Dibawah Bendera Revolusi oleh Ir. Sukarno - djilid kedua -
Panitya Penerbit DIBAWAH BENDERA REVOLUSI 1964
"PENEMUAN KEMBALI REVOLUSI KITA (THE REDISCOVERY OF OUR REVOLUTION)" - Hal.
383 - 390
Saudara-saudara! Dengan programnja jang tampaknja sadja amat sederhana,
tetapi dengan realiteit bahwa ia sebenarnja menghadapi pekerdjaan-raksasa dan
perdjoangan-raksasa jang multi-kompleks sebagai saja uraikan tadi, maka Kabinet
Kerdja merasa dirinja tá mampu akan mentjapai hasil apa-apa, tanpa bantuan dari
Rakjat. Oleh karena itu, maka Kabinet Kerdja merasa dirinja beruntung, bahwa
Undang-Undang-Dasar '45 menentukan, bahwa Republik Indonesia harus mempunjai
Dewan Pertimbangan Agung, jang "berkewadjiban memberi djawab atas pertanyaan
Presiden, dan berhak memadjukan usul kepada Pemerintah". Oleh karena itu pula,
maka Presiden telah membentuk Dewan Pertimbangan Agung Sementara, dan malahan
telah melantiknja pula pada hari kemarin dulu. Presiden telah membentuk Dewan
Pertimbangan Agung Sementara ini atas prinsip perlu-mutlaknja bantuan Rakjat
buat segala urusan ke-Negaraan dan ke-Masjarakatan, dan atas sifat- hakekat
kepribadian bangsa Indonesia jang berinti gotong-rojong.
Bantuan Rakjat dan gotong-rojong ini sedjauh-mungkin ditjorkan oleh Presiden
dalam susunan keanggotaan Dewan Pertimbangan Agung Sementara itu: segala
aliran-faham, segala golongan, segala tjorak berfikir jang progressif, dalam
rangka Undang-Undang-Dasar '45, dimasukkan dalam Dewan Pertimbangan Agung
Sementara itu. Demikian pula dalam Dewan Perantjang Nasional jang djuga sudah
dilantik kemarin dulu, demikian pula insja Allah dalam Madjelis
Permusjarwaratan Rakjat Sementara nanti, demikian pula Insja Allah dalam Front
Nasional jang perlu pula dibangunkan.
Ini adalah untuk mendjamin bantuan Rakjat sepenuhnja, dan ini adalah sesuai
dengan kepribadian Bangsa Indonesia, kataku tadi. Empat belas tahun jang lalu
lebih, dizaman Djepang, jaitu sebelum Proklamasi, dalam pidato "lahirnja Pantja
Sila" sudah saja tandaskan, bahwa kepribadian Bangsa Indonesia ialah
gotong-rojong. Pantja Sila adalah pendjelmaan kepribadian Bangsa Indonesia itu,
dan djika Pantja Sila itu "diperas", mendjadilah ia Tri Sila
Ketuhanan-Sosionasionalisme-Sosiodemokrasi, dan djika Tri Sila ini "diperas"
lagi, mendjadilah ia eka-sila, jaitu Gotong-Rojong. Gotong-Rojong jang tidak
statis seperti "kekeluargaan" sadja, tetapi Gotong-Rojong jang dinamis,
Gotong-Rojong jang berkarya hatjan-tjut-taliwanda, Gotong-Rojong
"Ho-lopis-Kuntul-Baris".
Ja, idee ke-Gotong-Rojongan ini dipegang teguh dalam pembentukan Dewan
Pertimbangan Agung Sementara dan Dewan Perantjang Nasional, dan akan dipegang
teguh pula dalam pembentukan Madjelis Permusjawaratan Rakjat Sementara nanti.
Madjelis Permusjawaratan Rakjat sebagai saudara-saudara ketahui adalah
amat-amat penting sekali, oleh karena ia menurut Undang-Undang-Dasar '45 "
menetapkan garis-garis besar daripada haluan Negara". Ia adalah menurut fasal 1
ajat 2 Undang-Undang-Dasar '45 pendjelmaan Kedaulatan Rakjat pengedja-wantahan
daripada Kedaulatan Rakjat, oleh karena itu fasal 1 ajat 2 itu berbunji:
"Kedaulatan adalah ditangan Rakjat, dan dilakukan sepenuhnja oleh Madjelis
Permusjawaratan Rakjat".
Ia terdiri dari anggota-anggota D.P.R. ditambah dengan utusan-utusan dari
daerah dan golongan. Buat Madjelis Permusjawaratan Rakjat Sementara, maka
anggota-anggota D.P.R.nja adalah D.P.R. jang sekarang, dan
anggota-anggota-daerah dan anggota-anggota-golongannja harus diangkat oleh
Presiden. Maka djelas dan teranglah bahwa Presiden dalam pengangkatannja itu
harus merealisasikan pengumpulan seluruh tenaga-tenaga-daerah dan seluruh
tenaga-tenaga-golongan jang representatif. Ini adalah sesuai dengan prinsip
ke-Gotong-Rojongan, dan saja Insja Allah akan pegang teguh prinsip
ke-Gotong-Rojongan itu. Sudah barang tentu ke-Gotong-Rojongan dalam
melandjutkan dan mejelesaikan Revolusi! Orang-orang jang reaksioner,
orang-orang jang kontra-revolusioner, tidak saja angkat djadi anggota Madjelis
Permusjawaratan Rakjat Sementara itu!
Idee Front Nasional sebenarnja djugalah keluar daripada prinsip Gotong-Rojong
"Ho-lopis-kuntul-baris"itu. Seluruh tenaga Rakjat harus digalang dan didjadikan
satu gelombang-tenaga jang maha-sjakti, menudju kepada terbangunnja satu
masjarakat jang adil dan makmur, - menudju kepada penjelesaian Revolusi. Dan
penggalangan itulah tugasnja Front Nasional. Mendjadi, Front Nasional itu
adalah satu hal jang prinsipil-fundamentil: sebab pembangunan semesta tá
mungkin berhasil tanpa mobilisasi tenaga semesta pula, Revolusi tá mungkin
berdjalan penuh kearah tudjuannja tanpa ikut-ber-Revolusi seluruh Rakjat. Front
Nasional nanti diadakan untuk menggalang seluruh tenaga daripada seluruh
Rakjat. Ia harus menggalang seluruh ke-Gotong-Rojongan Rakjat. Front Nasional
itulah dus jang harus menggalang semangat dan tenaga latent dikalangan Rakjat,
didjadikan satu gelombang "ke-ho-lopis-kuntul-barisan" untuk menjelesaikan
Revolusi.
Olehkarena itulah maka terkandung dalam niat Pemerintah untuk membangunkan
Front Nasional itu selekas mungkin, sebagaimana dalam pidato saja dihadapan
Konstituante 22 April jang lalu saja telah katakan, bahwa "Pembentukan Front
Nasional baru terutama dimaksudkan untuk mengadakan alat penggerak masjarakat
setjara demokratis, jang diperlukan pertama-tama dibidang pembangunan".
Saudara-saudara! Kemarin dulu sajapun telah melantik Bapekan: "Badan Pengawas
Kegiatan Aparatur Negara". Tugasnja djelas: "mengawasi Kegiatan Aparatur
negara". Sebagai saja katakan tadi, kita mendjalankan dan akan mendjalankan
retooling disegala bidang, dan sudah barang tentu terutama sekali retooling
disegala aparatur Negara, baik vertikal maupun horizontal. Dan aparatur Negara
jang diretooled ini harus diawasi dalam pekerdjaannja, harus dikontrol,
diteliti, diamat-amati, agar supaja terdjamin effisiensi kerdja maximal. Tidak
boleh lagi sesuatu aparatur Negara tá lantjar karena memang salah
organisasinja, dan tidak boleh lagi orang bekerdja pada aparatur Negara dengan
setjara lenggang-kangkung, malas-malasan, ngantuk, atau mementingkan
kepentingan sendiri dengan djalan korupsi-waktu atau korupsi-uang. Dalam
Revolusi tidak ada tempat bagi orang-orang jang demikian itu!
Telah saja lantik pula Dewan Perantjang Nasional, dengan anggautanja jang
berasal dari seluruh tanah-air Indonesia antara Sabang dan Marauke, untuk
merantjangkan pola masjarakat jang adil dan makmur. Garis-garis besar daripada
pembuatan pola itu Insja Allah akan saja utjapkan dalam amanat pada pembukaan
sidangnja jang pertama. Pokok daripada segala pokok daripda tugas Dewan
Perantjang Nasional ialah, bahwa ia harus membuat blueprint daripada suatu
masjarakat Indonesia jang berkeadilan sosial, suatu masjarakat Indonesia
sebagai jang dimaksudkan oleh mukaddimah Undang-Undang-Dasar, dan fasal 33
Undang-Undang-Dasar, - suatu masjarakat Indonesia jang betul-betul adil dan
makmur, betul-betul makmur dan adil pula. Tidak Dewan Perantjang Nasional
disuruh membuat pola masjarakat Indonesia jang makmur tetapi tidak adil; tidak
Dewan Perantjang Nasional harus membuat blueprint jang adil tetapi tidak
makmur. "Tata-tentrem-kerta-rahardja, gemah-ripah loh-djinawi, subur kang sarwa
tinandur, murah kang sarwa tinuku", itulah harus djelas tampak nanti dalam
pola Dewan Perantjang Nasional itu!
Dan djikalau nanti pola Dewan Perantjang Nasional itu sudah diterima oleh
Madjelis Musjawaratan Rakjat, maka djadilah ia pola Nasional, jang harus kita
laksanakan dengan meng "ho-lopis-kuntul-baris" kan seluruh tenaga Rakjat,
seluruh sarana-sarana Bangsa jang telah retooled, seluruh semangat dan
daja-kerdja jang berada diantara Sabang dan Marauke. "Lir gabah dén interi"
kita semua harus melaksanakan pola Dewan Perantjang Nasional itu. Mendakilah
kita sesudah mengalami Purgatorio kini, kepuntjaknja Gunung Paradiso jang telah
sekian lamanja melambai-lambai.
Saudara-saudara! Saja telah mendekati achirnja pidato saja ini, Sekarang
dengarkanlah dengan dengan seksama apa jang saja katakan ini:
Kita sekarang sudah kembali lagi kepangkuan Undang-Undang-Dasar 1945. Perlu
saja tegaskan disini, bahwa Undang-Undang-Dasar 1945 dalam Revolusi kita ini
tidak pernah gugur tidak pernah tewas, sehingga berlakunja kembali
Undang-Undang-Dasar 1945 itu hanjalah satu pernjataan resmi sadja jang bernama
"Dekrit Presiden". Undang-Undang-Dasar 1945 tidak pernah mati, melainkan hanja
terpaksa berbaring diam diatas ombang-ambingnja gelombang Renvile, gelombang
Linggardjati, gelombang K.M.B., gelombang Konstitusi Republik Indonesia Serikat
dan konstitusi 1950, gelombang Uni Indonesia-Belanda, - jang semuanja telah
hilang amblas berkat semangat kepatriotan bangsa Indonesia dan tenaga
perdjoangan Rakjat Indonesia. Demikian pula maka demokrasi-liberal jang
dilahirkan sebagai buih daripada gelombang-gelombang kompromis jang djahat itu,
dan jang membendung dan mengatjau Revolusi Indonesia itu, kini telah
ditiup-lenjap oleh semangat kepatriotan dan tenaga perdjoangan Rakjat Indonesia
itu,
dan mulailah kini dikibarkan bendera Demokrasi Terpimpin, milik-asli daripada
Bangsa Indonesia.
Saja mengutjap sjukur kepada Tuhanku, Tuhan seru sekalian alam, bahwa
djalannja Revolusi Indonesia demikianlah. Meski tersesat sedjurus waktu,
achirnja toh telah kembali lagi kepada rel jang asli. Telah beberapa kali dalam
hidup saja ini saja mengguriskan rintisan sebagai sumbangan kepada perdjoangan
Rakjat Indonesia, - dizaman kolonial sebelum Perang Dunia jang ke II, di
peganggsaan Timur, di Bangka, di Jogdja, di Djakarta. Kini datanglah saátnja
saja memberi kerangka jang tegas kepada semua rintisan-rintisan jang telah saja
guriskan itu. Adalah tiga seginja kerangka bagi rintisan-rintisan itu, jang
selalu sadja kembali dalam renungan saja, tiap kali saja memandang wadjah
Rakjat-Djelata Indonesia, tiap kali saja melihat ketjantikan alam tanah airku,
tiap kali saja mengadakan perdjalanan mengedari bumi, tiap kali saja
menengadahkan muka diwaktu malam dan melihat bintang-bintang abadi berkumelip
diangkasa-raja.
Apakah tiga segi kerangka itu?
Kesatu: Pembentukan satu Negara Republik Indonesia jang berbentuk Negara
Kesatuan dan Negara Kebangsaan jang demokratis, dengan wilajah kekuasaan dari
Sabang sampai Marauke.
Kedua: Pembentukan satu masjarakat jang adil dan makmur materiil dan
spirituil dalam wadah Negara Kesatuan republik Indonesia itu.
Ketiga: Pembentukan satu persahabatan jang baik antara Republik Indonesia dan
semua negara didunia, terutama sekali dengan negara-negara Asia-Afrika, atas
dasar hormat-menghormati satu sama lain, dan atas dasar bekerdja-bersama
membentuk satu Dunia baru jang bersih dari imperialisme dan kolonialisme,
menudju kepada Perdamaian Dunia jang sempurna.
Sebutkanlah saja ini seorang pengalamun atau seorang pemimpi, seorang idealis
atau seorang "Schwärmer". tetapi tiga segi kerangka tadi itu sekarang telah
terdjadi tantangan jang njata bagi kita semua, telah mendjadi challenge jang
riil, jang tá dapat kita hindari lagi. Challenge, kalau benar kita ingin
bahagia; Challenge pula, oleh karena kita, mau-tidak-mau, dibawa-ditarik-dihela
oleh pergolakan-pergolakan jang sekarang sedang bergelora diseluruh muka bumi,
dekat dari sini dan djauh dari sini.
Ada dua matjam revolusi hebat sekarang sedang bergolak dimuka bumi ini.
Pertama revolusi politis-sosial-ekonomis jang menghikmati tiga-perempat dari
seluruh ummat-manusia, kedua revolusi teknik-peperangan berhubungan dengan
persendjataan thermo-nuclear.
Kedua-dua revolusi ini mendjadi tantangan dan tanggungan seluruh
ummat-manusia, termasuk ummat Indonesia, - mendjadi challenge jang seram, satu
todongan jang menanjakan hidup atau mati. Kita tá dapat meloloskan diri kita
dari todongan ini, dan ummat-manusiapun tá dapat meloloskan dirinja dari
todongan atau challenge ini. Mau-tidak-mau kita harus ikut-serta, mau-tidak-mau
kita harus ikut bertempur! Dan djika ummat-manusia tá bisa menjelesaikan
todongannja challenge ini, maka ini berarti hantjur-binasanja ummat-manusia
sendiri.
Ja, mau-tidak-mau kita harus ikut-serta! Dan ikut-serta massal! Dalam abad ke
XX ini, dengan iapunja teknik-perhubungan jang tinggi, tiap revolusi adalah
revolusi Rakjat, revolusi Massa, bukan sebagai diabad-abad jang lalu, jang
revolusi-revolusinja, adalah sering sekali revolusinja segundukan
manusia-atasan sadja, - "the revolution of the ruling few". Dalam Risalah
"Mentjari Indonesia Merdeka" hampir tigapuluh tahun jang lalu saja sudah
berkata: "Tidak ada satu perobahan besar didalam riwajat-dunia jang achir-achir
ini, jang lahirnja tidak karena massa-aktie. Massa-aktie adalah senantiasa
mendjadi penghantar pada saát masjarakat-tua melangkah kedalam masjarakat jang
baru. Massa-aktie adalah senantiasa mendjadi paradji (bidan) pada saát
masjarakat-tua jang hamil itu melahirkan masjarakat jang baru.
Dan revolusi dalam abad ke XX itu menjangkut dengan sekaligus setjara
berbareng hampir segala bidang daripaa penghidupan dan kehidupan manusia. Ia
menjangkut bidang politik, dan berbarengan dengan itu djuga menjangkut bidang
sosial, dan berbarengan dengan itu djuga menjangkut bidang kebudajaan, dan
berbarengan dengan itu djuga menjangkut bidang kemiliteran, dan demikian
seterusnja. Tidak seperti diabad-abad jang lampau, dimana revolusi-revolusi
adalah seringkali revolusi tok, atau revolusi ekonomi tok atau revolusi sosial
tok, atau revolusi militer tok, dan karenanja djuga dapat dilaksanakan setjara
bidang-bidang itu tok.
Tetapi revolusi zaman sekarang? Revolusi zaman sekarang adalah revolusi jang
multi-kompleks. Ia adalah revolusi jang simultan. Ia adalah revolusi jang
sekaligus "memborong" beberapa persoalan. Misalnja Revolusi kita. Revolusi kita
ini ja revolusi politik, ja revolusi ekonomi, ja revolusi sosial, ja revolusi
kebudajaan, ja revolusi disegala matjam. Sampai-sampai ia djuga revolusi
isi-manusia! Pernah saja memmindjam perkataan seorang sardjana asing, jang
mengatakan bahwa Revolusi Indonesia sekarang ini adalah "a summing-up of many
revolution in one generation", - atau "the revolution of many generation in
one".
Revolusi jang demikian ini tá dapat diselesaikan cara-cara jang konvensionil.
Tá dapat ia diselesaikan dengan tjara-tjara jang keluar gudang-apeknja
liberalisme. Tá dapat ia diselesaikan dengan tjara-tjara jang tertulis dalam
text-booknja kaum sadjana dari zaman baheula. Malah tjara-tjara jang demikian
itu ternjata makin mengkotjar-katjirkan dan membentjanai revolusi. Bukan sadja
di Indonesia orang berpengalaman begitu, tetapi djuga pemimpin-pemimpin
dinegara-negara lain mulai sedar akan hal itu. Demokrasi Barat dibeberapa
negara Asia sekarang sudah dinjatakan mengalami kegagalan. Indonesia hendak
menjelesaikan revolusinja jang multikompleks itu dengan sistimnja Demokrasi
Terpimpin, demokrasi Indonesia sendiri. Segala penyeléwéngan, segala
langkah-salah, segala salah-wissel dari masa sesudah 1950, kita koreksi dengan
Dekrit Presiden/Panglima Tertinggi 5 Djuli 1959, jang memungkinkan djuga
Demokrasi Terpimpin berdjalan.
Terutama kepada pemimpin-pemimpin Bangsa kita, saja tandaskan disini, bahwa
Revolusi kita ini tidak hanja meminta sumbangan-keringat sadja jang
sebesar-besarnja, atau disiplin jang sekokoh-kokohnja, atau pengorbanan jang
seichlas-ichlasnja, - jang oleh kita pemimpin-pemimpin selalu kita
gembar-gemborkan kepada Rakjat! - , tetapi djuga tidak kurang penting ialah
kebutuhan untuk mentjiptakan atau melahirkan fikiran-fikiran-baru dan
konsepsi-konsepsi-baru, djustru oleh karena Revolusi kita sekarang ini tá dapat
diselesaikan dengan mempergunakan textbook-textbook jang telah usang.
Revolusi kita adalah antara lain menentang imperialisme dalam segala bentuk
dan manifestasinja. Imperialisme apapun dan imperialisme manapun, kita kritik,
kita tentang, kita gasak, kita hantam. Meskipun demikian, revolusi kita tidak
ditudjukan untuk memusuhi sesuatu bangsa jang manapun djuga. Kita mengulurkan
tangan-persahabatan kepada semua bangsa didunia ini, untuk memperkokoh
kesedjahteraan-dunia, dan memperkokoh perdamaian dunia.
Teristimewa kepada 2.500.000.000 ummat-manusia jang berrevolusi sekarang ini,
tigaperempat lebih dari seluruh penduduk bumi, kita serukan adjakan untuk
saling membantu, saling memberi inspirasi, saling kasih-mengasih dalam menggali
konsepsi-konsepsi baru jang dibutuhkan oleh Revolusi-semesta sebagai jang saja
terangkan dimuka tadi !
Malah untuk menanggulangi revolusi teknik-peperangan jang sekarang ini sedang
menghantu dipadang persendjataan dan menghintai-hintai laksana
sjaitan-kebinasaan ditjakrawala, bantu-membantu antara 2.500.000.000
ummat-manusia itu adalah perlu sekali, bahkan -- dasar-dasar daripada
ko-eksistensi jang aktif an kerdjasama jang erat antara seluruh ummat-manusia
jang 3.000.000.000 harus ditanam, terlepas daripada perbedaan-perbedaan didalam
lapangan sistim-sosial dan sistim-politik. Atas dasar ini maka segala
pertjobaan, segala pembikinan, segala pemakaian sendjata thermo-nuclear harus
distop selekas-lekasnja dan dilarang sekeras-kerasnja.
Ja, kapankah ummat-manusia ini dapat hidup tenteram-sedjahtera bersahabat
satu sama lain sebagai sama-sama anaknja Adam? Kapankah ummat Indonesia dapat
hidup dalam tripokoknja kerangka, jang saban-saban terbajang diangan-angan
saja, tiap-tiap kali saja memandang kepada bintang dilangit, - Negara Kesatuan,
masjarakat adil dan makmur, persahabatan dengan seluruh bangsa?
Alangkah banjaknja kesulitan jang masih kita hadapi! Tetapi pengalaman jang
sudah-sudah membuktikan, bahwa kita selalu "survive", bahwa dus kita selalu
dapat mengatasi kesulitan-kesulitan jang maha besar! Ja, asal kita tetap
bersatu, asal kita tetap berdjiwa segar, asal kita tetap mendjaga djangan
sampai perdjoangan kita ini dihinggapi oleh penjakit-penjakit jang sesat, asal
kita tetap berdjalan diatas relnja Proklamasi, - Insja Allah subhanahu wata
ála, kitapun akan atasi segala kesulitan jang akan menghadang, kitapun akan
ganjang kesulitan jang akan menghalang!
Dengan tenang dan keteguhan hati kita harus onderkennen kesulitan-kesulitan
jang menghadang itu dalam segala kewadjarannja sendiri-sendiri. Ada kesulitan
jang memang disebabkan oleh kesalahan-kesalahan kita dimasa jang lampau, oleh
penjeéwéngan-penjeléwéngan, oleh ketololan-ketolan kita sendiri. Ada kesulitan
jang disebabkan oleh tidak tjukupnja modal mental-teknis-materiil dalam
menghadapi persoalan-persoalan Revolusi. Dan ada kesulitan jang disebabkan oleh
naiknja tingkat penghidupan, jang telah kita tjapai.
Kesulitan golongan jang pertama harus kita atasi dengan koreksi segala
kesalahan-kesalahan dizaman jang lampau. Kesulitan golongan kedua harus kita
atasi dengan memperhebat usaha pemupukan modal mental-teknis-materiil.
Kesulitan golongan ketiga harus kita atasi dengan ... mentjapai kemadjuan jang
lebih madju lagi! Ja, kemadjuan dalam penghidupan masjarakatpun membawa
kesulitan! Sedjuta anak bersekolah mendjadi 9 djuta anak bersekolah, itu
mendatangkan persoalan dan kesulitan. Rakjat dulu memakai lampu tjempor,
sekarang memakai lampu tempel, malahan kadang-kadang memakai lampu stormking,
itupun mendatangkan persoalan dan kesulitan. Rakjat dulu berdjalan kaki,
sekarang naik sepeda dan opelet, itupun mendatangkan persoalan dan kesulitan.
Rakjat dulu 70 djuta jang naik kereta-api setiap tahun, sekarang 160 djuta naik
kereta-api setiap tahun, itupun mendatangkan persoalan dan kesulitan!
Tetapi sebagai saja katakan tadi, dengan djiwa-besar marilah kita ganjang
semua persoalan-persoalan dan kesulitan-kesulitan itu. Kita bukan bangsa jang
témpé, kita adalah Bangsa Jang Besar, dengan ambisinja Jang Besar, Tjita-tjita
jang Besar, Daja-Kreatif jang Besar, Keuletan jang Besar. Kita sekarang dengan
kembali kepada Undang-Undang-dasar '45 sudah menemukan-kembali Djiwa Revolusi,
sudah mentjapai suatu momentum mental, jang memungkinkan kita bergerak madju
terus dengan tjepat untuk mentjapai suatu momentum pula dibidang pembangunan
semesta untuk merealisasikan tjita-tjita sosial-ekonomis daripada Revolusi.
Hantjur leburlah segala rintangan dan kesulitan oleh geloranja momentum mental
itu!
Sebab oleh tertjapainja momentum mental dengan kembali kita kepada
Undang-Undang-Dasar Proklamasi dan Djiwa Proklamasi itu, maka menghebatlah
Semangat Nasional mendjadi Kemauan Nasional jang maha-sjakti, dan menghebat
lagilah Kemauan Nasional itu melahirkan Perbuatan-Perbuatan Nasional jang
membangun, dan menghantjur-leburkan segala rintangan dan segala kesulitan jang
menghalangi djalan. Trilogi jang saja dengungkan tigapuluh tahun jang lalu,
trilogi nationale geest menghebat mendjadi nationale wil, nasionale wil
menghebat mendjadi nationale daad, trilogi itu kini mendjelma mendjadi
kenjataan, oleh tertjapainja momentum mental sedjak keluarnja Dekrit Presiden 5
Djuli 1959.
"Sekali lagi saja katakan", demikian penutupan pidato saja dimuka Sidang
Konstituante 22 April jang lalu, "-- dan ini saja katakan untuk zelf-educatie
kita sendiri --, kesulitan-kesulitan kita tidak akan lenjap dalam tempo sati
malam. Kesulitan-kesulitan kita hanja akan dapat kita atasi dengan keuletan
seperti keuletannja orang jang mendaki gunung. Tetapi: Berbahagialah suatu
bangsa, jang berani menghadapi kenjataan demikian itu! Berani menerima bahwa
kesulitan-kesulitannja tidak akan lenjap dalam tempo satumalam, dan berani pula
menjingkilkan lengan-badjunja untuk memetjahkan kesulitan-kesulitan itu dengan
segenap tenaganja sendiri dan segenap ketjerdasannja sendiri. Sebab bangsa jang
demikian itu, -- bangsa jang berani menghadapi kesulitan-kesulitan dan mampu
memetjahkan kesulitan-kesulitan --, bangsa jang demikian itu akan mendjadi
bangsa jang gembléngan. Bangsa jang Besar, bangsa jang
Hanjakrawarti-hambabaudenda. Bangsa jang demikian itulah hendaknja Bangsa
Indonesia!
"
Ja, Bangsa jang demikian itulah hendaknja Bangsa Indonesia!
Maka gelorakanlah Semangat Nasionalmu! Gelorakanlah rangsang Kemauan
Nasionalmu! Gelorakanlah rangsang Perbuatan-Perbuatan Nasionalmu! Dan, engkau,
hai Bangsa Indonesia, betul-betul nanti mendjadi satu Bangsa jang Gembléngan!
_________
Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
---------------------------------
It's here! Your new message!
Get new email alerts with the free Yahoo! Toolbar.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Yahoo! Groups gets a make over. See the new email design.
http://us.click.yahoo.com/hOt0.A/lOaOAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/