Tempat minum & makan masakan asal luarnegeri makin bertebaran di 
perkotaan Indonesia. Terbayang derasnya aliran devisa memutar roda 
perekonomian nasional. Terkesan globalisasi kapital ada manfaatnya 
juga untuk rakyat Indonesia.

Sama seperti karedok "Ceu Tinah" yang menerapkan standar resep & 
manajemen di warung cabang gang sebelah, tempat makan-minum asing itu 
juga berpegang pada standar resep & harga dari induknya di luar sana. 
Strategi wajar untuk menjaga citra kualitas.

Bedanya, ketakutan akan rusaknya citra di banyak tempat makan-minum 
asing itu diredam juga dengan standarisasi interior, perabot dlsb. 
Gilanya lagi, standarisasi itu bukan cuma sebatas spec, melainkan 
kehadiran secara fisik. Sejumlah resto malah menerapkan kewajiban 
memakai tatakan gelas, gula, cangkir, alat suap dll, yang dikirim dari 
pusatnya di seberang laut sana. Saya bahkan nyaris mati ketawa di Bali 
waktu dikasih tau bahwa tisu resto yang baru saya lempar ke asbak itu 
harus diimpor dari Singapur (punya hutan apaan Singapur, kok 
bisa-bisanya bikin kertas tisu?). Satu-satunya bahan lokal yang dapat 
prioritas ampunan untuk dipakai di tempat makan-minum asing itu 
rata-rata cuma sayur-mayur.

Apabolehbuat, bayangan tentang devisa yang memutar perekonomian dalam 
negeri langsung buyar berantakan digilas kenyataan. Peluang bagi 
pemain lokal sebagai pemasok sendok plastik, taplak, daging babi dsb, 
ternyata diabaikan pemerintah. Kesejahteraan para kapitalis & kumpeni 
asing di tanah ini rupanya jauh lebih penting ketimbang memajukan 
bangsa yang jadi pemilik tanahair ini. UU Penanaman Modal yang baru 
konon masih juga berpihak pada kepentingan para pemodal asing.

Jadi, kalau Pak Moel berharap suatu saat putrinya bisa beremansipasi 
sosial, maka saya cuma numpang tanya: kapan kita bisa mengecap 
emansipasi ekonomi di negeri sendiri kalau pemerintahnya cuma bisa 
merengek-rengek seperti Kartini (yang akhirnya toh dipoligami juga).

Ps.
kenapa chef / cook di dapur resto kebanyakan laki, her?


From: "heri latief" <[EMAIL PROTECTED]>

: ceritanya pak moel tentang "segelas capuccino dari kafe emansipasi"
: bikin saya jadi ingat bahwa harga segelas kopi gaya itali di jakarta
: hampir sama dengan di amsterdam.
:
: artinya harga segelas kopi di kafe jakarta sudah jadi harga
: globalisasi.
:
: salam, heri latief
:
: djoko sri moeljono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
:
:
: EMANSIPASI

[...]

: >
: Setelah berpisah,aku bilang pada anakku yang nyopir mobil (mi
: lik kantor karena aku belum pernah bisa beli mobil):
: "Ma,minum capuccino di kafe mahal ya,padahal kalau beli yang
: bungkusan paling Rp 1,000 dan bisa nyeduh sendiri!"
: "Yang mahal bukan kpinya pak,tapi suasananya.Bapak lihat kan
: kami hanya pesan segelas capuccino tapi duduk berapa jam?"
: Kupikir benar juga anakku dan aku yang ketinggalan jaman.
: Tapi aku juga berharap,suatu saat anakku bisa naik mobil sendi
: ri,bawa laptop dan bercengrama dengan teman sekantor.
:
:
: Send instant messages to your online friends
http://uk.messenger.yahoo.com
:
: [text non portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke