http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/022007/07/0901.htm


Pilih Sehat atau Impoten!
Oleh OTTO SOEMARWOTO 
 
TIMBAL, bukan timbel. Kalau kita dapat timbel senang. Enak, kita menikmatinya. 
Akan tetapi kalau mendapat timbal, celaka! Bahasa kimianya plumbum. Disingkat 
Pb. Jika kadar timbal darah kita melampaui batas 10 mikrogram per dl 
(desiliter), waspadalah. Terutama pada balita. 

Di Amerika Serikat, jika kadar timbal darah seorang anak melampaui ambang 
batas, ada kewajiban orang tersebut untuk melaporkannya kepada dinas kesehatan 
setempat. Petugas dinas kesehatan akan datang untuk memeriksa asal timbal itu 
dan menyarankan tindakan koreksinya. Pasalnya, timbal dalam darah menurunkan IQ 
anak. Anak itu juga mengalami kesulitan belajar. Akibatnya anak tidak akan 
mencapai prestasi potensialnya. Dia jadi bodoh. 

Timbal juga mengancam ibunya. Risiko keguguran dan melahirkan bayi di bawah 
berat normal naik. Janin yang dikandungnya juga menyerap timbal dari ibunya. 
Maka sejak awal perkembangan IQ-nya sudah terhambat. Menginjak remaja, timbal 
mengubah perilaku. Tingkat kriminalitas remaja (juvenile delinquency) naik. 
Pada laki-laki dewasa yang masuk fase reproduksi, pembentukan sperma terganggu, 
baik kuantitas maupun kualitas. Dia menghadapi kenaikan risiko mandul (tidak 
dapat mempunyai anak) karena menurunnya kuantitas sperma. Menurunnya kualitas 
sperma meningkatkan risiko kelahiran bayi cacat. Risiko mengalami disfungsi 
ereksi juga naik. Mereka dapat jadi impoten. 

Pada orang tua, timbal mempercepat proses penuaan. Berarti memperpendek umur. 
Jadi dampak timbal dimulai sejak janin sampai pada orang tua. Uraian dampak 
timbal ini bukanlah untuk membuat sensasi. Bukan pula untuk menakut-nakuti. 
Tetapi nyata. Terdapat informasi segudang dalam literatur ilmiah, maupun di 
internet tentang dampak timbal.

Dalam seminar tentang pendidikan lingkungan hidup (PLH) yang diselenggarakan 
Konus tanggal 30 Januari saya diminta untuk menguraikan pelajaran untuk 
mengubah perilaku dalam kaitannya dengan lingkungan hidup. Para pembicara 
sebelum saya menekankan perlunya pelajaran moral untuk bertanggung jawab. Saya 
setuju. Tapi pelajaran moral saja tidak cukup. Buktinya pelajaran moral telah 
banyak diberikan, misalnya, dalam mata pelajaran agama. Tetapi lingkungan hidup 
makin rusak. 

Peredaran narkoba makin gawat. Perselingkuhan makin marak, sampai-sampai ke 
gedung DPR. Korupsi tak kunjung surut. Harus ditambah dengan pelajaran bahwa 
kerusakan lingkungan hidup mengancam keselamatan diri seseorang. Bahaya itu 
adalah riil. Saya ambil contoh timbal. 

Para murid TK/SD diajari tentang pencemaran udara. Di sebuah tempat, misalnya 
Kota Bandung, semua orang menghirup udara yang secara umum dapat dikatakan 
sama. Dari pejabat tinggi sampai seorang pesuruh. Dari yang kaya sampai yang 
miskin. Udara itu mengandung zat pencemar timbal dari pembakaran bensin mobil. 
Setelah diterangkan dampak timbal terhadap IQ, ditanyakan pada murid TK/SD: 
"Maukah menjadi bodoh?" Jawabannya tentu tidak. Anak TK dan SD lalu diajak 
berdiskusi, apa solusinya yang dapat dilakukan oleh murid TK/SD. Jawabannya, 
kurangilah naik mobil dan berjalan kaki atau bersepedalah pulang pergi ke 
sekolah. 

Akan tetapi anak-anak juga menyatakan, sukar melaksanakan solusi itu. Tidak ada 
trotoar yang nyaman dan aman. Banyak yang sempit dan terhalang oleh mobil yang 
diparkir di atasnya. Banyak pula yang berlubang besar menganga. Menyeberang 
jalan juga sulit, meskipun di bawah lampu lalu lintas ataupun di penyeberangan 
zebra. Naik sepeda pun berbahaya. Tidak ada lajur khusus untuk sepeda. 

Anak-anak itu pun akan bercerita kepada ibunya: "Bu, Upik tidak mau jadi bodoh. 
Upik ke sekolah berjalan kaki saja. Tetapi jalan kaki juga susah, Bu. Adik juga 
akan menjadi bodoh, karena juga menghirup udara yang tercemar timbal." Ibu Upik 
terkejut. Mengapa anaknya takut jadi bodoh dan mau berjalan kaki? Diskusi 
timbal pun bergulir antara ibu dan anak yang melibatkan pula anggota keluarga 
lainnya. 

Pencemaran udara bukan sekadar sebuah mata pelajaran, melainkan menjadi 
keprihatinan keluarga. Keprihatinan itu meningkat setelah mendengar dari dua 
kakak Upik. Yang seorang duduk di SMA. Seorang lagi menjadi mahasiswa. 
Anak-anak yang remaja dan dewasa tak ingin mengalami kenaikan risiko kelakuan 
kriminalitas dan setelah mereka kawin nanti menderita kemandulan serta 
impotensi. Bapak-ibunya pun tidak mau menghadapi risiko keguguran, kelahiran 
bayi cacat dan impotensi. 

Dengan mengantar anaknya naik mobil ke sekolah, mereka meracuni anak mereka. 
Mereka tidak sadar sedang meracuni diri sendiri, istri dan anak-anak mereka. 
Kekhawatiran mereka makin besar akan dampak kesehatan timbal. Padahal solusi 
yang sederhana sebenarnya ada. Asal ada kemauan dan keberanian politik. Ayah 
Upik yang menjadi seorang pejabat teras di kantor gubernur membawa permasalahan 
timbal pada sebuah rapat pimpinan. Paparan Bapak Upik mendapat dukungan dari 
kepala dinas kesehatan yang karena profesinya mengetahui benar dampak kesehatan 
timbal. Polan, anak Bapak kepala Dinas Kesehatan juga mendapat pelajaran yang 
serupa di sebuah SD. 

Pelajaran lingkungan hidup bergulir dari ruang kelas ke ruang pimpinan 
pemerintahan dan menjadi diskusi kebijakan pemerintah. Dr. Pudji dari ITB telah 
menunjukkan dengan jelas, persentase anak SMP di Bandung yang kandungan timbal 
darahnya melampaui batas ambang 10 mikrogram/dl adalah tinggi. Ancaman terhadap 
kesehatan adalah jelas. 

Tetapi Wali Kota dan DPRD Kota Bandung cuek. Laporan dianggap sepi. Demikian 
pula di kalangan pemerintahan provinsi dan DPRD Jabar. Koran pun hanya berhenti 
sampai pada pemberitaan. Tak ada yang bertindak, karena mereka tidak merasa 
terancam. Karena ketidakpeduliannya terhadap lingkungan hidup, mereka tidak 
merasa berkepentingan untuk menanganinya, malahan merasa rugi jika 
menanganinya. 

Mereka tidak mau mengorbankan pola hidup hedonik yang sedang mereka nikmati. 
Juga tidak mau PAD-nya turun. Akan tetapi jika mereka tahu dan sadar bahwa 
menggunakan kendaraan yang berlebihan merupakan ancaman serius bagi kesehatan 
dan kesejahteraan mereka dan keluarganya, para pejabat eksekutif maupun 
legislatif tentunya akan menggariskan kebijakan yang mengurangi penggunaan 
kendaraan bermotor. Banyak pejabat eksekutif dan legislatif serta keluarganya 
yang menderita penyakit terkait pencemaran udara, seperti asma dan ISPA. 

Mungkin sekali di antara mereka juga mengalami disfungsi ereksi. Betapa besar 
penderitaannya. Ditambah harus sering absen bekerja dan sekolah. Kebijakan di 
atas ramah terhadap pejalan kaki dan pengendara sepeda. Kebijakan itu bukanlah 
antikendaraan bermotor, melainkan memberi insentif agar orang menggunakan 
kendaraan bermotor dengan efisien. Berjalan kakilah kalau hanya bepergian 
sampai 1 km dan bersepedalah kalau bepergian 5-10 km. 

Misalnya, untuk pulang-pergi sekolah dan kantor. Berjalan kaki dan bersepeda 
juga sehat. Mengurangi obesitas dan penyakit yang terkait padanya, seperti 
diabetes dan penyakit jantung. Juga menghemat anggaran belanja keluarga dan 
pemerintah. Pemacuan penggunaan sepeda juga menciptakan lapangan pekerjaan 
untuk produksi sepeda dan suku cadangnya, perakitan dan perdagangan sepeda. 

IPM kota dan provinsi akan naik. Pada lain pihak siapa sih yang mau anaknya 
menjadi bodoh, menjadi kriminal serta anaknya dan dirinya mengalami impotensi, 
istrinya mengalami keguguran dan orang tuanya umurnya diperpendek? Silakan 
pilih, sekeluarga sehat dan sejahtera atau hidup hedonik dan sekeluarga 
sakit-sakitan.*** 

Penulis, guru besar emeritus, pakar ekologi. 


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke