CENDRAWASIH POS Selasa, 06 Februari 2007
Kapolri Buka Poso di DPR JAKARTA-Ideologi memang sulit dikikis. Kendati sudah tiada tapi pengaruh Dr Azhari tak pernah surut. Polisi menyakini jika pemikiran salah seorang petinggi Jamaah Islamiyah (JI) yang tewas ditembak polisi November 2005 itu menitis di beberapa pentolan pelaku teror di Poso yang kemudian menyebarkan ke anak didik mereka. Ada dua orang yang diyakini polisi sempat mendapat pelatihan langsung Azhari di Blitar, Jatim sebelum akhirnya mereka pindah ke Poso. "Dia adalah Icang yang kini telah tewas dan Up yang kini buron," kata Kapolda Sulteng Brigjen Pol Badrodin Haiti disela-sela Raker dengan Komisi III di Gedung DPR kemarin. Aktor teror lainnya, Noordin M. Top, yang hingga kini belum tertangkap, belum terjejak di Poso. Kapolri Jenderal Pol Sutanto yang hadir dalam raker tersebut lantas membeberkan beberapa pihak lain di Poso yang punya kaitan dengan JI itu. Misalnya Hasanudin yang menjabat sebagai khoid wakalah JI di Poso. Tersangka pelaku pemenggalan tiga kepala siswa SMU Kristen Poso yang kini diadili di PN Jakarta Pusat itu sempat menyenyam pendidikan Akmil JI di Kamp Hudaibiyah, Mindanao, Filipina selama 1,5 tahun. Dia pernah menyembunyikan Jaja dan Chandra (pelaku bom Kuningan) dan Dulmatin serta Umar Patek (pelaku Bom Bali I). Lalu Haris yang terkait dengan kelompok JI di Bom Bali I. Juga ada Herlambang dan Abu Tholut (ketua mantiki 3 JI) alias Mustofa yang sempat menjadi instruktur pelatihan militer dengan kode uhud di Tanah Runtuh, Poso. Ada juga Sahal yang memiliki hubungan erat dengan Subur Abu Mujahid dari Semarang yang terlibat Bom Bali 2. Sahal, menurut polisi, juga mengaku jika terpidana Bom Bali I Muklas yang saat itu menjalani pidana di LP Kerobokan, Bali, sering memberi tausiyah melalui HP pada jemaah di Poso. "Mereka rata-rata berasal dari Jawa Tengah. Mulai Semarang, Boyolali, Sukoharjo. Bahayanya di Poso ada anak-anak muda yang telah teracuni paham itu dan mereka disebut anak bebek," lanjut Haiti. Makanya dia mengusulkan ada pendataan ulang warga Sulteng dan soal teknisnya diserahkan ke Pemprov setempat. Beberapa DPO yang masih dicari menurut Haiti saat ini juga sudah lari ke daerah asal mereka di Jawa Tengah itu. Namun mantan Kapolda Banten itu enggan merinci lebih jauh lagi. Termasuk saat dipancing dengan sejumlah tempat di kota-kota tersebut yang memang sudah lama di incar polisi. "Saya tak mau menyebutkan lebih jauh lagi," kelitnya. Untuk menyakinkan jika kelompok yang dihadapi polisi itu bukan pihak sembarangan dalam raker tersebut juga digelar beberapa senjata organik, proyektil, bahan peledak, dan bom rakitan. "Yang paling mematikan senapan serbu MK-3 yang itu. Jika ditembak dengan senjata itu maka mobil baracuda (lapis baja milik Brimob, Red) bisa jebol," sambung Haiti. Tak hanya itu, beberapa slide foto dan rekaman video para pelaku juga diikutkan. Termasuk foto Basri bertelanjang dada-buron utama kasus Poso yang baru saja dipindahkan ke Jakarta- dengan badan penuh tato. Beberapa tokoh agama dari Poso seperti Abdul Rahman juga dihadirkan polisi untuk memperkuat keterangan polisi. Tapi tetap saja berbagai keterangan itu tidak sekaligus ditelan mentah-mentah oleh anggota Komisi III. Masih ada yang mempertanyakan langkah Polri di Poso seperti Pataniari Siahaan dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. "Jangan-jangan Poso hanya digunakan sebagai politik anggaran?," tanyanya. Kapolri menjawab tidak mungkin hal itu dilakukan Polri. Dia mengatakan jika serangkaian operasi di Poso dilakukan tanpa ada penambahan sepeserpun dana dari pemerintah melainkan dari bujet anggaran tahun Polri. Mantan Kapolda Sumatera Utara ini juga menjelaskan sejumlah langkah yang dilakukan pada satu kelompok lain di Poso. "Ada 90 orang tersangka dan 30 orang telah dihukum termasuk Tibo Cs dalam kasus Kilo 9," jelasnya. Lalu 17 tersangka kasus pembunuhan 2 warga muslim di desa Pongge juga ditangkap dan diterbangkan ke Jakarta Minggu lalu. Sedangkan untuk kasus Buyung Katedo dan 16 nama yang disebut Tibo-yang dituntut penuntasannya oleh kalangan muslim-Kapolri menegaskan jika hingga sekarang belum ada bukti untuk menyeret pelaku dari kejadian di atas. "Bilamana cukup bukti pasti akan kita proses," janjinya. (naz [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
