http://www.gatra.com/artikel.php?id=104455


Demokrasi Tanpa Demos

Apa para pemimpin bangsa ini masih punya hak moral untuk mengobarkan 
patriotisme, setelah orang-orang Porong, korban lumpur Lapindo, dan juga 
tempat-tempat lainnya, terusir dari tanahnya sendiri?

Pada akarnya yang terjauh, istilah "patriot" berasal dari bahasa Yunani 
"patris" yang berarti "tanah warga" (native land). Kata ini serumpun dengan 
kata "pater" yang berarti bapak. Di sini tercermin bahwa tanah itu identik 
dengan bapak. Kerapatan antara kedua hal ini memperoleh pengucapannya yang pas 
dalam bahasa Latin "patria", yang berati fatherland.

Alhasil, patriotisme berkaitan erat dengan kecintaan pada tanah, seperti 
hubungan emosional antara anak dan bapak/ibunya sendiri. Dalam semangat 
kecintaan ini, orang siap mengorbankan jiwa-raganya jika ada penaklukan atau 
pengusiran dari buminya sendiri.

Sedemikian eratnya hubungan emosional antara orang dan tanahnya, sehingga 
Lawrance Durrel menggambarkan bahwa "umat manusia adalah ekspresi dari 
landskapnya". Bahwa tubuh manusia terkondisikan dan ingatannya terpaut pada 
tempat. Tempat manusia tumbuh pada akhirnya mengandung kemungkinan ekspresinya. 
Situasi ini tampak dalam kasus "tempat-tempat tertentu" yang mengandung dan 
membangkitkan emosi dan getaran. Di sini terdapat ikatan batin yang kuat antara 
tempat dan memori yang mendorong ekspresi yang khas.

Bahkan bagi kalangan tertentu, seperti orang-orang Aborigin di Australia, tanah 
juga merupakan jantung spiritual; yang mempertautkan manusia dengan 
kekuatan-kekuatan metafisik sebagai sumber penemuan makna eksistensial. Tak 
jemu-jemunya mereka memperjuangkan native title, hak legal atas tanah 
leluhurnya. Bukan semata-mata demi klaim material, melainkan demi melestarikan 
jangkar spiritual dan identitasnya.

Memorabilitas dan spiritualitas dari suatu homeland terbukti dalam gejala 
nostalgia. Kita cenderung nostalgik terhadap tempat-tempat tertentu yang 
menjadi tambatan ingatan dan emosi yang dalam. Kita merasa sakit (algos) yang 
merindukan pulang (nostos). Bukanlah suatu kebetulan jika dalam kamus-kamus 
Inggris hingga kini istilah "nostalgia" masih dianggap sinonim dengan 
"homesickness".

Johannes Hofer, yang memperkenalkan istilah "nostalgia" dalam Medical 
Dissertation on Nostalgia (1688), menggambarkan bahwa seorang pasien mengaku 
bahwa tidak ada obat baginya selain pulang kampung. Dan ia harus segera dibawa 
pulang betapapun lemahnya dan dengan cara apa pun.

Begitu dalam ikatan manusia dengan tanahnya, sehingga mencerabutnya dari bumi 
mereka merupakan suatu tindakan dehumanisasi yang brutal. Sungguh suatu 
ketabahan yang mengagumkan, orang-orang Porong, korban Lumpur Lapindo, yang 
sekonyong-konyong dipaksa menyaksikan tanah, keringat, ingatan, dan mimpi 
mereka terkubur lumpur, lantas hampir satu tahun hidup terkatung di 
kantong-kantong fakir pengungsian.

Toh, dari sekian lapis makna yang mengikat manusia dengan tanahnya, warga 
Porong yang tercerabut ini cuma menuntut ganti untuk hal-hal yang bisa dihitung 
oleh kalkulator, yang jumlahnya jauh di bawah standar harga tanah di area 
tambang. Ajaibnya, hampir satu tahun penantian ini, hampir satu tahun pula 
kisah beli waktu dari pihak-pihak yang bertanggung jawab. Dan pemerintah 
menyaksikan drama tragedi ini dengan sikap yang ambigu, untuk tidak menyebut 
berpihak pada yang kuat.

Perintah konstitusinya begitu jelas, fakir miskin dan orang-orang telantar 
dilindungi oleh negara. Tetapi pemimpin negara malah menyambut aspirasi ratusan 
demonstran yang terlunta ini dengan pemasangan kawat berduri di seputar istana. 
Empati yang dituntut malah pemalingan muka yang ditunjukkan. Ironisnya, ini 
terjadi pada orde demokrasi, di mana sang "demos" (rakyat-jelata) yang mestinya 
menjadi tuan.

Tiba-tiba saya terkenang peringatan Soekarno 67 tahun yang lalu, tentang 
kemungkinan demokrasi tanpa demos seperti di Prancis pasca-revolusi. "Ya, 
marilah kita ingat akan pelajaran Revolusi Prancis itu. Marilah ingat akan 
bagaimana kadang-kadang palsunya semboyan demokrasi, yang tidak menolong 
rakyat-jelata bahkan sebaliknya mengorbankan rakyat-jelata, membinasakan 
rakyat-jelata sebagaimana telah terjadi di dalam revolusi Prancis itu.

"Marilah kita awas, jangan sampai rakyat-jelata Indonesia tertipu oleh semboyan 
'demokrasi' sebagai rakyat-jelata Prancis itu, yang akhirnya ternyata hanya 
diperkuda oleh kaum borjuis yang bergembar-gembor 'demokrasi' --kemerdekaan, 
persamaan, dan persaudaraan, tetapi sebenarnya hanya mencari kekuasaan sendiri, 
keenakan sendiri, keuntungan sendiri!"

Penyelesaian korban lumpur Lapindo merupakan batu ujian terhadap pelaksanaan 
demokrasi di Indonesia. Apakah demokrasi berkhidmat pada kedaulatan rakyat atau 
sebaliknya merupakan cara murah untuk menguasai res publica oleh les privata 
dengan menjadikan aparatur negara sebagai proksi dari pemodal swasta hitam.

Kesadaran reflektif saatnya terbit bahwa tirani tidak saja bisa dicapai lewat 
todongan senjata, melainkan bisa juga lewat sogokan uang. Alangkah malangnya 
nasib rakyat Indonesia, setelah leleran keringat dan tumpah darah, yang dialami 
hanyalah keluar dari mulut harimau menuju mulut buaya.

Orang-orang harus dibangunkan. Kaum demokrat, bersatulah!

Yudi Latif
Direktur Eksekutif Reform Institute
[Perspektif, Gatra Nomor 25 Beredar Kamis, 3 Mei 2007] 

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke