http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=285899

Sabtu, 19 Mei 2007,



Matinya Gerakan Moral Force
Oleh Mohammad Afifuddin 


Segenap elemen bangsa yang masih proreformasi layak berintrospeksi sekali lagi. 
Sebab, ternyata pengorbanan para mahasiswa yang tewas dalam kasus Semanggi I 
dan II untuk merobohkan kekuasaan Soeharto sembilan tahun silam belum 
memberikan kontribusi signifikan bagi kemajuan negeri ini. 

Salah satu eksponen reformis '98 adalah mahasiswa. Saat itu, mereka berada di 
garda depan dalam penumbangan Orde Baru. Tidak main-main, puluhan nyawa 
mahasiswa harus menjadi tumbal dalam tragedi Trisakti serta Semanggi I dan 
Semanggi II sebagai rentetan kejadian sebelum dan sesudah lengsernya kekuasaan 
Soeharto.

Tak bisa dimungkiri, sejarah gerakan mahasiswa di negeri ini merupakan sejarah 
the agent of moral force. Betapa tidak? Mereka rela menjadikan diri sebagai 
martir dalam usaha membuka wilayah kehidupan sosial, politik, dan ekonomi di 
masyarakat agar berlangsung lebih baik daripada sebelumnya.

Artinya, posisi mereka selalu berada pada garis moral force. Yaitu, 
keterlibatan para mahasiswa dalam setiap momen perubahan tersebut tetap pada 
koridor idealisme gerakan yang senantiasa diperjuangkan. Sehingga, mereka tidak 
akan sampai terjebak pada kepentingan politik praktis yang mensyaratkan 
keberpihakan pada salah satu blok kepentingan atau kekuatan politik tertentu.

Dari konteks itu, gerakan moral force kerap disandingkan dengan status agent of 
change. Sampai-sampai, gelar tersebut seperti telah "melegenda" dalam sosok 
para mahasiswa. Setiap momen perubahan krusial negeri ini (seperti suksesi 
kepemimpinan) selalu diidentikkan dengan peran besar mahasiwa di dalamnya. 

Satu faktor penting yang tidak bisa dibantah sebagai pendukung utama 
keberhasilan gerakan moral force tersebut adalah terciptanya semangat kesatuan 
mahasiswa, cendekiawan (kaum profesional), intelektual organis, dan rakyat yang 
proreformasi dalam bingkai perlawanan menghadapi common enemy yang bernama 
pemerintahan otoriter-tiranik (baca: Orde Baru). 

Mei 1998 menjadi saksi bahwa elemen gabungan antara massa, cendekiawan, 
politisi, dan kelompok mahasiswa yang proreformasi itu sukses membongkar tirani 
Orde Baru sekaligus membuka keran kebebasan sebagai awal munculnya demokrasi 
sebenarnya. 

Namun, tampaknya, saat ini gelar tersebut perlu ditinjau kembali. Karena pasca 
keberhasilan mahasiswa menggulung rezim Orde Baru '98 sampai saat sekarang, 
praktis tidak terlihat lagi "prestasi" yang membanggakan dari mahasiswa 
generasi milenium ini dalam mengawal reformasi atau menciptakan 
perubahan-perubahan yang konstruktif bagi bangsa Indonesia.

Setidaknya, konklusi tersebut terekam dalam hasil jajak pendapat Kompas 
(6/2/06). Hampir separo (50 persen) responden jajak pendapat menilai peran 
mahasiswa dalam menyikapi berbagai kondisi bangsa semakin turun.

Dengan kata lain, sebutan sebagai agent of change dan moral force sejatinya 
telah tereduksi serta tergelincir menuju arah yang kontraproduktif. Mahasiswa 
sekarang tak lebih sebagai agent of sensation. Sebab, fungsi mahasiswa sebagai 
agen perubahan, tampaknya, telah tumpul. Kekuatan moralnya telah terjerembap 
pada moralitas yang absurd.

Buktinya, segala kejadian yang berhubungan dengan mahasiswa hanya mampu 
menampilkan dirinya sebagai sebuah sensasi negatif di masyarakat. Selain 
tawuran (tindak anarkis) yang dilakukan mahasiswa di berbagai daerah (seperti 
Makassar, Medan, Mataram, dan Jakarta), mahasiswa berhasil menghadirkan suguhan 
menarik bagi khalayak.

Maraknya aksi-aksi kriminalitas seperti penggunaan narkoba, alkohol, dan 
semacamnya atau meluasnya praktik seks bebas serta beredarnya VCD porno made in 
mahasiswa secara masal merupakan bagian dari "pembuktian" dari mahasiswa 
mengenai status dirinya sebagai agent of sensation.

Menurut penulis, ada beberapa hal yang menyebabkan hal itu terjadi. Pertama, 
globalisasi dan revolusi teknologi serta informasi berpengaruh secara 
signifikan terhadap perubahan budaya maupun pola pikir di masyarakat (khususnya 
mahasiswa). Ternyata, politik ekonomi yang dilancarkan kaum kapitalis juga 
bermuatan politik kebudayaan. 

Taktik dan strategi pergerakan mereka telah berubah haluan dengan upaya 
mendesain maupun menyebarluaskan budaya pop secara masal. Budaya pop/massa 
tersebut digulirkan melalui jalur-jalur media massa yang memang sengaja 
di-setting untuk menjadi wahana propaganda kaum borjuis.

Meski tidak bisa digeneralisasi, sebagian media memang berperan seperti itu. 
Akibatnya, mahasiswa secara sublim sengaja dibuat "manut". Atau, dalam istilah 
Gramsci dikenal dengan hegemoni.

Pemuda (baca: mahasiswa) sebagai mayoritas penikmat budaya pop otomatis akan 
banyak tertular virus hedonisme seperti yang mereka saksikan di televisi. Ajang 
pencarian sensasi (need to sensation) tersebut merupakan bagian dari konstruk 
hedonis yang sengaja dibangun dengan maksud mengerdilkan potensi spirit moral 
force (resistance) dalam diri mahasiswa.

Kedua, sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia belum mampu berperan 
secara optimal: sebagai pembebas dari belenggu ketertindasan karena 
sesungguhnya sistem pendidikan Indonesia pun masih takluk dalam dekapan budaya 
massa yang kapitalistis tersebut.

Lalu, Bagaimana?
Anthony Giddens pernah mengutarakan bahwa kematian peradaban selalu diawali 
miskinnya kesadaran reflektif-diskursif (discoursive conciousness) di 
masyarakat. Dengan konteks seperti itu, sudah selayaknya para aktivis yang 
pro-moral force movement segera mengevaluasi dan merefleksikan segala yang 
terjadi berikut satu sintesis yang bisa diambil demi perbaikan ke depan. 
Artinya, ajang refleksi tersebut harus mampu menciptakan capaian yang riil pada 
perbaikan wilayah moralitas maupun gerakan. 

Sebab, mahasiswa tetap berperan penting di masyarakat dalam melawan 
kesewenangan penguasa serta absurdnya moralitas hidup dengan cara-cara 
menyebarkan aura moral force-nya yang tulus maupun spirit agent of change 
secara luas.


Mohammad Afifuddin, mahasiswa studi sosiologi FISIP Universitas Jember; giat di 
Lingkar Studi Filsafat SoAC (Sense of Aufklarung Community)


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke