Orang Besar di Mana Nilainya
Orang besar, meninggalkan tekanan kenangan pada banyak orang. Orang biasa pergi diiring air mata pendek, meski pedihnya bisa tak terkira. Kepergian ilmuwan dan sosok humanis Prof Dr H Koesnadi Hardjasumantri SH ML,--lahir 9 Desember 1926, di Manonjaya Tasikmalaya, Jawa Barat--, ditambah tanda-tanda yang indah: puluhan burung bangau berputar-putar di atas gedung Balairung, Gedung Pusat UGM, tempat Koesnadi disemayamkan, Kamis (8/3). Jam satu siang, kemarin, almarhum dimakamkan di Kompleks Makam Keluarga UGM, di Sawitsari, Sleman, Yogyakarta. Inilah potret kenangan, dari korban kecelakaan pesawat Garuda GA-200, Rabu (7/3) pukul 06.55, di Landasan Pacu Bandar Udara Adisutjipto Yogyakarta. Dari 140 penumpang dan awak pesawat, 21 penumpangnya tewas. Di tempat ia dibaringkan itu, berkali-kali tiap tahun ia melepas mahasiswa UGM, untuk belajar hidup di berbagai pelosok negeri ini. Namun program Kuliah Kerja Nyata (KKN), yang menular ke semua perguruan tinggi, cikal-bakalnya adalah rintisan pemuda Koesnadi di awal tahun 1950-an, ketika ia mengerahkan tenaga-tenaga sukarelawan mahasiswa untuk memajukan pendidikan di daerah-daerah sebagai guru dan tenaga sosial lain. Sebaliknya, anak daerah dapat kesempatankhusus untuk belajar di UGM. Lahirnya novel (dan film) Cintaku di Kampus Biru karya Ashadi Siregar, niscaya karena "sihir" program KKN Koesnadi yang ketika itu memang belum jadi apa-apa, tapi "semangat" program KKN terus mempengaruhi mahasiswa. "Dia itu mahasiswa tahun 1950-an, tapi lulus Fakultas Hukum UGM baru 1964, bareng saya. Banyak sekali aktivitasnya, sehingga kuliah diabaikan," kata P Swantoro, sejarawan adik kelas Koesnadi yang sangat hormat pada kakak kelasnya itu. "Terima kasih sudah datang ke sini, terima kasih..." ujar Ny Nina Soetarinah (70), istri almarhum menyambut pelayat dari kursi rodanya. Almarhum memiliki dua anak putri, Indira Laksmi (48), dan Ira Koesnadi (40), serta empat cucu. Sejak jenazahnya teridentifikasi tim forensik RSU Dr Sardjito, dan kepolisian, Rabu pukul 23.30, jenazah itu disemayamkan di Balairung. Banyak sekali dan macam-macam jenis pengirim krans bunga dukacita dijejerkan di halaman Balairung. sejumlah pejabat dan alumni lama kemarin muncul, karena kangen pada wacana dan sepak terjang Koesnadi yang dikenal "selalu merangkul, mengajak, dan menciptakan suasana kondusif dengan semua mitranya". "Saudara-saudara kemitraan itu kunci, bukan lawan. Sampaikan prinsip kita secara tegas, tetapi caranya dengan lunak dan kemitraan," kata Pak Koes kalau sedang "mendidik" orang. Hasilnya, lebih banyak ia berteman daripada bermusuh. Dalam sambutan penghormatan dan pelepasan jenazah Rektor UGM Prof Dr Sofyan Effendi mengemukakan, pesan Prof Koesnadi sempat mengingatkan dirinya agar menjadikan UGM-- begitu pula universitas lain--, untuk tak semata-mata menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saja. Perguruan tinggi juga harus jadi pusat pengembangan budaya bangsa. uk melaksanakannya. Indira, putri almarhum mengaku ayahnya adalah sosok orangtua penuh perhatian, bijaksana, disiplin, dan demokratis. "Tidak pernah memaksakan anak-anak harus jadi apa kelak. Namun beliau selalu membimbing, selalu menanamkan nilai kejujuran, kerja keras dan menghargai pendapat orang lain." Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr Syafii Ma arif mengatakan, kepergian Koesnadi adalah kehilangan besar bagi bangsa. Indonesia kehilangan tokoh humanis berdedikasi tinggi pada kemanusiaan, lingkungan, dan kebudayan, serta kebangsaan. "Makin sedikitlah bangsa ini memiliki tokoh, seperti Pak Koes. Sepertinya rahim bangsa ini telah mandul, sehingga tidak lagi mampu melahirkan tokoh-tokoh besar seperti beliau." Dirjen Sejarah dan Purbakala, Depbudpar, Hari Untoro Dradjat sangat berterima kasih pada almarhum, Saat menjabat sebagai Atase Kebudayaan di Belanda, Koesnadi yang berhasil bernegosiasi minta Pemerintah Belanda mengembalikan teks kuna yang diambil Belanda saat masa kolonial. "Naskah Nagarakrtagama, dan patung Pradnyaparamitaitu, diserahkan ke ke Indonesia karena jasa Pak Koes," kata Hari Untoro. Koesnadi pula yang menanamkan UU untuk Cagar Budaya. Sebelum UU Cagar Budaya ada, masalah cagar budaya dipayungi (dibahas) oleh UU Nomor 4/1982 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. "Di butir F UU itu, cagar budaya itu dibahas. Dari sanalah, lalu dibuat UU Cagar Budaya tahun 1992. Bahkan beliau yang punya inisiatif, dan mebikin sendiri draft UU tentang Kebudayaan. Kepergian Ketua Akademi Jakarta, Koesnadi Hardjasumantri bagi penggiat dan pemikir kebudayaan Ignas Kleden, membuat sedih karena rekan kerjanya di Akademi Jakarta itu tokoh panutan di mana-mana. "Sedih sekali bahwa suatu kehidupan yang demikian penuh dan aktif berakhir dengan situasi di mana dia tak bisa menolong dirinya dan menolong orang lain, sebagaimana selalu dilakukannya sepanjang hayatnya. Semoga dia beristiraat dalam damai," kata Ignas Kleden. Ungkapan duka Ignas kemudian mengalir lewat pesan singkat (SMS) kepada koleganya. "Sebuah ungkapan duka yang rasanya mewakili kita semua," kata sastrawan Putu Wijaya. "Dunia kepramukaan Indonesia sangat kehilangan salah satu tokoh besarnya," kata Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka, Azrul Azwar. UGM tidak hanya kehilangan Koesnadi karena Pembantu Dekan I Fakultas Ekonomi Dr Masykur Wiratno juga menjadi salah satu korban terbakarnya pesawat. Masykur berhasil diidentifikasi tim forensik RS Sardjito, Kamis sore kemarin, dan akan dimakamkan Jumat ini. Pemakaman Lain Suasana duka merundung pemakaman korban meninggal kecelakaan tunggal pesawat Garuda yang lain. Poediono (77) terlihat tabah ketika mengiringi peti jenazah istrinya, Oemaryati (73), menuju peristirahatan terakhir di Pemakaman Terban, Yogyakarta, Kamis pagi kemarin. Ia juga mengikuti prosesi mengelilingi peti jenasah bersama putera-puterinya. Rumah Poediono di Jalan C Simanjuntak 48 itu kini memang tidak ditinggali karena Oemaryati menetap di bilangan Pasar Minggu, Jakarta, bersama sang suami yang dulunya Direktur Intelijen di Kejaksaan Agung. Tiga anaknya semua di Jakarta. Rumah di Yogyakarta itu dipakainya untuk kos puteri. "Dua minggu sekali ibu ke Yogya menengok kos-kosan. Menjelang meninggal ibu sempat berujar bahwa ia ingin ada salah satu cucunya untuk menggantikan tugas wira-wiri itu," ujar Gunawan, menantu Ibu Oemaryati. Di mata Gunawan, Oemaryati adalah ibu rumah tangga yang mandiri. Ia kerap mengerjakan tugas seorang laki-laki, mulai dari memasang keran air hingga memanggil tukang untuk membetulkan rumah. Karakter untuk mandiri dibawanya karena ia anak tunggal. Tanggal 19 Februari lalu, yang juga hari ulang tahun Oemaryati, itulah terakhir keluarga besarnya bertemu. "Saya tidak punya firasat. Tapi istri saya Emmy-anak sulung Oemaryati-ingin membeli lukisan kaligrafi bertuliskan Astagfirulloh. Lukisan itu sudah saya beli minggu kemarin," ujar Gunawan. Tak jauh beda seperti Gunawan, Rinta Fristiana (38) istri Totok Yulianto (41), korban meninggal yang lain, juga tampak tertekan. Di rumah ibunya di Jalan Deresan III, Condongcatur, Depok, Sleman, Rinta tampak tak bisa berkata-kata saat putri bungsu Totok, Balqis Fara Nurita (8), menangis keras karena kehilangan ayah yang sangat dicintainya. "Sebelum berangkat ke Yogya, Balqis sempat minta dipeluk oleh Totok, sepertinya kok erat sekali. Apalagi, beberapa hari sebelumnya, Balqis juga sempat membuat sebuah puisi berjudul Ayah saat di sekolah. Puisi itu dibacakannya malu-malu saat makan malam di depan Mas Totok," kenang Rinta. Namun begitu, Rinta tak mau patah asa. Baginya, tragedi ini tak lebih dari ketentuan Sang Khalik yang sudah seharusnya ia terima dengan ikhlas. Rinta pun mengenang Totok sebagai anugerah terbesar dalam kehidupannya. "Semua yang terbaik ada pada dia," ujar Rinta. Sebagai ahli hukum lingkungan, kemudian terbukti sumbangan pemikian almarhum ternyata amat jelas. Tetapi sebagai manusia, Koesnadi tidak pernah melihat orang itu siapa. Beliau selalu ingin menghargai, dan selalu ingin melihat orang lain dalam keadaan baik, dan sehat. (AB2/PRA/RWN//KEN/HRD) Sumber: Kompas - Jumat, 09 Maret 2007 ++++++++++ Untuk berita aktual seputar pemberantasan korupsi dan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) klik http://www.transparansi.or.id/?pilih=berita Untuk Indonesia yang lebih baik, klik http://www.transparansi.or.id/ -------- Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI) The Indonesian Society for Transparency Jl. Polombangkeng No. 11, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12110 Telp: (62-21) 727-83670, 727-83650 Fax: (62-21) 722-1658 http://www.transparansi.or.id [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Groups gets a make over. See the new email design. http://us.click.yahoo.com/hOt0.A/lOaOAA/yQLSAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
