RIAU POS
11 Mei 2007 Pukul 09:35
Menteri Baru, Tantangan Baru
Pencopotan menteri lama berlangsung dengan mendebarkan. Bahkan, hingga
pelantikan pun, sejumlah masalah masih tersisa.
Kita lihat contoh bagaimana proses pencopotan menteri. Para menteri
ditelepon, dikirimi surat oleh SBY, ditemui Seskab Sudi Silalahi, serta
terakhir bertemu langsung dan bicara dari hati ke hati dengan SBY.
Proses itu tentu penuh tahap yang sangat dramatis. Akibatnya, menteri
yang merasa "tersinggung" terhadap proses dan alasan yang diberikan SBY pun
tidak mengikuti proses tersebut. Ada menteri yang tak mau bertemu langsung
dengan SBY.
Proses pemanggilannya pun tak kalah dramatis. Mereka ditelepon dan
kemudian "dites" langsung oleh SBY. Proses itu begitu panjang dan penuh
liku-liku.
Hasilnya? Dramatis dan kontroversial. Banyak pihak yang heran terhadap
reshuffle tersebut. Partai yang kehilangan kader menyampaikan kritik. Mereka
yang bertambah kader di kabinet menyatakan rasa syukur.
Pengamat pun lebih melihat itu sebagai reposisi baru hubungan presiden
dengan partai politik. Artinya, reshuffle tersebut penuh dengan bargaining dari
partai politik.
Kini, pasca-reshuffle, sejumlah masalah baru pun muncul. Sejumlah partai
politik siap-siap melakukan balas dendam pada SBY-Kalla, karena dicampakan dari
kabinet
Misalnya Yusril Ihza Mahendra yang sangat kecewa atas pencopotannya. Apa
pun, Yusril termasuk tokoh awal dalam menduetkan SBY-Kalla. Karena itu, hal
tersebut tentu akan menjadi problem tersendiri.
Itu baru persoalan yang menyangkut hubungan politik pasca-reshuffle.
Belum lagi persoalan teknis yang dihadapi para menteri baru nanti.
Jaksa Agung Hendarman Supandji, misalnya, kini berada dalam tekanan agar
lebih agresif daripada pendahulunya, Abdulrahman Saleh.
Intinya, tugas para menteri baru itu tidak mudah. Yang ringan pun bakal
menjadi berat karena "barisan sakit hati" yang kecewa terhadap reshuffle
tersebut semakin bertambah panjang.
Menteri-menteri baru dan lama tentu akan semakin berada dalam tekanan
politik dengan tensi tinggi.
Proses reshuffle pun telah menciptakan kelompok oposisi-oposisi baru.
Biaya politik yang cukup mahal harus dihadapi SBY dan Kalla.
Jika sebelum reshuffle, oposisi hanya PDIP, maka sekarang bertambah,
misalnya PBB yang siap menarik dukungan pada SBY, ditambah PPP yang akan
melakukan perlawanan karena kadernya dicampakan.
Dalam kondisi panas seperti ini, SBY harus berani membuktikan pada
publik maksud reshuffle adalah untuk meningkatkan kinerja menteri. Jika menteri
yang dipecat itu memang bermasalah, maka selesaikan mereka di meja pengadilan.
Pasca reshuffle, SBY sekarang no thing to lose. Artinya tidak takut
melakukan pembersihan koruptor, hanya karena ada kawan dekat atau balas jasa
yang terkait masalah korupsi.
Jika harus melakukan pembersihan korupsi secara radikal, dia tidak akan
merasa ada yang hilang atau dikecewakan.
Selama ini SBY terkesan takut, setiap akan melakukan pembersihan, dia
merasa segan dengan orang-orang yang pernah berjasa padanya.
Sekarang tidak sungkan lagi, SBY tidak merasa ada yang hilang jika para
koruptor itu ditangkapi.
Inilah tangtangan baru SBY, yakni membuktikan pada publik bahwa reshuffle
itu dilakukan demi meningkatkan kinerja, bukan alasan tekanan partai. Dengan
pembuktian ini, isu-isu miring dengan sendirinya akan hilang
[Non-text portions of this message have been removed]
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/