http://www.indomedia.com/bpost/042007/5/opini/opini2.htm
Republik Indobingungsia Oleh: Pribakti B Dokter RSUD Ulin Banjarmasin Mungkin, inilah penyakit terpopuler saat ini: bingung! Ia menyergap birokrat, politikus maupun rakyat. Roda pemerintahan seperti mandek, tak jelas rencana dan arah tujuannya. Hidup makin mencekik sementara yang kesetanan berjingkrak kegirangan. Sebaliknya, kebaikan selalu berpamrih. Memang harus diakui, sampai kini pun banyak orang tak habis pikir mengapa harga beras naik. Padahal katanya Bulog sudah mengimpor berton-ton beras dari Vietnam. Lebih membingungkan dalam kondisi seperti ini, lagi-lagi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bikin orang terkaget-kaget. Wakil rakyat itu ngotot minta laptop, dengan alasan untuk meningkatkan kinerja dewan. Mereka sudah melupakan hiruk pikuk 'budaya' korupsi. Itu urusan jangka panjang. Orang lain lapar karena tidak punya beras, atau diperlakukan tidak adil, seakan bukan urusan mendesak. Mutu pendidikan melorot, jual beli hukum, kejahatan perbankan dan pengangguran membludak bukan pula hal penting. Artinya, usulan anggaran beli laptop mahal tetap masih bisa diperjuangkan. Adil dari sisi siapa? Padahal semua tahu saat ini, boleh jadi yang paling menikmati kegembiraan di tengah keprihatinan bangsa adalah anggota DPR. Semua yang dimiliki anggota DPR serba 'wah', mulai fasilitas sampai gaji besar. Sementara rakyat miskin terus berdesakan hanya untuk membeli satu - dua liter beras yang semakin tinggi harganya, anggota DPR yang tidak pernah mengantre beras malah mendapat jatah sebuah laptop yang harganya Rp21 juta dengan total biaya untuk 550 orang sekitar 11,5 miliar rupiah. Andai saja dana sebesar itu dibelikan beras, bisa didapat berkarung-karung atau berton-ton. Tapi, jangan divonis miring dulu. Konon, gaji anggota dewan itu kurang gede setelah dipotong kiri kanan termasuk untuk dana partai. "Kami kan juga butuh untuk makan, sandang, pendidikan anak, rekreasi dan lobi. Apa dianggapnya anggota DPR itu kaya," ujar seorang anggota DPR. Harap dipahami, kesadaran sebagian penyelenggara negara untuk menyelamatkan republik ini justru tipis. Sampai-sampai, tiga ember duit tercecer di kamar mandi mantan bos Bulog. Sepertinya (maaf) setiap proyek pengadaan beras murah pasti dibelokan. Masih ingat dulu cerita Jaring Pengaman Sosial (JPS), yang hanya indah di atas kertas? Makna JPS pun berubah miring, 'Jaring Paling Semrawut'. Padahal dulu di awal pemerintahan Yudhoyono-Kalla, semua lini bernyali ciut untuk menyimpang. Kini mereka seolah kembali berjaya. Maklum perut sudah terlanjur dimanjakan. Barangkali, kondisi ini tercipta karena sang aparat tak lagi peduli. Persepsi polisi sebagai pengayom pun luntur. Jadi tidak usah heran, di negeri yang diluluhlantakkan tsunami, dihancurkan gempa, digelontor banjir, diluberi lumpur panas, ditimpa kelaparan ini masih ada yang menari di atas bangkai kawan. Ataukah kita perlu mencontoh Cina yang tiap hari mengeksekusi 10 penjahat, walau tidak mampu menekan angka kejahatan? Atau 'petrus' di zaman orde baru harus dihadirkan lagi? Maaf, saya tak mampu menjawab. Yang pasti, biar pun kebenaran itu tidak lapuk, biar pun orang bijak mengatakan 'kebenaran itu hanya datang bila pikiran dan hati kita sederhana, jernih dan berlatarkan cinta', saya tetap tak mampu memberi solusi. Jangankan saya, seorang birokrat idealis pun hanya geleng-geleng kepala sambil berkata: "Saya juga tidak tahu harus berbuat apa lagi." Memang pekan-pekan terakhir ini, cuaca tak menentu. Batuk sudah dua minggu menyerang saya. Saya tak mau jengkel, marah atau menyumpahserapah karena sesungguhnya emosi memainkan peran penting dalam pengaturan kekebalan kesehatan tubuh kita. Jadi? Saya hanya bisa bilang: "Maaf, Yang Di Atas lebih tahu." Mungkin Anda sempat berpikir: "Itulah buah dari kemalasan kita. Tak mau bekerja, tak bersekolah." Namun sejauh mana pemerintah menyediakan lapangan kerja dan pendidikan gratis? Tidak ada, kan? Maaf, saya ketularan teman saya yang suka mengomel. Atau, mungkin sebaiknya saya tak usah memikirkan hiruk-pikuk ini? Tapi bila tidak, apa jadinya negara ini bila rakyatnya bingung? Tidak lucu bila negara ini berubah menjadi Republik Indobingungsia. Atau, Republik Indonesiabingung! Akhirnya, selama penyakit 'bingung' ini masih menghinggapi birokrat, politisi maupun rakyat, selama itu pula lautan kemiskinan dan ketidakpastian tetap mendera bangsa ini menuju sebuah titik negara gagal yang tak terbayangkan akibat fatalnya. Oleh sebab itu, seluruh kekuatan hati nurani harus bersatu dan menyatu untuk mencegah kemungkinan serba hitam itu, agar tidak semakin melulur tubuh dan hati bangsa yang sama kita cintai ini. e-mail: [EMAIL PROTECTED] [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
