Lembaga Sastra Pembebasan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Date: Tue, 30 Jan 2007 12:56:26 -0800 (PST)
From: Lembaga Sastra Pembebasan <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: KISAH PAHIT SEORANG TAHANAN G30S "BULEMBANGBU" Oleh N. Syam. H ( VII )
KISAH PAHIT SEORANG TAHANAN G30S
BULEMBANGBU
Oleh N. Syam. H
NUSA KAMBANGAN - Hal. 63 - 78
Emakku pernah bilang, Pakdemu dibuang ke Nusa Kambangan karena ulahnya
menghajar saksi dalam sidang pengadilan.
Nusa Kambangan adalah tempat terakhir bagi nara pidana kelas berat. Menurut
cerita orang-orang yang pernah ke sana dan bahkan pernah tinggal di sana Nusa
Kambangan adalah tempat yang sangat mengerikan. Banyak kejadian-kejadian
misteri yang dapat terjadi di sana, hal-hal yang tidak masuk akal pun banyak
mewarnai pulau ini.
Nusa Kambangan adalah salah satu dari 17.000 untaian jambrut katulistiwa kata
Multatuli.
Tapi kenapa orang tidak pernah menyebut Nusa Kambangan dengan kata Pulau
Nusa Kambangan seperti halnya Pulau Bali, Pulau Seribu, Pulau Jawa dan
pulau-pulau lainnya, tapi orang-orang cukup menyebutnya dengan Nusa Kambangan
saja. Karena keindahan pulau Bali maka terciptalah lagu Pulau Bali, untuk
pulau Jawa pun ada lagu keroncongnya, Lalu apakah di Nusa Kambangan tidak ada
keindahannya, tidak ada kelebihannya?. Boleh jadi memang begitu, seandainya ,
ya seandainya saja Nusa Kambangan itu satu pulau yang memiliki keindahan dan
kelebihan, mungkin pemerintah kolonial dulu sudah menjadikan Nusa Kambangan
sebagai tempat peristirahatan dengan membangun villa, bungalow serta hotel
seperti halnya dengan pulau Bali atau Puncak-Cipanas dan tempat-tempat lainnya
untuk ber-week end bagi para pejabat.
Celaka memang, Nusa Kambangan ini namanya terlanjur dicemari dengan keseraman
dan kemisteriusannya. Namanya lengket dan tak terlepas dari kisah penguasa Laut
Kidul. Menurut kepercayaan orang Jawa, penguasa laut kidul atau laut selatan
adalah seorang putri yang teramat cantik, yang disebut dengan Nyi atau Nyai
Roro Kidul. Yang kalau diartikan, kata Nyi atau Nyai itu sebutan bagi
seorang wanita, sedang Roro berarti gadis atau perawan dan Kidul yang berarti
selatan adalah tempat kediamannya atau tempatnya bersemayam. Lalu siapa Nyi
Roro Kidul itu?, siapa nama aslinya dan dari mana asal-usul sosok tokoh yang
melegenda ini?.
Beberapa versi cerita telah mewarnai tokoh ini. Di Jawa sendiri juga terdapat
beberapa versi cerita mengenai asal-usul tokoh Nyi Roro Kidul. Di kampungku,
di Jawa Timur sana, Nyai Roro Kidul diyakini sebagai sosok makhluk halus yang
jahat, jika di kampungku atau di desa sekitarnya sedang diserang oleh suatu
wabah penyakit maka masyarakat meyakini bahwa saat itu Nyi Roro Kidul sedang
punya hajat mantu dan untuk mengadakan perhelatannya itu sang Nyai memerlukan
banyak sayuran kacang lanjaran. Para pembantu dan bala tentara pun dikerahkan
untuk mencari sayuran itu, sayang sekali ternyata para pembantunya itu agak
budeg, tak pernah jelas menerima perintah. Kacang lanjaran diartikannya sebagai
anak-anak yang masih muda atau lanjar dalam bahasa Jawa, maka disebarkanlah
wabah penyakit bagi anak-anak lanjar. Nah kalau sudah begitu datanglah wangsit
yang diterima oleh para sesepuh desa yang melakukan tapa tirakat untuk
menghentikan wabah penyakit yang disebarkan oleh para
pembantu Nyi Roro Kidul itu tadi.
Menurut wangsit itu untuk menghentikan wabah penyakit para penduduk desa
dianjurkan untuk melakukan cegah lek (jangan tidur sore-sore), jangan tidur di
atas dipan atau tempat tidur lainnya melainkan tidur di lantai, di atas tanah
dengan beralas tikar, agar tidak tersandung kaki para bekasakán. Diyakini oleh
mereka para bekasakán kalau berjalan kakinya tidak ngambah lemah (tidak
menempel tanah). Atau dikatakan pantat para badan halus ini berbentuk kerucut,
jadi mereka tidak bisa kerja dengan duduk untuk ngerjain orang-orang yang
sedang tidur di atas lantai.
Lain lagi dengan masyarakat Sunda, mereka mempunyai versi lain tentang cerita
Nyi Roro Kidul ini. Menurut versi Sunda Nyai Roro Kidul adalah penjelmaan dari
Putri Kandita, anak Prabu Siliwangi. Menurut ceritanya suatu hari Putri Kandita
dan sang ibunda terkena guna-guna yang menyebabkan wajah keduanya menjadi buruk
penuh dengan koreng, sehingga mereka pun lalu diusir, keluar dari keraton.
Dalam perjalanan sang ibunda wafat, tinggalah sang putri seorang diri. Sang
putri berjalan seorang diri menyusuri pantai selatan. Karena kelelahan sang
putri pun tertidur, dalam tidurnya ini sang putri bermimpi, mendapat petunjuk
dari Dewata, jika sang putri ingin wajahnya kembali cantik, sang putri harus
menceburkan dirinya ke Laut Kidul. Maka saat ia terbangun, tanpa berpikir
panjang lagi sang putri pun segera menerjunkan dirinya ke dalam laut, Putri
Kandita pun akhirnya hilang tanpa bekas di dalam Laut Kidul. Sejak kejadian itu
ketentraman penduduk di sekitar pantai Laut Selatan mulai
terganggu, mereka selalu diganggu oleh sesosok wanita berwajah cantik yang
setiap hendak ditangkap selalu hilang lenyap begitu saja. Nah sejak saat itu
lah sebutan Nyai Roro Kidul menjadi populer di kalangan masyarakat.
Menurut versi Jawa Tengah pun agak berbeda. Kepercayaan keluarga Keraton Solo
dan Yogyakarta pada Nyai Roro Kidul cukup beralasan, karena tanpa Nyi Roro
Kidul agaknya keberadaan kerajaan Mataram, yang kini diwariskan pada Kasunanan
Surakarta dan Kesultanan Ngayogyakarta tidak akan ada, begitu menurut
kepercayaan Jawa. Cerita tentang Nyai Roro Kidul itu sendiri muncul di kalangan
keraton pada jaman ketika Jaka Tingkir alias Panji Mas bergelar Sultan
Hadiwijaya bertahta di Pajang (1500-1582).
Awal ceritanya begini : Suatu hari terjadilah perebutan kekuasaan antara Jaka
Tingkir dengan Ariyo Penangsang. Jaka Tingkir yang saat itu menjadi Adipati
Pajang memiliki penasehat ulung di bidang strategi perang bernama Kyai Gede
Pemanahan, atas nasehatnya Hadiwijaya memperoleh kemenangan dalam peperangan
itu. Ariyo Penangsang pun mati terbunuh. Kemudian pusat kerajaan Demak
dipindahkan ke Pajang. Sebagai tanda terima kasih, Kyai Gede Pemanahan
mendapat hadiah sebidang tanah yang terletak di kota Gede atau Mataram. Kyai
Gede Pemanahan pun lalu pindah ke Kota Gede dan sebagai penggantinya
diangkatlah anak Kyai Gede Pemanahan, bernama Sutawijaya yang kemudian diberi
gelar Senopati Ing Alaga Sayidin Panotogomo (Panglima Perang dan pengatur
Agama). Sampai pada akhirnya Sutawijaya pun berambisi untuk menjadi raja dan
untuk mencapai maksudnya itu, sang Senopati itu lalu menjalani tapa brata di
sebuah batu karang di tengah laut selatan. Dalam tapanya itu Sutawijaya mendapat
gangguan dari seorang wanita cantik yang mengaku bernama Nyi Roro Kidul, tapi
gangguan itu tak berhasil menggagalkan semedi sang Senopati, yang terjadi Nyai
Roro Kidul malah jatuh cinta pada Sutawijaya. Usai melakukan semedi keduanya
sepakat untuk menikah dan Nyi Roro Kidul sebagai istri Sutawijaya siap membantu
perjuangan suaminya. Sutawijaya adalah mahkluk kasar (kasat mata) sedang Nyi
Roro Kidul adalah mahkluk halus, kedatangan mereka berdua di kerajaan Pajang
tidak menimbulkan pergunjingan. Singkat cerita hajat Sutawijaya pun akhirnya
kesampaian, kudeta terjadi dan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir mati terbunuh.
Kerajaan Pajang di pindah ke Kota Gede, inilah cikal bakal kerajaan Mataram.
Setelah Sutawijaya mangkat ia pun digantikan oleh Sultan Anyokrowati atau
Pangeran Sedo Krapyak. Begitu seterusnya, Nyi Roro Kidul tetap mendampingi
raja-raja Mataram sampai dengan Hamengku Buwono VIII.
Menurut pengakuan Sultan Hamengku Buwono IX, Nyi Roro Kidul itu adalah
eyangnya. Nenek beliau pun mengaku pernah bertemu dengan eyangnya itu setelah
menjalani semedi dan puasa. Pada malam-malam tertentu Nyi Roro Kidul datang ke
keraton dengan mengendarai kereta kencana. Tanda-tanda kedatangannya bisa
berupa seberkas sinar atau berupa pelangi yang masuk ke dalam keraton, atau
bisa juga berupa angin kecil yang berputar-putar di bagian keraton disertai
dengan bau wangi yang sangat semerbak, demikian kata Sri Sultan.
Ketika Amangkurat II masih bertahta di Kasunanan Surakarta Hadiningrat atau
ketika Sultan Hamengku Buwono VII di singgasana Kasultanan Ngayogyakarta
Hadiningrat. Konon Nyi Roro Kidul sering datang ke keraton cuma untuk melihat
cucu-cucu dan cicit-cicitnya.
Menurut cerita kedua kerajaan Jawa Tengah itu, Surakarta Hadiningrat dan
Ngayogyakarta Hadiningrat akan tetap tegak keberadaannya selama cerita tentang
Nyi Roro Kidul belum sirna dari kalangan masyarakat Jawa.
Nyi Roro Kidul sering digambarkan sebagai perempuan berparas sangat ayu.
Bertubuh langsing, berambut panjang ikal mayang, kulit putih, hidung mancung,
pipi lesung pipit, bibir tipis, mata jeli dan bersuara merdu. Pendek cerita
sempurna tanpa cacat. Tetapi menurut Sri Sultan Hamengku Buwono IX wajah Nyi
Roro Kidul dapat berubah-ubah. Pada bulan purnama wajah Kanjeng Ratu Kidul ini
sangat cantik sekali, tapi ketika bulan mengecil wajah Kanjeng Ratu Kidul
tampak keriput.
Kira-kira kecantikan Nyi Roro Kidul itu sama dengan cantiknya Dewi Banowati
atau Dewi Banuwati (istri raja Astina). Kata Ki dalang, Dewi Banowati itu dari
ujung rambut sampai telapak kaki sempurna tanpa cacat, setiap hari
kecantikannya bertambah menurut irama bulan. Jika tanggal muda jadi muda, kalau
tanggal tua jadi perawan sunti.
Pelukis Basuki Abdullah pun mereka-reka kecantikan Kanjeng Ratu Kidul, lewat
lukisan cat minyaknya yang banyak disukai oleh para kolektor lukisan. Dan
lukisan itu kini terpajang di Samudra Beach Hotel kamar 308, Pelabuhan Ratu â
Jawa Barat.
Tidak keliru kalau Nyi Roro Kidul itu memang ayu. Versi komik Joko Tarub pun
mengatakan Nyi Roro Kidul itu adalah jelmaan Dewi Nawang Wulan yang setelah
menemukan pakaiannya kembali, dia pulang ke khayangan. Tetapi kedatangannya ke
khayangan itu ditolak, karena dia sudah dicemari noda hitam. Dia tidak lagi
murni sebagai dewi karena telah bercampur dengan manusia yang bernama Joko
Tarub. (Warnasari, No.118 Nov 1988).
Nah itulah Nusa Kambangan yang termasuk wilayah kekuasaan Kanjeng Ratu
Kidul.
Ngomong tentang Nusa Kambangan tidak bisa lepas dari keberadaannya sebagai
penjara, dan bicara tentang penjara tentu tidak terlepas dari derita dan nista,
kekerasan dan cemohan pun jadi hal biasa, tinju lepas, tendangan bebas tak
perlu diulas lagi, setiap hidung pun telah memaklumi. Bukan kebetulan kalau
tokoh jahat si Lowo Ijo dalam serial Mahesa Jenar, diceritakan juga bersarang
di Nusa Kambangan.
Dari pantai Cilacap dengan ponton kami menyeberangi segara anakan, nggak lama
hanya beberapa menit, sampailah ke daratan yang berupa perbukitan dengan tanah
tandus.
Sepintas nampak tak ada kehidupan pedesaan. Tak aku lihat seorang pun
berjalan membawa hasil ladangnya, tak kulihat juga adanya perumahan penduduk.
Sebagai penjara yang tentunya mempunyai aparat dengan anak istrinya, perumahan
tempat tinggalnya pun tak kuketahui, mestinya sih ada tapi di mana, itu yang
nggak kuketahui. Yang nampak adalah bangunan yang akan kami huni, ya itu
penjaranya.
Konon ada beberapa penjara di pulau ini, ada penjara Karang Tengah, inilah
yang jadi tempat hunianku dengan rombongan, ada Penjara Gliger, ada juga yang
bernama Candi. Bukan Candi Semarang Kidul, perumahan rakyat yang berhias lampu,
yang kalau malam terlihat keindahannya dari kejahuan. Tetapi Candi Nusa
Kambangan adalah candi penjara.
Rombonganku diketuai oleh pak Slamet, Drs.Sospol dan kalau nggak salah
diwakili oleh Pak Pram (novelis kenamaan). Karena lamanya pemeriksaan di
Cilacap, kami datang di Karang Tengah sudah tertinggal makan siang. Ampas makan
malam di setasiun Beos rupanya telah meninggalkan kantong nasi. Tidak ada
sarapan pagi tadi, yang ada kami sarapan pagi dengan pukulan kentes di setiap
kepala, satu pukulan. Di pimpin oleh pak Slamet dan di wakili oleh pak Pram
hati ini jadi mantep dan tenang. Mereka adalah orang-orang pintar dan
pemberani, yang selalu bicara tentang perjuangan. Dalam setiap bukunya, penulis
ini tak pernah lepas dari perjuangan. Novelnya yang pertama kali aku baca
adalah Perburuan, novel ini memperoleh hadiah pertama dari Balai Pustaka.
Den Hardo yang diburu pasis Jepang berlindung dan menyamar sebagai pengemis.
Pak Pram, baik omong keseharian mau pun dalam novelnya selalu sakleg. Kalau
bicara tahi ya tahi. Jalan ceritanya perburuan aku sudah lupa, lebih dari
setengah abad yang lalu aku membaca buku itu, cuma dalam akhir cerita yang
kuingat adalah tekad den Hardo untuk membalas dendam pada petinggi Jepang itu.
Ketika pekik kemerdekaan bergelora, semangat kepemudaan den Hardo memuncak.
Dicarinya para petinggi Jepang. Salah satu petinggi Jepang hendak di pancung
batang lehernya. Dengan pedang samurai di pancungnya leher si petinggi Jepang,
namun meleset yang kena cuma umbun-umbunnya, batok kepala terkelupas, benda
putih yang namanya otak muntub-muntub, antara mau keluar dan tenggelam dari
ubun-ubunnya. Walaupun hanya membaca tapi itu mengerikan. Dan novelnya Pram
memang begitu, kalau memang harus ngomong jorok ya ditulis jorok.
Di kemudian hari aku baca bukunya Bumi Manusia. Tuan Herman penguasa
perkebunan tebu mati karena kebanyakan minum-minuman keras, gantinya seorang
Belanda juga bernama Tuan Fleibeyer, rupanya tuan ini adalah seorang play boy,
pemburu perempuan, terutama gadis-gadis. Barangkali sudah banyak gadis-gadis di
sekitar perkebunan yang dinodainya. Oleh karena itu jika diketahui Tuan
Fleibeyer masuk desa kebanyakan perempuan desa itu pada lari, terutama para
gadis-gadisnya. Suatu ketika seorang gadis melihat Tuan Fleibeyer masuk desa,
nggak pakai tempo lagi dia langsung lari sambil berteriak, Ee ayo pada lari,
Tuan Peligayer masuk kita mau dijarah!, dan perempuan-perempuan desa itu
terutama para gadis-gadisnya segera kabur, bersembunyi. Orang kampung itu lugu,
buat mengucap kata yang beraksen Belanda itu susah, lidahnya kaku, ucapannya
hanya disesuaikan dengan bunyi yang didengarnya, bunyi Peligayer mirip dengan
Fleibeyer.
Di Blok-Q, Salemba, tempo hari pernah aku tanyakan kepada pak Pram. Pak,
saya baca di koran Angkatan Bersenjata, ada berita tentang perlawanan bapak
ketika hendak ditangkap, bener nggak pak?
Ya bener, bener banget. Apa sih dosanya orok saya kok popoknya dibuangi, apa
pula dosanya itu pohon mangga pake dirusak?. Mau tangkep ya tangkep saja, masak
begitu harus diam saja dan tak boleh melawan?
Kami masuki barak tahanan, seratus tahanan masuk dalam satu barak. Barak yang
kuhuni berhadapan dengan pos penjagaan yang tak pernah melepaskan pengawasannya
terhadap para tapol. Ada tiga buah kentongan besar-besar, seperti kentongan
lurah di desa. Ketiga kentongan digantungkan di pojok aula, apa fungsinya
kentongan itu?. Nggak tahu.
Kalau kentongan di desa jelas untuk memanggil aparat desa, bunyi kentong satu
misalnya, kentongan dipukul sekali dengan jarak baru dipukul sekali lagi dan
seterusnya, itu tanda para aparat desa harus berkumpul di kelurahan, kalau
kentongan di pukul tiga kali berturut-turut itu tanda ada kebakaran, kentong
titir ada rajapati, tapi itu di kampung atau di desa. Nah, di Nusa Kambangan
ini lain, ketiga kentongan itu dipukul bareng oleh tiga orang tahanan kriminal,
layaknya seperti mengiramakan sebuah lagu, enak juga didengar, bahkan seorang
teman suka joget di barak saat kentongan itu dipukul. Itulah tapol PKI dimana
dan kapan saja bahkan dengan perut lapar pun masih sempat bercanda, ya mau apa
lagi?, dipikir terus malah tiwas ngenes, lebih baik ketawa dan coba bergembira,
hitung-hitung memupuk mental, menebalkan keberanian, siapa tahu suatu saat
nanti bisa bebas dan kami tidak jadi orang sinting.
Lalu apakah bunyi kentongan itu tanda waktunya shalat?, rasanya nggak juga,
wong mesjid juga nggak ada, boro-boro mesjid, langgar dan musolah juga nggak
ada. Jadi 40 hari kami di Nusa Kambangan kami tak pernah melakukan shalat,
mungkin saja masih ada yang melakukan shalat walau pun dalam keadaan darurat.
Memang shalat hukumnya wajib, tak boleh ditinggalkan kapan saja, dimana saja,
dalam keadaan berperang pun shalat harus jalan terus, bahkan saat maut akan
tiba shalat tetap wajib ditegakkan.
Kalau di kampungku jika waktu senggang para ibu-ibu suka melakukan kotekan
dengan menggunakan lesung (penumbuk gabah), emakku pinter memainkan kotekan,
lagunya Celeng Mogok atau Asu Gancet. Lantas untuk apa bunyi kentongan itu di
Nusa Kambangan?. Terkesan dalam telingaku, bunyi-bunyian tadi sepertinya
mengundang bala tentara Nyai Roro Kidul, "Hai Nyai, datanglah ke Karang Tengah,
di sini ada banyak mangsa, di sini ada manusia-manusia berjiwa binatang,
manusia laknat. Datanglah Nyai, lahap dan habiskan saja manusia-manusia seperti
ini!"
Makan sore tiba, di manapun menu penjara ya tetap menu penjara, kalau di
Salemba sekali sayur bayem selamanya tetap sayur bayem, kalau di Nusa Kambangan
sekali daun singkong selamanya ya tetap daun singkong.. Tapi kali ini rupanya
ada rasa kemanusiaan sedikit, jatah makan siang yang tak sempat kami makan pada
waktunya karena kedatangan kami terlambat, disatukan dengan jatah makan sore,
jadi jatah makan sore kelihatan banyak, ikan asinnya pun ada dua, ya untuk hari
itu kami makan agak lumayan, tapi hari-hari selanjutnya ya kembali ke jatah
aslinya. Apa sih masalah yang paling mendasar bagi para tahanan kalau bukan
urusan perut yang lapar. Kalau di Salemba kurang makan masih mungkin di atasi
dengan makanan kiriman dari keluarga, masih juga bisa membantu mereka yang
sudah terputus dari keluarga. Lha kalau di Nusa Kambangan ini, mau mengharapkan
kiriman dari siapa?. Di Nusa Kambangan, baik yang mampu maupun yang tidak mampu
nasibnya sama saja, tidak bisa berharap memperoleh
bantuan dari siapa pun. Sangat sulit membayangkan keluarga datang dengan
membawa besukkan. Oleh karena itu hati kecilku berharap janganlah aku
berlama-lama di penjara yang satu ini, kalau memang aku akan dibuang ke Pulau
Buru atau kemana saja, ayo cepatlah, jangan aku terlalu lama menderita kurang
makan, mandi air tawarpun nyaris tak pernah apalagi nyuci pakaian ya lewat saja.
Di Nusa Kambangan ini kami pun pernah digiring seperti bebek untuk mandi di
laut, mandi dengan air laut yang asin, badan terasa lengket, buat orang yang
sakit rematik mungkin mandi di laut bisa jadi obat itu pun biasanya dilakukan
pada malam hari atau pada waktu sesudah subuh. Di dalam penjara memang ada yang
sakit tulang, aku pun merasa tulang-tulangku sakit semua tapi bukan karena
rematik melainkan sakit akibat siksaan para petugas, tinju, jotosan dan
bantingan adalah jatah setiap para tahanan.
Suatu ketika kandang dibuka, ada perintah mandi dengan air tawar. Sebuah bak
air besar ukuran kira-kira dua kali empat meter, penuh berisi air tawar. Saat
peluit ditiup tanda mandi boleh dimulai, kami pun berebut, yang fisiknya kuat
bisa bergerak cepat, lepas pakaian dan mandilah, itupun baru beberapa gayung
saja peluit tanda berhenti mandi pun telah berbunyi. Mau coba melanggar, jangan
tanya, si bandit-bandit kriminal siap menghajar. Begitu berulang kali.
Tapi namanya juga orang banyak, watak pun beraneka corak, ada beberapa tapol
yang nekat, mereka melepas pakaiannya, begitu peluit tanda mulai mandi
berbunyi, tanpa ambil pusing mereka langsung saja menceburkan diri ke dalam
bak. Apa jadinya?. Jago-jago kepruk pun segera mengayunkan bogem mentahnya yang
sudah gatal, bahkan yang tidak berbuat pun terkena imbasnya. Lalu bagaimana
denganku?. Aku tapol yang lemah secara fisik, berebut pun nggak mampu, pasti
kalah dengan mereka yang berbadan kuat. Dengan usahaku yang apa adanya,
alhamdulillah aku sempat juga kebagian mandi dengan air tawar walau hanya
sebanyak dua gayung. Sesudah itu tak pernah lagi ada tontonan manusia berebut
mandi di tanah airnya sendiri yang kaya akan segala macam sumber air yang
melimpah. Memang itulah nasib para tahanan penuh dengan derita dan hinaan,
kalau tidak begitu bukan penjara namanya.
Selama 40 hari di Nusa Kambangan, aku lupa bulan apa waktu itu, para tapol ya
kok sempat juga mengadakan pentas sandiwara dengan judul Sekejap Mata. Pentas
sandiwara ini atas perintah para pejabat penjara ataukah prakarsa para tapol
sendiri aku juga nggak ngerti. Kalau pentas itu permintaan para petinggi
penjara bisa-bisa saja, tapi kalau itu kemauan para tapol sendiri rasanya kok
nggak mungkin. Mana boleh jadi wong perut lapar kok mau macam-macam, apakah
mengharapkan imbalan, dapat makanan tambahan?. Sampai selesai pentas jatah
makan ya tetap nasi seperes batok kelapa gading dengan lauk sepotong ikan asin
serta sup daun singkong tanpa merica.
Apapun keadaannya tapol tetap tapol, harus menuruti semua perintah. Pentas
jalan terus. Rupanya ibu-ibu Dharma Wanita hadir menonton, buat para ibu-ibu
ini yang barangkali tak pernah mendapat tontonan di wilayah penjara ini, pentas
tersebut adalah hal yang luar biasa. Sangat sulit dibayangkan kalau selama ini
isi penjara yang terdiri dari manusia-manusia kriminal atau bandit itu bisa
diharapkan mampu menghibur para penggede beserta istrinya, maklum nggak di
mana-mana yang namanya kelompok kriminal itu perkara rokok sebatang saja pun
bisa adu tinju.
Pak Muji turun tangan mensutradarai pentas ini. Orang yang satu ini memang
cekatan dalam bidang seni pentas, aku kenal bener sama beliau, bahkan di tahun
1949 aku pernah berkumpul dengan beliau di daerah gerilya, desa Pejok,
kecamatan Sumberejo, Bojonegoro.
Ibu-ibu Dharma Wanita dibikin tercengang oleh adegan-adegan pentas, mereka
juga dibikin terpingkal-pingkal oleh adegan di Pasar Baru, pasalnya seorang
pedagang dari suku Padang bersaing dengan seorang pedagang dari suku Jawa.
Orang Padang memang terampil dalam berdagang, kalau menawarkan barang dagangan
nggak henti-hentinya, pakai pantun pula, Hujan rintik-rintik angin lalu,
barangnya baik-baik siap merayu, sayang anak sepuluh perak, pilih warna pilih
model, cocok harga barang boleh dibawa. Ayo siapa lagi, banting harga buat
keluarga! Si pedagang dari Jawa yang nggak pandai berpantun, ngomongnya pun
belekak-belekuk coba membalas, Jangan percaya omongannya mana ada harga
dibanting kalau nomor satu, harga dibanting karena tidak laku. Teliti sebelum
membeli, kalau dasarnya barang jelek biar diapain juga tetap jelek! Si
pedagang dari Padang merasa barang dagangannya dicemooh nyaut lagi, Orang
berdagang di pasar bebas terserah saja bagaimana caranya bisa laku. Siapa yang
terampil itu yang berhasil, siapa cepat itu yang dapat. Ayo siapa lagi, obral
besar, laris manis tanjung kimpul, barang habis duit kumpul! Dalam adegan itu
memang si pedagang dari Padang ramai dikerumuni pembeli. Si pedagang Jawa
jengkel, "Dasar Padang bengkok lo!, si Padang pun membalas "Jawa kowek lo!
Bertengkar mulut pun terjadi, polisi yang sedang patroli melerainya.
Surut tertawa salah seorang ibu ada yang bertanya pada tapol, Mas, kenapa
sih orang Padang kok disebut Padang bengkok?
Gini bu, Padang itu kan ibu kota tanah Minangkabau. Lha kata Minangkabau ini
menurut ceritanya berasal dari kata "Menang Kerbau". Dulu kerajaan Majapahit
ditantang mengadu kerbau oleh tanah Minang. Lha Majapahit kok ditantang , ya
nggak akan nolak. Dikirimlah seekor kerbau pilihan, kerbau yang gagah dengan
tanduk runcing seperti belati. Sesampai di arena aduan, lawan tidak menampilkan
kerbau jantan yang gagah melainkan mengeluarkan seekor gudel (anak kerbau)
dengan pisau tajam yang diikatkan di kepalanya. Rupanya si gudel ini sudah
seminggu nggak dikasih netek (nyusu) ke induknya, maka begitu dilepas di arena,
melihat ada kerbau di sebelah sana ya dikira induknya, karuan saja tak pakai
tempo lagi si gudel lari mencari tetek induknya, sundul sana sundul sini, ya
nggak ketemu, wong kerbau jantan, si gudel makin bernafsu mencari tetek
induknya, disundul-sundulkanlah kepalanya di perut si kerbau jantan, pisau
tajam yang diikatkan di kepala si gudel pun merobek perut si
jantan. Matilah si kerbau jantan, makanya tanah Minang disebut Minangkabau,
asal kata dari menang kerbau tadi itu. Ternyata bu, okol (otot) kalah sama
akal.
Oh begitu, lha kalau orang Jawa dibilang Jawa kowek itu ceritanya bagaimana?
Wah kalau itu saya nggak ngerti bu, cuma barangkali karena kowek itu dari
kata kowe (engkau) yang dipelesetkan menjadi kowek. Dan karena kata kowek ini
sudah biasa diucapkan oleh siapa saja yang sedang berolok-olok dengan orang
Jawa, sepertinya sudah menjadi setempel bagi orang Jawa.
Adegan lain seorang tukang obat berpropaganda tentang kemanjuran obatnya,
satu macam obat bisa meyembuhkan berbagai macam penyakit. Pilek, encok,
meriang, panas dingin, ngilu dan lain sebagainya bisa sembuh dengan obat ini.
Di samping mempromosikan obat dia juga mempromosikan kepandaian meramalnya.
Seorang konsumen pun datang menanyakan nasibnya.
Pak, tolonglah pak, bagaimana caranya supaya saya mudah memperoleh rejeki
yang halal?. Beri saya ilmunya, pak
Wah itu permintaan susah mas, saya nggak mampu
Lha tadi kan bapak ngomong siapa saja boleh tanya tentang nasib
Iya mas, tapi untuk memperoleh rejeki yang halal itu memang susah, lha wong
yang haram saja sudah habis!
Gerr, penontonpun tertawa kepingkel-pingkel. Pentas selesai, tak ada imbalan
apa-apa. Tapi para tapol telah membuat para penonton kagum atas kemampuan para
tapol. Mungkin juga ada di antara mereka, para penonton yang merasa iba dan
tidak percaya kalau tapol-tapol itu adalah benar para pembunuh karena tapol itu
juga banyak orang-orang pinternya, sikap dan tingkah lakunya santun, bicaranya
juga lembut. Akhirnya para pemain hanya ngomong,
Apa sih dosanya membuat orang lain senang dan tertawa!.
Yang lainpun ikut ngomong, Jangan dihitung ruginya saja bung!, kita bisa
keluar kandang beberapa jam saja seperti ini juga sudah satu keuntungan,
ditambah lagi kita bisa cuci mata
Cuci mata apa!, sahut yang lain
Eh, bagaimana sih kau ini penonton pentas tadi kan banyak perempuannya,
banyak ibu-ibunya, jangan perhatikan yang tua bung, yang muda-muda tadi juga
banyak, mungkin yang masih perawan juga ada, lumayanlah mata ini sempat melihat
perempuan yang cakep-cakep. Kecantikan perempuan-perempuan yang jauh dari
pengaruh moderen kota-kota besar itu adalah kecantikan alami, bukan kecantikan
yang dibuat-buat, kecantikan dasar bung!, dasarnya memang sudah cantik, lha
kalau dasarnya sudah cantik kemudian dilengkapi dengan sarana yang memadai
apakah nggak mungkin membuat lelaki jadi tergila-gila?. Sangat mungkin kan ?,
sampai-sampai mereka siap berbuat apa saja, ya berbuat yang harampun menjadi
halal demi untuk si cantik. Ngaku sajalah bung, kita ini laki-laki jangan sok
suci, belagak alim. Alim karena pura-pura itu namanya munafik!
Kalau aku pikir-pikir omongan teman ini benar juga. Batinku pun membenarkan
omongan teman tadi. Memang sempat juga aku perhatikan di antara para ibu-ibu
tadi ada yang kecantikan dan model berpakaiannya agak lain dari yang lainnya,
mungkin dia sudah sering jalan-jalan ke kota besar. Sepertinya pengaruh kota
besar sudah menjadi bagian hidupnya.
Berpakaian dengan celana ketat hingga pantat kelihatan sangat menonjol.
Kaosnya ngepres di badan, bagian dada agak terbuka lebar, sehingga barang yang
mestinya terlindung nampak mau loncat keluar, melihat hal seperti itu nggak
kusadari mataku menjadi melotot liar. Lha kalau tahu ada pemandangan kaya
begitu nggak dilihat kan mubazir.
Saat itu aku masih terbilang muda, belum berumur empat puluh tahun, nggak aku
pungkiri, aku seorang lelaki yang masih hidup, syarafku pun masih hidup dan
bekerja dengan normal, kelengkapanku sebagai lelaki pun masih bekerja dengan
baik. Jadi terus terang saja, melihat pemandangan yang seperti itu sifat
kejantananku pun bangkit. Terpisah dari keluarga yang sudah mencapai tiga tahun
lebih, menjadi faktor pendorong bangkitnya sifat-sifat tersebut. Ingatanku jadi
melayang jauh ke Jakarta . Bagaimana keadaan anak dan istriku, masihkah ia
menjanda sepihak karena terpaksa, ataukah saat ini sudah ada laki-laki lain
yang menjadi suaminya sebagai pengganti diriku, dan apakah anakku sudah punya
adik lain bapak?. Aku belum kenyang momong anakku. Anakku belum sempat menggoda
bapaknya ini, belum sempat pula dia menangis, meronta dan merengek minta
dibelikan mainan oleh bapaknya. Terlintas pula ingatan di Budi Kemuliaan,
membayangkan si ibu baru dan si bapak baru hidup damai, santai dan
harmonis bersama si kecil. Oh alangkah indahnya kehidupan mereka. Aku
dipisahkan dari keluarga oleh rezim yang berkuasa, sampai kapan?, nggak seorang
pun yang tahu. Mau tanya pada rumput yang bergoyang?, itu pun hanya sebuah
nyanyian.
Jadi sudahlah diteruskan pun tak ada guna, yang penting jaga kesehatan sebisa
mungkin, buang jauh-jauh dan basmi pikiran-pikiran yang menggoda agar tidak
menjadi sinting, siapa tahu esok atau lusa atau entah kapan saja ada
keberuntungan yang mampir, memihakku dan aku bisa kembali pada keluarga yang
kucintai.
Selesai pentas giliran kepala sipir penjara memberi sambutannya.
Saudara-saudara, kami sangat berterima kasih, saudara-saudara telah
menghibur kami. Ternyata saudara-saudara adalah orang-orang yang pintar. Dalam
keadaan darurat tanpa persiapan serta sarana apapun saudara-saudara mampu
berkarya begitu menarik. Tetapi sayang saudara-saudara, kalian pinter tapi
keblinger. Apa sih sebabnya kok kalian bisa sampai di sini?. Itu yang saya
katakan keblinger. Lha wong kalian orang-orang pintar seperti ini kok ya mulang
sarak. Apa lagi itu yang namanya Slamet, kepala rombongan kalian, dia itu kan
sudah sarjana, titelnya Doktorandus Sosial Politik, secara nalar apa kekurangan
dia, kurang makan nggak, nggak bisa nyandang juga nggak, nggak bisa nyekolahin
anak, omong kosong itu, keleleran nggak punya rumah, saya juga nggak percaya.
Lantas apa yang dia cari?. Met, rungokno (dengarkan) Met. Kau mengerti nggak
gegayuhaning wong urip (jangkauan orang hidup) menurut falsafah Jawa?.
Sederhana saja kok. Met catat ini, kalau nggak ya kau ingat-ingatlah
agar kau hidup selamat dunia akhirat, wong jenengmu dewe wis ngarani (orang
namamu sendiri sudah bicara) Slamet!, kok mengalami hidup macam begini dan
kalau sekarang ini kau ada di sini, ini bukan tempat yang terakhir Met.
Nampaknya kau akan melanjutkan perjalanan lagi, jauh kemana nanti kau akan
tahu sendiri. Di sini kau hanya barang titipan, mau dikemanakan lagi, itu
urusan yang punya mau, apakah itu salah kalau saya katakan keblinger?
Tuntutan hidup menurut falsafah Jawa itu adalah Buangen sing limo iku lan
gayuhan sing limo iku (Buanglah yang lima itu tapi carilah yang lima itu),
kelihatannya aneh, membuang yang lima kok mencari yang lima, apa sih itu?.
"Nah dengarkan baik-baik.
Buanglah yang lima itu adalah membuang Mo-limo yaitu ;
Satu Main (judi). Jagat ini sudah menjadi saksi, nggak ada orang yang
hidupnya mapan, tenang dan tentram apa lagi jadi kaya karena main judi.
Dua Minum, sami mawon, pada wae, karena minum bisa berbuat diluar nalar,
mabuk, ngamuk, maki orang tanpa sadar.
Tiga Madat, karena madat badan jasmani jadi rusak, kesehatan berantakan,
jalan pikiran jadi kacau balau. Lihat saja remaja-remaja kita sekarang yang
rusak dan teler akibat narkoba.
Keempat adalah Madon (main perempuan), main dengan perempuan liar atau
pelacur disamping bisa merusak rumah tangga juga bisa merusak keturunan,
seorang bayi yang nggak tahu dan nggak ngerti apa-apa hidupnya mengalami cacat
fisik akibat bapaknya mengidap penyakit kelamin seperti sphylis, raja singa,
vietnam rose dan lain-lain
Yang ke lima Maling. Nah kalau sudah sampai yang kelima ini sangatlah
berbahaya. Maling arti harafiahnya memasuki rumah orang, mengambil sesuatu yang
bukan miliknya. Tapi maling juga bisa berarti luas dari arti harafiahnya.
Maling di jaman moderen, ooh jangan ditanya akibatnya. Ada maling yang disebut
dengan ungkapan musang berbulu ayam, maling ini bukan seperti maling
kebanyakan. Jas dan dasi pakainnya sehari-hari, mobil mewah seperti Mercedes
atau BMW adalah kendaraan tumpangannya, nah dengan penampilan seperti itu siapa
yang berani bilang mereka maling?. Tapi di balik itu semua eeh nggak tahunya
negara kebobolan di mana-mana. Seandainya kalian itu orang-orang yang bebas,
yang dibolehkan membaca koran dan mendengar berita, tentu akan kaget, setiap
hari berita koran dihiasi dengan berita korupsi.
Aku kaget, badanku disenggol teman di sebelahku serta bisiknya, Tuh, itu
bapak kepala kok berani memberi informasi tentang kerusakan negara akibat
korupsi, kalau ketahuan yang lebih berkuasa bisa ditangkap dia, itu omongan kan
sudah kebablasan. Tuh lihat lagi ikat pinggangnya, kendor melorot kebawah
keberatan pistolnya kali, tuh!
Oh iya, kataku, Itu kan akibat ngomongnya terlalu bersemangat, jadi tak
terasa pistolnya merosot kebawah
Si teman terus berbisik, Pistolnya pak kepala itu diproduksi di jaman Lois
XIV, Raja Matahari
Ah bisa saja ente ngomong
Eh, bener, katanya
Raja Matahari itu siapa? tanyaku
Raja Matahari itu ya si Lois XIV tadi, dia menganggap dirinya penguasa
mutlak, seperti halnya matahari yang merupakan pusat dari alam semesta dan
menjadi sumber segala kehidupan. Demikian juga Lois XIV menganggap dirinya
sebagai pusat kehidupan di Perancis. Itulah sebabnya dia disebut Raja Matahari.
Istana Versailles pun dibangunnya dengan biaya yang sangat tinggi. Untuk itu
dia menekan dan menguras pajak rakyatnya habis-habisan. Tak heran kalau
kemudian timbul benih-benih pemberontakan yang merupakan cikal bakal Revolusi
Perancis. Bung, katanya pistol buatan abad ke delapan belas itu nggak semua
orang bisa menggunakannya, terlalu kuno
Ah sekuno-kunonya pistol kalau pelornya melesat tetap saja bisa mematikan.
Mematikan apa?, wong sebelum pistolnya bunyi orang yang mau ditembak sudah
lari duluan
Ya tapi kan secepat-cepatnya orang lari, masih lebih cepat larinya peluru
Nggak mungkin bung, yang mau ditembak kan sudah keburu ngumpet
Mana bisa begitu
Lha iya, orang bilang pistol seperti punya pak kepala itu kalau mau dipakai
menembak harus diangetin dulu, dipanggang dulu, gitu
Gila lo, menghina tuh!
Pak kepala meneruskan sambutannya, Buang dan jauhkan Mo-limoitu, upayanen
wo limo. Ngerti nggak, Wo itu huruf Jawa kalau huruf latinnya W, kebalikan
dari huruf M. Jungkir dan balikan huruf M itu, kepalanya jadi kaki, kakinya
jadikan kepala, dia akan mempunyai arti yang jungkir balik juga dengan arti
Mo-limo.
Wo sepisan (kesatu) itu Wareg, artinya kenyang, nggak kurang makan, karena
kenyang pikiran jadi tenang dan tentram, nggak ada niat cendolo (melanggar)
aturan, nggak ada niat jahat.
Wo kedua Waras, artinya sehat lahir batin, apa lagi kalau yang dimakan itu
empat sehat lima sempurna. Perut kenyang, badan sehat ini akan menyebabkan
orang jadi nggak malas bekerja dan berpikir. Dengan bekerja dan berpikir sehat,
rejeki jadi mudah dicari, kalau toh sakit ya bisa dan mampu untuk berobat.
Wo ketiga itu Wutuh, artinya bisa nyandang dengan baik, nggak kumal seperti
nggak pernah ganti pakaian, karena dengan berpakaian yang baik dan sopan kita
bisa bergaul dengan sesama, kita menghormati dan menghargai orang maka orang
lain pun akan menghormati dan menghargai kita. Kan enak dilihat dan dirasakan.
Wo keempat adalah Wulang, artinya pendidikkan, orang hidup itu perlu
wulang, nggak cukup hanya kenyang thok!, kalau hanya asal kenyang saja itu sama
halnya dengan yang berkaki empat. Bayangkan seandainya hidup ini tanpa
pendidikkan, kira-kira ya kayak hidupnya orang-orang primitif, menutupi
auratnya saja dengan ala kadarnya, dengan rumput atau kulit kayu, seperti
koteka itu.
Kami sempat tertawa, boleh juga si bapak ini.
Iya toh! katanya, Coba saja tanpa pendidikkan apa kita bisa merdeka
seperti sekarang ini?. Kemerdekaan yang kita miliki ini kan berkat bapak-bapak
bangsa, para pendiri republik ini yang memiliki pendidikkan lebih, hingga
menjadi orang-orang yang tidak bisa dibodohi terus-terusan. Pendidikkan
sebaiknya juga bukan pendidikkan lahiriyah saja, tapi pendidikkan rohani juga
perlu melengkapinya. Lha kalau sudah begitu kita ini bisa menjadi bangsa yang
sehat dan kuat lahir batinnya. Bener nggak kira-kira omongan saya ini?
Bener pak!, kami menjawab ramai-ramai. Pak kepala menjadi bungah, bangga.
Teman-teman tersenyum, apa sih dosanya membuat orang senang?.
Nah "Wo" yang kelima itu Wismo (rumah, tempat tinggal). Rumah adalah tempat
kita berteduh dari hujan dan panas, tempat berkumpul sanak kadang, tempat
beralamat. Rumah merupakan idaman setiap orang hidup. Seorang anak, misalnya,
sebelum dia berkeluarga kumpul serumah dengan orang tua adalah wajar. Tetapi
kalau dia sudah beristri atau bersuami, tentu akan berusaha pisah dari orang
tuanya, ingin berdikari, berdiri sendiri, walaupun hidup di rumah kontrakan
misalnya. Kalau |"W-limo" atau "W" yang kelima ini sudah bisa dicapai, mau apa
lagi?. Lha kalau setiap orang hidup bisa mencapai "W-lima" ini maka kehidupan
akan jadi tenang dan tentram, tidak saling gontok-gontokkan. Seperti yang biasa
diucapkan Ki Dalang, "Toto tentrem karta raharja" . Nah itulah yang bisa saya
pesankan kepada saudara-saudara sekalian. Ya Met, Slamet, ingat-ingatlah ini!.
Saya pikir kau sudah bisa menggapai "W-lima" ini, Eh kok kebangetan Met. Saya
jadi nggak ngerti jalan pikiranmu. Ya nasi sudah
menjadi bubur, mau apa lagi, kalau itu yang menjadi cita-citamu, teruskanlah!
Aku jadi bingung dengan ucapan terakhir pak kepala sipir ini, Kalau memang
itu yang menjadi cita-citamu, teruskanlah! Ini kan bertentangan dengan
celaannya terhadap jalan pikiran kami. Ya namanya juga orang pidato,
kadang-kadang nggak disadari sudah kebablasan, karena macam-macam yang
diomongin kadang-kadang lidah jadi keseleo.
Pidato selesai, penonton bubar, dan kami pun kembali ke kandang. Pak sipir
kepala mencegah temannya yang mau meninggalkan aula. Dalam bahasa Jawa gaya
Banyumasan ia berseru, Arep maring endi sih kok kesusu mene ngombe kopi panas
dingin
Teman yang menyenggolku tadi ngomong lagi, Bung, di Nusa Kambangan ini kok
banyak yang aneh-aneh ya, sudah ada pistol panggang eh ada lagi tuh kopi
meriang
Kopi meriang gimana sih maksudmu?
Lha itu tadi pak kepala bilang ngombe kopi panas dingin, itu kan berarti
kopinya lagi sakit meriang
Oh itu, ngombe kopi panas dingin, itu artinya minum kopi dulu, kalau bahasa
Sundanya mangga ngaleeut kopi heulak
Oh gitu!
Dari pentas tadi rupanya ada juga yang diuntungkan. Salah seorang dari sekian
banyak tapol ada yang mendapatkan keberuntungan, namanya Brahim. Dialah yang
tadi menjelaskan tentang asal kata Minangkabau kepada salah seorang ibu yang
menonton.
Esok paginya, Brahim diperintahkan oleh pak kepala sipir untuk bekerja di
komplek perumahan pegawai, rupanya si ibu itu berkenan dan merasa iba pada si
Brahim ini. Anaknya memang cakep, ngomongnya halus, santun pula. Mungkin juga
untuk ganti pandangan dari muka kriminal ke muka tapol, bagi si ibu. Rupanya
sudah bertahun-tahun beliau dilayani oleh muka kriminal, bosen dan nyebelin,
bisa jadi. Maka Brahim diminta jadi gantinya.
Pagi-pagi Brahim sudah dibukakan pintu untuk bekerja di komplek. Lalu
kerjanya apa?. Ya kerja rumah tangga, seperti nyapu, ngangsu (ngisi bak mandi
dan gentong) juga mencuci. Pulang kerja biasanya sudah jam empat sore, masuk
kandang lagi. Yang tidak pernah ketinggalan adalah bawaan dari komplek,
singkong rebus, kira-kira ada 2 kiloán, ya lumayanlah, singkong rebus itu kalau
dibagi ke seluruh isi kandang yang jumlahnya seratus orang, kira-kira seorang
bisa kebagian tidak lebih dari sejempol kaki. Karena Brahim sudah makan di
komplek, tentunya cukup kenyang dan mesti pakai lauk, maka jatah makannya di
penjara siang dan sore diserahkan untuk dibagi bergiliran seorang sesendok.
Lumayan, mau bilang apa?. Ya itu lumayan. Disamping itu aku juga termasuk orang
yang diuntungkan.
Selama empat puluh hari di Nusa Kambangan, dua kali aku sempat titip baju dan
celana kolor yang kotor untuk dicuci. Terima kasih Him!, aku tak akan melupakan
jasamu.
Hari "H" akhirnya tiba, masa transit selesai dan habis. Dua hari sebelum hari
"H" ada pemeriksaan kesehatan masal oleh tim kesehatan. Perjalanan jauh dan
akan menempati tempat baru tentunya memerlukan ketahanan fisik yang memadai.
Pas giliran aku diperiksa kok makan waktu agak lama, padahal teman-teman yang
lain cepat, hanya dengan stateskop, tutul sini tutul situ, beres, sehat, lulus
dan lolos, artinya bisa ikut berangkat. Tapi kenapa pemeriksaanku kok lama,
barangkali mereka meragukan ketahanan fisikku.
Berdasarkan hal ini aku sudah bisa mengira-ngira, di sana , di tempat yang
akan di tuju, kami pasti dan harus menghadapi kerja berat. Kalau memang begitu,
ya itulah tanah buangan seperti romusha di jaman Jepang (kerja paksa, kultur
stelsel di jaman VOC). Aku berdoa dalam hati, ya Allah jangan kau biarkan aku
tetap tinggal di penjara yang satu ini, ya Allah. Keadaan sudah kepalang basah,
jangan nantinya aku mati di sini, mati di tangan para kriminal yang tak kenal
iba, teman-temanku sudah banyak yang mati disini. Keluarga pun sulit bisa
diharapkan datang menengok, untuk hidup sehari-hari saja mereka sudah sulit,
apa lagi untuk datang dengan menyebrang laut, tak akan terjadi ya Allah.
Biarlah kalau aku harus mati di tempat yang baru nanti tak apalah, itu juga
masih tanah airku.
Rupanya doaku itu dikabulkan, aku akhirnya lolos, bisa ikut berangkat dengan
rombongan teman-temanku. Perintah berkemas diserukan, kami pun bersiap. Barang
bawaan dari penjara Salemba menjadi bawaan berwisata, mengarungi Lautan
Indonesia (laut kidul), dengan gelombangnya yang menggulung setinggi gunung.
Dengan alas kaki gapyak pun masuk perut kapal tidak dilarang. Pak Slamet dan
pak Pram memimpin kami. Jam 11 selesai makan siang kami pun diberangkatkan ke
Sodong, tempat kapal merapat. Satu jam berlalu kami menunggu kedatangan kapal,
kapal belum datang, dua jam, tiga jam hingga empat jam kami menunggu, kapal
masih tak kunjung tiba. Setahuku, di alam bebas, kalau hendak berpergian jauh,
apakah pergi dengan kereta api, bus, kapal atau peasawat udara, biasanya
kendaraanlah yang menunggu penumpangnya. Tapi ini sebaliknya penumpang yang
harus menunggu kedatangan kendaraan, maklum menumpang dengan gratis, ya sak
kobere yang mengangkut. Mau ya begini, nggak mau ya begini. Waktu
sudah jam 4 sore, kapal tak jadi datang, perut kami sudah mulai lapar lagi.
Kami harus kembali ke kandang.
Waktu makan sore sudah lewat, apakah sesampainya kami di kandang nanti masih
sempat medapat ransum sore?. Memasak untuk perut seratus orang akan memerlukan
waktu cukup lama. Kami pun cemas, dengan terseok-seok kami berjalan, mau tak
mau kami harus kembali ke Karang Tengah. Jalan kaki antara Sodong dengan Karang
Tengah sebenarnya tak lama, hanya dua puluh atau dua puluh lima menit saja
sudah sampai. Tapi sependek apa pun waktu yang diperlukan jika berjalan dengan
perut lapar sambil menggendong barang bawaan pula, terasa banget beratnya.
Di tengah perjalanan kembali ke Karang Tengah, seorang teman melihat ada
kulit pisang raja di jalan, karena perut lapar diambilah kulit pisang itu,
diusap dengan ala kadarnya, lalu dimakannya kulit pisang yang tebal itu, habis
tanpa sisa. Aku pun tak mau ketinggalan, kucabut batang singkong yang tumbuh di
pinggir jalan, tanaman berumur kurang lebih tiga bulan dengan otot yang masih
tinggal, berhasilah aku dapat akar singkong yang sudah mulai membesar. Pak
sipir yang mengawal kami tahu perbuatanku itu, tapi kali ini dia diam saja tak
bereaksi, ada rasa kasihan juga rupanya. Singkong pun aku bagikan pada
teman-teman yang lain untuk dimakan mentah-mentah. Alhamdulillah perut bisa
menerima dan tidak berulah. Jam setengah lima sore kami sampai di kandang.
Benar juga dugaan kami, jatah makan sore nggak ada. Tapi untungnya jadwal makan
siang keesokan harinya dipercepat jadi lebih pagi. Jam sepuluh pagi kami sudah
dapat makan siang.
Ada hal yang lebih mencemaskan dari penundaan keberangkatan kami, yaitu
adanya informasi tentang ketidak datangan kapal kemarin itu dikarenakan kapal
mengalami kerusakan mesin dan perlu diperbaiki dahulu. Kapal yang akan
mengangkut kami katanya diberi tanda dengan nama ADRI-11, jadi kira-kira
kapal itu milik Angkatan Darat. Oleh karena kabar adanya kerusakan mesin kapal
itulah seorang teman yang mempunyai pengalaman berlayar memberi penerangan dan
penjelasan. Dia mengatakan dalam menghadapi kapal yang rusak dan mungkin bisa
mengakibatkan kapal tenggelam kita jangan panik. Kapal itu kalau mau tenggelam
tidak langsung bles masuk kedalam air, tapi dia tenggelam pelan-pelan,
prosesnya itu cukup buat persiapan menyelamatkan diri. Ada waktu bagi kita
untuk mengirm sinyal dan tanda S.O.S, minta bantuan dan pertolongan kepada
perahu atau kapal lain yang sedang lewat.
Mendengar keterangan itu seorang teman nyeletuk, Itu kan buat orang yang
punya pengalaman berlayar seperti bung, lha kalau buat orang awam seperti saya
ini bagaimana nggak panik, wong berenang saja nggak bisa, gimana mau
mempersiapkan penyelamatan yang ada juga saling berebut menyelamatkan diri
masing-masing. Taruhlah tenggelamnya kapal memang memerlukan waktu satu sampai
dua jam, lalu kalau ternyata nggak ada kapal yang lewat gimana?, kalau pun ada
untuk memberi pertolongan berapa banyak sekoci yang diperlukan?, berapa sih
kapasitas tampung tiap sekoci?. Kan yang bakal mengisi perut kapal ADRI-11 itu
bukan hanya kita yang dari Karang Tengah saja, tapi juga dari Gliger, Candi dan
lainnya. Sudahlah bung jangan diterusin cerita tentang tenggelamnya kapal,
bikin hati ciut saja. Kalau kapal kita tenggelam seperti tenggelamnya KRI.
Macan Tutul dalam perang merebut kembali Irian Barat yang di comodori oleh Yos
Sudarso di perairan Aru itu adalah tenggelamnya seorang patriot
sehingga nama Yos Sudarso menempel di pulau Dolak (Pulau Yos Sudarso). Lha
kalau kapal yang kita naiki tenggelam karena memang kapalnya yang rusak itu kan
mati konyol namanya. Dan kalau pun memang ada sarana penyelamat tentu
perioritas utama untuk awak kapal itu sendiri, soal tapol sih biar mati jadi
penghuni dasar laut itu mah bukan perkara, wong tapol memang diharapkan mati
dan jika tapol mati karena kecelakaan mereka kan bisa bebas dari tanggung
jawab. Sudahlah sebaiknya kita berdoa menurut keyakinan masing-masing saja agar
perjalanan kita nanti bisa selamat sampai tujuan.
Jam sebelas siang, kembali ada perintah berangkat ke Sodong. Kami
berbondong-bondong di giring ke Sodong. Apa pun alasannya kami tetap datang
lebih dahulu dari si kapal dan kami pun tetap harus menunggu kedatangannya
walaupun hanya setengah jam. Benar juga, setengah jam kemudian nampak dari arah
timur gundukan hitam bergerak ke arah barat. Lama-lama gundukan itu makin jelas
bentuknya. Itu dia si ADRI-11 datang. Oh Allah, badan kapal sudah banyak
lukanya, berkarat di sana-sini, warna catnya pun sudah kusam, membuatnya tampak
semakin tua, kasihan dia, perutnya harus diisi ratusan orang sampai membengkak,
kalau nanti penumpang sudah masuk semua mungkin dia akan miring, berat sebelah.
Ya namanya kapal, dia barang mati, nggak bisa ngomong, apalagi menolak karena
kebanyakan muatan. Semuanya tergantung pada yang mengusai, apa kata penguasa
harus ditaati. Mudah-mudahan saja kapal tua ini masih mampu bekerja dengan baik
dan bisa mengantar kami sampai ke tempat tujuan yang entah
di mana dengan selamat.
Seluruh penghuni Karang Tengah sudah masuk ke perut ADRI-11, komplit, tak ada
yang tertinggal menjadi penghuni kuburan Karang Tengah. Kami selamat dari
amukan bekasakáan, bala tentara Kanjeng Ratu Kidul. Kami ini orang-orang yang
santun, tahu menghormati orang lain, tidak pernah usil atau mengusili
keberadaan Kanjeng Ratu Kidul, kalau toh kena marah dan harus dilahap, apanya
yang akan dilahap?, orang badannya saja kurus-kurus, tinggal kulit pembalut
tulang doang, darahnya pun barangkali terasa pahit. Begitulah akhirnya kami
semua selamat, keluar dari Nusa Kambangan.
Seperti halnya bung Baho ketika di Blok-E, Salemba, pak Slamet pun
menunjukkan kelasnya sebagai seorang pemimpin di antara kami. Apa yang beliau
lakukan?. Ditemuinya kapten kapal, kepala logistik dan kepala dapur. Kepada
mereka beliau mohon agar kami mendapat jatah makan siang, hasilnya memang nol.
Tapi apa pun hasilnya pak Slamet telah berbuat sesuatu untuk kami, beliau tidak
takut untuk dikatakan cerewet, banyak tuntutan dan lain sebagainya.
Pak Kapten Cs mengatakan, Jatah makan siang di sini ketentuannya jam 11
siang, sekarang sudah jam setengah satu. Makan siang sudah lewat, dapur hanya
masak untuk jatah makan sore nanti, jam 4 sore, begitu jawaban kepala dapur
ADRI-11, persis seperti di Karang Tengah, jawabannya sama.
Bolak-bolak perut kami ini menjadi korban di luar perhitungan. Saat di
Salemba kami mengalami tidak makan siang karena ulah teman, penghuni salah satu
sel yang menolak ransum karena dipandang sangat tidak manusiawi. Di Karang
Tengah, kami mengalami tidak makan sore karena diperhitungkan akan makan sore
di kapal, eh sialnya kapal tidak datang, terpaksa kembali ke kandang tanpa
dapat jatah makan sore lagi. Sekarang di kapal karena urusan administrasi dan
lain sebagainya, kami masuk kapal sudah jam setengah satu, jam makan siang
sudah lewat. Oh perut-perut tapol kok sial banget nasibmu. Memang begitulah
nasib para tahanan, mungkin di mana-mana sama saja seperti itu harus mentaati
seluruh aturan penjara tanpa kompromi. Biar apa pun bentuknya sebuah kapal
sekalipun kalau isinya para tahanan tetap saja itu berarti penjara. Itu kata
Pak Hasyim tempo hari. Akhirnya kami hanya bisa pasrah, menurut apa kata sang
penguasa kapal.
Sebelum kapal berangkat pak Kapten memberi pengumuman dan perhatian serius
kepada seluruh para penumpang.
"Saya adalah salah satu anggota satuan awak kapal yang bertanggung jawab di
dalam kapal ini. Kami seluruh satuan awak kapal yang bertanggung jawab atas
keselamatan saudara-saudara selama saudara-saudara berada di dalam kapal ini.
Kami dengan rasa senang hati, ridho serta ikhlas akan mengantar saudara-saudara
sampai ke tempat tujuan dengan tanggung jawab sepenuhnya. Oleh karena itu
hargailah kerelaan kami, janganlah saudara-saudara bikin ulah yang membuat kami
marah. Jangan coba-coba memancing kemarahan kami. Bagi siapa saja yang membuat
ulah di kapal ini, kami tidak akan pandang bulu, akan kami tindak tegas. Perlu
saudara-saudara ketahui, kami di sini punya tempat yang sangat menyeramkan
untuk menghukum siapa saja yang membuat ulah. Tempat itu berupa ruang satu
meter persegi dengan penerangan lampu berkekuatan seribu watt. Jika
saudara-saudara kepingin tahu dan merasakannya, silahkan mencoba, ayo
berulahlah!. Jika tidak, patuhilah peraturan dan tata tertib di kapal ini.
Ngerti dan siap patuh?. Terima kasih."
Ah benar-benar sial jadi tahanan ini. Aku pernah berbuat apa sih dalam
peristiwa '65 itu?, kok akibatnya begitu hebat, di mana-mana selalu menerima
ancaman. Hak yang aku miliki hanya satu, yaitu bernafas itu pun bila perlu
sewaktu-waktu bisa dicabut. Mudah-mudahan saja aku kuat menghadapi segala
cobaan ini.
Persiapan segala sesuatunya sudah beres, kapal siap angkat jangkar. Suling
kapal berbunyi melengking, kapal pun mulai bergerak, putar haluan dan terus
melaju ke arah timur, munuju laut bebas. Dari jendela kapal kupandangi daratan
yang baru kutinggalkan. "Selamat tinggal pulau Jawa, mudah-mudahan suatu saat
kita bisa bertemu kembali."
*****
Bersambung ke nr. VIII - PULAU BURU: - Unit II; - Anak Kucing Mengisi
Rantang
Lembaga SASTRA PEMBEBASAN
Address: Postbus 2063, 7301 DB Apeldoorn Netherlands
E-Mail: [EMAIL PROTECTED]
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65: http://www.
Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
---------------------------------
Never Miss an Email
Stay connected with Yahoo! Mail on your mobile. Get started!
[Non-text portions of this message have been removed]
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/