From: "Rudy Thehamihardja" <[EMAIL PROTECTED]> cut dulu---> > > KENAPA SEMUA PENDUKUNG PRESIDEN harus dari partai saja saya tidak ngerti. > Apa tidak ada orang pintar yang diluar partai, atau para orang2 pintar > yang > mampu mengelola negara ini sudah semua bergabung di partai?? ++++ Dengan sistim ketatanegaraan yang ada sekarang, dan mengikuti triaspolitika, maka parpol memang dibutuhkan dalam sebuah sistim ketatanegaraan, mengenai orang diluar partai yang lebih mampu, tentu saja banyak, setelah puluhan tahun partai politik di pasung menjadi 3 partai dimana 2 partai disediakan sebagai partai basabasi, maka bisa dibilang kader partai politik yang ada sekarang lebih banyak diisi oleh kader yang bisa dibilang kader berani mati ( kader militan ), sedang untuk partai baru di isi oleh kader karbitan yang bisa dibilang masih serba bingung disaat harus langsung mempraktekan diri sebagai politikus.
Pada periode 1999-2004 siapa yang tidak tahu, sedemikian banyak partai politik ikut memeriahkan pemilu pertama kali setelah tahun 55, dimana hasil pemilu menghasilkan politikus yang kemudian duduk di kursi parlemen dengan pengalaman bisa dibilang dimulai dari nol, karena siapa bisa menyangka bahwa pemilu di tahun 99 menjadi berkah untuk politisi yang partainya banyak di pilih oleh pemilih, tanpa pemilih itu pernah tahu bahwa bila memilih partai anu, maka suaranya akan di wakil kan ke si anu. Dan disaat yang bersamaan si anu secara defakto menjadi seorang politikus, biarpun pengalaman sebelumnya hanya sebagai kader militan yang tidak pernah ngeh bahwa kader militan berbeda makna dengan politikus. Kejadian bisa dibilang terulang kembali di pemilu 2004 yang lalu, dimana sekali lagi pemilih memberi pilihan kepada partai dan sedikit yang langsung memilih calonnya, dan karena sedikit yang memilih calonnya, maka hasil akhir menjadi tidak berbeda banyak dengan pemilu 1999, dan para 'politikus' yang duduk di Legislatif bisa dibilang sudah sedikit mengalami pengalaman sebagai seorang politisi, tentu saja pengalaman sebagai politisinya tidak akan menjadikan politikus tersebut menjadi politikus ulung, karena apa yang di pelajari selama periode 1999-2004 bukanlah ilmu politik layaknya mahasiswa jurusan politik dan hukum, melainkan mempelajari bagaimana menjadi seorang anggota Legislatif semata, dimana untuk menjadi seorang anggota legisltaif adalah menaikan derajat kehidupan bermasyarakat tidak kurang dan tidak lebih, sehingga menjadi anggota legislatif adalah suatu jabatan status semata. Aceh sebagai sebuah daerah yang memiliki otonomi khusus sedikit berbeda, dimana pemilihan gubernur yang pertama kali diadakan memperbolehkan seseorang di calonkan menjadi calon gubernur dengan syarat di dukung oleh sekian banyak tanda tangan seperti halnya pemilihan anggota DPD di DPR/MPR, dan hasilnya kita bisa saksikan bahwa jagoan dari usungan partai politik kalah teklak.....sebuah fenomena unik, karena Aceh yang notabene sekian puluh tahun masyarakatnya di suguh i kekerasan dan ketakutan mampu memilih dengan hasil yang di luar dugaan banyak 'politikus'. Semoga saja pada undang-undang politik dan undang-undang pemilu yang akan datang, banyak perubahan mendasar yang memungkinkan perubahan pola politikus didalam menjaring dukungan dari masyarakat pemilih. Bisa saja nantinya diadakan pemilihan langsung secara penuh, dan bisa juga seperti kehendak partai besar dengan membuat minimalis persentasi suara yang meloloskan kadernya menjadi anggota legislatif, dan sekali lagi bila keinginan partai besar diikuti maka situasi dan kondisi periode 1999-2004, 2004-2009 akan terulang. Memang partai besar yang 'kurang' berani menerima pemilihan langsung mempunyai perhitungan berbeda dengan umum nya masyarakat pemilih, dimana partai besar khawatir dan takut suara pemilih bisa terpecah ke calon yang dikenal masyarakat semata, sehingga nantinya bisa saja seorang artis menjadi politikus tanpa perlu bersusah payah berkampanye, karena masyarakat pemilih sudah lebih dahulu di kampanyekan melalui sinetron sinetron........ Sepertinya perubahan pola pikir masyarakatlah yang harus di perhitungkan terlebih dahulu, dan untuk melakukan ini semua tentunya membutuhkan waktu yang sayangnya harus ditebus setelah 5 tahun berlalu, dan semua ini memang konsekwensi sebuah reformasi, yang bermakna revolusi yang di kredit, dimana apapun istilahnya kredit itu tentunya lebih mahal dibandingkan dengan membeli kontan.......( Oom UPU bisa lebih menjelaskan mengenai reformasi dan revolusi ). Kembali ke laptop eh Presiden, di sistim ketatanegaraan kita ini memang unik, dimana Presiden dipilih langsung oleh rakyat, sedang didalam tugas sehari-harinya di awas i oleh Legislatif, dan pengawas ini memiliki kemampuan untuk menahan program Presiden sehingga biarpun Presiden yang sudah memiliki pengalaman lama pun tidak akan pernah mampu bekerja maksimal selama pengawasnya melakukan pengawasan asal mengawas, dalam hal ini partai politik, hasil akhir bisa diduga Presiden pun mau tidak mau harus selalu berbaik-baikan dengan pengawasnya dimana di dunia luar di istilahkan lobby politik, sedang di kita ?..........walahualam........ sur. cut lagi-------> > Rudy th Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
