Catatan Laluta:
   
  Dalam refleksi karya tulisan Elisa Koraag di milis sastra-pembebasan berjudul 
"SORBON AIDIT DALAM KENANGANKU" , mengurai a.l.: "....Aku terlahir di tahun 
1965. Aku merasa mempunyai tanggung jawab moril pada makna tahun kelahiranku. 
Tahun kegelapan bangsa Indonesia.! Aku tidak tahu harus kemana dan bagaimana 
mencari informasi untuk melengkapi potongan sejarah bangsa yang hilang...." 
(selanjutnya silahkan baca lampiran dibawah ini)
  
Dan, akibat Sejarah Peristiwa Tragedi Nasional 1965 yang masih digelapkan dan 
di hitamkan, namun semangat almarhum Sobron Aidit tak pernah patah sebagai 
salah satu anak bangsa demi membela Hak Asasi Manusia mengungkapkan kisah 
kesaksian hidupnya, yang diuraikan melalui banyak karya tulisan dan refleksi 
karya puisinya. Seperti pula yang diungkapkan dalam karya puisi Pak Suar Suroso 
berjudul "In Memoriam Sobron Aidit: 
   
  "...Sobron tangguh bercita-cita, 
  tanpa sembunyi dan diam-diam,
  dipaparkannya terang-terangan
  dalam tulisan:
  setia pencinta nusa dan bangsa,
  betapapun terlunta-lunta di pengasingan:
  badan di rantau,
  hatinya di kampung..."
  (selanjutnya, silahkan baca lampiran di bawah ini)
   
  Kini Pak Sobron Aidit telah meninggalkan kita semua dan sesuai dengan 
permintaan beliau, acara seremoni keagamaan dan perabuan pada hari jumát 
tanggal 16 Februari 2007. Acara tersebut dimulai pada jam 10:10 di Salle La 
Coupolle di Kuburan Pere Lachaise, 70 rue de Rondeaux Paris 75020, metro 
Gambeta. 
   
  Salam,
  MiRa
   
  **** 
   
  Date: Wed, 14 Feb 2007 00:22:33 -0800 (PST)
From: Dian Su <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: IN MEMORIAM SOBRON AIDIT


  Nurdiana:
   
          IN MEMORIAM
          SOBRON AIDIT
   
  Di Langit Ketujuh
  riuh gemuruh,
  liuk-meliuk bidadari menari,
  lambai-melambai merentang lengan,
  mengirai jari-jemari.
   
  Bersama para bidadari,
  arwah jutaan umat kaum tersiksa
  gentayangan menarikan:
  genjer-genjer;
  kini mereka menyambut datangnya arwah baru:
  Sobron Aidit yang tutup usia.
   
  Di kala bumi beku berselimut salju,
  menara Eifel menjulang kaku 
  dibelai angin dingin menerjang lalu;
  kita-kita
  bersama banyak sanak sobat saudara
  di khatulistiwa
  berurai airmata berdukacita,
  melepas Bung Sobron pulang
  ke Alam Baka akhirat yang abadi.
   
  Selama hayatnya dikandung badan, 
  Sobron tangguh bercita-cita, 
  tanpa sembunyi dan diam-diam,
  dipaparkannya terang-terangan
  dalam tulisan:
  setia pencinta nusa dan bangsa,
  betapapun terlunta-lunta di pengasingan:
  badan di rantau,
  hatinya di kampung.
   
  Suaranya lantang dan terang:
  menjunjung dan memuja kawan,
  memaki membenci lawan;
  terhadap Tiran
  dia berlawan,
  dia muntahkan ¡°Sumpah Serapah¡± *)
   
  Bagaikan air mengalir hilir,
  Sobron berkarya tanpa henti,
  enak dibaca kocak berisi
  disenandungkannya:
  suka-duka manusia tersiksa.
   
  Melanglang buana malang melintang
  di mancanegara,
  Sobron bagaikan Elang Laut menantang prahara,
  tak pernah putus asa.
   
  Harimau mati meninggalkan belang,
  gajah mati meninggalkan gading,
  Sobron berpulang meninggalkan tulisan, 
  akan dibaca turun temurun,  
  tak ada gading yang tak retak,
  buang ampas ambil sarinya.
   
  Betapa pun jua
  hukum alam mahakuasa,
  Kita kehilangan Sobron berpulang,
  sambil tafakkur tundukkan kepala,
  heningkan cipta bulatkan hati;
  semoga
  patah tumbuh hilang berganti !!!
   
   
           ******
   
  *) Sebuah sajak Sobron Aidit menggugat Tirani Orba.
  14-2-2007.
  
***
  --- In [EMAIL PROTECTED], Elisa Koraag <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
   
  SORBON AIDIT DALAM KENANGANKU
   
  Aku boleh bangga, menjadi salah satu dari sekian kenalan Om Sobron yang 
mengenal beliau secara pribadi. Sama seperti para penggemar tulisan beliau, hal 
pertama yang mendorongku menyurati (mengirimkan email) terdorong rasa ingin 
tahu karena nama belakang beliau. 
   
  Ya, nama belakangnyalah yang memotivasiku untuk mengenal lebih jauh dengan 
alasan, pastinya beliau bisa menjadi sumber informasi yang layak dipercaya dari 
seorang DN AIDIT. Aku yakin nama DN AIDIT dan kiprahnya masih menjadi 
teka-teki. Dalam rangka mencari potongan teka-teki bangsa ini, makanya aku 
mengirimkan email kepada Om Sobron.
   
  Jujur, aku merasa sangat exited waktu melihat ada balasan email. Antara rasa 
deg-degan dan takut. Takut Om Sobron tersinggung dengan pertanyaanku sekaligus 
takut kalau aku dianggap ingin tahu urusan orang.
   
  Ternyata ketakutanku tak beralasan, beliau menjawab dengan baik dan terbuka. 
Selanjutnya email kami terus saling berbalasan bukan lagi membicarakan DN Aidit 
karena mengenai DN Aidit, Om Sobron mengatakan aku bisa membacanya di Aksara 
Sastra dan Panorma Indonesia yang khusus memuat tulisan Om Sobron. Di sana 
banyak tulisan beliau mengenai DN Aidit. Bukan hanya kenangan, kekaguman atau 
kehilangan Sobron terhadap DN Aidit tapi semua hal yang berkaitan dengan hidup 
seorang Sobron dapat dibaca. 
   
  Pada akhirnya email kami cenderung membicarakan dunia tulis menulis dan 
perkembangan Indonesia maupun dunia. Bahkan perkenalanku dengan Sobron Aidit, 
mampu mebuatku ’meracuni” pemikiran suami, saudara-saudara sekandungku juga 
ibuku dan teman-temanku mengenai stigma PKI. Karena mereka termasuk aku, begitu 
percaya pada dogma PKI itu sadis dan anti Tuhan.
   
  Lewat saksi hidup Sobron Aidit, aku banyak mendapat informasi yang  baru. 
Yang membuat aku merubah ”mind set” selama ini yang sudah terkooptasi mengenai 
stigma PKI. Aku terlahir di tahun 1965. Aku merasa mempunyai tanggung jawab 
moril pada makna tahun kelahiranku. Tahun kegelapan bangsa Indonesia.! Aku 
tidak tahu harus kemana dan bagaimana mencari informasi untuk melengkapi 
potongan sejarah bangsa yang hilang. 
   
  Ku katakan potongan sejarah yang hilang karena selama ini, aku hanya 
mendapatkan versi pemerintah. Informasi versi pelaku atau saksi mata hanya bisa 
di dapat lewat gerilya (Jalan bawah tanah) Dan itupun terbatas bisa di didapat 
oleh mereka yang punya akses ke informasi tersebut.
   
  Dalam salah satu emailnya 
  Sobron Aidit wrote:
  
  Icha sayang,-
  Bang Amat ( nama DN.Aidit itu dikalangan keluarga dan di kampungya 
dipanggilAhmad - Bang Amat )punya anak lima bukannya tiga.Ibaruri di Pari sIlya 
Maelani di Paris - dua-duanya di Perancis sebagai dokter kedua-duanya.
  Iwan digelari juga sebagai Iwan Bungsu - salah seorang pendiri WANADRI 
diBandung itu - dia dari ITB dan seorang insinyur yang bekerja di AS - lalu 
diCanada dan kini di MalaysiaLalu si kembar Ilham dan Irfan - tinggal di Bali 
dan di Bandung. Kembaran ini yang satu insinyur dan yang satunya droup-out dari 
Fakultas Kedokteran. Kami dan mereka yang di luarnegeri tadinya jauh sebelum 
65,-
   
   nah sesudah itu paspor kami dicabut semua oleh KBRI di bawah penguasa-baru 
yang bernamaORBA-SUHARTO-ABRI. Dan kami tidak bisa pulang dan dilarang pulang. 
Misalnya saya - sudah bekerja di Tiongkok dan hidup di Tiongkok sejak tahun 
1963 ,tidak tahu apa-apa tentang peristiwa 30 Sept 1965 itu,- Dan juga termasuk 
orang yang tidak boleh pulang buat tinggal di Indonesia. 
   
  Yang boleh hanya datang ( sebagai turis ) tetapi tidak boleh pulang!Jadi 
diantara kami tidak seorangpun yang melarikan diri. Yang terjadi yalah kami 
semua tidak boleh pulang lantaran hanya dituding sebagai orang yang terlibat 
pembrontakan PKI dan keluarga PKI - hanya itu saja dan itupunsamasekali tidak 
melalui pengadilan dan pemeriksaan apapun.   
   
  Saya kontak terakhir dengan Bang Amat pada bulan Agustus di Beijing 
1965,ketika dia lewat sambil mau pulang ke Indonesia dari lawatannya di 
UniSovyet - Aljazair dan beberapa negara. Dia memimpin rombongan delegasi MPR 
-karena dia adalah Menteri Koordinator Kenegaraan, Dia dibunuh dan diterorserta 
ditembak begitu saja sekitar Boyolali - sampai kini tidak tahu di 
manakuburannya! 
   
  Kami mau ziarah - tapi tidak ada dan tidak tahu dimana diadimakamkan,-Itulah 
Icham yang baik. Kalau ada kesempatan dan kamu sedia serta ikhlas danrela 
ketemu saya, pada waktunya akan saya ceritakan padamu - yang takmungkin saya 
ceritakan dalam posting milist seperti yang biasa sehari-harisaya tuliskan - ya 
nggak Cha?
  Salam hangat dan akrab saya buat Icha,-
  sobron di rumah di Holland,- 8 Juni 06,-
   
  Dan banyak lagi cerita beliau tentang kehidupan pribadi dan keluarganya.
  Karena itu beruntunglah aku yang banyak mendapatkan informasi langsung dari 
Seorang Sobron Aidit. Bukan Cuma seputar informasi Trgaedi 1965. Sobron  bagiku 
benar-benar seorang Pujangga, seperti apa yang beliau cita-citakan. Dalam 3 
kali pertemuan di depan khalayak (Dalam peluncuran dan diskusi buku) Sobron 
mengatakan, “ia adalah orang berbahagia karena sejak usia sepuluh tahun sudah 
sangat tahu cita-citanya ingin menjadi pujangga.”
   
  Karena itu bagiku, Sobron juga seorang guru sastra, terlepas beliau diakui 
atau tidak oleh orang lain.. Bagiku beliau adalah pujangga atau sastrawan yang 
banyak memberikan makna kehidupan dalam tiap tulisannya. Karya Sobron tidak 
hanya indah karena tutur bahasanya, tapi juga hidup dan bernyawa.
   
  Dalam satu obrolan santaiku dengan suami di ranjang, kami mendiskusikan sosok 
seorang Sobron Aidit. Menurut suamiku, beliau adalah manusia langka. Jika aku 
dan banyak orang hanya mengenal nama HB Yasin, Ajip Rosidi, Chairil Anwar dari 
buku-buku pelajaran sekolahh, maka Sobron hidup, berhubungan bahkan berteman 
dengan tokoh-tokok tersebut.
  Artinya, aku memahami, Sosok Sobron sebenarnya setara dengan para tokoh 
tersebut hanya karena ia menyandang nama Aidit dibelakang namanya, sehingga 
banyak orang memandang dengan kacamata yang berbeda. Kemampuan dan kepiawannya 
dalam mengolah kata dan rasa menjadi sebuah karya sastra tidak diakui, karena 
orang memandangnya sebagai sastrawan terlarang.
   
  Hadirnya dunia komputer dan internet sangat membantu beliau mempublikasikan 
karyanya. Ketika Sobron belum mengenal komputer, beliau sempat membawah naskah 
tulisan yang beratnya berpuluh-puluh kilogram. Ketika diberi tahu bahwasannya 
tulisan tersebut dapat di tuangkan dalam sebuah benda kecil yang bernama 
disket. Sobron terpana.
   
  Dengan bantuan keponakannya Ibaruri  (Putri Sulung DN Aidit) Sobron 
diperkenalkan dengan Komputer dan internet. Sobron langsung merasa bebas 
merdeka bagai burung. Dengan koneksi internet ia bebas menulis dan mengirimkan 
ke banyak milis. Sehingga ia juga merasa sebagai member sejuta milis. Siapa 
yang tidak pernah baca tulisan Sobron Aidit? Terlepas dari suka atau tidak suka 
yang pasti Sobron boleh bangga karena tulisan di baca. Di caci, di hina, di 
maki atau di puji selalu menjadi semangat baginya untuk terus menulis.
   
  Sobron terpacu menulis karena ia sempat kehilangan beberapa masa dalam 
kehidupannya, sehingga Sobron merasa belum atau bahkan tak pernah ada kata 
cukup untuk menuliskan riwayat pengalaman hidupnya agar di baca dan diketahui 
orang.
   
  Sama seperti orang yang kenal dekat dengan beliau, aku merasa sangat 
kehilangan. Ketika membaca SMS dari Bung Heri Latief, Moderator Sastra 
Pembebasan yang mengabarkan kepergian Sobron Aidit, 10 Februari 2007, aku tak 
bisa menangis. Bukan karena Sobron tak pantas di tangisi tapi kesedihan itu 
sangat mendalam, sehingga air matapun tak dapat mengalir. Hanya terasa 
kekosongan dan rasa dingin yang menjalar di seluruh tubuh ini.
   
  Padahal aku dan Sobron tengah merajut janji, menurut rencana Sobron akan 
datang dengan adiknya, Pak Asaahan ke Indonesia dalam waktu dekat ini. Kami 
sudah berjanji akan bertemu, ngobrol dan makan-makan. Sosok Sobron yang juga 
dikenal sebagai pendiri Restaurant Indonesia di Paris sangat lekat dengan dunia 
masak memasak dan makanan enak.
  Namun demikian beliau tetap sangat mencintai makanan Indonesia . Ketika 
terakhir beliau datang ke Indonesia Sept-Nov 2006, beliau belum sempat 
menikmati kredok. Sehingga aku berjanji kalau Sobron daang kembali ke 
Indonesia, aku akan mengajak makan Kredok, bukan di Restaurant Sunda tapi di 
kaki lima, yang di jual di gerobal pinggir jalan.
   
  Sayang janji itu tinggal cita-cita. Walau persahabatan kami masih seumur 
jagung, tapi aku sanggup menulis berpuluh-puluh lembar dalam mengenang seorang 
Sobron Aidit. Kini Jasadnya sudah membujur kaku, ia yang tak bisa dan tak akan 
pernah bisa pulang ke Indonesia hanya bisa datang. Dan itu cukup mengobati 
kerinduannya akan tanah leluhurnya. 
   
  Jika aku tak salah membaca info, rencananya jasad belaiu akan di kremasi, 
separug abunya di wasiatkan untuk di tabur di dekat makan istrinya di Beijing , 
sedangkan separuhnya lagi, minta di taburkan di dekat makam ibundanya. Ibunda 
yang selalu dipertanyakan, bahagiakah memiliki anak-anak yang dilahirkan namun 
menjadi anak-anak yang dibuang negerinya sendiri. Padahal anak-anak itu turut 
mengukir sejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia . 
  Selamat jalan Sobron Aidit
  Semoga istri, Ayah-bundamu
  Juga Bang Amat dan semua teman-temanmu
  senang menyambut kepulanganmu.
  Kini kau sudah tiba di rumah.
   
  Jakarta , 13 Februari 2007
  Icha 
  Yang masih merasa  tak percaya!
   
   Aku ngeblog maka aku terhibur:
  http://elisakoraag.blogs


Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/   
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/ 






 
---------------------------------
No need to miss a message. Get email on-the-go 
with Yahoo! Mail for Mobile. Get started.

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke