http://www.indomedia.com/bpost/022007/26/opini/opini1.htm


Di Bawah Bendera Demokrasi

Kenyataan menunjukkan, baik di bawah rezim otoriter maupun demokratis kehidupan 
ekonomi mayoritas rakyat tidak jauh berbeda.

Oleh: Fransiskus Budi Sanyoto
Karyawan swasta

Di awal 2007, Presiden Yudhoyono kembali mencanangkan tiga pokok kebijakan 
pemerintah, yakni: Pertumbuhan ekonomi yang tinggi; Pengurangan angka 
kemiskinan; Penurunan tingkat pengangguran. Penegasan dalam pidato itu 
dilatarbelakangi oleh pencapaian target yang tidak menggembirakan dalam 
menangani ketiga masalah pokok tersebut.

Kita dapat membaca, pidato politik itu sebagai pengakuan Presiden bahwa 
pemerintah dan negara belum berhasil memenuhi aspirasi mayoritas rakyat yang 
telah memberi dukungan politis menjelang tutup tahun 2004 yang lalu. Oleh sebab 
itu kita dapat bertanya, mengapa pemerintah dan Negara Indonesia yang 
demokratis ini ternyata masih belum berhasil mewujudkan ekonomi yang juga 
demokratis?

Dahulu di bawah kekuasaan Orde Baru, Rakyat Indonesia juga menghadapi tiga 
pokok kebijakan pemerintah (trilogi pembangunan), yakni: Stabilitas politik dan 
keamanan; Pertumbuhan ekonomi yang tinggi; Pemerataan pembangunan dan 
hasil-hasilnya. Dari ketiganya, prestasi yang bisa dipercaya adalah pertumbuhan 
ekonomi tinggi yang mengubah Indonesia menjadi salah satu dari tiga macan Asia. 
Politik dan keamanan memang stabil, namun semu belaka. Sebab, penguasa 
sesungguhnya pada waktu itu adalah pemerintah fasis sementara masyarakat yang 
masih bertahan adalah manusia kongkret tertekan. Slogan pemerataan pembangunan 
memang terus diumumkan, tetapi yang terwujud sebaliknya sehingga orang mulai 
memikirkan tentang perlunya perataan, bukan pemerataan. Kita ingat, tiga dekade 
pertumbuhan ekonomi berakhir tragis dalam hitungan hari pada 1998. Kerusuhan 
sosial merebak, penguasa terpaksa lengser dan ekonomi tumbuh negatif hingga 
minus 13 persen.

Di atas kondisi itulah reformasi bergulir hingga dewasa ini. Pada 2004, 
keberhasilan pemilihan presiden secara langsung menandai era politik demokratis 
di Indonesia. Namun rupanya kehidupan politik yang demokratis tidak serta merta 
membawa demokrasi dalam kehidupan ekonomi. Padahal, ketika situasi 
gonjang-ganjing mengharu-biru panggung politik, pada saat itu pula ekonomi 
nasional langsung tak terurus sehingga rakyat harus susah payah berusaha 
mencukupi sendiri segala keperluan ekonominya. Tanpa pemerintah, tanpa DPR, 
pendek kata tanpa negara.

Kenyataan menunjukkan, baik di bawah rezim otoriter maupun demokratis kehidupan 
ekonomi mayoritas rakyat tidak jauh berbeda. Biaya sekolah terus melangit, 
Ongkos kesehatan naik tak terbendung. Sulit sekali orang muda mendapatkan 
pekerjaan. Setiap orang langsung mengerti, keadaan seperti itu menyimpan 
dinamit ledakan sosial. Oleh sebab itu, penguasa nondemokratis pada masa yang 
lalu mengoperasikan dua stategi dasar, yakni strategi keamanan-militeristik dan 
kasih sinterklas.

Semua itu memerlukan waktu 30 tahun untuk kemudian menimbulkan ledakan besar 
pada 1998. Sekarang, hampir satu dekade sesudah peristiwa historis itu, kita 
memahami negara dalam hal ini pemerintah, DPR dan penegak hukum sebenarnya 
hanya sanggup memenuhi sebagian kecil aspirasi rakyat yang telah memilih mereka 
melalui prosedur yang sangat demokratis dalam sejarah politik Indonesia.

Buktinya cukup jelas. Pemerintah mengeluhkan bahwa secara politik ruang 
geraknya sangat terbatas akibat peran DPR terlalu kuat. Apa yang dalam 
konstitusi digariskan sebagai pemerintahan presidensiil, ternyata dalam politik 
riil diselenggarakan dengan corak parlementer. Demikian pula yang dalam 
konstitusi ditetapkan sebagai anggaran pendidikan nasional sebesar 20 persen, 
tenyata dalam APBN tak bisa dipenuhi pemerintah. Terhadap ranah perwakilan 
rakyat, kita juga disuguhi fakta ironis seputar PP 37/2006 baru-baru ini yang 
menerangkan betapa wakil rakyat kita sangat tidak sensitif pada kondisi 
mayoritas rakyat yang masih berkubang penderitaan akibat berbagai bencana dan 
efek lanjut krisis ekonomi sepuluh tahun lalu. Sementara itu, lembaga penegak 
hukum kita juga tetap belum bisa membuktikan diri mampu menuntaskan berbagai 
kejahatan korupsi yang telah membusukkan sendi kenegaraan dan kebangsaan. 
Bahkan, dewasa ini menguat tekanan untuk menghapus peradilan khusus tipikor dan 
mengalihkan kasus korupsi ke arah peradilan umum yang sangat lemah itu.

Logika ke Dialektika

Apa yang sekarang dapat dikatakan tentang Negara Indonesia yang demokratis itu? 
Negara memang berhasil memperoleh kekuasaan dengan cara yang sangat demokratis 
melalui pemilihan umum, menggunakannya menurut prosedur demokratis yang telah 
diatur dalam perundang-undangan. Namun ternyata, tujuan yang hendak dicapai 
bersifat nondemokratis dengan hanya menguntungkan kepentingan elitis penguasa 
politik dan ekonomi. 

Jelaslah kiranya, karena kita hanya mempunyai pemerintah dan negara yang 
demokratis dalam hal sirkulasi elit politik tetapi tidak demokratis dalam hal 
kebijakan yang diterapkan, maka dalam dunia ekonomi kesenjangan pendapatan tak 
kunjung dapat diperbaiki, angka kemiskinan sulit dikurangi secara signifikan, 
tingkat pengangguran meningkat, mayoritas rakyat (petani dan perempuan) hidup 
dalam marjinalisasi berkepanjangan dan sumberdaya alam rusak-rusakan tak 
terkendali. 

Rupa-rupanya di Indonesia, kehidupan politik dijalankan dan dunia ekonomi 
dikelola dengan cara berpikir yang sama. Politik dipahami sebagai prosedur 
penumpukan kekuasaan, sementara ekonomi didefinisikan menurut logika akumulasi 
modal semata. Kalau kekuasaan diperebutkan, dijalankan dan dikonsolidasikan 
sehingga terhadapnya dapat ditambahkan daya paksa yang makin kokoh, maka modal 
dikompetisikan, diivestasikan dan kepadanya akan ditambahkan nilai surplus 
tertentu sehingga modal bertambah besar.

Namun demikian, proses tiada akhir dalam akumulasi modal dan kuasa tidak 
sebatas logika. Dengan kata lain, di antara modal dan kuasa mengalir hubungan 
yang saling mengandalkan. Kekuasaan dapat diperkuat secara efisien dan efektif 
bila pemegangnya dapat memobilisasi sumber ekonomi. Demikian pula modal dapat 
dilipatgandakan lebih cepat bila pelakunya mampu mengakses berbagai kekuatan 
politik yang utama. Kekuasaan dalam politik dan modal dalam ekonomi tumbuh 
dengan bersandar pada logika akumulasi yang sama dan di antara keduanya 
terjalin hubungan dialektis yang saling menguatkan.

Inilah sebab utama mengapa demokrasi politik Indonesia belum dapat 
ditransmisikan segera dan nyata ke dalam dunia ekonomi kita. Karena demokrasi 
Indonesia masih tersandera logika dan dialektika akumulasi dalam modal dan 
kuasa yang saling memperkuat itu. Sebuah opini tua dalam dunia politik Amerika 
Serikat mengatakan: "... waspadalah! Atau penguasa akan merampok uang Anda. 
Atau, uang akan membeli kekuasaan yang di tangan Anda."

e-mail:[EMAIL PROTECTED]




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
See what's inside the new Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/0It09A/bOaOAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke