Koesnadi, Pencetus Kampus "Ndeso" UGM Korban Musibah Garuda

Jasadnya Dikenali karena Rajin Periksa Gigi
Ribuan sivitas akademika UGM kemarin melepas kepergian almarhum Prof Dr 
Koesnadi Hardjasoemantri ke tempat peristirahatan terakhir. Apa saja warisan 
mantan rektor UGM yang dekat dengan mahasiswa itu.

ERWAN W.- LAILA R., Jogja

SOSOK Koesnadi Hardjasoemantri sangat fenomenal bagi Universitas Gadjah Mada 
(UGM), Jogjakarta. Saat menjadi rektor periode 1986-1990, pejuang kemerdekaan 
yang semasa muda aktif di Tentara Pelajar itu menjadi sahabat para mahasiswa. 

Salah satu yang diingat adalah ketika dia mengantar para mahasiswa demonstrasi 
ke DPRD Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) dengan berjalan kaki. Demo yang 
dilakukan saat Orde Baru berkuasa itu tentu sesuatu yang sangat "berani."

Koesnadi juga dianggap rektor yang mengukuhkan UGM sebagai kampus rakyat atau 
kampus ndeso (desa). Lewat program KKN (Kuliah Kerja Nyata) bagi mahasiswa yang 
digagasnya, mahasiswa menjadi intelektual muda yang dikenalkan langsung kepada 
realitas sesungguhnya. 

Pria yang meninggal pada usia 81 tahun itu selalu mengingatkan agar napas 
"universitas ndeso" terus dipertahankan. Saat menjadi rektor, Koesnadi juga 
menyediakan lokasi khusus PKL di UGM.

Melihat catatan-catatan seperti itu, kepastian kepergian doktor lulusan 
Universitas Leiden, Belanda, itu sebagai salah seorang korban musibah pesawat 
Garuda mengagetkan banyak sejawatnya. Doa dan lantunan ayat suci terus 
dikumandangkan sejak Rabu malam, saat tim forensik Rumah Sakit dr Sardjito 
berhasil mengidentifikasi bahwa di antara 20 mayat korban kecelakaan Garuda 
dengan nomor penerbangan GA 200 adalah jasad Prof Koesnadi. 

Jasad almarhum tidak dipulangkan ke rumah duka di kompleks APMD, Jalan Ganesha, 
tapi disemayamkan di Balairung UGM. Di tempat itu, silih berganti para 
budayawan, pejabat, cendekiawan, pengusaha, dan akademisi memberikan 
penghormatan terakhir. Tampak di antaranya Gubernur DIJ Sri Sultan Hamengku 
Buwono X, Wakil Gubernur Paku Alam IX, Menteri Pekerjaan Umum Joko Kirmanto, 
Wali Kota Jogja Herry Zudianto, dan Bupati Sleman Ibnu Subiyanto. 

Beberapa teman diskusi almarhum, seperti Syafi'i Ma'arif, Damarjati Supadjar, 
dan Ichlasul Amal, juga sempat memberikan doa untuk almarhum. Direktur Utama 
Garuda Emirsyah Satar juga tidak lupa bertandang ke Balairung UGM.

Hingga pukul 11.00 WIB kemarin, istri almarhum Nina Koesnadi belum tampak di 
balairung. Menurut salah seorang cucu Koesnadi, Amelina Nurika, 15, sang nenek 
masih berada di rumah duka karena mengalami trauma kaki setelah kecelakaan yang 
dialami. 

Di mata putri pertama almarhum, Koesnadi adalah sosok ayah yang demokratis dan 
supel. Misalnya, dia tidak pernah melarang tanpa melewati proses diskusi yang 
memuaskan. "Sejak remaja, saya dilarang ayah untuk menyukai pesta. Tapi, dia 
selalu memberikan dasar pemikiran mengapa sampai ada larangan seperti itu," 
kata Indira Laksmi, 48, yang dijumpai Jawa Pos di balairung.

Dia juga orang tua yang mandiri. Meski usianya sudah lanjut, bapak dua anak dan 
empat cucu itu selalu bepergian seorang diri. Begitu juga ketika dia harus 
bolak-balik Jogja- Jakarta untuk mengajar di beberapa universitas ibu kota. 
Keahliannya pada hukum lingkungan belum banyak yang bisa menggantikan.

Kepergian Koesnadi ke Jakarta lalu adalah untuk mengajar. Di ibu kota, dia 
mengajar di Universitas Pancasila, Universitas Tarumanegara, dan Universitas 
Indonesia. "Ayah tipe orang yang akan sakit jika berdiam diri tanpa aktivitas," 
jelas perempuan yang berprofesi sebagai dokter gigi itu.

Tidak ada yang menyangka bahwa almarhum akan meninggal di atas alat 
transportasi yang paling dipercayainya. Menurut Indira, Koesnadi sangat percaya 
dengan nama besar Garuda. "Dia tidak pernah memakai pesawat lain jika bepergian 
ke luar kota," kata Indira, beberapa kali butiran air matanya menetes di pipi.

Sri Sultan Hamengku Buwono X juga terpukul dengan kepergian Koesnadi. Sebab, 
Rabu, pukul 08.00 (pada hari pesawat Garuda yang ditumpanginya terbakar), 
almarhum berjanji bertemu dengannya di kantor gubernur, kompleks Kepatihan.

"Kami mau membahas program pengobatan ginjal gratis. Beliau kan ketua Asosiasi 
Ginjal yang akan mengadakan pengobatan di Kepatihan," jelas Sultan.

Sebagai orang yang lebih muda daripada almarhum, Sultan mengakui Prof Koesnadi 
selalu memiliki ide brilian. Meski saat kuliah di Fakultas Hukum UGM tidak 
sempat menjadi mahasiswanya, Sultan mengenal almarhum sebagai sosok yang supel, 
berpikir maju, dan mau mendengarkan pendapat orang lain. 

"Beliau orang yang mampu berbicara dengan bahasa anak muda. Jarang orang tua 
yang memiliki kemampuan tersebut," ujar Sultan yang hadir ke Balairung bersama 
Gusti Kanjeng Ratu Hemas.

Rektor UGM Sofian Effendi merasa bersyukur karena masih sempat bertemu almarhum 
beberapa hari sebelum meninggal. Koesnadi mengunjungi Sofian di ruang rektorat 
UGM. "Beliau bercerita tentang obsesi mendirikan lembaga pendidikan tinggi di 
Gunungkidul. Ya, semacam universitaslah. Beliau ingin kualitas pendidikan di 
Gunungkidul maju seperti di Jogja," katanya. 

Kepada para sahabatanya, almarhum selalu mampu membawa pada sebuah pembicaraan 
yang serius namun santai. Tidak hanya melulu soal teori politik atau hukum, 
tetapi juga gaya hidup. 

Ada satu rahasia hidup almarhum yang diresepkan kepada sahabatnya, Syafii 
Maarif, mantan ketua umum PP Muhammadiyah. Namun, hingga sekarang, Syafii 
mengaku belum bisa melaksanakan amanat almarhum itu.

Menurut dia, resep almarhum agar tetap energik di usia lanjut adalah rutin 
mengonsumsi kencur sebesar ibu jari. "Kayaknya, mulai detik ini saya akan 
melaksanakannya," katanya lantas tersenyum.

Di mata mahasiswanya, almarhum adalah sosok ayah, bukan sekadar rektor atau 
dosen pembimbing skripsi. Pengusaha Indro Kimpling Suseno ingat betul, 
bagaimana almarhum mengantarkan mahasiswanya berunjuk rasa ke kantor DPRD 
provinsi pada 1980-an. 

Indro Kimpling juga ingat bagaimana rumah dinas rektor sering dipinjam 
mahasiswa untuk mengadakan rapat. Selain itu, dia sangat terbuka dengan ide 
mahasiswanya. 

"Prof Koesnadi juga tidak malu mengantarkan nasi dan makanan kecil ke 
Gelanggang Mahasiswa. Ini yang membuat hubungan kami bukan lagi dosen dengan 
mahasiswa, tetapi anak dengan ayahnya," tutur Kimpling yang menjadi mahasiswa 
almarhum sejak 1981.

Kepergian almarhum ke peristirahatan terakhir di pemakaman keluarga UGM di 
Sawit Sari kemarin dilepas dengan upacara militer. Sebab, almarhum adalah 
penerima Bintang Gerilya pada 1958.

Mencari jasad almarhum di antara 20 korban yang hangus terbakar perlu proses 
identifikasi berulang-ulang. Termasuk, meminta bantuan keluarga. "Keluarga 
membawa foto panoramik gigi ayah yang dibuat pada 18 November 2006 untuk 
dicocokkan dengan foto panoramik pada 6 Maret 2007. Kami beruntung punya ayah 
yang selalu disiplin memeriksakan giginya," ujar Indira.

Pernyataan Indira dibenarkan ahli gigi yang juga anggota tim forensik Prof 
Sudibyo. Proses identifikasi Prof Koesnadi dibantu dengan foto panoramik gigi 
yang dibawa keluarga. "Jika tidak ada foto tersebut, akan semakin sulit 
mengidentifikasi karena kondisi jenazah yang hangus terbakar. Ini sekaligus 
peringatan bagi masyarakat agar rajin memeriksakan giginya," jelas Sudibyo.

Rekam medik gigi juga membantu pencarian jenazah Dr Masykur Wiratno, wakil 
dekan II Fakultas Ekonomi UGM. Oleh tim dokter, keluarga diminta untuk mencari 
rekam medik gigi almarhum dari dokter giginya. "Ternyata, itu berhasil. Jenazah 
pun ditemukan. Korban memang memiliki alat pemacu jantung yang terpasang di 
organ vitalnya. Namun, itu sudah hangus terbakar sehingga tidak bisa membantu," 
tambah Sudibyo. (tulisan ini dilengkapi laporan Azam SA)

Sumber: Jawapos - Jumat, 09 Mar 2007

++++++++++
 
Untuk berita aktual seputar pemberantasan korupsi dan tata kelola
pemerintahan yang baik (good governance) klik
http://www.transparansi.or.id/?pilih=berita
 
Untuk Indonesia yang lebih baik, klik
http://www.transparansi.or.id/ 

--------
 
Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI)
The Indonesian Society for Transparency
Jl. Polombangkeng No. 11,
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12110 
Telp: (62-21) 727-83670, 727-83650 
Fax: (62-21) 722-1658 
http://www.transparansi.or.id 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Something is new at Yahoo! Groups.  Check out the enhanced email design.
http://us.click.yahoo.com/kOt0.A/gOaOAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke