Dibawah Bendera Revolusi oleh Ir. Sukarno - djilid kedua - 
  Panitya Penerbit DIBAWAH BENDERA REVOLUSI 1964
   
  "PENEMUAN KEMBALI REVOLUSI KITA (THE REDISCOVERY OF OUR REVOLUTION)" - Hal. 
375 - 383
   
  Tahun ini saja namakan "Tahun penemuan-kembali Revolusi", the year of the 
Rediscovery of the Revolution.
   
  Ja, dengan kembali kita kepada Undang-Undang-Dasar '45, kita telah "menemukan 
kembali Revolusi". Kita, alhamdullilah, telah "Rediscovery of the Revolution". 
Kita merasa diri kita sekarang ini sebagai dirinja seorang pengumbara, jang 
setelah sepuluh tahun lamanja keblinger puter-giling mengumbara dimana-mana 
untuk mentjari rumahnja diluar negeri, achirnja pulang kembali kerumah-asalnja, 
- pulang kembali kerumahnja sendiri, laksana kerbau pulang kekandangnja.
   
  Saja tidak tahu apakah saudara pernah membatja Dante. Dante Alighieri, 
penulis Italia hampir tudjuh abad jang lalu. Didalam karjanja jang bernama 
"Divina Commedia", ia melukiskan perdjalanannja dari Neraka, melalui tempat 
Pensutjian, kepada Sorga: dari Inferno, melalui Purgatorio, ke Paradiso. Ia 
menderita segala matjam penderitaan didalam Neraka (Inferno), kemudian melalui 
dan mengalami segala matjam pentjutjian ditempat Pensutjian (Purgatorio), dan 
achirnja sesudah sutji, ia mentjapai Sorga (Paradiso).
   
  Saja merasa seperti Dante dalam Divina Commedia itu. Saja merasa, bahwa 
Revolusi kita inipun menderita siksaan segala matjam sjaitannja Neraka, segala 
matjam penderitaannya Inferno, dan kemudian, dengan kembali kita kepada 
Undang-Undang-Dasar 1945, kini sedang mengalami pensutjian, agar nanti kita 
bisa memasuki Sorga. Kini kita sedang dalam Purgatorio, sedang dalam ditjutji 
dari segala kekotoran, sedang dalam louteringsproces dalam segala hal, agar 
nanti djika kita sudah tertjutji, sudah "gelouterd", kita dapat memasuki 
kebahagiaan Paradisonja masjarakat adil dan makmur.
   
  Sjaitan liberalisme, sjaitan federalisme, sjaitan individualisme, sjaitan 
sukuisme, sjaitan golonganisme, sjaitan penjeléwéngan-penjeléwéngan, sjaitan 
kepetualangan, sjaitan dualisme empat matjam, sjaitan korupsi, sjaitan 
garuk-kekajaan hantam-kromo, sjaitan multypartai system, sjaitan pemberontakan, 
- segala matjam sjaitan telah menerkam kita didalam inferno itu, dan sekarang 
kita mengalami purgatorio disegala lapangan. Heroriéntasi, herordening, 
retooling, reshaping, remaking, - itu semuanja adalah purgatorio jang perlu, 
agar supaja kita bisa melandjutkan perdjalanan kita diatas relnja Revolusi, 
menudju kepada tudjuan Revolusi.
   
  Biar kaum imperialis diluar negeri gégér! Mereka menuduh kita, bahwa 
Undang-Undang-Dasar '45 adalah "bikinan Djepang", Mereka menuduh pula, bahwa 
kekuasaan Presidan dalam rangka Undang-Undang-Dasar '45 sekarang ini 
dilandaskan kepada kediktatoran militer. 
   
  Sekali lagi biar mereka gégér! Undang-Undang-Dasar '45 bukan "bikinan 
Djepang", Undang-Undang-Dasar '45 bukan "Japanese made". Undang-Undang-Dasar 
'45 adalah asli tjerminan kepribadian (identity) bangsa Indonesia, jang sedjak 
zaman purbakala-mula mendasarkan sistim pemerintahannja kepada musjawarat dan 
mufakat dengan pimpinan satu kekuasaan-sentral ditangan seorang "sesepuh", - 
seorang tetua - , jang tidak mendiktatori, tetapi "memimpin", "mengajomi". 
Demokrasi Indonesia sedjak zaman purbakala-mula adalah Demokrasi Terpimpin, dan 
ini adalah karakteristik bagi semua demokrasi-demokrasi asli dibenua Asia.
   
  Ja, benar, tanpa tédéng aling-aling kita memberi talak-tiga kepada demokrasi 
Barat jang free-fight-liberalistis itu, tetapi sebaliknjapun kita dari 
dulu-mula menolak mentah-mentah kepada kediktatoran. Demokrasi terpimpin adalah 
demokrasi kekeluargaan, tanpa anarchinja liberalisme, tanpa autokrasinja 
diktatur. Siapa misalnja hendak mengatakan, bahwa Sun Yat Sen adalah diktator, 
ketjuali barangkali orang-orang imperialis sematjam jang menjerang kita itu? 
Dalam salah satu pidatonja , Sun Yat Sen pernah berkata: "the greatest obstacle 
to democracy came from those who advocated unrestricted political democracy, 
but also from those two did no longer dare to advocate democracy". ("Rintangan 
jang paling besar bagi demokrasi datang dari mereka, jang mengandjurkan 
demokrasi politik tanpa batas, tetapi djuga dari mereka jang tidak berani lagi 
mengandjurkan demokrasi") 
   
  Dan "Japanese made"?  Amboi, tidakkah pernah mereka membatja pidato saja 
tentang "Lahirnja Pantja Sila" pada tanggal 1 Djuni 1945, tatkala Djepang masih 
berkuasa disini, dimana saja mempergunakan faham-faham pemimpin-pemimpin jang 
demokratis, dan tidak mengeluarkan sepatah-kata-bengkok-pun mengenai sistim 
Djepang? 
   
  Kaum imperialis itu memang ...imperialis! Saudara-saudara ingat perkataan 
saja tadi itu, bahwa Undang-Undang-Dasar '45 memberi landasan strukturil jang 
kuat, jaitu Pemerintahan jang stabil. Dalam Undang-Undang-Dasar '45 parlemen 
tidak dapat mendjatuhkan Pemerintah; jang dapat mendjatuhkannja ialah 
Madjelis-Permusjarwaratan Rakjat. Itulah sebabnja saja berkata bahwa 
Undang-Undang-Dasar '45 mendjamin Pemerintahan jang stabil. Tetapi apa jang 
kaum imperialis kata? Djangan saudara-saudara tanja, apa jang oleh kaum 
imperialis dianggap sebagai satu pemerintahan jang stabil. Pernah mereka 
memudji satu pemerintahan disalah satu negara di Asia ini dengan mengatakan 
bahwa pemerintahan disitu itu adalah pemerintahan jang stabil, karena ... ia 
mendjamin kepentingan modal asing! ("A stable government is a government which 
guarantees a normal interest for foreign capital"). 
   
  Apa jang kita namakan Pemerintah stabil? Pemerintah jang stabil menurut faham 
kita ialah Pemerintah jang berwibawa, jang dapat bekerdja tenang-teguh 
bertahun-tahun, tanpa setiap hari rebo wagé atau setiap hari sabtu Paing 
didjatuhkan oleh opposisi, Pemerintah jang dapat bekerdja tenang-teguh, tidak 
untuk mendjamin kepentingan modal asing, tetapi untuk mendjamin sandang-pangan 
bagi Rakjat! 
   
  Ja, biar kaum imperialis gégér! Kita berdjalan terus! Biar andjing 
menggongong, kafilah kita tetap berlalu!
   
  Kita tetap melandjutkan pelaksanaan Demokrasi Terpimpin sebagai "tool"untuk 
memberi pimpinan dalam tingkatan Revolusi kita sekarang ini, agar supaja 
Revolusi kita ini nanti dengan lantjar dapat memasuki fasenja sosial-ekonomis, 
jaitu pembinaan masjarakat jang adil dan makmur. Kita tetap mendjalankan 
retooling disegala lapangan, sambil membangunkan pula tool-tool baru jang 
perlu. Kita membentuk Kabinet Kerdja, satu kabinet stijl baru, dengan 
programnja jang termasjur, jaitu sandang-pangan, keamanan, melandjutkan 
perdjoangan anti-imperialis. Program ini amat sederhana, amat tidak 
muluk-muluk, tetapi amat realistis, dan amat penting dan amat fundamentil untuk 
kelandjutan Revolusi. Kalau Kalau kita hendak bekerdja untuk merealisasi 
masjarakat adil dan makmur, maka tiga hal jang tertjantum dalam program kebinet 
itu harus kita realisasikan lebih dahulu. Tá dapat kita sebagai bangsa membina 
suatu masjarakat baru jang lengkap modern dan adil, kalau Rakjat tidak 
tertjukupi minimal
 iapunja sandang dan iapunja pangan. Tá dapat, tá mungkin, masjarakat baru 
sematjam itu tersusun, kalau Rakjat jang harus menjusunnja itu tá mempunjai 
kain untuk menutupi tubuhnja, kalau ia tá dapat bernaung sekadarnja daripada 
hudjan dan teriknja matahari, kalau perutnja kerontjongan karena tiada beras 
untuk mengisinja. Tá dapat pembangunan semesta untuk masjarakat adil dan makmur 
berdjalan baik, kalau keamanan selalu terganggu. Tá dapat kita mengambil 
manfaát seratus persén daripada kekajaan bumi dan tanah air kita sendiri, kalau 
imperialisme ekonomi dan imperialisme politik masih bertjokol ditubuh kita, 
laksana lintah jang menghisap darah, atau kemladean jang membinasakan puhun. 
Program kabinet ini amat sederhana, tetapi sungguh ia amat-amat fundamentil 
sekali! 
   
  Baik saja tandaskan disini, bahwa 3 fasal program Kabinet itu memang belum 
dan bukan masjarakat jang adil dan makmur. Masjarakat yang adil dan makmur 
bukan hanja berisi tjukup sandang-pangan sadja, apalagi kalau sandang-pangan 
itu sekadar bersifat minimum. Masjarakat adil dan makmur adalah masjarakat jang 
teknis tinggi, lengkap modern sampai kepuntjak-puntjak gunung, lengkap modern 
materiil dan kulturil, dengan pengetjapan oleh seluruh Rakjat secara adil. 
   
  Program Kabinet tidak menjanggupkan masjarakat jang demikian itu.
   
  En toh, - djangan saudara-saudara mengira bahwa Kabinet Kerdja ini, karena 
programnja terdiri hanja dari sandang-pangan, keamanan, dan perdjoangan 
anti-imperialisme tok, dus setjara sempit hanja mengerdjakan tiga hal itu 
sadja, dan tidak mengerdjakan hal-hal lain jang bersangkutan dengan tjita-tjita 
Revolusi. Ambilah misalnja sandang-pangan. Apakah dus Kabinet Kerdja hanja 
bekerdja mengichtiarkan supaja Rakjat dimana-mana bisa membeli 
beras-garam-gula-kopi-minjak-ikan asin sadja, plus sekian meter kain buat 
setiap orang setiap tahun, - dan tidak memfikirkan hal-hal ekonomi jang lain? 
Kita tidak sempit itu! Program adalah penondjolan ichtiar jang paling mendesak, 
penondjolan ichtiar jang paling urgent. Disamping program itu, adalah banjak 
lagi hal-hal jang harus dikerdjakan; memang persoalan-persoalan kita sebagai 
bangsa jang berrevolusi adalah persoalan-persoalan jang djalin-mendjalin, 
persoalan-persoalan jang amat kompleks, persoalan-persoalan jang tá dapat 
dipisahkan
 satu daripada jang lain. Kita hanja dapat menondjolkan sesuatu persoalan 
daripada persoalan-persoalan jang lain, sebagai satu persoalan jang paling 
urgent, tetapi kita tidak dapat melepaskannja dari persoalan-persoalan jang 
lain.
   
  Misalnja persoalan ekonomi kita bukan hanja persoalan "sandang-pangan" sadja. 
Persoalan ekonomi kita adalah persoalan jang lebih luas daripada itu. Kini 
benar-benar sudah tibalah waktunja untuk mulai mempraktekkan beberapa sembojan 
ekonomi. Misalnja sembojan "merombak ekonomi kolonial mendjadi 
ekonomi-nasional", sekarang harus dinaikkan harus dinaikkan kepada tingkat jang 
lebih tinggi. Sembojan "merombak ekonomi kolonial mendjadi ekonomi-nasional" 
harus kita naikkan tingkatan dari sembojan jang diserukan, mendjadi sembojan 
jang mulai dipraktekkan! Pengambil-alih perusahaan-perusahaan Belanda dalam 
rangka perdjoangan pembebasan Irian Barat adalah salah satu langkah jang amat 
penting sekali. Tetapi belum semua modal Belanda diambil-alih, belum semua 
perusahaan Belana dinasionalisir. Padahal sikap Belanda dalam hal Irian Barat 
tetap membandel!  Saja lantunkan sinjalemen disini, bahwa djika Belanda dalam 
soal Irian Barat tetap membandel, djika mereka dalam persoalan claim
 nasional kita tetap berkepala batu, maka semua modal Belanda, termasuk jang 
berada dalam perusahaan-perusahaan-tjampuran, akan habis-tammat riwajatnja 
samasekali dibumi Indonesia!  
   
  Dan bergandengan dengan ini, kepada alap-alap kapitalis bangsa sendiripun 
saja lantunkan penegasan bahwa sesuai dengan fasal 33 Undang-Undang-Dasar '45 
ajat 2 dan ajat 3 , tjabang-tjabang produksi jang penting bagi Negara dan jang 
menguasai hadjat-hidup orang banjak, akan dikuasai oleh Negara, dan tidak akan 
dipartekelirkan! 
   
  Dan terhadap kepada modal asing bukan Belanda saja tegaskan disini bahwa 
mereka harus mentaáti ketententuan-ketentuan Republik. Djangan mereka 
mendjalankan peranan jang negatif. Djangan mereka mentjoba-tjoba memperdajakan 
Republik. Djangan mereka membantu gelap-gelapan kepada kontra-revolusioner, 
djangan mereka membantu sabotase-sabotase ekonomi. Meski kita berdiri diatas 
prinsip, bahwa untuk pembangunan kita memberikan prioriteit kepada modal 
sendiri, dan bahwa djika toh diperlukan modal dari luar, kita mengutamakan 
kredit daripada penanaman modal asing, - dan prinsip ini saja tandaskan lagi 
disini - , meski demikian, kita toh tjukup toleran terhadap kepada modal asing 
bukan Belanda jang sudah berada disini dan jang mungkin akan ada disini. Tetapi 
sjarat mutlak bagi bolehnja modal asing itu bekerdja disini ialah bahwa mereka 
mentaati semua ketentuan-ketentuan Republik. Djika mereka tidak mentaati 
ketentuan-ketentuan itu, djika mereka mendjalankan peranan jang negatif,
 djika mereka misalnja diam-diam mendjalan sabotase ekonomi atau setjara 
gelap-gelapan memberi bantuan kepada kontra-revolusioner, maka djanganlah 
kaget, djika nanti Rakjat Indonesia memperlakukan mereka sama dengan modal jang 
asalnja dari negeri Belanda itu.
   
  Saudara-saudara melihat, bahwa dus tidak benar, kalau dikira bahwa kita hanja 
mengichtiarkan "sandang-pangan" sadja. Demikian pula tidak benar, kalau orang 
mengira , bahwa karena fasal 3 program kabinet berbunji "melandjutkan 
perdjuangan menentang imperialisme ekonomi dan imperialisme politik", maka kita 
tidak akan mengambil pusing hal imperialisme-imperialisme lain, misalnja 
imperialisme kebudajaan. Saja telah memberi instruksi kepada menteri-muda 
Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan untuk mengambil tindakan-tindakan 
dibidang kebudajaan ini, untuk melindungi kebudajaan nasional dan mendjamin 
berkembangnja kebudajaan nasional. 
   
  Dan engkau, hai pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi, engkau jang tentunja anti 
imperialis ekonomi dan menentang imperialisme ekonomi, engkau jang menentang 
imperialisme politik, - kenapa dikalangan engkau banjak jang tidak menentang 
imperialisme kebudajaan?  Kenapa dikalangan engkau banjak jang masih 
rock-'n-roll-rock-'n-rollan, dansi-dansian á la cha-cha-cha, musik-musikan á la 
ngak-ngik-ngék gila-gilaan, dan jang lain-lain sebagainja lagi? Kenapa 
dikalangan engkau banyak jang gemar membatja tulisan0tulisan dari luaran, jang 
njata itu adalah imperialisme kebudayaan? Pemerintah akan melindungi kebudajaan 
Nasional, dan akan membantu berkembangnja kebudajaan Nasional, tetapi engkau 
pemuda-pemudipun harus aktif ikut menentang imperialisme kebebudajaan, dan 
melindungi serta memperkembangkan kebudajaan Nasional!
   
  Chusus mengenai perdjoangan Irian Barat, saja menjatakan disini bahwa benar 
Pemerintah tidak akan memasukan soal Irian Barat itu ke P.B.B. tahun ini. 
Tetapi itu tidak berarti, bahwa Pemerintah kendor dalam perdjoangannja mengenai 
Irian Barat. Tidak! Samasekali tidak! Sebaliknja! Pemerintah memperhebat 
perdjoangan Irian Barat itu dilapangan lain daripada P.B.B. Pemerintah 
memperhebat perdjoangannja itu dilapangan ekonomi. Pemerintah mengakui bahwa 
perdjoangan Irian Barat harus dilakukan disegala lapangan, ja didalam negeri 
ja, diluar negeri, tetapi buat tahun ini Pemerintah mengkonsentrir 
perdjoangannja melawan Belanda itu dilapangan Ekonomi. Ingatlah kepada 
pemindahan pasar ke Bremen, ingatlah kepada keputusan kita untuk tidak mengkui 
ada hak eigendom Belanda lagi diatas sesuatu bidang tanah Indonesia, ingat 
kepada utjapan saja tadi, bahwa djika Belanda tetap membandel dalam persoalan 
Irian Barat, maka akan habis-tammatlah samasekali riwajat semua modal Belanda di
 Indonesia. Tjoba lihat nanti, fihak Belanda dan kontjo-kontjonja imperialis 
tentu akan gégér-marah oleh keputusan-keputusan kita ini, dan kegégéran mereka 
itupun harus dan akan kita lajani didunia internasional. Pemerintah berpendapat 
lebih baik mengkonsentrir enersinja diluar negeri pada pelajanan kegégéran 
inilah, dan tidak memetjah-metjah enersinja itu antara pelajanan kegégéran  ini 
+ perdjoangan di P.B.B. Dan bagi P.B.B. sendiripun, sikap kita sekarang ini 
(untuk tidak memasukkan Irian Barat dalam atjara P.B.B.), harus diberi arti 
jang langsung mengenai P.B.B. Saja harap P.B.B. dengan sikap kita sekarang ini 
mengerti, bagaimana perasaan kita terhadap kepada P.B.B.! Mengenai Front 
Nasional Pembebasan Irian Barat, dengan terus-terang saja katakan disini, bahwa 
saja kurang puas dengan aksinja F.N.P.I.B. itu. Djanganlah F.N.P.I.B itu makin 
lama makin mendjadi badan jang djustru paling sedikit minatnja mengenai Irian 
Barat! Djanganlah ia mengurusi hal-hal lain jang tidak
 langsung mengenai perdjoangan Irian Barat, misalnja perusahaan perkapalan dan 
pelajaran, dan totalisator! F.N.P.I.B. harus mengkonsentrir didinja pada 
menggelorakan massa untuk perdjoangan Irian Barat!  
   
  Mengenai fasal 2 daripada program, jaitu Keamanan, saja bisa memberitahu 
kepada saudara-saudara sebagai berikut: 
   
  Dalam melaksanakan program keamanan negara dan keamanan Rakjat harus 
diinsjafi, bahwa masih luas dan berat tugas kita. Keamanan Negara masih njata 
menghadapi gerombolan-gerombolan pemberontakan D.I, P.R.R.I./Permesta dan 
sisa-sisa R.M.S. dan K.R.J.T. dari dalam, dengan aksi-aksi subversif asing dari 
dalam dan dari luar.
   
  Beleid keamanan Pemerintah tetap tegas. Pemerintah meneruskan dan memperhebat 
operasi-operasi keamanan dengan pengerahan kekuatan alat-alat negara dan rakjat 
setjara maximal. Pemerintah tidak mau mengadakan perundingan atau kompromis 
dengan pemberontak. Disamping itu, setiap usaha dan djalan lain jang membantu 
opresi-operasi tersebut, untuk mempertjepat hasil-hasil, dan mengurangi 
korban-korban, sudah tentu dipergunakan. Pemberontak jang insjaf-kembali dan 
menjerah tanpa sjarat, dan ichlas ingin kembali kepangkuan Republik Indonesia 
'45 mendapat perlakuakn jang wadjar.
   
  Sebagai hasil-hasil penghebatan operasi-operasi belakangan ini, dan karena 
semangat kembali ke Undang-Undang-Dasar '45, maka djumlah mereka jang 
menghentikan perlawanan di Atjeh dan Sulawesi terus bertambah. 
   
  Intensivering operasi-operasi keamanan dilaksanakan dalam batas kemampuan 
kita yang maximal. Penambahan personil, materiil dan kesatuan-kesatuan daripada 
ke 3 Angkatan  dan Kepolisian berdjalan terus, walaupun dalam suasana finek 
Negara jang sulit. Kesulitan jang finek tersebut menjulitkan dengan sendirinja 
logistik A.P.R.I. serta menjulitkan penambahan kekuatan. Namun semangat '45 dan 
moril pradjurit-pradjurit jang tetap tinggi merupakan modal jang utama, jang 
dengan ini perlu kita njatakan penghargaan setinggi-tingginja. A.P.R.I. tidak 
mengenal istirahat tugas operasi sedjak '45. Namun semangat-berdjoang dan 
semangat-berkorbannja tetap tinggi, walaupun keadaan peralatannja dan 
perlengkapan A.P.R.I. dalam operasi-operasi menghadapi P.R.R.I./Permesta adalah 
djauh dibawah norma-norma minimal jang lazim. Namun dengan semangat perdjoangan 
'45, pradjurit-pradjurit kita telah dapat mentjiptakan hasil-hasil jang 
membanggakan Negara dan Bangsa! 
   
  Usaha-usaha perwakilan-perwakilan kita di Luar Negeri telah lumajan pula 
berhasil dalam menggunakan hasil-hasil operasi-operasi di Dalam Negeri, untuk 
mengurangi-djauh kesempatan dan ruang-bergerak pemberontak di Luar Negeri.
   
  Harus diakui, bahwa dimasa jang lalu masih kuranglah koordinasi antara 
alat-alat Negara dan Kementrian-kementrian, baik di Dalam negeri maupun di Luar 
negeri, untuk memungkinkan kesempurnaan usaha-usaha keamanan. Dengan struktur 
Undang-Undang-Dasar '45, dan adanja Menteri-inti Keamanan/ Pertahanan, 
dirantjangkanlah untuk menjempurnakan koordinasi tersebut. Usaha-usaha jang 
disebut "follow-up", akan lebih dikoordinir dan diintensivir. 
   
  Dalam rangka mengikut-sertakan Rakjat, Pemerintah akan mengintensivir 
organisasi-organisasi keamanan Rakjat dan wadjib-latih bagi pemuda-pemuda dan 
veteran taraf demi taraf, berdasarkan kemampuan personil dan materiil untuk 
pelaksanaannja. Begitu pula tahun ini dimulai dengan milisi darurat diseluruh 
Indonesia. 
   
  Tapi dengan hasil-hasil sekarang, serta program jang ada untuk intensivering, 
kita harus menghadapi persoalan keamanan ini dalam proporsinja jang sebenarnja. 
Program Pemerintah adalah untuk melaksanakan keamanan negara terhadap 
gerombolan-gerombolan pemberontak dalam 2 á 3 tahun. Tetapi mengingat sifat 
gerilja dan anti-gerilja jang berkembang sedjak perang dunia jang lalu, maka 
konsolidasi dan stabilisasi teritorial sepenuhnja bagi keamanan rakjat jang 
merata, mungkin masih memerlukan waktu jang lebih lama. Pula oleh karena usaha 
ini tidak akan lepas daripada perkembangan politik, sosial dan ekonomi dalam 
keseluruhannja.
   
  Dalam keadaan serba sulit menghadapi pemberontakan P.R.R.I./Permesta ini, 
kita toh telah berhasil pula memodernisir A.P.R.I. dengan lumajan. Bagi 
A.L.R.I. kita telah mentjapai kekuatan sampai 10X, dan bagi A.U.R.I. sampai 6 á 
7 X daripada dahulu. Dan A.D. kita mulai dengan lumajan pula memperbaharui 
alat-alat tuanja warisan Belanda dahulu. 
   
  Pembangunan Kepolisian Negara dilandjutkan pula. Dan dengan koordinasi dengan 
militer disempurnakan dengan Peraturan Pemerintah mengenai militerisasi 
Kepolisian Negara, chususnja Mobrig.
   
  Dalam pelaksanaan keamanan Negara dan Rakjat, kita tá boleh lupa, bahwa 
penertiban dan penjehatan alat-alat-kekuasaan Negara itu sendiri adalah sjarat 
mutlak. Kita harus lebih giat dan lebih effektif lagi berusaha untuk 
menertibkan dan mengeffisiensikan aparatur-aparatur Negara, personil militer 
dan sipil, baik teknis maupun ideologis, untuk mempertinggi disiplin dan 
produktivitteit kerdjanja. "Operasi Sedar" dan "Operasi Effisiensi Kerdja" 
harus kita lantjarkan dalam tubuh alat-alat Negara sendiri, tanpa ragu-ragu. 
Operasi-operasi ini adalah sjarat utama untuk tugas keamanan Negara dan Rakjat. 
Operasi-operasi ini adalah retooling pula. 
   
  Ke 3 fasal program Kabinet Kerdja adalah tidak dapat dipisah-pisah. Dan dalam 
rangka itu tenaga-tenaga A.P.R.I. djuga sebanjak mungkin disumbangkan, 
distribusi, pembangunan dan kesedjahteraan Rakjat. 
   
  A.P.R.I. bukan tentara jang berdiri terpisah daripada Rakjat. A.P.R.I adalah 
sebagian daripada Rakjat. A.P.R.I. tumbuh dari Revolusi sebagai bagian daripada 
Rakjat jang ber-Revolusi. Persatuan Rakjat dan tentara adalah satu unsur utama 
daripada hakiki Negara dan Angkatan Perang kita.
   
  Maka, disamping keperluan khusus keamanan, terutama didaerah-daerah operasi, 
wewenang Undang-Undang Keadaan Bahaja harus dimanfaátkan pula setjara 
bidjaksana untuk menerobos kematjetan atau keseretan berbagai usaha Pemerintah, 
dalam rangka pelaksanaan Program Pemerintah dalam keseluruhannja.
   
  Bersambung....
   
  


Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/   
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/ 






 
---------------------------------
The fish are biting.
 Get more visitors on your site using Yahoo! Search Marketing.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Check out the new improvements in Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/4It09A/fOaOAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke