http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/012007/31/0902.htm


Bersama Kami Bisa Bubarkan CGI
Oleh ACUVIARTA 


UMUR kebersamaan Indonesia bersama Consultative Group on Indonesia (CGI) 
tampaknya segera akan berakhir. Keputusan ekonomi pemerintah untuk membubarkan 
CGI juga sudah disampaikan secara terbuka oleh sejumlah pejabat di Kementrian 
Bidang Ekonomi menindaklanjuti keinginan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 
untuk membubarkan forum CGI.  

Tidak begitu pasti apakah ilham untuk membubarkan forum CGI terkait dengan 
kedatangan Rodrigo de Rato ke Indonesia baru-baru ini ke Jakarta atau skenario 
yang memang sudah matang dipertimbangkan pemerintah. Tetapi sepertinya sejak 
kedatangan Managing Director IMF itu, kepercayaan pemerintah Indonesia dalam 
mengatasi persoalan mendasar dari polemik utang luar negeri yang berkepanjangan 
meningkat drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. 

Bila sedikit melihat kebelakang, wacana pembubaran CGI sebenarnya sudah 
berlangsung cukup lama alias bukan wahyu baru yang diterima oleh pemerintah. 
Saran untuk membubarkan CGI beberapa tahun ke belakang sudah sering disuarakan, 
tidak saja disampaikan oleh beberapa pengamat ekonomi seperti Kwik Kian Gie, 
tetapi juga disuarakan oleh banyak NGO (non government organization) dan 
berbagai kalangan masyarakat. Tetapi selama itu pula (pemerintahan sebelumnya) 
tidak memiliki cukup keberanian untuk membubarkan CGI. 

Mencermati hal itu kemudian muncul beberapa pertanyaan; Pertama, Mengapa baru 
sekarang pemerintah memiliki cukup keberanian untuk membubarkan CGI? Kedua, 
Benarkah dibubarkannya CGI otomatis akan mengurangi tekanan kreditor pinjaman 
luar negeri terhadap permasalahan internal Indonesia? Ketiga, Selain itu 
mungkinkah proses pengelolaan, penggunaan, dan pertanggungjawaban pinjaman luar 
negeri akan lebih baik dan efisien selepas dibubarkannya forum CGI? Keempat, 
Mungkinkah kemandirian penerimaan anggaran akan banyak mengalami kemajuan 
dengan mengoptimalkan penggalian sumber keuangan di dalam negeri dan melalui 
instrumen-instrumen Surat Berharga Negara (SBN)?

Dilihat dari alasan pemerintah untuk segera pisah ranjang dengan forum CGI 
adalah karena munculnya kesadaran bahwa keberadaan CGI selama ini tidak banyak 
membantu melepaskan Indonesia dari perangkap atau jebakan utang luar negeri 
(dept trap). Selain itu, ongkos negosiasi utang luar negeri melalui forum CGI 
juga sudah tidak efisien jika dibandingkan manfaat (benefit) yang diterima 
selama ini. Tidak hanya itu, dengan kestabilan sejumlah indikator makro ekonomi 
saat ini pemerintah juga sudah menganggap layak untuk segera membubarkan CGI. 
Kepercayaan pemerintah juga semakin berlipat-lipat, karena permintaan Surat 
Berharga Negara (SBN) akhir-akhir ini juga meningkat.

Munculnya kesadaran bahwa ongkos negosiasi utang dengan forum CGI terlalu besar 
hingga manfaat yang diterima dirasa tidak sebanding dengan biayanya (cost) 
seharusnya sudah dirasakan pemerintah sejak dulu. Sejak awal berdirinya CGI 
tahun 1992 sudah terinspirasi bahwa pendirian CGI hanya untuk mengalihkan 
berkembangnya peran isu negatif pemerintah Belanda dalam forum IGGI. Kritik 
tajam J.P. Pronk terhadap pembantaian Santa Cruz (Dili) ketika itu jelas-jelas 
telah membuat pemerintah Orde Baru berang, sehingga langsung membubarkan IGGI 
yang sudah berdiri sejak tahun 1967 dan menggantinya dengan CGI tahun 1992. 

Jadi pertimbangan pendiriannya saat itu memang sudah mengabaikan faktor 
tingginya biaya negosiasi dan tidak efektifnya forum CGI. Alasan yang mungkin 
lebih masuk akal, saat itu pemerintah Orde Baru belum memiliki keberanian lepas 
dari forum donor karena kekhawatiran dan masih besarnya peran pinjaman luar 
negeri dalam menutup defisit APBN. 

Kemudian melihat pembubaran CGI sekarang ini, banyak pihak berharap (termasuk 
pemerintah) bahwa tekanan kreditor pinjaman terhadap persoalan internal 
Indonesia dapat mereda. Akan tetapi pertimbangan semacam itu idealnya dapat 
dicermati lebih dalam. Aktor-aktor utama CGI tetap menjadi mitra utama 
Indonesia dalam negosiasi utang bilateral dan lembaga multilateral, seperti: 
World Bank, Asian Development Bank dan Pemerintah Jepang. Oleh karena itu 
pembubaran CGI harus diikuti dengan keseriusan menekan biaya negosiasi utang 
bilateral dan multilateral, selain prosesnya dapat tetap transparan. 

Selama ini tidak diketahui pasti seberapa besar biaya negosiasi yang 
dikeluarkan pemerintah Indonesia terkait CGI (sehingga dianggap terlalu mahal) 
dan seberapa jauh keterlibatan forum CGI dalam permasalahan-permasalahan yang 
sifatnya politis. Kesan itu perlu diperjelas karena Menkeu menjelaskan bahwa 
forum CGI kini sudah menjadi forum politis negara-negara kreditor, sehingga 
keberadaannya sudah kontra produktif. 

Terkait itu, pemerintah Indonesia sudah saatnya menetapkan format yang pasti 
dan transparan dalam negosiasi utang secara bilateral, sehingga akuntabilitas 
dapat lebih termonitor. Sangat disayangkan, jika nantinya biaya negosiasi utang 
bilateral dan multilateral Indonesia pasca CGI justru lebih besar dibandingkan 
menggunakan forum CGI. Pembubaran CGI semata-mata hanya dapat melepaskan 
Indonesia dari forum kartel bilateral dan multilateral yang terkadang secara 
keroyokan dan saling mempengaruhi untuk menekan pemerintah Indonesia. Logisnya 
pembubaran CGI dapat diikuti dengan meningkatnya daya tawar (bergaining 
position) pemerintah Indonesia di mata kreditor multilateral dan bilateral.

Selama ini kritik pedas banyak kalangan terhadap forum-forum semacam CGI adalah 
tidak konsistennya pemerintah dalam agenda pengurangan pinjaman baru serta 
menyelesaikan jeratan utang luar negeri yang semakin bertumpuk. Hasil-hasil 
nyata forum CGI terkadang hanya memuat berita meningkatnya pinjaman luar negeri 
yang diterima pemerintah dan perlu perhatian pemerintah terhadap 
masalah-masalah khusus di dalam negeri. Perhatian CGI terhadap masalah-masalah 
struktural di dalam negeri pantas diberikan apresiasi positif, akan tetapi 
masalah strukturalnya tidak disentuh, terutama semakin dalamnya Indonesia 
terjebak dalam lingkaran utang yang tidak berujung. 

Selain itu keterlibatan forum CGI terhadap penyelesaian masalah-masalah 
internal Indonesia juga terkesan hanya sebatas wacana dan tidak diikuti dengan 
langkah-langkah yang konkret, terkecuali jika sudah menyangkut kepentingan 
kreditor asing dan tekanan untuk segera masuk ke arena persaingan perdagangan 
bebas. Kasus yang sama juga dialami oleh Indonesia ketika masih bersama IMF. 
Wangsit IMF untuk menekan defisit APBN melalui pengurangan subsidi misalnya 
serta restrukturisasi perbankan telah banyak mambawa Indonesia ke dalam krisis 
ekonomi yang tidak kunjung berkesudahan. 

Pertimbangan lain pemerintah membubarkan CGI adalah dalam konteks memaksimalkan 
penggalian sumber daya keuangan di dalam negeri, terutama melalui SBN. 
Belakangan ini pemerintah terlihat semakin giat menerbitkan dan menawarkan 
instrumen SUN (seri VR dan FR) dalam menggali sumber penerimaan berbasis utang 
jangka panjang. Meskipun Menkeu sudah menyatakan strategi pembiayaan APBN tetap 
menganut sumber pembiayaan paling efisien dan bunga paling rendah, akan tetapi 
hal itu perlu dikaji lebih dalam. 

Usaha pemerintah menggali sumber pembiayaan dalam negeri diyakini pemerintah 
akan menghindarkan tekanan terhadap APBN dalam jangka panjang, terutama karena 
faktor pergerakan nilai mata uang, risiko jatuh tempo (cicle date) yang tidak 
dapat ditangguhkan serta risiko pergerakan suku bunga. Dalam berbagai 
kesempatan Dirjen Pengelolaan Utang juga menyampaikan bahwa upaya meningkatkan 
penyerapan pasar instrumen SBN didasarkan pada pertimbangan benchmark price SBN 
dapat lebih update melalui pasar modal, lebih fleksibel karena bisa dilakukan 
melalui beragam instrumen, lebih accountable karena melalui public offering 
(tanpa negosiasi yang lama dan ekslusif), lebih murah karena SBN memiliki 
struktur biaya yang lebih sederhana dan yang terakhir mudah direstruktur serta 
dikelola risikonya karena dapat dilakukan melalui mekanisme pasar. 

Sepintas pertimbangan pemerintah untuk mengoptimalkan SBN terkesan logis dan 
tanpa potensi masalah di kemudian hari. Apalagi dalam kondisi suku bunga 
perbankan yang tinggi dan sektor riil berjalan di tempat sekarang ini. Lain hal 
jika kita mempertimbangkan upaya Bank Sentral untuk mendorong intermediasi 
perbankan melalui penurunan bertahap tingkat suku bunga. Dalam situasi inflasi 
tinggi dan tingkat suku bunga melambung tinggi, instrumen Surat Utang Negara 
dan SBI memang diminati karena miskinnya risiko serta karena tawaran bunga yang 
menjanjikan. 

Peningkatan SBN sebagai pengganti pinjaman luar negeri dalam banyak asumsi juga 
harus memperhatikan upaya meningkatkan investasi swasta dan serta mendorong 
intermediasi perbankan. Sebab penempatan dana pihak ketiga pada SBN akan beradu 
cepat dengan penempatan dana pihak ketiga pada perbankan. Padahal untuk 
meningkatkan kemandirian ekonomi peran pemerintah hanya bersifat stimulan untuk 
mencapai tujuan akhir bergeraknya sektor riil melalui dukungan intermediasi 
perbankan. Belum lagi jika mempertimbangkan faktor instabilitas eksternal yang 
setiap saat bisa mempengaruhi hengkangnya investor asing pada surat berharga 
serta rezim devisa bebas yang sekarang kita terapkan. 

Oleh sebab itu banyak hal masih perlu diperjelas skenarionya, sebab langkah 
maju membubarkan CGI tidak berarti kita harus menabur masalah baru di kemudian 
hari. Potensi masalah di kemudian hari dapat diminimalisasi jika terbukti 
pascapembubaran CGI pemerintah dapat lebih transparan, accauntable dalam semua 
bentuk negosiasi bilateralnya, termasuk optimal mengelola pembiayaan anggaran 
dan efisiensi pengeluarannya serta tidak gerah jika dikritik CGI digantikan 
oleh seluruh komponen di negara ini.*** 

Penulis, pengurus/peneliti Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia Bandung


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke