami, tentu akan berusaha pisah dari orang 
tuanya, ingin berdikari, berdiri sendiri, walaupun hidup di rumah kontrakan 
misalnya. Kalau |"W-limo" atau "W" yang kelima ini sudah bisa dicapai, mau apa 
lagi?. Lha kalau setiap orang hidup bisa mencapai "W-lima" ini maka kehidupan 
akan jadi tenang dan tentram, tidak saling gontok-gontokkan. Seperti yang biasa 
diucapkan Ki Dalang, "Toto tentrem karta raharja" . Nah itulah yang bisa saya 
pesankan kepada saudara-saudara sekalian. Ya Met, Slamet, ingat-ingatlah ini!. 
Saya pikir kau sudah bisa menggapai "W-lima" ini, Eh kok kebangetan Met. Saya 
jadi nggak ngerti jalan pikiranmu. Ya nasi sudah
 menjadi bubur, mau apa lagi, kalau itu yang menjadi cita-citamu, teruskanlah!”
   
  Aku jadi bingung dengan ucapan terakhir pak kepala sipir ini, “Kalau memang 
itu yang menjadi cita-citamu, teruskanlah!” Ini kan bertentangan dengan 
celaannya terhadap jalan pikiran kami. Ya namanya juga orang pidato, 
kadang-kadang nggak disadari sudah kebablasan, karena macam-macam yang 
diomongin kadang-kadang lidah jadi keseleo.
   
  Pidato selesai, penonton bubar, dan kami pun kembali ke kandang. Pak sipir 
kepala mencegah temannya yang mau meninggalkan aula. Dalam bahasa Jawa gaya 
Banyumasan ia berseru, “Arep maring endi sih kok kesusu mene ngombe kopi panas 
dingin”
   
  Teman yang menyenggolku tadi ngomong lagi, “Bung, di Nusa Kambangan ini kok 
banyak yang aneh-aneh ya, sudah ada pistol panggang eh ada lagi tuh kopi 
meriang”
   
  “Kopi meriang gimana sih maksudmu?”
   
  “Lha itu tadi pak kepala bilang ngombe kopi panas dingin, itu kan berarti 
kopinya lagi sakit meriang”
   
  “Oh itu, ngombe kopi panas dingin, itu artinya minum kopi dulu, kalau bahasa 
Sundanya mangga ngaleeut kopi heulak”
   
  “Oh gitu!”
   
  Dari pentas tadi rupanya ada juga yang diuntungkan. Salah seorang dari sekian 
banyak tapol ada yang mendapatkan keberuntungan, namanya Brahim. Dialah yang 
tadi menjelaskan tentang asal kata Minangkabau kepada salah seorang ibu yang 
menonton. 
   
  Esok paginya, Brahim diperintahkan oleh pak kepala sipir untuk bekerja di 
komplek perumahan pegawai, rupanya si ibu itu berkenan dan merasa iba pada si 
Brahim ini. Anaknya memang cakep, ngomongnya halus, santun pula. Mungkin juga 
untuk ganti pandangan dari muka kriminal ke muka tapol, bagi si ibu. Rupanya 
sudah bertahun-tahun beliau dilayani oleh muka kriminal, bosen dan nyebelin, 
bisa jadi. Maka Brahim diminta jadi gantinya. 
   
  Pagi-pagi Brahim sudah dibukakan pintu untuk bekerja di komplek. Lalu 
kerjanya apa?. Ya kerja rumah tangga, seperti nyapu, ngangsu (ngisi bak mandi 
dan gentong) juga mencuci. Pulang kerja biasanya sudah jam empat sore, masuk 
kandang lagi. Yang tidak pernah ketinggalan adalah bawaan dari komplek, 
singkong rebus, kira-kira ada 2 kiloán, ya lumayanlah, singkong rebus itu kalau 
dibagi ke seluruh isi kandang yang jumlahnya seratus orang, kira-kira seorang 
bisa kebagian tidak lebih dari sejempol kaki. Karena Brahim sudah makan di 
komplek, tentunya cukup kenyang dan mesti pakai lauk, maka jatah makannya di 
penjara siang dan sore diserahkan untuk dibagi bergiliran seorang sesendok. 
Lumayan, mau bilang apa?. Ya itu lumayan. Disamping itu aku juga termasuk orang 
yang diuntungkan. 
   
  Selama empat puluh hari di Nusa Kambangan, dua kali aku sempat titip baju dan 
celana kolor yang kotor untuk dicuci. Terima kasih Him!, aku tak akan melupakan 
jasamu.
  Hari "H" akhirnya tiba, masa transit selesai dan habis. Dua hari sebelum hari 
"H" ada pemeriksaan kesehatan masal oleh tim kesehatan. Perjalanan jauh dan 
akan menempati tempat baru tentunya memerlukan ketahanan fisik yang memadai. 
Pas giliran aku diperiksa kok makan waktu agak lama, padahal teman-teman yang 
lain cepat, hanya dengan stateskop, tutul sini tutul situ, beres, sehat, lulus 
dan lolos, artinya bisa ikut berangkat. Tapi kenapa pemeriksaanku kok lama, 
barangkali mereka meragukan ketahanan fisikku. 
   
  Berdasarkan hal ini aku sudah bisa mengira-ngira, di sana , di tempat yang 
akan di tuju, kami pasti dan harus menghadapi kerja berat. Kalau memang begitu, 
ya itulah tanah buangan seperti romusha di jaman Jepang (kerja paksa, kultur 
stelsel di jaman VOC). Aku berdoa dalam hati, ya Allah jangan kau biarkan aku 
tetap tinggal di penjara yang satu ini, ya Allah. Keadaan sudah kepalang basah, 
jangan nantinya aku mati di sini, mati di tangan para kriminal yang tak kenal 
iba, teman-temanku sudah banyak yang mati disini. Keluarga pun sulit bisa 
diharapkan datang menengok, untuk hidup sehari-hari saja mereka sudah sulit, 
apa lagi untuk datang dengan menyebrang laut, tak akan terjadi ya Allah. 
Biarlah kalau aku harus mati di tempat yang baru nanti tak apalah, itu juga 
masih tanah airku.
   
  Rupanya doaku itu dikabulkan, aku akhirnya lolos, bisa ikut berangkat dengan 
rombongan teman-temanku. Perintah berkemas diserukan, kami pun bersiap. Barang 
bawaan dari penjara Salemba menjadi bawaan berwisata, mengarungi Lautan 
Indonesia (laut kidul), dengan gelombangnya yang menggulung setinggi gunung. 
Dengan alas kaki gapyak pun masuk perut kapal tidak dilarang. Pak Slamet dan 
pak Pram memimpin kami. Jam 11 selesai makan siang kami pun diberangkatkan ke 
Sodong, tempat kapal merapat. Satu jam berlalu kami menunggu kedatangan kapal, 
kapal belum datang, dua jam, tiga jam hingga empat jam kami menunggu, kapal 
masih tak kunjung tiba. Setahuku, di alam bebas, kalau hendak berpergian jauh, 
apakah pergi dengan kereta api, bus, kapal atau peasawat udara, biasanya 
kendaraanlah yang menunggu penumpangnya. Tapi ini sebaliknya penumpang yang 
harus menunggu kedatangan kendaraan, maklum menumpang dengan gratis, ya sak 
kobere yang mengangkut. Mau ya begini, nggak mau ya begini. Waktu
 sudah jam 4 sore, kapal tak jadi datang, perut kami sudah mulai lapar lagi. 
Kami harus kembali ke kandang. 
   
  Waktu makan sore sudah lewat, apakah sesampainya kami di kandang nanti masih 
sempat medapat ransum sore?. Memasak untuk perut seratus orang akan memerlukan 
waktu cukup lama. Kami pun cemas, dengan terseok-seok kami berjalan, mau tak 
mau kami harus kembali ke Karang Tengah. Jalan kaki antara Sodong dengan Karang 
Tengah sebenarnya tak lama, hanya dua puluh atau dua puluh lima menit saja 
sudah sampai. Tapi sependek apa pun waktu yang diperlukan jika berjalan dengan 
perut lapar sambil menggendong barang bawaan pula, terasa banget beratnya. 
   
  Di tengah perjalanan kembali ke Karang Tengah, seorang teman melihat ada 
kulit pisang raja di jalan, karena perut lapar diambilah kulit pisang itu, 
diusap dengan ala kadarnya, lalu dimakannya kulit pisang yang tebal itu, habis 
tanpa sisa. Aku pun tak mau ketinggalan, kucabut batang singkong yang tumbuh di 
pinggir jalan, tanaman berumur kurang lebih tiga bulan dengan otot yang masih 
tinggal, berhasilah aku dapat akar singkong yang sudah mulai membesar. Pak 
sipir yang mengawal kami tahu perbuatanku itu, tapi kali ini dia diam saja tak 
bereaksi, ada rasa kasihan juga rupanya. Singkong pun aku bagikan pada 
teman-teman yang lain untuk dimakan mentah-mentah. Alhamdulillah perut bisa 
menerima dan tidak berulah. Jam setengah lima sore kami sampai di kandang. 
Benar juga dugaan kami, jatah makan sore nggak ada. Tapi untungnya jadwal makan 
siang keesokan harinya dipercepat jadi lebih pagi. Jam sepuluh pagi kami sudah 
dapat makan siang.
   
  Ada hal yang lebih mencemaskan dari penundaan keberangkatan kami, yaitu 
adanya informasi tentang ketidak datangan kapal kemarin itu dikarenakan kapal 
mengalami kerusakan mesin dan perlu diperbaiki dahulu. Kapal yang akan 
mengangkut kami katanya diberi tanda dengan nama “ADRI-11”, jadi kira-kira 
kapal itu milik Angkatan Darat. Oleh karena kabar adanya kerusakan mesin kapal 
itulah seorang teman yang mempunyai pengalaman berlayar memberi penerangan dan 
penjelasan. Dia mengatakan dalam menghadapi kapal yang rusak dan mungkin bisa 
mengakibatkan kapal tenggelam kita jangan panik. Kapal itu kalau mau tenggelam 
tidak langsung bles masuk kedalam air, tapi dia tenggelam pelan-pelan, 
prosesnya itu cukup buat persiapan menyelamatkan diri. Ada waktu bagi kita 
untuk mengirm sinyal dan tanda S.O.S, minta bantuan dan pertolongan kepada 
perahu atau kapal lain yang sedang lewat. 
   
  Mendengar keterangan itu seorang teman nyeletuk, “Itu kan buat orang yang 
punya pengalaman berlayar seperti bung, lha kalau buat orang awam seperti saya 
ini bagaimana nggak panik, wong berenang saja nggak bisa, gimana mau 
mempersiapkan penyelamatan yang ada juga saling berebut menyelamatkan diri 
masing-masing. Taruhlah tenggelamnya kapal memang memerlukan waktu satu sampai 
dua jam, lalu kalau ternyata nggak ada kapal yang lewat gimana?, kalau pun ada 
untuk memberi pertolongan berapa banyak sekoci yang diperlukan?, berapa sih 
kapasitas tampung tiap sekoci?. Kan yang bakal mengisi perut kapal ADRI-11 itu 
bukan hanya kita yang dari Karang Tengah saja, tapi juga dari Gliger, Candi dan 
lainnya. Sudahlah bung jangan diterusin cerita tentang tenggelamnya kapal, 
bikin hati ciut saja. Kalau kapal kita tenggelam seperti tenggelamnya KRI. 
Macan Tutul dalam perang merebut kembali Irian Barat yang di comodori oleh Yos 
Sudarso di perairan Aru itu adalah tenggelamnya seorang patriot
 sehingga nama Yos Sudarso menempel di pulau Dolak (Pulau Yos Sudarso). Lha 
kalau kapal yang kita naiki tenggelam karena memang kapalnya yang rusak itu kan 
mati konyol namanya. Dan kalau pun memang ada sarana penyelamat tentu 
perioritas utama untuk awak kapal itu sendiri, soal tapol sih biar mati jadi 
penghuni dasar laut itu mah bukan perkara, wong tapol memang diharapkan mati 
dan jika tapol mati karena kecelakaan mereka kan bisa bebas dari tanggung 
jawab. Sudahlah sebaiknya kita berdoa menurut keyakinan masing-masing saja agar 
perjalanan kita nanti bisa selamat sampai tujuan.”
   
  Jam sebelas siang, kembali ada perintah berangkat ke Sodong. Kami 
berbondong-bondong di giring ke Sodong. Apa pun alasannya kami tetap datang 
lebih dahulu dari si kapal dan kami pun tetap harus menunggu kedatangannya 
walaupun hanya setengah jam. Benar juga, setengah jam kemudian nampak dari arah 
timur gundukan hitam bergerak ke arah barat. Lama-lama gundukan itu makin jelas 
bentuknya. Itu dia si ADRI-11 datang. Oh Allah, badan kapal sudah banyak 
lukanya, berkarat di sana-sini, warna catnya pun sudah kusam, membuatnya tampak 
semakin tua, kasihan dia, perutnya harus diisi ratusan orang sampai membengkak, 
kalau nanti penumpang sudah masuk semua mungkin dia akan miring, berat sebelah. 
 Ya namanya kapal, dia barang mati, nggak bisa ngomong, apalagi menolak karena 
kebanyakan muatan. Semuanya tergantung pada yang mengusai, apa kata penguasa 
harus ditaati. Mudah-mudahan saja kapal tua ini masih mampu bekerja dengan baik 
dan bisa mengantar kami sampai ke tempat tujuan yang entah
 di mana dengan selamat.
   
  Seluruh penghuni Karang Tengah sudah masuk ke perut ADRI-11, komplit, tak ada 
yang tertinggal menjadi penghuni kuburan Karang Tengah. Kami selamat dari 
amukan bekasakáan, bala tentara Kanjeng Ratu Kidul. Kami ini orang-orang yang 
santun, tahu menghormati orang lain, tidak pernah usil atau mengusili 
keberadaan Kanjeng Ratu Kidul, kalau toh kena marah dan harus dilahap, apanya 
yang akan dilahap?, orang badannya saja kurus-kurus, tinggal kulit pembalut 
tulang doang, darahnya pun barangkali terasa pahit. Begitulah akhirnya kami 
semua selamat, keluar dari Nusa Kambangan.
   
  Seperti halnya bung Baho ketika di Blok-E, Salemba, pak Slamet pun 
menunjukkan kelasnya sebagai seorang pemimpin di antara kami. Apa yang beliau 
lakukan?. Ditemuinya kapten kapal, kepala logistik dan kepala dapur. Kepada 
mereka beliau mohon agar kami mendapat jatah makan siang, hasilnya memang nol. 
Tapi apa pun hasilnya pak Slamet telah berbuat sesuatu untuk kami, beliau tidak 
takut untuk dikatakan cerewet, banyak tuntutan dan lain sebagainya.
   
  Pak Kapten Cs mengatakan, “Jatah makan siang di sini ketentuannya jam 11 
siang, sekarang sudah jam setengah satu. Makan siang sudah lewat, dapur hanya 
masak untuk jatah makan sore nanti, jam 4 sore”,  begitu jawaban kepala dapur 
ADRI-11, persis seperti di Karang Tengah, jawabannya sama.
   
  Bolak-bolak perut kami ini menjadi korban di luar perhitungan. Saat di 
Salemba kami mengalami tidak makan siang karena ulah teman, penghuni salah satu 
sel yang menolak ransum karena dipandang sangat tidak manusiawi. Di Karang 
Tengah, kami mengalami tidak makan sore karena diperhitungkan akan makan sore 
di kapal, eh sialnya kapal tidak datang, terpaksa kembali ke kandang tanpa 
dapat jatah makan sore lagi. Sekarang di kapal karena urusan administrasi dan 
lain sebagainya, kami masuk kapal sudah jam setengah satu, jam makan siang 
sudah lewat. Oh perut-perut tapol kok sial banget nasibmu. Memang begitulah 
nasib para tahanan, mungkin di mana-mana sama saja seperti itu harus mentaati 
seluruh aturan penjara tanpa kompromi. Biar apa pun bentuknya sebuah kapal 
sekalipun kalau isinya para tahanan tetap saja itu berarti penjara. Itu kata 
Pak Hasyim tempo hari. Akhirnya kami hanya bisa pasrah, menurut apa kata sang 
penguasa kapal.
   
  Sebelum kapal berangkat pak Kapten memberi pengumuman dan perhatian serius 
kepada seluruh para penumpang.
   
  "Saya adalah salah satu anggota satuan awak kapal yang bertanggung jawab di 
dalam kapal ini. Kami seluruh satuan awak kapal yang bertanggung jawab atas 
keselamatan saudara-saudara selama saudara-saudara berada di dalam kapal ini. 
Kami dengan rasa senang hati, ridho serta ikhlas akan mengantar saudara-saudara 
sampai ke tempat tujuan dengan tanggung jawab sepenuhnya. Oleh karena itu 
hargailah kerelaan kami, janganlah saudara-saudara bikin ulah yang membuat kami 
marah. Jangan coba-coba memancing kemarahan kami. Bagi siapa saja yang membuat 
ulah di kapal ini, kami tidak akan pandang bulu, akan kami tindak tegas. Perlu 
saudara-saudara ketahui, kami di sini punya tempat yang sangat menyeramkan 
untuk menghukum siapa saja yang membuat ulah. Tempat itu berupa ruang satu 
meter persegi dengan penerangan lampu berkekuatan seribu watt. Jika 
saudara-saudara kepingin tahu dan merasakannya, silahkan mencoba, ayo 
berulahlah!. Jika tidak, patuhilah peraturan dan tata tertib di kapal ini.
 Ngerti dan siap patuh?. Terima kasih."
   
  Ah benar-benar sial jadi tahanan ini. Aku pernah berbuat apa sih dalam 
peristiwa '65 itu?, kok akibatnya begitu hebat, di mana-mana selalu menerima 
ancaman. Hak yang aku miliki hanya satu, yaitu bernafas itu pun bila perlu 
sewaktu-waktu bisa dicabut. Mudah-mudahan saja aku kuat menghadapi segala 
cobaan ini.
   
  Persiapan segala sesuatunya sudah beres, kapal siap angkat jangkar. Suling 
kapal berbunyi melengking, kapal pun mulai bergerak, putar haluan dan terus 
melaju ke arah timur, munuju laut bebas. Dari jendela kapal kupandangi daratan 
yang baru kutinggalkan. "Selamat tinggal pulau Jawa, mudah-mudahan suatu saat 
kita bisa bertemu kembali." 
   
                                                                *****

  Bersambung ke nr. VIII -  PULAU BURU: - Unit II; - Anak Kucing Mengisi 
Rantang 

  

 
                          Lembaga SASTRA PEMBEBASAN

  Address: Postbus 2063, 7301 DB Apeldoorn – Netherlands
E-Mail: [EMAIL PROTECTED] 
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/ 
Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65: http://www.














Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/   
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/ 






 
---------------------------------
Never Miss an Email
Stay connected with Yahoo! Mail on your mobile. Get started!

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke