Refleksi: Ada ucapan yang berbunyi:  "manusia itu terbatas bukan karena 
perkakas kerjanya, tetapi karena visi yang dimiliki".  Kalau visi yang 
diutamakan adalah dunia seberang langit biru, berarti tak perlu bersuah payah 
sebab dengan lenggan kangkung pasti  bisa ke sana..


http://www.suarapembaruan.com/News/2007/01/30/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 

Absurditas Visi Pendidikan Nasional
 

Benny Susetyo Pr 

Polemik ke mana pendidikan nasional akan diarahkan terus berlangsung tiada 
henti. Sayang sekali sekian polemik dan kritik belum menghasilkan arah yang 
jelas. 

Padahal sudah jelas, kemajuan pendidikan membutuhkan visi dasar bagaimana agar 
manusia Indonesia cerdas dan memiliki keunggulan dalam segala bidang. 

Kita telaah nilai-nilai dari visi pendidikan nasional yang dirumuskan dalam 
Renstra Depdiknas. Pertama, Cerdas Spritual (Olah Hari) dirumuskan dengan cara 
beraktualisasi diri melalui oleh hati/kalbu untuk menumbuhkan dan memperkuat 
keimanan, ketakwaan dan akhak mulia termasuk budi pekerti luhur dan kepribadian 
unggul. 

Kedua, Cerdas Emosional dan Sosial (Olah Rasa). Beraktualiasasi diri melalui 
olah rasa untuk meningkatkan sensitivitas dan apresiasi akan kehalusan dan 
keindahan seni dan bu-daya, serta kompetensi untuk mengekspresikannya. 

Beraktualisasi diri melalui interaksi sosial yang membina dan memupuk hubungan 
timbal balik, demokratis, empatik dan simpatik, menjunjung tinggi hak asasi 
manusia, ceria dan percaya diri, menghargai kebhinekaan dalam bermasyarakat dan 
bernegara serta berwawasan dan bernegara, serta kesadaran akan hak dan 
kewajiban warga negara. 

Ketiga, Cerdas Intelektual (Olah Pikir). Beraktualiasasi diri melalui olah 
pikir untuk memperoleh kompetensi dan kemandiran dalam ilmu pengetahuan dan 
teknologi. Aktualisasi insan inteleltual yang kritis, kreatif dan ima- jinatif. 

Keempat, Kompetitif Berkepribadian unggul dan gandrung akan keunggulan 
bersemangat juang tinggi, mandiri, pantang menyerah, pembangunan dan pembinaan 
jejaring, bersahabat dengan perubahan, inovatif dan menjadi agen perubahan, 
produktif, sadar mutu, berorientasi global, pembelajaran sepanjang hayat. 

Visi di atas sangatlah indah dan menjangkau ke masa depan. Tapi bagaimana cara 
merealisasikannya? Apakah yang dilakukan sepanjang era ini tidak pernah 
disadari sebagai upaya dan tindakan-tindakan yang menjauhkan dari visi di atas? 
Kita menghadapi problem besar di sini. Tradisi buruk kita masih kita ulangi 
terus-menerus. 

Apa yang kita nyatakan tidak selalu sejalan dengan apa yang kita lakukan. Visi 
tidak pernah menjadi tindakan, karena ia selalu diawang-awangkan, ditaruh di 
atas langit, dan tidak pernah didaratkan di bumi. 

Contoh, visi yang besar tersebut akan sangat sulit diwujudkan tanpa adanya 
perubahan paradigma mengenai guru. Guru merupakan hal yang paling penting dalam 
memajukan pendidikan di negeri. 

Guru sebagai ujung tombak pendidikan tahu dengan benar dan tepat situasi 
kondisi murid. Tapi sejauh mana ia dilibat- kan dalam merumuskan kurikulum? 
Visi yang baik tersebut mustahil terwujud karena guru tidak menguasai, tidak 
memahami bahkan asing dalam dirinya sendiri. 

Guru tidak pernah diberikan kebebasan untuk mengembangkan potensinya, melainkan 
hanya sekedar menjadi robot pendidikan. 

Politik pendidikan negeri ini belum berpihak kepada guru sang pahlawan penuh 
jasa. 

Di sisi lain, profesi guru makin tidak menarik lagi bukan semata-mata karena 
gajinya yang kecil, melainkan karena posisi sebagi "robot" akan melukai dan 
mematikan potensi. 

Guru tidak memiliki kekuatan untuk menentukan materi apa yang harus diberikan 
sesuai dengan kebutuhan anak didik. Guru hanya instrumen dari politik 
pendidikan yang semata- mata "mengejar target". 

Hal ini menciptakan dunia pendidikan kita serba instan, bagai makanan siap 
saji. Proses pematangan berpikir, bernalar, berakktualisasi dan berkomunikasi 
hanyalah pura-pura, formalitas, rutinitas dan tidak substantif dan mendalam. 

Kebijakan ujian nasional, nyata menunjukkan pendidikan yang tidak memiliki visi 
jelas keberpihakannya pada guru. 

Bagaimana bisa masuk akla sehat kalau yang menentukan kelulusan adalah 
"penguasa" dan bukan guru? 


Absurditas Visi 

Kita kehilangan visi dalam pendidikan kita. Ada sebagian besar fenomena massif 
yang sangat menyedihkan ketika pendidikan hanya dimaknai sekedar selembar 
ijazah. 

Saat yang sama pendidikan kehilangan fungsinya untuk mematangkan manusia. Ia 
bahkan menjerumuskan manusia ke dalam formalitas semua, yang bisa diakali 
dengan tipu muslihat. 

Anak-anak didik kita hanya berhasil belajar berhitung dan membaca secara 
formal, tapi umumnya gagal memperhitungkan segala sesuatu secara tepat dan 
membaca keadaan secara jernih. 

Siapa tak suka kalau pendidikan malah membuat orang pintar berkorupsi, 
mengakali yang lemah dan memperdayai yang susah. 

Di sinilah letak kegagalan pendidikan kita dalam mencetak manusia yang unggul 
sekaligus berbudi. 

Teramat banyak fenomena yang bersifat "menghina" dan ëmencideraií makna-makna 
hakiki pendidikan. 

Kapitalisme pendidikan, jual beli ijasah dan gelar, politisasi pendidikan, 
penilepan dana pendidikan dan lainnya telah semakin menggerus memerosokkan 
pendidikan ke dalam lubang yang amat gelap. 

Kalau bisa dinyatakan bahwa pendidikan adalah ukuran kemajuan, kedewasaan dan 
kebesaran sebuah bangsa, lalu dari mana kita bisa mengukur bangsa kita sudah 
menapaki kema- juan. 

Akal sehat kita (dan paling penting para elit itu) telah pudar dan hampir tak 
bisa mempercayai logika pasti bahwa parameter kemajuan sebuah bangsa adalah 
kemajuan pendidikan. 

Atau pun jika mereka memiliki kehendak memajukan pendidikan, mereka tak 
memiliki jalan keluar yang cukup realistis dalam mana sistem korup 
mendarahdaging dalam tubuh birokrasi kita. 

Dari kanan dan kiri, dari atas dan bawah, aparat berwenang tak mampu berkutik 
menghadapi budaya buruk yang selalu menistakan pendidikan. 

Karena pendidikan adalah landasan utama dari segala hal terkait bagaimana 
aktivitas berbangsa dijalankan, maka demikian pula budaya pemerintahan kita 
terpuruk seiring dengan terpuruk pendidikan. 

Jargon reformasi itu masih manis di mulut, tapi pahit di tindakan. Tidak semua 
dari para elit kita menyukai reformasi. Sebab reformasi baginya seringkali 
telah merugikan potensi- potensi mengeruk keuntungan pribadi secara mudah walau 
tak sah. 


Kepentingan Politik 

Pendidikan dan kebijakan-kebijakannya selalu direduksi dalam bingkai ideologi 
politik. Pendidikan lalu sarat dengan bagaimana ideologi dan kepentingan 
dipertarungkan. 

Kita tidak malu atas hal itu. Seringkali juga membersit dalam pikiran, mengapa 
pendidikan di Indonesia berjenis kelamin kaya dan miskin. 

Kaum kaya dengan segenap kekayaannya, sebagaimana penguasa, bisa berbuat apapun 
dengan kekayaannya untuk bisa membeli apa saja yang bisa di-beli: ilmu, guru, 
fasilitas dan ijasah. 

Kaum miskin dengan segenap kekurangannya terabaikan oleh kebijakan negara 
kenda- tipun negara berkonstitusi melindungi kaum fakir dan berfungsi 
mensejahterakan kaum miskin. 

Sudah jelas logikanya. Kaum aristokrat modern yang tumbuh di Indonesia tidak 
akan berdaya guna bagi kebaikan kehidupan jika tidak ditopang oleh rakyat 
mayoritas yang cerdas dan berilmu pengetahuan. Mereka hanya akan bisa 
melahirkan kekacauan atas dasar kekuasaan dan kekeyaannya. 

Pendidikan kita hancur karena tekanannya bukan lagi pada proses menjadikan 
manusia merdeka yang bisa menentukan hari depannya sendiri. Pendidikan kita 
sering melahirkan semangat individualisme. 

Hal yang wajar karena proses di dalamnya juga berpaham individualistik, tidak 
kolektif. Pendidikan hanya bisa dienyam yang mampu, sementara yang menderita 
justru terabaikan oleh hiruk pikuk aktivitas ne- gara. 


Penulis adalah Budayawan, Menulis Buku "Politik Pendidikan Penguasa" (LKIS, 
2005) 


Last modified: 29/1/07 

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke