RIAU POS
Sepenggal Harapan Buruh
01 Mei 2007 Pukul 11:00
(Menyambut Hari Buruh se-Dunia)
Hari buruh sedunia yang jatuh pada 1 Mei atau yang lebih dikenal dengan
May Day adalah suatu momen para buruh atau pekerja khususnya merenungi dan
belajar dari pengalaman untuk bisa mempunyai harapan plus kenyataan yang lebih
baik lagi ke depan.
Kita lihat di berbagai kota besar di negeri ini geliat memperingatinya
mulai terasa. Jakarta dan Bandung misalnya, ribuan buruh berkumpul untuk
menyatakan sikap dan aspirasinya menyangkut nasib buruh masa kini dan terus
berusaha untuk kesejahteraan para anggotanya.
Semangat ini seperti menular keberbagai tempat di belahan dunia mana
saja. Yang jelas, buruh atau pekerja adalah sebuah kekuatan besar, karena
mereka dipersatukan oleh isu-isu global yang hampir sama.
Di negeri ini, buruh masih terus berusaha untuk menjadi tuan di negeri
sendiri. Tak dipungkiri dampak dari globalisasi telah membuat buruh jadi alat
produksi, kemanusiawian hanya tertuang lewat pembicaraan dan slogan, dalam
kenyataan buruh kita masih belum terlepas dari perahan berbau kapitalis yang
bertuju pada keuntungan.
Hukum dasar ekonomi telah menafikan buruh tercerabut dari hakiki
kemanusiaan. Kita tergasing dalam pusaran dunia yang terus memarjinalkan buruh,
hingga status sosial-ekonomi paling buncit.
Begitu banyak kejadian yang mesti dicatat agar negeri ini bisa berbenah
mengurus para pekerja atau buruh. Dampak kebijakan sektor perkayuan misalnya,
telah membuat pengangguran yang begitu besar yang sampai sekarang masih
menyisakan persoalan.
Beberapa aturan buruh migran yang masih menyulitkan buruh itu sendiri di
negeri orang. Yang tak tersentuh misalnya perlakuan terhadap anak-anak yang
dijadikan "buruh" karena keadaan atau "sistim". Bejibun buruh perempuan masih
bernasib tak lebih dari kacung di negerinya sendiri.
Kita mesti lebih memetakan persoalan ini jadi jelas, hingga perlahan
nasib bangsa ini bisa berada dalam perubahan yang benar. Program meningkatkan
sumber daya manusia misalnya, mestilah terus didukung dengan memberikan
anggaran yang lebih untuk pendidikan, baik itu pendidikan formal mau pun
non-formal.
Tidak saja oleh pemerintah, beberapa pihak yang terkait seperti dunia
usaha, organisasi masyarakat dan lain-lain mesti terlibat.
Dan perlakuan dan kebijakan buat penduduk tempatan yang di daerahnya
menjadi tujuan investasi. Banyak kasus ketidakpuasan mencuat, bahkan berbau
desintegrasi bermula dari ketidakbecusan pengambil keputusan yang terlibat di
dalamnya.
Untuk Riau misalnya, berapa banyak perusahaan besar di daerah ini. Tengok
ada Chevron, IKPP, RAPP, Surya Dumai Group, Musim Mas, Tri Bakti Sarimas dan
lain-lain. Apa efeknya terhadap penduduk tempatan, kebanyakan tak lebih dari
penonton belaka.
Saya tak ingin sebetulnya memihak, tapi kenyataan mempertontonkan, betapa
kehadiran Chevron di tanah-tanah Sakai yang bisa diambil keuntungan oleh
masyarakat hanyalah menjemur pakaian biar cepat kering di pipa yang panas.
Begitu juga IKPP dan RAPP, sering berseteru persoalan lahan. Padahal kita
tahu, substansi persoalannya adalah ketika masyarakat tempatan merasa tak
dilibatkan, mereka bagai dialahkan garuda di negerinya sendiri.
Program CD (community development) saja belumlah menjawab persoalan
secara penuh, para pelaku dan pengambil keputusan harus lebih arif dan
"membumi", agar kepentingan tak saling bertabarakan.
Buruh di sektor informal pun makin menanggungkan akibat yang tak lebih
baik. Undang-undang dan seabrek peraturan untuk menata nasib buruh hanya enak
dibaca dan jadi pajangan.
Nasib buruh ternyata perlu perhatian lebih serius untuk merubahnya.
Diperparah lagi dengan situasi ekonomi Indonesia yang labil dan rentan.
Kenyamanan pekerjaan, ancaman PHK, pilit, jenjang karir tak menentu dan lain
sebagainya.
Peran formal serikat pekerja atau serikat buruh diharapkan makin
bermanfaat untuk para anggotanya. Sudah sepatutnya sebuah serikat buruh/pekerja
terus mencari terobosan dan ide-ide baru untuk menuju kearah cita-cita itu.
Produk hukum dari pemerintah sudah baik, persoalannya adalah para oknum
yang menjalankannya masih belum sepenuhnya memahami perubahan tersebut.
Kita bisa lihat dari berbagai era kekuasaan di Republik ini, mulai dari
era kolonial, era merdeka dengan berbagai orde, buruh masih terus berjuang
mencari jati dirinya.
Kita telah merdeka secara umum, tetapi dalam kenyataannya kemerdekaan
yang sesungguhnya belumlah terkecap "baik" di kalangan para buruh atau pekerja.
Bahkan saat ini dengan malu harus kita akui bahwa Indonesia saat ini terkenal
dengan tenaga kerja murahnya.
Lainnya kita juga merasa miris karena negeri kita tercinta ini baru
sanggup mengirim tenaga kerja ke luar negeri kebanyakan adalah
pekerjaan-pekerjaan non-skill (keahlian) seperti pembantu rumah tangga, tukang,
tenaga perawatan kebun, supir dan sejenisnya.
Kita sangat dukung upaya pemerintah untuk menarik sebanyak mungkin
investor untuk menanamkan sahamnya di negeri ini. Kalau bisa hal itu tersebar
dengan merata di tiap provinsi dan daerah, itu sangat dimungkinkan karena
pemerintah lewat instansi terkait memang ada khusus mengurus untuk itu.
Hal itu sebaiknya juga diimbangi dengan perlakuan terhadap para buruh dan
pekerja. Mari sama tegakkan kepala dan harga diri bahwa buruh yang murah bukan
lagi satu kebanggan kita mempromosikannya ke luar negeri.
Ubahlah jadi buruh atau pekerja yang berkualitas, buruh atau pekerja yang
mempunyai keahlian, buruh atau pekerja yang siap dengan SDM.
Untuk Riau, mari lebih perhatikan nasib buruh di provinsi ini, gubernur
sebagai Kepala Daerah mestilah lebih bijak untuk memperhatikan nasib buruh
tempatan.
Bukan membedakan dengan pendatang, tentu kita tidak ingin puak Melayu,
saudara-saudara kita dari Sakai, Talang Mamak atau Suku Laut dan lain-lain.
Makin lari ke pinggiran, mereka seakan dijauhi "kue" pembangunan.
Toh, selama ini, cukup sudah mereka terberai oleh keputusan yang tak
bijak dari petingginya. Begitu juga hirarki ke bawah seperti bupati, camat,
kepala desa dan aparat pemerintah lainnya.
Cobalah ciptakan aturan yang membuat iklim perburuhan jadi nyaman
berdampingan dengan masyarakat yang lebih luas. Kita sedih, bila di provinsi
kaya ini, buruh masih susah dapatkan upah setara dengan upah minimum provinsi
yang telah ditetapkan, walau termasuk murah.
Kembali pada satu Mei yang bersejarah ini, mari para buruh sejenak
merenung. Apakah kita masih terus bisa mengisi esok dengan kebaikan, melihat
nasib rekan-rekan kita di berbagai belahan tempat yang masih melarat dan jauh
dari kesejahteraan.
Mari rapatkan barisan, mencoba bersatu untuk kehidupan yang lebih baik.
Saya percaya dan sangat percaya, bila para buruh atau pekerja menggalang
kekompakan, ia adalah sesuatu kekuatan yang maha dahsyat yang bisa ikut
memainkan peran penting guna mengubah nasib buruh di negeri ini yang masih jauh
dari harapan.
Khusus untuk buruh perempuan, teruslah berjuang, mari kita sederap
menyongsong masa depan yang lebih cerah. Republik ini sebenarnya kaya, mari
menjadi tuan.
Dan terakhir, kita dukung langkah Presiden SBY yang bertemu para wakil
buruh atau pekerja pada 1 Mei 2007 ini di Palu, Sulawesi Tengah.
Lewat perwakilan Tripatrit Nasional kita harapkan melahirkan putusan yang
lebih baik untuk para buruh. Selamat Hari Buruh Sedunia dan Selamat menjadi
tuan di negeri yang kaya ini. Semoga.***
Febri Alamsyah, Ketua DPD SP Kahutindo Riau.
[Non-text portions of this message have been removed]
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/