---------- forwarded message ----------
From: Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 02 Apr 2007 21:42:30 -0700
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Baitul Muslimin dan Ormas Islam
To: [email protected]



 Oleh Khamami Zada
 Manajer Program Kajian Agama dan Kebudayaan PP Lakpesdam NU
 http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/03/opini/3426607.htm
 ===========================

 Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan akhirnya mendeklarasikan Baitul
 Muslimin sebagai organisasi sayap partai. Deklarasi ini dihadiri dua
 ormas Islam terbesar, Nahdlatul Ulama (KH Hasyim Muzadi) dan
 Muhammadiyah (M Din Syamsuddin).

 Manuver politik Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) guna
 merangkul dua organisasi massa (ormas) Islam terbesar itu untuk
 persiapan Pemilu 2009. Asumsinya, jika NU dan Muhammadiyah berhasil
 didekati, mayoritas umat Islam akan memilih kandidat dari PDI-P.

 Ormas Islam dan politik

 Ormas Islam selalu "menggoda" partai sekuler maupun yang bernuansa
 Islam. Partai Kebangkitan Bangsa mengambil sebagian besar suara dari
 warga NU. Partai Amanat Nasional mendapat suara terbanyak dari warga
 Muhammadiyah. Partai Persatuan Pembangunan mengeruk suaranya dari NU,
 Muhammadiyah, dan Muslimin Indonesia.

 Partai politik pun ramai-ramai mengafiliasi diri dengan ormas Islam
 karena daya tarik suaranya. Akibat lumbung suara yang amat besar
 dalam setiap pemilu, berbagai kelompok Islam yang tergabung
 organisasi massa Islam pun menjadi sasaran untuk didekati. Tak ayal,
 di hampir perhelatan pemilu, kiai/ulama selalu menjadi juru kampanye
 untuk menyedot pemilih.

 Kekuatan agama masih diandalkan dalam menentukan pilihan politik,
 membuat posisi elite Islam mudah diorientasikan ke dalam politik
 kekuasaan dengan iming-iming posisi politik strategis di eksekutif
 atau legislatif.

 Untuk memenangi Pemilu 2009, PDI-P sadar harus intensif mendekati
 ormas Islam. Maka, lahirlah Baitul Muslimin.

 Berkumpulnya elite Islam dalam ormas, seperti NU dan Muhammadiyah,
 memiliki daya tarik eksplosif untuk mendulang suara. Itu sebabnya,
 PDI-P serius mengajak NU dan Muhammdiyah memperkuat Baitul Muslimin.

 Tampaknya pendekatan PDI-P terhadap NU dan Muhammadiyah akan
 ditanggapi positif mengingat karakter ormas Islam ini masih
 berorientasi politik kekuasaan. Sejarah membuktikan, di awal
 reformasi, NU jadi mesin politik PKB. Kini, karena kecewa dengan PKB,
 NU menarik diri. Begitu juga Muhammadiyah yang semula menjadi mesin
 politik PAN. Pendekatan PDI-P terhadap ormas Islam akan saling
 menguntungkan kedua belah pihak.

 Kekuatan figur

 Secara matematis, suara dua ormas Islam ini bisa menjadi mesin
 pendulang kekuatan politik terbesar setelah kelompok nasionalis-
 sekuler. Tetapi, proses politik yang kini berlangsung tidak lagi
 demikian. Tidak semua warga NU dan Muhammadiyah tunduk pada kebijakan
 para pimpinannya.

 Pemilu langsung telah melahirkan tesis baru, lembaga-lembaga politik,
 seperti partai politik dan lembaga sosial, tidak lagi menjadi
 kekuatan dahsyat dalam mendulang suara seperti pemilu sebelumnya.

 Kini, figur menjadi faktor kunci dalam perebutan suara. Terbukti,
 pasangan SBY-JK mengalahkan Mega-Hasyim. Meski kombinasi kelompok
 nasionalis dengan Islam tradisionalis yang jumlahnya diklaim 30
 persen penduduk Indonesia, tetap tidak mampu mengalahkan SBY-JK.

 Pilkada di Nanggroe Aceh Darussalam juga membuktikan, kekuatan figur
 (dari kelompok Gerakan Aceh Merdeka) yang berasal dari kandidat
 independen mampu mengalahkan pasangan dari partai-partai besar,
 seperti Golkar, PPP, dan PKS, di Aceh.

 Kekuatan figur dalam pemilu langsung menjadi faktor paling
 menentukan. Meski didukung partai-partai besar, tetapi karena
 figurnya tidak mampu membawa perubahan, pemilih tidak akan memberikan
 suaranya. Maka, PDI-P selayaknya membangun citra partai dan figur
 agar mampu meraih simpati pemilih. Meski suara ormas Islam cukup
 signifikan, berbagai pengalaman pada pemilu sebelumnya membuktikan,
 pemilih lebih dekat dengan figur, bukan organisasi yang dinaungi.

 Inilah kesempatan PDI-P untuk kembali merebut simpati massa melalui
 citra wong cilik dalam program-program nyata. Kegagalan PDI-P pada
 Pemilu 2004 lebih banyak disebabkan oleh program-program nyatanya
 yang tidak diorientasikan ke massa yang telah memilihnya. Akibatnya,
 PDI-P ditinggalkan massanya. Sanggupkah PDI-P kembali pada jati
 dirinya sebagai partainya wong cilik?




Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke