Murtad! Dakwaan sungguh dahsyat. Tobat! Tuntutan tanpa debat. Pilih
satu mati, pilih lain hidup. Tiada kompromi. Murtad atau tobat. Neraka
atau surga. Tanpa jalan tengah. Tiada jembatan di antaranya. Begitulah
agama-agama eksklusif asal Timur Tengah bikin garis pembelah kemanusiaan.

Berabad-abad garis ini membagi manusia dalam kelompok-kelompok yang
kadang hidup berdampingan dalam keadaan kurang lebih damai, lebih
sering dalam permusuhan dan pertentangan. Yang jelas, selalu dalam
kesadaran dikotomi orang dalam-orang luar, kami-kamu. Baik murtad
maupun tobat berarti berputar balik. Mengapa yang satu disebut murtad
yang lain tobat tidak bergantung pada tindakan orang yang berputar
balik itu, melainkan pada orang yang menilai. Kalau orang yang
sebelumnya berjalan bersama saya berbalik arah membelakangi saya, dia
saya sebut murtad, berubah jadi kamu. Kalau dia yang sebelumnya
berjalan bertentangan dengan saya berputar ke arah yang saya tuju, dia
saya sebut tobat, masuk jadi kelompok kami. Acuan adalah aku. Karena
agamaku itulah yang benar, orang yang meninggalkan agamaku murtad,
yang masuk agamaku tobat. Murtad akibat sesat dihasut. Tobat akibat
sadar tawakal. Si murtad durhaka jahat. Si tobat saleh taat.

Tobat punya makna lebih luas daripada sebagai antonim murtad. Karena
berbalik kepada agamaku yang benar itu baik adanya, tobat pun bisa
berarti berbalik dari perbuatan jahat ke kelakuan baik, insaf.

Murtad pun bisa dipakai bukan dalam rangka agama. Orang bisa murtad
terhadap tradisi, kebiasaan, adat. Yang menarik, biasanya kata ini
baru dipakai bila orang yang dianggap murtad tak melakukan hal yang
merugikan atau menyusahkan orang lain. Seorang perampas nyawa atau
harta, murtad atau tidak, akan disebut pembunuh atau perampok, lantas
berlandaskan itu dihukum. Justru orang yang tak melakukan kejahatan
atau menghasut orang berbuat jahat, tapi dianggap berkhianat terhadap
keyakinan kelompok, diberi cap murtad, agar ada alasan menyakitinya,
disingkirkan dari pergaulan sampai dari muka bumi.

Orang murtad biasanya tak dianggap berpindah agama karena pilihannya
sendiri sebagai orang dewasa mandiri, melainkan menjadi korban
pemurtadan. Konsep pemurtadan sangat defensif dan khas. Bahasa
Inggris, misalnya, tak mengenal bentukan apostasy (dari kata
Yunani/Latin apostasia: hal menyingkir) dengan makna ini. Ada
apostatizing yang kadang dipakai untuk menerjemahkan pemurtadan. Ini
tidak tepat sebab apostatizing mengacu pada tindakan menyingkirkan
atau memurtadkan diri sendiri, bukan memurtadkan orang lain.

Yang biasa jadi perdebatan: bolehkah menyebarkan agama kepada orang
lain? Pada dasarnya jawaban ideal: kalau golongan saya mau
mempertobatkan orang lain, boleh; kalau golongan lain ingin
memurtadkan anggota kelompok saya, larang.

Tersamar di sini adalah pertanyaan yang lebih prinsip mengenai hak
asasi orang—mengapa orang seorang yang merdeka, waras, dan mandiri tak
boleh murtad atau tobat menurut kehendak dan pilihan sendiri? Mengapa
keyakinan iman seorang dewasa yang berakal budi harus dikontrol
orangtuanya, komunitasnya, bahkan sampai dengan taruhan nyawa? 



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke