http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/3/2/f1.htm


Kemiskinan di Banyuwangi----------
Derita di Atas Melimpahnya Hasil Bumi 

Secara umum Kabupaten Banyuwangi memiliki potensi alam yang cukup besar. Mulai 
dari lahan pertanian, perkebunan dan kawasan pantai yang membentang luas. 
Banyuwangi adalah satu-satunya kabupaten di Jawa Timur (Jatim) yang memiliki 
tiga Kesatuan Pemangku Hutan (KPH). Artinya, daerah ini memiliki banyak lahan 
produktif yang bisa digarap untuk kesejahteraan penduduknya. Seperti apakah 
potret kemiskinan di Banyuwangi?

======================================================== 

Di tengah tingginya potensi pertanian itu, jumlah penduduk miskin justru terus 
bertambah. Pertambahan ini melaju pesat ketika harga kebutuhan pokok melambung. 
Puncaknya, naiknya harga BBM yang mencapai dua kali lipat. Masyarakat dengan 
penghasilan minim kian terpuruk dengan meningkatnya harga  kebutuhan pokok. 
Akibatnya, angka penduduk miskin kian membengkak.

Jumlah penduduk miskin di Kabupaten Banyuwangi mencapai 154.000 KK atau sekitar 
460.000 jiwa. Total keseluruhan penduduknya berjumlah 1,6 juta jiwa. Jika 
dihitung secara kasar, angka kemiskinannya masih relatif tinggi atau sekitar 
28,75%. Jumlah ini begitu ironis jika dibandingkan dengan potensi yang dimiliki 
Banyuwangi. 

Secara umum, kemiskinan di Banyuwangi dipicu oleh kondisi perekonomian 
nasional. Namun, lemahnya sumber daya manusia (SDM) kian memperparah angka 
kemiskinan itu. Penduduk miskin hampir menyebar di seluruh kecamatan dari 24 
kecamatan yang ada. Akibat lemahnya SDM, angka pengangguran ikut melambung. 
Jumlahnya mencapai 34.000 jiwa. "Ini adalah angka pencari kerja yang sering 
dikatakan sebagai pengangguran," kata pengamat ekonomi Banyuwangi Thoyib 
Kamino. 

Kendati tidak ada data pasti angka kemiskinan, Kamino menuturkan jumlah 
penduduk miskin di Banyuwangi masih tinggi. Salah satu indikatornya adalah 
lebarnya kesenjangan pendapatan masyarakat. Angka pendapatan penduduk mengalami 
ketimpangan yang tinggi, sehingga perbedaan KK miskin dan di atasnya makin 
jelas. Ironisnya lagi, penduduk miskin itu masih banyak yang tersebar di 
sekitar perkotaan. 

Minimnya lulusan pendidikan formal juga memicu naiknya angka kemiskinan. 
Apalagi, angka penyerapan kerja masih relatif kecil. Jumlah pekerja yang duduk 
di instansi formal hanya mencapai 185.000 orang. "Ini masih perhitungan kasar," 
ujar Kamino. Penghitungannya didasarkan pada usia penduduk yang masuk dalam 
usaha menengah. 

Meski Upah Minimum Kabupaten (UMK) Banyuwangi relatif tinggi, ternyata belum 
bisa mendongkrak turunnya angka kemiskinan. Apalagi, daya beli masyarakat cukup 
dinamis. UMK Banyuwangi tahun 2007 sebesar Rp 567.500, tahun 2006 sebesar Rp 
517.500. Angka ini hanyalah standar minimum dari pendapatan yang layak bagi 
sebuah keluarga. Fakta di lapangan, banyak penduduk yang belum mengenyam 
standar UMK. Pasalnya, masih banyak  perusahaan yang belum bisa memberikan 
standar UMK kepada para buruh. 

Banyaknya potensi alam yang belum tergarap juga patut disayangkan. Pengangguran 
di Banyuwangi cenderung mencari kerja di luar daerah ketimbang berkarier di 
daerahnya. Salah satunya ke Bali dan menjadi tenaga kerja ke luar negeri (TKI). 
Ironisnya lagi, belum ada tanggapan serius pemerintah daerah untuk menciptakan 
lapangan kerja di sektor riil. 

Pemerintah lebih  peduli pada pendidikan formal. Padahal, banyak kelompok yang 
layak diberi pelatihan keterampilan. Contohnya, pertukangan dan kerajinan 
lainnya. Banyak sentra industri kecil yang berjalan sendiri, sehingga proses 
penyerapan tenaga kerja ikut lamban. "Wajar jika pengangguran memilih hengkang 
ke luar daerah, karena di sini usaha tidak menjajikan," sambung Ketua Dewan 
Pengupahan Banyuwangi ini. 

Melimpahnya hasil alam Banyuwangi berpotensi mendatangkan investor. Sayangnya, 
banyak investor enggan berinvestasi karena proses birokrasi yang panjang. Iklim 
investasi masih belum menjanjikan. Mereka yang ingin membuka usaha harus 
terbentur dengan panjangnya proses perizinan. Belum lagi, kondisi politik yang 
terus memanas. Pemegang kebijakan belum optimal untuk menggarap sektor riil. 
Yang ada hanya penekanan pembangunan infrastruktur. Kendati baik, kebijakan  
ini harus ditambah pada sektor riil di masyarakat. 

Daya beli masyarakat Banyuwangi yang tinggi membuktikan peluang ekonomi yang 
bagus. Ditambah lagi potensi budaya masyarakatnya yang dinamis. "Peluang usaha 
sangat besar. Hanya iklim usaha perlu ditata lagi," usul dekan fakultas ekonomi 
salah satu universitas di Banyuwangi ini. 

Masyarakat perlu diajari membuka usaha dengan memanfaatkan potensi yang ada. 
Selama ini, mereka hanya berjalan sendiri-sendiri. Bahkan, di kantong-kantong 
kerajinan sekali pun. Akibatnya, persaingan usaha kian kencang. Para perajin 
saling berebut pasar untuk usaha sendiri. "Kalau ada pembinaan, mereka bisa 
mandiri. Angka pengangguran bisa ditekan," pungkas Kamino. 

Sementara untuk sektor pertanian, belum ada kepedulian menyatukan keinginan 
petani. Nasib mereka terus saja terpuruk. Banyuwangi yang menjadi lumbung 
padinya Jawa Timur tetap saja kebingungan menghadapi mahalnya harga beras. 
Masyarakat masih kelimpungan ketika harga beras naik tajam. Kaum miskin yang 
terjepit hanya bisa gigit jari. Sejak naiknya harga beras, potensi melonjaknya 
angka kemiskinan sangat tinggi. Masalahnya, UMK yang dipatok hanya cukup untuk 
kehidupan standar ketika harga kebutuhan pokok masih normal. Ketika harga naik, 
UMK dipastikan tidak bisa mencukupi kebutuhan secara optimal. 

Mayoritas Tamatan SD

Meskipun memiliki angka pasti, data kemiskinan di Kabupaten Banyuwangi masih 
lemah. Pasalnya, data itu diambil hanya pada tingkat kabupaten. Data real tidak 
sampai menyasar hingga ke tingkat kecamatan. Proses pengambilannya pun hanya 
menggunakan sampel. Kendati demikian, data itu diyakini memiliki bukti valid. 

"Data kongkret hingga ke tingkat desa dan kecamatan tidak bisa didapat. Survai 
hanya pada tingkat kabupaten," kata Kasi Statistik Sosial Badan Pusat Statistik 
(BPS) Banyuwangi Benny Koeshariyadi. Proses pendataan keluarga miskin dilakukan 
dengan dua cara, Survai Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) dan  Pendataan Survai 
Ekonomi (PSE). Metode Susenas menggunakan acua standar kalori yang dikonsumsi 
sebuah keluarga, PSE menggunakan sistem kuisioner terdiri atas 14 pertanyaan. 
Data inilah yang digunakan acuan pemberian subsidi langsung tunai (BLT) 
beberapa waktu lalu. 

Angka kemiskinan dipengaruhi minimnya tamatan pendidikan formal. Data tahun 
2006 lalu, penduduk Banyuwangi masih didominasi lulusan SD/MI yang mencapai 
33,93%. Lulusan SMP/sederajat 17,09%, SMA  9,37%, SMK 5,15% dan Perguruan 
Tinggi hanya 1,56%. Sisanya, banyak yang belum tamat atau tidak pernah 
mengenyam pendidikan formal. 

Jumlah pengangguran juga tetap tinggi sekitar 9,93%, sedangkan yang bekerja 
90,07%. Klasifikasi bekerja ini tidak semuanya memiliki pekerjaan. Mereka yang 
masuk dalam kategori bekerja adalah yang sedang bekerja atau sementara tidak 
bekerja. Artinya, tidak semua pekerja melakukan pekerjaan. Begitu juga dengan 
pengangguran. Klasifikasi pengangguran meliputi, pencari kerja, mempersiapkan 
usaha, tidak mungkin bekerja dan memiliki pekerjaan tetapi belum bekerja. 

Keseluruhan data ini berpengaruh kuat terhadap angka kemiskinan. Grafik 
kemiskinan di Banyuwangi cenderung dinamis. Tahun 2004 mencapai 17,08%, tahun 
2005 naik menjadi 22,79% dan 2006 turun 16,06%. Angka ini adalah hasil survai 
metode Susenas. 

Jumlah penduduk miskin tersebar di 24 kecamatan. Klasifikasinya dibagi dalam 
tiga kategori, hampir miskin, miskin, dan sangat miskin. Total keseluruhan 
mencapai 157.347 KK. Rinciannya, hampir miskin 64.649 KK, miskin 65.451 KK dan 
sangat miskin 27.247 KK. Kecamatan Rogojampi paling banyak penduduk miskin yang 
mencapai 13.521 KK. Ironisnya lagi, Kecamatan Kota Banyuwangi juga tergolong 
tinggi dengan 7.798 KK. Daerah dengan penduduk miskin ini memiliki angka 
pengangguran yang tinggi.   

Kendati memiliki lahan pertanian yang luas, penduduk setempat hanya 
menggantungkan hidupnya sebagai buruh tani. Siasanya, memilih hengkang ke luar 
daerah seperti Bali dan Surabaya. Mereka yang sedikit nekat akan pergi menjadi 
TKI. * budi wiriyanto


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Check out the new improvements in Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/4It09A/fOaOAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke