http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=165595
Potret Kebiadaban Publik di Poso Oleh Paulus Mujiran Selasa, 30 Januari 2007 Akhir-akhir ini Poso kembali bergolak. Selama sepuluh hari terakhir, polisi telah dua kali melancarkan serangan terhadap "markas DPO (daftar pencarian orang)", yaitu pada 11 Januari 2007 dan 22 Januari 2007. Kedua serangan itu mengakibatkan 14 orang tewas, termasuk satu anggota Brimob dan 21 korban luka-luka. Peristiwa itu merupakan potret kebiadaban publik dan representasi budaya kematian. Karena pelaku hanya mengejar kepentingan sendiri dan mengabaikan kesepakatan moral dalam hidup bersama. Terlihat jelas manusia hanya diibaratkan sebagai sekerat daging dendeng, yang bisa seenaknya dicincang oleh mereka yang memburu hawa nafsu dan kematian. Padahal, ajaran agama mana pun tidak pernah membenarkan praktik kekerasan, terlebih menghilangkan nyawa seseorang. Meski, ada dugaan pembunuhan itu dilakukan atas dasar agama- untuk memancing reaksi masyarakat ke dalam konflik berkepanjangan, namun kekerasan dan pembunuhan jelas dilarang semua agama. Agama tak pernah mengajarkan kekerasan. Takut dianggap lemah merupakan salah satu faktor mengapa pelaku tindak kekerasan menunjukkan kekuatannya. Objek serangan pertama-tama adalah simbol kekuasaan seperti militer, polisi dan politikus. Bila sasaran dijaga ketat, maka serangan diarahkan pada sasaran yang lemah perlindungannya. Karena itu, melukai sejumlah warga sipil dalam sebuah tragedi kekerasan hanyalah sasaran antara, karena para pembunuh tidak mampu menjangkau objek dari simbol kenegaraan itu. Jika kejadian di Poso diposisikan sebagai perang, maka sulit diharapkan adanya perasaan bersalah pada diri pelaku. Sebab mereka berpendirian, apa yang dilakukannya itu adalah kebajikan, kendati dihadirkan dengan penuh kengerian. Terhadap pelakunya tidak diberlakukan pendekatan kriminologis konvensional. Sebab mereka sepenuhnya normal. Militansinya saja yang berbeda dari ukuran masyarakat kebanyakan. Bagi kelompok militan ini, mati bukanlah sesuatu hal yang mengerikan. Bahkan dalam keadaan tertentu, melukai orang lain menjadi sesuatu yang diharapkan jika hal itu dianggap benar-benar sebagai jalan perjuangan. Memang kekerasan adalah persoalan yang pelik, namun hal itu sering dianggap "lumrah" terjadi dalam dunia manusia. Sebab kekerasan memang makanan harian kita. Apalagi bila kita menggunakan definisi Galtung, yang menggugah kita memeriksa relasi-relasi harian dengan keluarga, kolega, institusi, bahkan dengan diri sendiri. Manusia selalu menciptakan kekerasan demi kekerasan. Sifat dari kekerasan adalah menuntut pembalasan. Jadi ia baru puas bila kekerasan yang dialami terbalaskan. Namun, pembalasan itu kemudian melahirkan pembalasan dari pihak lain yang juga dilakukan untuk memuaskan diri akibat perlakuan yang diterima sebelumnya. Demikian seterusnya, hingga menjadi lingkaran yang tak berpangkal dan tak berujung. Bagaimana pun kekerasan hanya akan menghasilkan efek domino kekerasan yang berkepanjangan. Dalam buku perdana Lahirnya Tragedi, Nietzsche menjelaskan, manusia itu makhluk paradoksal. Walau tragedi demi tragedi menimpa kehidupannya, manusia tetap saja mau untuk hidup. Bahkan paradoks itulah yang membuat manusia terus melahirkan tragedi melalui praktik kekerasan di muka bumi. Kekerasan demi kekerasan kemudian menjadi pemicu lahirnya tragedi kemanusiaan. Apa yang dituliskan Nietzsche itu masih terus kontekstual dengan situasi manusia saat ini. Sebab jika direfleksikan secara mendalam, ternyata kekerasan itu merupakan fenomena universal yang tidak dibatasi oleh ruang, waktu, dan keadaan. Usia kekerasan juga setua sejarah dan peradaban manusia. Dengan kata lain, kekerasan sudah lama dikenal, dipraktikkan dan ditumbuhkembangkan manusia dalam setiap ruang, waktu, tahap dan kategori. Tidak seseorang atau komunitas sekalipun yang luput dari aksi kekerasan dalam berbagai bentuk dan manifestasinya. Karena kekerasaan itu berlangsung secara terus-menerus , maka manusia menjadi tidak peka bahkan menjadi "mati rasa" terhadap gejala kekerasan. Jika kekerasan dianggap sebagai kewajaran, maka terjadilah krisis sosial, krisis kemanusiaan, dan krisis spritual pada diri kolektif manusia. Berbagai alat, metode dan alasan pembenaran selalu dicari untuk melegitimasikan tindak kekerasan. Bahkan lembaga-lembaga politik telah mensahkan dan melembagakan kekerasan sebagai alat pemelihara tertib sosial. Hal itulah yang selanjutnya disebut sebagai budaya kekerasan struktural, yaitu kekerasan yang digunakan oleh struktur kekuasaan yang dapat berupa aparat, tentara, pemerintah atau birokrasi. Pada taraf ini, kekerasan terlihat sebagai suatu perilaku sistemik dengan implementasi struktur dan kelembagaannya. Alhasil, umat manusia seolah-olah tidak mampu melepaskan diri dari tindak kekerasan, bahkan dianggap sebagai suatu keharusan atau sebagai pilihan tanpa alternatif. Kita harus cegah kekerasan atas nama agama yang mengusik kedamaian hidup bersama. Melawan para pelaku kekerasan bukan dengan cara yang sama seperti dilakukan mereka, tetapi dengan pantang menyerah untuk selalu bangkit dengan mengutamakan kebersamaan dan kedamaian antar bangsa. Kini saatnya menghentikan pengkhianatan terhadap nilai religi sendiri, jangan membenarkan tindakan melalui tafsir sendiri tanpa melihat etika dan peradaban. Tunjukkan, bangsa Indonesia adalah bangsa yang malu berbuat nista, yang mengedepankan kedamaian dan humanisme. Tragedi Poso telah mengusik kedamaian hidup bersama. Kekerasan itu menodai upaya perdamaian yang coba dibangun. Apa pun motivasinya, negara bertanggung jawab menghentikan serangkaian tragedi kekerasan. Efek dominonya bisa mengancam kelangsungan peradaban dan demokrasi. *** Penulis adalah Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata, Semarang [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
