Indonesia Masih Jadi Jagoan Korupsi


JAKARTA -- Indonesia masih menjadi salah satu negara terkorup di dunia. Kendati 
ada sedikit perbaikan dalam indeks persepsi korupsi, berdasarkan data 
Transparency International 2006, Indonesia masih berada di urutan ke-135 dari 
136 negara terkorup di dunia.

Ketua Dewan Pengurus Transparency International Indonesia Todung Mulya Lubis 
mengatakan, secara umum, Transparency International menilai gelombang 
pemberantasan korupsi internasional, regional, dan nasional berpengaruh 
signifikan dalam mengubah iklim bisnis di Indonesia. "Tapi persepsi pengusaha 
asing menunjukkan Indonesia masih merupakan surga untuk melakukan korupsi," 
katanya di Jakarta kemarin. 

Menurut Sekretaris Jenderal Transparency International Indonesia Rizal Malik, 
indeks persepsi korupsi Indonesia sedikit membaik, kendati secara umum 
Indonesia tetap sebagai salah satu negara terkorup di dunia. Dia menjelaskan, 
tahun lalu Transparency International menyurvei 1.760 pelaku usaha di 
Indonesia. Hasilnya, indeks persepsi korupsi 2005 adalah 2,0. Indeks persepsi 
korupsi 2006 naik menjadi 2,4. "Pelaku usaha menilai masih terjadi suap untuk 
mendapatkan tender dari institusi publik," katanya. 

Indeks persepsi korupsi menunjukkan pemahaman masyarakat tentang tingkat 
korupsi dan komitmen pemerintah/pemerintah daerah dalam memberantas korupsi. 
Semakin tinggi nilai indeks--mendekati level 10--menunjukkan praktek korupsi 
semakin rendah. Sebaliknya, semakin rendah nilai indeks--mendekati level 
nol--menunjukkan praktek korupsi semakin tinggi.

Todung mengatakan Transparency International juga menyimpulkan budaya takut 
korupsi bisa mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Gencarnya 
pemberantasan korupsi di Indonesia membuat pejabat pemerintah enggan menjadi 
pemimpin proyek. Akibatnya, pelaksanaan proyek-proyek pemerintah pun terhambat. 
"Memang ada teori yang menyatakan pemberantasan korupsi di tahun-tahun awal 
menimbulkan kecemasan," ujarnya.

Namun, katanya, suatu saat akan mencapai titik keseimbangan, yakni ketakutan 
menjadi pemimpin proyek tidak ada lagi. Masyarakat dan pejabat pemerintah akan 
terbiasa dengan aturan yang ada. "Kalau sudah tahu aturan main dan pejabat 
tidak asal tangkap, pertumbuhan ekonomi tidak akan terhambat lagi," ujarnya. 
KURNIASIH BUDI

Sumber: Koran Tempo - Rabu, 28 Februari 2007 

++++++++++
 
Untuk berita aktual seputar pemberantasan korupsi dan tata kelola
pemerintahan yang baik (good governance) klik
http://www.transparansi.or.id/?pilih=berita
 
Untuk Indonesia yang lebih baik, klik
http://www.transparansi.or.id/ 

--------
 
Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI)
The Indonesian Society for Transparency
Jl. Polombangkeng No. 11,
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12110 
Telp: (62-21) 727-83670, 727-83650 
Fax: (62-21) 722-1658 
http://www.transparansi.or.id 

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke