http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/032007/12/0901.htm


Gempa Bumi Lagi!
Oleh BUDI BRAHMATYO 
GEMPA bumi lagi! Gempa bumi lagi! Hampir tidak ada tempat yang aman di bumi 
Indonesia dari guncangan gempa, kecuali Pulau Kalimantan. Tetapi, kesadaran 
bahwa kita hidup di atas permukaan bumi yang rapuh, seharusnya membuat kita 
selalu waspada. Kondisi psikologis inilah yang harus tetap dipertahankan, 
karena kewaspadaan akan membuat kita bisa selamat. 

Gempa yang mengguncang bumi (earthquake) sebenarnya lebih terasa sebagai gempa 
yang mengguncang hati, heartquake! Bagaimana tidak mengguncang hati, jika kita 
kembali terhenyak dengan korban jiwa yang kembali terenggut ketika guncangan 
itu meruntuhkan tembok, atap dan dinding rumah dan kemudian menimpa para 
penghuni di dalamnya?

Akibat "Sunda Megathrust"

Gempa bumi di Sumatra Barat tanggal 6 Maret 2007 berkekuatan 5,9 hingga 6,3 Mw 
yang kemudian disusul di Singkil Aceh Selatan keesokan harinya, merupakan gempa 
bumi yang sudah sering melanda kawasan di sepanjang Bukit Barisan, Pulau 
Sumatra. Itulah daerah-daerah rawan yang berada pada suatu robekan yang 
memanjang dari Teluk Semangko di Lampung selatan hingga Banda Aceh di utara 
yang dikenal sebagai sesar/patahan Sumatra, atau sebagian geologiwan masih 
menyebutnya sesar Semangko. 

Dari poster "Sumatra Rawan Gempa Bumi!" yang diterbitkan oleh California 
Institute of Technology (Caltech) dan Pusat Geoteknologi LIPI, di sepanjang 
sesar Sumatra ini tercatat kejadian-kejadian gempa bumi yang merusak, misalnya 
di Liwa Lampung pada 1933 (besaran 7,5), dan terulang pada 1994 (7,0). Di 
Kerinci pada 1909 (7,6) dan 1995 (7,0). Di Bukittinggi dan Padangpanjang yang 
persis terulang lagi sekarang, pernah diguncang gempa dahsyat pada 1926 (6,7) 
dan 1943 (7,3). Di Sorik Marapi pada 1892 (7,7) dan di sekitar Danau Toba pada 
1916 dan 1921 (6,8). 

Pegunungan Bukit Barisan dan lembah-lembah di antaranya, termasuk 
danau-danaunya yang indah mulai dari Danau Ranau di Bengkulu, Danau Kerinci di 
Jambi, Danau Singkarak di Sumatera Barat dan Danau Toba di Sumatera Utara, 
adalah jalur pusat-pusat gempa bumi. Pegunungan itu merupakan ekspresi dari 
tabrakan dua lempeng bumi, yaitu lempeng Samudra India-Australia dengan lempeng 
Benua Eurasia. Lempeng samudra yang relatif aktif bergerak mendesak Pulau 
Sumatra ke arah utara, tertunjam di bawah pulau Sumatra, dalam posisi miring 
dan tidak frontal terhadap pantai barat Sumatra.

Di bawah laut, tempat penunjaman lempeng ini membentuk suatu palung laut. 
Palung ini memanjang mulai dari Laut Andaman di utara Aceh, menerus sepanjang 
lepas pantai barat Sumatra, berbelok ke laut selatan Jawa dan menerus ke arah 
timur di selatan Kepulauan Sunda Kecil, dan melengkung ke Laut Banda. Palung 
laut dengan kedalaman hingga mencapai 6.000 meter dari muka laut ini merupakan 
tempat kontak antara dua lempeng yang bertabrakan tersebut. 

Secara geografis, banyak literatur yang menamakan palung ini Palung Sumatra 
untuk keberadaannya di wilayah lepas pantai Sumatra, atau Palung Jawa untuk 
yang berada di selatan Jawa, atau bahkan jika keduanya digabungkan menjadi 
dinamakan Palung Sunda. Literatur paling akhir oleh Profesor Kerry Sieh dari 
Caltech menyebutnya "Sunda Megathrust", Tunjaman Besar Sunda.

Ketika kekuatan dorongan lempeng yang mendesak "Sunda Megathrust" berhasil 
melampaui kekuatan batuan pulau Sumatra, dan kemudian pecah, beberapa blok 
pecahan tergeser secara lateral. Blok-blok yang tergeser itu secara 
bersama-sama dalam kejadian yang berbeda-beda selama sejarah terbentuknya Pulau 
Sumatra, membentuk patahan dan robekan panjang yang dinamakan Sesar Sumatra 
itu. Saat pecah di zona patahan itulah, guncangan yang ditimbulkan dari 
pusatnya jauh di bawah muka bumi menjalar ke permukaan sebagai gempa bumi. Maka 
jadilah earthquake yang menimbulkan heartquake.

Rumah tradisional yang bertahan

Ketika berkunjung ke Sungaipenuh di Kerinci tahun 1999, penulis mendapatkan 
informasi yang sangat menarik dari beberapa orang saksi yang merasakan bencana 
hebat akibat gempa bumi 1995. Di sebuah desa yang bernama Siulakmukai yang 
terletak di lembah Kerinci, seorang bapak bernama Pak Merasutan masih sanggup 
menerawang kejadian yang menimpa desanya pada malam hari, tanggal 7 Oktober 
1995 . 

Ia merasakan suhu udara yang meningkat. Banyak penduduk yang merasa kegerahan 
di daerah pegunungan yang selalu dingin itu. Selain itu, Pak Merasutan 
merasakan banyak nyamuk yang mendenging-denging dan anjing menggonggong tidak 
seperti biasanya. Saat itu, Pak Merasutan masih mengingatnya kira-kira sebelum 
tengah malam. Satu jam kemudian, guncangan gempa meluluh-lantakkan desanya!

Tanah-tanah terbelah. Beberapa sumur penduduk mengering tapi di sumur lain 
malah airnya meluap. Di batas desa, air hangat keluar ke permukaan. Tentu saja 
desa yang dianggap modern dengan dinding tembok batu bata dan semen banyak yang 
roboh rata dengan tanah. Mereka seakan-akan lupa teknologi yang telah 
diperkenalkan oleh leluhur mereka, yaitu rumah panjang dari kayu tanpa paku 
yang tetap ajeg kokoh di antara puing-puing rumah tembok.

Menurut arsitek yang tergabung dalam tim, rumah-rumah tradisional di sepanjang 
Bukit Barisan justru telah dirancang sedemikan rupa sehingga ramah terhadap 
gempa bumi. Tiang-tiangnya yang dihubungkan dengan palang-palang diikat seperti 
engsel yang bebas bergeser pada jarak tertentu. Jadi ketika guncangan gempa 
datang, rumah ikut berayun mengikuti guncangan gempa bumi, tetapi tidak sampai 
runtuh.

Inilah kearifan yang seharusnya dipertahankan dan tidak terbujuk promosi pabrik 
semen untuk menggunakan rumah-rumah berdinding tembok tanpa tiang-tiang yang 
kuat dan terikat kuat satu dengan lainnya. Gempa di Sumatra Barat akhir-akhir 
ini pastilah melanda perkampungan dengan rumah-rumah tembok ini. Besar 
kemungkinan rumah-rumah gadang khas Minang akan tetap berdiri dengan anggunnya 
karena mereka dibangun dengan prinsip-prinsip yang ramah terhadap guncangan 
gempa bumi.

Begitu pula di Tatar Sunda. Ketika penulis mengunjungi gempa di Pacet, Bandung 
selatan tahun 2005, kami mendapat suatu pemandangan yang kontras. Di sebuah 
kampung di Pacet, rumah-rumah panggung tradisional Sunda yang bertiang kayu dan 
berdinding bilik, masih tetapi berdiri tanpa rusak sedikitpun di samping rumah 
"modern" bertembok yang hancur berantakan. Penghuni rumah yang mempunyai dua 
jenis bangunan itu mungkin baru menyadari bahwa rumah panggungnya yang dianggap 
tertinggal dan kampungan, justru tersenyum ketika guncangan gempa bumi 
mengguncang hati para penghuninya.*** 

Penulis, staf dosen di KK Geologi Terapan FITB - ITB, anggota KRCB.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Groups gets a make over. See the new email design.
http://us.click.yahoo.com/hOt0.A/lOaOAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke