terima kasih pak asahan. tulisan ini patut dibaca oleh para pemerhati sastra
indonesia.
salam, hl
BISAI <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
To: "AKSARA SASTRA" <[EMAIL PROTECTED]>,
"SASTRA PEMBEBASAN" <[EMAIL PROTECTED]>,
<[EMAIL PROTECTED]>, <[EMAIL PROTECTED]>
From: "BISAI" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Sat, 10 Feb 2007 21:23:01 +0100
Subject: #sastra-pembebasan# SOBRON AIDIT IN MEMORIAM
asahan aidit:
SOBRON AIDIT IN MEMORIAM
Jalan hidup Sobron adalah jalan kepenulisan. Ia mulai menulis sejak umur 14
tahun. Pada masa belianya ia mengirimkan tulisan-tulisannya berupa cerpen dan
sajak-sajak ke majalah WAKTU yang terbit di Medan. Periode selanjutnya, pada
masa belia yang lebih mendewasa ia mnengirimkan tulisan-tulisannya ke
majalah-majalah a. l. MIMBAR INDONESIA, INDONESIA, SASTRA, SENI, SPEKTRA dll,
di tahun lima puluhan dan di puncak keproduktifannya dalam tulis menulis adalah
dalam majalah KISAH yang memuat cerpen maupun sajak-sajaknya. Sebagai penulis
cerpen dan sajak Sobron telah menikmati keterkenalannya sejak ia berusia muda
belia. Pada umur belasan tahun Sobron bersama penulis virtuos Ajip Rosidi yang
bahkan lebih muda umurnya dari Sobron telah menerbitkan kumpulan sajak mereka
yang mereka namai KETEMU DI JALAN yang diterbitkan oleh BALAI PUSTAKA. Saya
mengenal Ajip Rosidi karena kami sama-sama bersekolah di Taman Siswa (Jalan
Garuda 25) yang ketika itu ia duduk di kelas 2 Taman Madya(SMA)
sedangkan saya di kelas satu. Sobron juga bersekolah di Taman Siswa hingga
tamat dan lulus ujian SMA negeri. Antara Sobron dan Ajip Rosidi adalah
persahabatan penulis dan di antara dua mereka cukup sering bertemu terutama di
rumah kami di Kepu dalam Jakarta. Tapi antara saya dengan Ajip mempunyai
persahabatan yang bukan oleh kepenulisan tapi persahabatan biasa yang bahkan
terasa lebih mesra. Antara Sobron dan Ajip memang ada ganjalan-ganjalan
tertentu terutama keberatan Ajip atas Sobron yang katanya sangat susah menerima
kritik. Kalau kita membaca tulisan-tulisan Sobron di masa belianya( tahun lima
puluhan) akan terasa sangat lain dengan tulisan-tulisannya yang sekarang atau
ketika ia sudah menjadi pengarang Lekra di tahun enampuluhan. Sajak-sajak
Sobron di masa belianya sangat romantis, sangat puitis dan sangat mudah
dihafalkan. Sajak-sajaknya bertebaran hampir di seluruh majalah Kebudayaan yang
terkemuka waktu itu yang pada umumnya diredakturi oleh HB.Jassin yang
terkenal keras dalam menyeleksi tulisan-tulisan yang akan dimuat atau dicetak.
Sobron punya cerita-cerita tersendiri bagaiman ia berjuang untuk mempublikasi
tulisan-tulisannya di majalah yang prestesius waktu itu, betapa sulitnya untuk
mendapatkan acc dari para redaktur yang sekeras HB.Jassin. Katanya ia kenyang
makan garam untuk tulisan-tulisannya bisa dimuat dan dicetak di berbagai
majalah. Tapi setiap tulisan yang dimuat selalu dapat honorarium atau royalty
dari majalah tsb dan itu hampir selalu akurat meskipun tidak banyak. Saya
sendiri umpamanya ketika sajak saya suatu hari di muat di majalah MIMBAR
INDONESIA yang diredakturi oleh HB.Jassin, saya menerima honorarium sebanyak
Rp. 25,- (tahun 1955). Tidak terlalu banyak tapi waktu itu jumlah dua puluh
lima rupiah, saya bisa masuk restoran dan makan enak untuk satu orang. Tapi
sekarang, kata Sobron suatu waktu pada saya, dia sudah menerbitkan sebanyak
lima buah buku tapi belum satu senpun menerima uang royalty dari
penerbitnya, dan bahkan katanya yang dia biayai sendiripun uangnya tidak
kembali satu senpun hingga kini. Tapi Sobron menulis bukan untuk uang, bukan
semata untuk jadi terkenal sebagai penulis tapi dia menulis karena jiwa
kepenulisannya, tidak ada yang menuntut, tidak ada yang memaksa dan bahkan
tidak ada yang memintanya, semua dia lakukan karena panggilan jiwanya sebagai
penulis yang sudah sejak di umur sangat belia: dia bercita-cita ingin jadi
pujangga. habis. Dan dia merasa cita-citanya sudah tercapai meskipun ada satu
periode panjang ia berpisah lama dengan dunia kepenulisannya, setidaknya sejak
dia memenuhi panggilan untuk menjadi guru besar di Universitas Chung Hua Peking
sejak tahun 1963 untuk mengajar bahasa dan sastra Indonesia. Masa panjang
istirahat menulis itu berlangsung hingga setidaknya pada tahun 1990 ketika dia
mulai menulis di milis APA KABAR dengan nama KISAH SERBA SERBI yang ketika itu
untuk menulis di Internet masih harus membayar dengan dollar. KISAH
SERBA SERBI yang ditulis Sobron sudah berjumlah ribuan. Sobron adalah penulis
ribuan cerita. Keproduktifan Sobron dalam menulis memang luar biasa dan itu
sama sekali tanpa memaksakan diri karena memang ia bisa menulis setiap hari dan
dengan senang hati melakukannya. Memang cukup banyak orang mempermasaalahkan
kwalitas tulisan-tulisannya, termasuk oleh teman-teman segenerasinya. Ajip
Rosidi umpamanya yang adalah teman sejak usia remaja itu, selalu menolak semua
tulisan-tulisan Sobron untuk diterbitkan, padahal Ajip punya penerbit sendiri
(Pustaka Jaya). Setiap Sobron melamar pada Ajip untuk menerbitkan naskahnya,
Ajip selalu mengulangi alasan yang sama: "Ya, Bron, idealisme tentu masih aku
punyai, tapi penerbit-kan harus bisa makan". Ya, sedangkan teman-teman Sobron
yang dari satu kandangpun, yang sekarang punya posisi penting di bidang
penerbitan, sungkan menerbitkan tulisan-tulisan Sobron. Mereka tidak
terang-terangan menolak mutu tulisan Sobron, tapi Sobron cukup
mengerti dan menyedari akan soal itu. Tapi dia terus menulis dan tidak
sedikitpun terpengaruh. Semangatnya stabil, jauh lebih stabil dari kesehatannya
sendiri. Tapi Sobron memang bukan menulis untuk kwalitas(yang entah apa
kriteriumnya apa yang dinamakan kwalitas itu) tapi dia lebih banyak memenuhi
selera pembaca yang awam terutamanya. Ia menulis dengan gaya populer, santai,
mudah di mengerti dan tentang apa saja termasuk keluahan-keluhan hidupnya,
protesnya, keberatannya dalam berbagai gejala dalam kehidupan sosial bangsanya
maupun kehidupannya di tanah perantauan. Dia bukan tidak tahu kritik-kritik
yang dilontarka padanya tentang tulisannya yang dianggap kurang bermutu atau
tidak bermutu. Bahkan di satu pertemuan ramah tamah kekeluargaan di rumah
anaknya di Almere, Mang Ucup pernah bilang di depan Sobron dan bahkan di tengah
khayak pesta: "Tulisan bung Sobron itu cocok dibaca sambil berak di WC". Sobron
hanya kertawa.
Sesungguhnya saya sendiri cukup sering membaca karangan-karangan pujangga besar
Seperti Tolstoi, Turgenyev, Gogol atau Maxim Gorki, juga sambil berak di WC
universitas di Moskow, untuk memburu waktu menjelang tentamen. Untuk itu tentu
tidak ada hubungannya dengan kwalitas pengarang-pengarang dunia itu dengan
bacaan sambil duduk di WC. Sesungguhnya cuma ada satu soal. Sobron tidak puya
cukup waktu untuk membaca dan bila punya waktu untuk itu tentu akan dia gunakan
untuk menulis. Untuk ini sangat bisa dimengerti. Membaca sebuah karya sastra
yang tebalnya 500 halaman saja sudah berapa belas jam menghabiskan waktu bahkan
mungkin berminggu-minggu sampai berbulan bulan. Untuk Sobron daripada
menghabiskan waktu untuk membaca novel 500 halaman, ia lebih sanggup untuk
menuliskan lima ratus kisah-kisah dengan santai dan cepat selesai. Ia telah di
ambang pintu berlomba dengan waktu: menulis atau membaca. Kombinasi harmonis
dari keduaanya sudah tidak mungkin di usianya yang sudah
semakin senja. Saya kira Sobron telah menjatuhkan pilihan yang sesuai dengan
dirinya sendiri dan ia menulis, menulis dan menulis dan persetan dengan bacaan
novel atau teori-teori literatur yang mewah-mewah. Pilihan sedar dan sesuai
untuk dirinnya itu membuat di tegar, penuh percaya diri dan bahkan hingga
"tidak mempan kritik",telah menjadikan dirinya sebagai penulis yang hampir
super produktif yang dilakukannya hingga detik terahir kehidupannya.
Sobron mengalami berbagai macam gelombang kehidupan: ada masa jayanya ketika
sedang menjadi penulis muda pada jamannya. Ia menikmati keterkenalannya,
bergaul dekat dengan hampir semua pengarang besar Indonesia pada waktu itu,
termasuk Chairil Anwar, Pramudya Ananta Tur, Mochtar Lubis, Rosihan Anwar serta
kitikus besar di bidang sastra HB Jassin. Di masa jayanya bahkan Sobron lebih
terkenal dari pada abang sulungnya yang ketua PKI D.N.Aidit. Abang sulungnya
sangat banyak menaruh harapan terhadap Sobron karena Sobron dianggapnya
mempunyai multi bakat: Pengarang, organisator dan pandai berdiplomasi. Bakat
Sobron di bidang keorganisasian sangat banyak dibuktikannya. Di mulai dengan
organisasi Pelajar Taman Siswa yang cepat menjadi kesayangan direktur Taman
Siswa ketika itu : Pak Said. Sebagai pelajar yang berasal dari pulau Belitung
yang belajar ke pulau Jawa, Sobron mendirikan organisasi dengan teman-teman
sepulaunya: Ikatan Pelajar Belitung( IPB) di tahun lima puluhan yang
meluas menjadi Ikatan Kelauarga Pelajar Belitung (IKPB) yang hingga saat ini
masih tetap ujud. Ia juga sangat aktif membangun organisasi Lembaga
Persahabatan Indonesia-Tiongkok yang di pulau Belitung ia mendirikan cabangnya
dengan susah payah. Ia juga menjadi wakil ketua dari Lembaga Persahabatan
Indonesia Vietnam di tahun enam puluhan, duduk dalam pengurus BAPERKI dan masih
banyak organisasi-organisasi lainnya yang dia bangun atau yang diketuainya
ataupun paling sedikit duduk dalam dewan pengurus dan tidak pernah jadi anggota
biasa tanpa funsi penting. Bakat organisator yang dipunyainya memang sesuai
dengan sifat pembawaan pribadinya: pandai bergaul, mudah menyesuaikan diri,
punya ketrampilan istimewa dalam membangun organisasi sebagai bakat alamiahnya.
Seluruh kehidupan keorganisasian Sobron adalah juga masa kejayaannya: Ia merasa
bahagia dan hidup serta selalu antusias dalam berorganisasi. LEKRA adalah
organisasi terahir yang disibukinya di saat-saat terahir sebelum
meninggalkan tanah air di tahun 1963. Tapi harapan sang abang sulung, Ketua
PKI terhadap Sobron bukannya selalu antusias di dalam prakteknya: Sobron punya
sifat Liberal, moderat dan menggantungkan diplomasi sebagai kekuatan
alamiahnya. Ini tidak selalu cocok dengan tuntutan si abang sulung yang
bersandar kepada politik adalah panglima. Dan demikianlah Sobron hingga ahir
hayatnya: Ia menjadi dirinya sendiri meskipun pernah jadi bermacam-macam dan
itu sangat kuat, stabil dan tak terpatahkan.
Meskipun Sobron selalu berdiri di pihak kiri tapi ia juga tidak mengharamkan
dirinya sama duduk dengan orang-orang kanan dan bahkan tahan
"direndahkan"orang-orang kanan yang dulu para teman-temannya yang kebanyakan
telah hmenjadi pembesar dan orang pentingnya Orba. Umpamanya dia tetap
menghormati dan mengagumi Rosihan Anwar meskipun Rosihan Anwar dalam salah satu
pertemuan pernah merendahkan dia, bahkan mengaku tidak pernah kenal dengannya
yang padahal pernah satu kolega dengannya di bidang kepenulisan. Sobron tidak
marah, tapi dengan jelas dia tuliskan bagaiamana di disepelekan secara
menyakitkan oleh orang-orang kanan yang dulu pernah menjadi kenalan dekatnya.
Sobron punya rasa toleransi yang cukup besar dalam pergaulan sesama manusia dan
tidak memisahkan diri meskipun dengan watak kelas yang berlainan.
Kejayaan lain yang pernah dinikmati Sobron adalah ketika dia menjadi guru besar
di salah satu Universitas di Peking. Kehidupannya membaik secara drastis
dibandingkan ketika ia masih hidup di Jakarta. Saya masih sempat menyaksikan
bagaimana Sobron sebagai tenaga spesialis yang tinggal di hotel spesialis yang
serba mencukupi dengan layanan serba istimewa ketika saya mengunjungi Tiongkok
pada tahun 1965 dari Moskow.
Secara material Sobron memang tidak pernah mengalami kesulitan serius bahkan
agak serius sekalipun. Ia turut mencicipi menara gading bersama para koleganya
yang bernasib baik sepertinya. Dan itu bukan salah dia. Ketika itu atau pada
masanya, menikmati kehidupan enak dan jaya adalah juga tugas Partai. Sobron
mengalami kebahagiaan dan juga kejatuhan serbagai akibat kejatuhan Partai dan
terror musuh di Indonesia. Dalam hidup, Sobron merasakan kebahagian hidup,
kebahagiaan berkeluarga, kebahagiaan usia belia disamping cita-cita umum yang
tak tercapai dan hancur berantakan akibat mala petaka yang ditimbulkan oleh
musuh rakyatnya.
[Non-text portions of this message have been removed]
http://www.geocities.com/herilatief/
[EMAIL PROTECTED]
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
Informasi tentang KUDETA 65/Coup d'etat '65
Klik: http://www.progind.net/
---------------------------------
It's here! Your new message!
Get new email alerts with the free Yahoo! Toolbar.
[Non-text portions of this message have been removed]
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/