Kesalahan saya kalau dinilai oleh orang lain mungkin tidak artinya, bahkan
hakim di dunia manapun juga akan menvonis bebas, karena tidak jelas
kesalahannya. Walaupun sudah bertahun-tahun saya menjalani siksaan hukuman
ini, tetapi hingga saat ini tidak jelas kapan masa berakhirnya hukuman ini.
Disamping itu saya dijaga oleh seorang algojo yang sangat sadis, sehingga
tidak bisa makan dan tidur dengan teratur. Belum lagi siksaan badan lainnya
berupa pentungan di kepala maupun punggung. Itulah siksaan yang dirasakan
oleh orang yang merasa bersalah. Mereka sebenarnya dihukum dan disiksa oleh
diri mereka sendiri

Tidak ada peraturan yang jelas, kapan orang bisa merasakan rasa bersalah.
Ribuan orang tidak pernah merasa bersalah, walaupun mereka telah membunuh
puluhan orang. Misalnya bagi seorang tentara di medan perang, membunuh itu
dianggap wajar, bahkan ia merasa bangga apabila dapat membunuh musuhnya.
Bagi Puspo Wardoyo pemilik Wong Solo, berpoligami itu merupakan satu
kebanggaan tersendiri bagi dia, sehingga ia mau menyediakan award untuk itu.
Begitu juga dengan Aa Gym ia tidak merasa bersalah melakukan poligami,
karena ia merasa telah melakukan kebajikan, minimum mengurangi jumlah janda
yang ada saat sekarang ini. 

Kebalikannya orang bisa saja merasa bersalah tanpa harus melakukan kesalahan
apapun juga, misalnya ayahnya jadi meninggal dunia lebih awal, karena ia
tidak punya uang untuk membayar biaya pengobatan. Hal lainnya, karena tidak
dapat membantu, tetangga yang sedang sakit atau butuh bantuan, sebab biaya
untuk hidup keluarga sendiri saja sudah pas-pasan. 

Yang menentukan besar kecilnya kesalahan seseorang adalah sang hakim. Ia
menentukan berdasarkan patokan hati nuraninya. Loe boleh korupsi sampai
ratusan milyar tapi bisa keluar bebas murni dan dianggap tidak bersalah.
Kebalikannya orang yang nyolong sepasang sendal jepit di Mesjid bisa dihukum
bertahun-tahun. 

Begitu juga dengan rasa bersalah di dalam diri kita, yang menentukan
bersalah atau tidaknya adalah diri kita sendiri. Dalam hal ini hati nurani
kita yang berfungsi sebagai sang hakim. Misalnya bagi seorang playboy, ia
tidak akan merasa bersalah melakukan perselingkuhan, tetapi bagi yang lain
boro-boro melakukan esek-esek, melakukan chatting saja sudah merasa
bersalah. Patokan yang menentukan besar kecilnya rasa bersalah itu
sebenarnya bukanlah orang lain melainkan diri kita sendiri !

Semakin besar kita mengasihi seseorang semakin tinggi pula patokan yang kita
tentukan. Misalnya seorang anak yang mengasihi orang tuanya, baru seminggu
tidak datang berkujung saja, sudah langsung timbul rasa bersalah.
Kebalikannya apabila saya tidak mengasihi orang tua saya, bertahun-tahun
tidak berhubungan sekalipun; ini tidak akan menimbulkan rasa bersalah.
Begitu juga seorang suami yang mengasihi istrinya, apabila ia pulang kerja,
baru terlambat satu jam saja sudah dapat menimbulkan rasa bersalah, tetapi
kebalikannya bagi mereka yang sudah hambar hubungannya, terlambat pulang
berminggu-minggu juga tidak jadi masalah. 

Rasa bersalah yang paling dalam dan paling besar pada umumnya terjadi
terhadap orang-orang yang kita kasihi, terhadap pasangan hidup, anak maupun
orang tua. Hal ini pada umumnya dapat menimbulkan rasa bersalah dan luka
batin yang dalam sekali. Rasa bersalah ini timbul, karena adanya rasa kasih.
Semakin besar kita mengasihi seseorang, semakin besar pula rasa bersalah
kita.

Kebanyakan pejabat di Indonesia tidak pernah merasa bersalah secuil apapun
juga, sebab mereka tidak mengasihi rakyatnya, mereka lebih mengasihi diri
mereka sendiri, sehingga melakukan korupsi ratusan milyar sekalipun tidak
akan pernah timbul rasa bersalah. 

Rasa bersalah itu timbul dan terfokuskan pada umumnya hanya kepada diri
sendiri saja dengan cara menyiksa dan menyalahkan diri sendiri. Cara untuk
melepaskan dan menyembuhkan rasa bersalah yang paling ampuh ialah mengusir
keluar rasa bersalah tersebut dari diri kita.

Pertama jangan menutup diri sendiri, ungkapkanlah rasa bersalah tersebut
kepada orang yang anda anggap layak dan anda percayai. Jangan fokuskan
kehidupan anda terhadap kesalahan itu melainkan bagaimana caranya agar anda
dapat memperbaiki kesalahan tersebut. Misalnya dengan melakukan aktifitas
kegiatan sosial atau membantu para korban yang mengalami hal yang serupa.
Cintailah diri anda sendiri, tidak ada gunanya anda menghukum diri sendiri,
dengan membenci, marah, frustasi melainkan berikanlah yang terbaik bagi diri
sendiri. Usahakanlah untuk menutup luka batin atau rasa bersalah ini dengan
memulai hidup dan pandangan baru.

Yang tercantum diatas itu adalah resepnya dari mang Ucup, tetapi dari segi
sudut pandangan agama, ini tidak benar. Kenapa ? Menurut Prof. Psikologi
June Tangney yang ditulis dalam bukunya „Shame and guilt“, ia berpendapat:
Anda dapat mengetahui, betapa berharga dan betapa dekatnya anda dimata
Allah; ini tergantung dari betapa besarnya rasa bersalah anda. Semakin besar
rasa bersalah anda; berarti semakin dekat pula anda berada dengan Allah ! 

Bagaimana menurut pendapat anda, apakah ini benar ?

Bacalah kelanjutannya oret-oretan mang Ucup mengenai rasa bersalah dari
sudut segi pandang agama !

Mang Ucup
Email: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: www.mangucup.net

-- 
Internal Virus Database is out-of-date.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.432 / Virus Database: 268.15.24/592 - Release Date: 18-12-2006
13:45
 




Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke