Refleksi: Tentu pendidikan mahal bagi penduduk  yang berpendapatan setaraf 
dengan garis kemiskinan atau dibawah garis tersebut.  Mengingat  jumlah 
terbesar penduduk  Indonesia berpendapatan demikian, maka tanpa ragu-ragu bisa 
dikatakan bahwa  "pengetahuan adalah kekuatan [knowlegde is power] tidak 
diberkati untuk dimiliki oleh mayoritas penduduk. Jadi jawaban terhadap 
pertanyaan "mengapa atau kenapa",  tentunya tercakup pada konstruksi politik 
dan implementasinya ke masyarakat. Politk pendidikan mengabdi kepentingan 
rakyat mayoritas  berpengetahuan tentunya tidak. Tanpa pengetahuan berarti 
tanpa kekuatan, kalau tanpa kekuatan memudahkan dimanipulasi dan dikendalikan 
sebagai obyek kepentingan. Siapa yang diberkati untuk beruntung dengan politik 
pendidikan demikian? Apa komentar Anda?

  

http://www.gatra.com/artikel.php?id=104378


Sekolah Mahal, Tanya Kenapa?

Sistem pendidikan kita sedang menghadapi krisis solidaritas, jauh dari reksa 
demokratis, dan abai terhadap keadilan sosial. Meski kita telah memasuki 
millenium ketiga, cara kita menanggapi tiga serangan ini tak beranjak jauh dari 
warisan semangat baru zaman Adam Smith pada tahun 1850-an. Semangat itu adalah, 
"Mengeruk kekayaan, melupakan semuanya, kecuali diri sendiri!"

Biaya sekolah memang mahal. Tidak ada satu individu yang dari dirinya sendiri 
mampu membiayai kebutuhan pendidikan. Karena itu harus ada manajemen publik 
dari negara. Sebab negaralah yang dapat menjamin bahwa setiap warga negara 
memperoleh pendidikan yang layak. Negaralah yang semestinya berada di garda 
depan menyelamatkan pendidikan anak-anak orang miskin. Tanpa bantuan negara, 
orang miskin tak akan dapat mengenyam pendidikan.

Namun, ketika negara sudah dibelenggu oleh empasan gelombang modal, sistem 
pendidikan pun bisa ditelikung dan diikat oleh lembaga privat. Serangan ini 
pada gilirannya semakin mereproduksi kemiskinan, melestarikan ketimpangan, 
mematikan demokrasi dan menghancurkan solidaritas di antara rakyat negeri!

Mengapa sekolah mahal bisa dilacak dari relasi kekuasaan antar-instansi ini, 
yaitu antara lembaga publik negara dan lembaga privat swasta. Ketimpangan corak 
relasional di antara dua kubu ini melahirkan kultur pendidikan yang abai pada 
rakyat miskin, menggerogoti demokrasi, dan melukai keadilan.

Sekolah kita mahal, pertama, karena dampak langsung kebijakan lembaga 
pendidikan di tingkat sekolah. Ketika negara abai terhadap peran serta 
masyarakat dalam pendidikan, pola pikir Darwinian menjadi satu-satunya cara 
untuk bertahan hidup. Sebab tanpa biaya, tidak akan ada pendidikan. Karena itu, 
membebankan biaya pada masyarakat dengan berbagai macam iuran merupakan 
satu-satunya cara bertahan hidup lembaga pendidikan swasta. Ketika lembaga 
pendidikan negeri yang dikelola oleh negara berlaku sama, semakin sempurnalah 
penderitaan rakyat negeri. Sekolah menjadi mimpi tak terbeli!

Kedua, kebijakan di tingkat sekolah yang membebankan biaya pendidikan pada 
masyarakat terjadi karena kebijakan pemerintah yang emoh rakyat. Ketika 
pemerintah lebih suka memuja berhala baru ala Adam Smith yang "gemar mengeruk 
kekayaan, melupakan semua, kecuali dirinya sendiri, " setiap kewenangan yang 
semestinya menjadi sarana pelayanan berubah menjadi ladang penjarahan kekayaan. 
Pejabat pemerintah dan swasta (kalau ada kesempatan!) akan berusaha mengeruk 
uang sebanyak-banyaknya dari proyek anggaran pendidikan.

Ketiga, mental malingisme pejabat negara, juga swasta, semakin menggila 
terutama karena tuntutan persaingan di pasar global. Indikasi Noam Chomsky 
tentang keterlibatan perusahaan besar Lehman Brothers dalam menguasai sistem 
pendidikan rupanya juga telah menyergap kultur pendidikan kita. "Jika kita 
dapat memprivatisasi sistem pendidikan, kita akan menggunungkan uang." Itulah 
isi pesan dalam brosur mereka.

Banyak perusahaan berusaha memprivatisasi lembaga pendidikan, kalau bisa 
membeli sistem pendidikan. Caranya adalah dengan memanfaatkan kelemahan moral 
para pejabat negara. Bagaimana? Dengan membuatnya tidak bekerja! Karena itu, 
cara paling gampang untuk memprivatisasi lembaga pendidikan adalah dengan 
membuat para pejabat negara membiarkan lembaga pendidikan mati tanpa subsidi, 
mengurangi anggaran penelitian, memandulkan persaingan, dan lain-lain. 
Singkatnya, agar dapat dijual, lembaga pendidikan negeri harus dibuat tidak 
berdaya. Kalau sudah tidak berdaya, mereka akan siap dijual. Inilah yang 
terjadi dalam lembaga pendidikan tinggi kita yang telah mengalami privatisasi.

Pendidikan merupakan conditio sine qua non bagi sebuah masyarakat yang solid, 
demokratis, dan menghormati keadilan. Karena kepentingan strategisnya ini, 
mengelola pendidikan dengan manajemen bisnis bisa membuat lembaga pendidikan 
menjadi sapi perah yang menggunungkan keuntungan. Karena itu, sistem pendidikan 
akan senantiasa menjadi rebutan pasar. Jika pasar melalui jaring-jaring 
privatnya menguasai sistem pendidikan, mereka dapat merogoh kocek orangtua 
melalui berbagai macam pungutan, seperti, uang gedung, iuran, pembelian 
formulir, seragam, buku, jasa lembaga bimbingan belajar, dan lain-lain.

Negara sebenarnya bisa berperan efektif mengurangi mahalnya biaya pendidikan 
jika kebijakan politik pendidikan yang berlaku memiliki semangat melindungi 
rakyat miskin yang sekarat di jalanan tanpa pendidikan. Jika semangat "mengeruk 
kekayaan, melupakan semuanya, kecuali diri sendiri" masih ada seperti sekarang, 
sulit bagi kita menyaksikan rakyat miskin keluar dari kebodohan dan 
keterpurukan. Maka yang kita tuai adalah krisis solidaritas, mandeknya 
demokrasi, dan terpuruknya keadilan sosial.

Doni Koesoema, A
* Mahasiswa jurusan Pedagogi Sekolah dan Pengembangan Profesional pada Fakultas 
Ilmu Pendidikan Universitas Kepausan Salesian, Roma
[Kolom, Gatra Nomor 23 Beredar Kamis, 19 April 2007

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke