REPUBLIKA
Senin, 19 Februari 2007

Inflasi Beras 

Oleh : Iman Sugema 


Dalam dua bulan berturut-turut kita menyaksikan pergerakan harga beras yang 
makin meningkat dan tidak terkendali. Walau Kenaikan harga beras terjadi secara 
berulang-ulang setiap tahun, tapi kali ini agak spesial karena merupakan 
kenaikan tertinggi dan dengan jangka waktu yang lama. 

Sebagian pejabat pemerintah sebagaimana biasa berusaha mencari kambing hitam. 
Sebagian lagi tampaknya sudah out of touch sembari berusaha meyakinkan pimpinan 
negara bahwa keadaan akan segera terkendali. 

Yang paling mengkhawatirkan adalah munculnya persepsi yang di kalangan beberapa 
menteri bidang perekonomian dan kesra, keadaan saat ini tidaklah gawat. 
Kenaikan harga beras dianggap sebagai 'angin lalu', sehingga tak heran bila 
pemerintah sangat lamban dan hanya melakukan respons secara tambal sulam. 

Hal ini menyebabkan kita menjadi lalai dan tidak menyadari, sesungguhnya 
inflasi beras memiliki dampak yang sangat serius terhadap kondisi sosial 
ekonomi masyarakat. Memang perlu empati mendalam untuk memahami apa yang 
sesungguhnya dihadapi masyarakat lapisan bawah.

Inflasi yang ditimbulkan kenaikan harga beras atau yang sering disebut sebagai 
inflasi beras seyogyanya tidak boleh dipandang enteng. Ia menyangkut kualitas 
hidup kalangan terbawah, bisa memicu kenaikan harga barang lainnya serta 
mencerminkan ketidakberdayaan pemerintahan. Karena itu di zaman Orde Baru dulu, 
setiap terjadi gonjang-ganjing harga beras selalu diikuti dengan penggusuran 
petinggi Bulog.

Masyarakat miskin merupakan pihak paling terpukul oleh kenaikan harga beras. 
Data BPS menunjukan 23 persen pengeluaran rumah tangga miskin (gakin) 
dialokasikan untuk beras. Pangsa pengeluaran beras dalam konsumsi rata-rata 
nasional hanya sekitar 16 persen. Sementara untuk kalangan kaya tak lebih dari 
5 persen. Dengan demikian, semakin tinggi pendapatan semakin tidak terasa 
dampak kenaikan harga beras. Mungkin karena itu beberapa menteri -- yang 
tentunya hidupnya sudah terjamin -- merasa kesulitan memahami penderitaan yang 
dihadapi rakyat.

Selain itu harga beras hampir selalu memicu kenaikan harga makanan lainnya. 
Karena beras merupakan kebutuhan pokok, ia sering dijadikan acuan dalam 
menentukan harga sembako lainnya. Kurang lebih 65 persen pengeluaran gakin 
adalah untuk bahan makanan. Karena itu, kenaikan harga beras sering berarti 
penurunan daya beli gakin yang pada gilirannya menimbulkan masalah kurang gizi 
dan kelaparan. 

Turunnya daya beli menyebabkan gakin harus mengkonsumsi makanan yang inferior 
seperti nasi aking. Kalaupun masih mampu membeli raskin, kualitas berasnya 
seringkali sangat tidak manusiawi -- hitam, penuh jamur dan kotoran tikus.

Dalam konteks tata pemerintahan, kenaikan harga beras bisa ditafsirkan sebagai 
sebuah bentuk ketidakberdayaan pemerintah mengelola masalah. Sejarah 
pemerintahan di negara kita menunjukan stabilitas harga dan ketersediaan 
pasokan beras merupakan persyaratan minimal terjadinya stabilitas dan 
kepercayaan masyarakat. 

Ketidakberdayaan mengelola perberasan dewasa ini mencerminkan beberapa titik 
lemah pemerintahan. Pertama, lemahnya koordinasi yang seharusnya diperankan 
oleh Menko Perekonomian. Jelas sekali masalah utamanya berawal dari 
ketidakcocokan data mengenai produksi dan konsumsi beras. Kalau masalah data 
saja tidak bisa dibereskan, bagaimana mungkin pemerintah dapat secara efektif 
melakukan perencanaan kebijakan untuk mengantisipasi masalah. Akibatnya, setiap 
terjadi kenaikan harga di pasar hampir selalu Bulog kalah cepat dibandingkan 
para spekulan.

Kedua, terjadi kegagalan teknis dimana stok Bulog lebih dititikberatkan pada 
impor. Seharusnya Bulog mengumpulkan stok dari petani tanpa melakukan impor, 
supaya harga ketika panen raya menjadi lebih tinggi. Dengan demikian selisih 
harga antara musim panen dengan musim paceklik menjadi tipis, sehingga tidak 
ada insentif bagi pengumpul untuk melakukan spekulasi.

Ketiga, tidak bekerjanya sistem reward and punishment secara efektif, sehingga 
para pejabat tidak takut berbuat salah. Kesalahan fatal tidak pernah berakibat 
pada permintaan pertanggungjawaban dari pejabat yang bersangkutan. Hal ini 
terjadi di berbagai bidang. Tal cuma beras, namun juga ecelakaan transportasi, 
tidak efektifnya penanganan bencana, kelangkaan BBM, kasus Perpres 37 sampai 
kesalahan data kemiskinan dalam pidato kepresidenan.

Kalau kesalahan yang sama terjadi secara berulang-ulang apakah itu tidak 
merupakan bukti cukup akan inkompetensi dan ketidakseriusan? Mengapa kita 
sampai rela mengorbankan kaum duafa dan kepentingan publik untuk mempertahankan 
kepentingan segelintir orang? Kita tunggu jawabannya di hari-hari mendatang. 

(*) Senior Economist, Inter CAFE, Institut Pertanian Bogor


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
See what's inside the new Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/0It09A/bOaOAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke