http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/2/27/o2.htm
Pelayanan transportasi selama ini masih memakai paradigma pelayanan yang kurang sehat. Dengan prinsip mendapat keuntungan besar tanpa memperhatikan rambu-rambu keselamatan dari alat transportasi, menjangkit di Indonesia. Meski alat-alat transportasi sudah keropos alias sudah tua yang secara logika akan mengancam stabilitas perjalanan transportasi, karena masih bisa dipakai, maka belum diubah. ---------------- Potret Suram Manajemen Transportasi Oleh Najanuddin Muhammad TITIK traumatis tidak bisa terelakkan dari sebagian besar masyarakat ketika meneropong perjalanan alat transportasi yang berada di Indonesia. Ancaman keselamatan menjadi perhitungan awal. Memang, selamat atau tidak secara transendental bukan hak otoritas manusia, tetapi apabila upaya untuk mengejar keselamatan tidak diperhitungkan atau bahkan ditukar dengan uang dengan jargon "tarif murah tetapi keselamatan terancam", maka pantas alat transportasi menjadi momok yang menakutkan. -------------------------------- Cukup banyak rentetan peristiwa kecelakaan alat transportasi yang oleh banyak persepsi karena berangkat dari kurang sehatnya manajemen transportasi. Tragedi adam Air di Sulawesi, sebelumnya memang sudah diprediksi bahwa keadaan cuaca kurang membaik, tetapi pesawat ini tetap berangkat. Kemudian tragedi tergelincirnya pesawat Adam Air K1 172 rute Jakarta-Surabaya nyaris celaka di Bandara Juanda Surabaya, disusul dengan peristiwa terbakarnya Kapal Motor Penumpang (KMP) Levina I di perairan Tanjung Perawang, di sebelah utara Kepulauan Seribu dengan korban belasan orang meninggal dan puluhan orang hilang. Peristiwa terbakarnya KMP Levina I tersebut adalah tregedi kecelakaan kedua terbesar setelah tenggelamnya KMP Senopati Nusantara beberapa bulan lalu. Sebab-musabab secara detail memang belum terlacak, tetapi secara manajerial dari peristiwa dua kapal tersebut memang sudah menampakkan kesuraman. KMP Levina I, kapasitas kapal 227, ternyata di dalamnya mengangkut 342. Tidak jauh beda tenggelamnya KMP Senopati Nusantara yang memuat penumpang lebih dari kapasitas yang dimiliki. Hal tersebut mengindikasikan bahwa seperangkat aturan yang menjadi tameng dasar untuk keselamatan para penumpang tidak terlalu diperhatikan. Larangan, perintah, dan anjuran yang digulirkan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) seakan hanya menjadi kertas formal yang tidak perlu diterapkan. Pengabaian terhadap kaidah-kaidah transportasi demi keselamatan kemanusiaan, diganti dengan lebih ditonjolkannya paradigma kapital, merupakan fenomena cacat cinta kemanusiaan. Individualisme, egoisme yang bercokol dalam satu rumpun organisasi transportasi akan terus menggerogoti stabilitas keselamatan para penumpang apabila watak dan paradigma berpikir tidak berubah. Inilah potret pelayanan yang buruk sebagaimana dikatakan Nietzsche (2005) yaitu pelayanan yang didasarkan bukan atas nama kepentingan kemanusiaan, melainkan atas nama kepentingan yang berada di luar jalur kemanusiaan. Kurang Sehat Pelayanan transportasi selama ini masih memakai paradigma pelayanan yang kurang sehat. Dengan prinsip mendapat keuntungan besar tanpa memperhatikan rambu-rambu keselamatan dari alat transportasi, menjangkit di Indonesia. Meski alat-alat transportasi sudah keropos alias sudah tua yang secara logika akan mengancam stabilitas perjalanan transportasi, tetapi karena masih bisa dipakai, maka belum diubah. Paradigma semacam inilah yang selama ini menjadi sebab kenapa kemudian kaidah atau aturan yang digulirkan pemerintah tentang larangan, anjuran dan perintah tidak begitu diperhatikan. Potret suram perjalanan manajemen transportasi memang cukup pelik ketika dikaitkan faktor kelalaian dalam proses pelayanan atau human error. Tidak hanya dalam tragedi kecelakaan alat transportasi yang bertubi-tubi menimpa, melainkan berbagai macam musibah yang telah meluluh-lantakkan stabilitas perjalanan bangsa ini faktor kemanusiaan menjadi cukup dominan. Dalam menghadapi fenomena ini, selayaknya kita mengubah pola atau paradigma pelayanan yang lebih humanis. Alat transportasi yang sejatinya diproyeksikan untuk melayani khalayak umum harus lebih dimantapkan lagi gerak praksisnya sebagai pelayan masyarakat. Tidak mengutamakan kepentingan kapital ego atau kelompok dalam mengemban tugas atau amanah menjadi prinsip yang harus diteguhkan. Kalau selama ini perawatan dan pemeliharaan terhadap alat transportasi terkesan asal-asalan, selayaknya direkonsturksi pada nuansa perawatan yang lebih demi kelancaran dan keselamatan kemanusiaan. Kalau dalam tataran praktiknya paradigma pelayanan masih cenderung mengedepankan keuntungan dengan daya tarik tarif murah agar mendapat banyak penumpang, tetapi keselamatan cenderung terabaikan, ini juga harus diubah menjadi pola yang lebih mengedepankan keselamatan manusia meskipun daya tarif dinaikkan. Upaya-upaya semacam itu membutuhkan kesadaran dari semua elemen untuk ikut serta dalam mengubah pola atau sistem manajemen transportasi yang berada di Indonesia. Yang sangat menjadi acuan utama dalam konteks ini adalah pemerintah sebagai alat pengontrol, terutama KNKT. Sebagai lembaga formal yang diproyeksikan terhadap pengawasan alat transportasi nasional, KNKT dituntut lebih fokus dalam mengamati gejala buramnya manajemen transportasi. Ketegasan KNKT dalam mengeluarkan kebijakan yang berkenaan dengan proses transportasi harus lebih tegas dan sigap. Tegas dalam mengamati adanya gejala alat transportasi yang melanggar peraturan yang menjadi acuan keselamatan. Seperti yang seringkali dilakukan adalah kelebihan kapasitas penumpang, atau ada salah satu alat transportasi yang sudah tidak layak untuk digunakan. Sigap dalam menghadapi berbagai problem kecelakaan alat transportasi, terutama dalam upaya mencari akar fundamental dari kecelakaan tersebut agar nantinya dapat dijadikan pelajaran bagi alat transportasi yang lain. Untuk lebih efektifnya lagi, KNKT membutuhkan badan independen yang berada di tiap-tiap lokasi pemberangkatan yang secara hukum berada di bawah naungan hukum KNKT. Sebagai dewan pengawas terhadap lancarnya manajemen alat transportasi, baik itu yang berkenaan dengan sarana dan prasarana ataupun situasi cuaca yang kurang menentukan terhadap keselamatan, dan kapasitas penumpang, menjadi orentasi awal dari badan independen ini. Sehingga nantinya, kalau ada sebagian alat transportasi yang telah melanggar, maka dapat ditindak terlebih dulu sebelum kecelakaan itu terjadi. * Penulis adalah peneliti pada Central for Studies of Religion and Culture (CSRC) Yogyakarta -------------------------------------- * Potret suram perjalanan manajemen transportasi cukup pelik ketika dikaitkan faktor kelalaian dalam proses pelayanan atau human error. * Selayaknya kita mengubah pola atau paradigma pelayanan yang lebih humanis. * Alat transportasi yang sejatinya diproyeksikan untuk melayani khalayak umum harus lebih dimantapkan lagi gerak praksisnya sebagai pelayan masyarakat. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> See what's inside the new Yahoo! Groups email. http://us.click.yahoo.com/0It09A/bOaOAA/yQLSAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
