Delfie Lahama (tengah, di atas perahu), anak nelayan penemu ikan 
purba Coelacanth di Pantai Malalayang, Manado, Sabtu (19/05), jadi tontotan 
warga.
           




      HARIAN KOMENTAR

      21 Mei 2007 



      Ditemukan di Pantai Manado, hanya bertahan hidup 17 jam


      Ikan Purba 'Coelacanth' Nyaris Diwoku Belanga 
     


Ini untuk kedua kalinya, ikan purba jenis Coelacanth ditemukan di perairan 
Sulut. Setelah penemuan pertama di Pantai Manado Tua tahun 1998 silam, ikan 
yang dianggap sudah punah 65 juta tahun lalu ini, ditemukan hidup-hidup di 
Pantai Manado oleh nelayan lokal, Yustinus Lahama dan anaknya Delfi Lahama, 
Sabtu (19/05) lalu, dan nyaris dipotong untuk dijadikan ikan woku belanga. 

Menurut Yustinus, tujuan dia dan anaknya ke laut se-benarnya hanya memancing 
ikan untuk dimakan sendiri. Begitu sampai di lepas pantai, pancing pun 
dilemparkan. Tiba-tiba, kata Yustinus, kail mereka seperti tersangkut pada 
sesuatu. Waktu ditarik, sangat berat. Namun senar pun ditarik terus.


Begitu mata kail dekat, tampak seekor ikan dengan pan-jang kurang lebih 1 meter 
de-ngan berat berkisar 30 Kg disertai bintik-bintik putih, tersangkut pada mata 
kail. "Ikan ini didapat di kedalaman 70 depa atau 105 meter di Malalayang pada 
pukul 08.00 wita, panjangnya kurang lebih 1 meter dan berat ikan Coelacanth ini 
berkisar 20 sampai 30 Kg" tutur Yustinus. 


Meski tergolong besar, namun ikan tersebut tampaknya tidak melakukan perlawanan 
lagi ketika diseret hingga ke dalam perahu. Tapi setelah berada di dalam 
perahu, ikan itu mulai berontak, sampai merusak beberapa bagian perahu. 
Sesampai di darat, ada dua orang yang ikut membantu mengangkat ikan tersebut 
karena saking beratnya. ''Waktu itu, saya dan anak saya tidak tahu, apa jenis 
ikan tersebut, yang saya tahu saya mendapatkan ikan untuk dimakan. Kebetulan 
saat itu yang saya dapat hanyalah ikan Coelacanth ini. Ikan ini sudah saya bawa 
ke samping parigi untuk dipo-tong,'' kata Lahama yang mengaku tinggal di 
Kelurahan Bahu ini.


"Pada saat ikan hendak saya potong, ada yang datang yaitu Pak Darwin Papendeng. 
Dia meminta saya untuk tidak memotongnya karena ini adalah ikan purba. Mungkin 
kalau dia tidak datang, ikan itu pasti so di woku belanga," tukasnya bangga 
atas pene-muan tersebut.


Sementara itu, Darwin Papendang sendiri mengetahui ikan itu Coelacanth, karena 
karyawan di Fakultas Teknik Unsrat ini mengenalinya dari gambar yang dipajang 
di Mapala Pahyagaan Teknik. Setelah mengetahui bahwa ikan ini jenis langka, 
dirinya langsung menghubungi Dinas Perikanan Propinsi, Dinas Pariwisata dan 
juga media massa. 


Penemuan ikan ini langsung menarik minat Gubernur SH Sarundajang dan Menteri 
Perikanan dan Kelautan Freddy Numberi untuk melihatnya secara langsung. 
Gubernur sendiri malah sempat menunda keberangkatan ke Talaud demi Coelacanth 
atau 'Raja 'Laut' tersebut.


Ikan yang awalnya berada di belakang Bahu Mall, akhirnya dipindahkan ke kolam 
yang ada di rumah makan City Extra Kalasey untuk mencoba mempertahankan 
kelangsu-ngan hidupnya. Bahkan Numberi dan Sarundajang turut menyertai 
perpindahan ikan ini. Sesampai di lokasi dengan bantuan beberapa orang, ikan 
yang diletakkan di tempat berbentuk peti ini akhirnya dipindahkan ke dalam 
karamba yang ada di kolam. Bahkan tabung oksi-gen juga diletakkan di dalam 
kolam untuk kelangsungan hidup ikan purba ini. Selesai melihat pemindahan ikan 
ini, Menteri Numberi langsung meninggalkan lokasi. Semen-tara Gubernur 
Sarundajang tetap bertahan untuk meman-tau perkembangan dari ikan Coelacanth 
ini.


"Ikan yang ditemukan ini adalah ikan Coelacanth. Keunikannya ikan ini adalah 
ikan purba karena keturunan dari ikan yang berjuta-juta tahun lalu. Ternyata 
spesies ini masih hidup sehingga kita bisa melihat fosil berjalan, dan ikan ini 
lebih tua dari dinosaurus," tutur Gubernur Sulawesi Utara Drs Sinyo H 
Sarundajang kepada sejum-lah wartawan sabtu (19/05). Sayangnya, pukul 01.00 
wita Minggu (20/05) kemarin, Coelacanth tersebut telah mati atau hanya bertahan 
hi-dup selama 17 jam. Untuk itu, ikan ini kemungkinan akan diawetkan demi 
keperluan penelitian dan ikon Sulut. 


COELACANTH
Menurut informasi dari berbagai sumber, Coelacanth diartikan sebagai "duri yang 
berongga" berdasarkan kata Yunani coelia, "berongga" dan acanthos, "duri". Ini 
merujuk pada fisiknya yang berduri pada sirip yang berongga. 


Coelacanth adalah ikan yang berasal dari sebuah cabang evolusi tertua yang 
masih hidup dari ikan berahang. Coelacanth diperkirakan sudah punah sejak akhir 
masa Cretaceous 65 juta tahun yang lalu, sampai sebuah spesimen ditemukan di 
Timur Afrika Selatan, di perairan Sungai Chalumna tahun 1938. Sejak itu 
Coelacanth telah ditemukan di Komoro, perairan Pulau Manado Tua di Sulawesi, 
Kenya, Tanzania, Mozambik, Madagaskar dan Taman Llaut St Lucia di Afrika 
Selatan. Di Indonesia, khu-susnya di sekitar Manado, Sulawesi Utara, spesies 
ini oleh masyarakat lokal dina-mai ikan raja laut. Coelacanth terdiri dari 
sekitar 120 spesies yang diketahui berdasarkan penemuan fosil.


Sampai saat ini, telah ada dua spesies hidup Coelacanth yang ditemukan yaitu 
Coelacanth Komoro, Latimeria chalumnae dan Coelacanth Sulawesi, Latimeria 
menadoensis. Hingga tahun 1938, ikan yang berkerabat dekat dengan ikan 
paru-paru ini dianggap telah punah semenjak akhir masa Cretaceous, sekitar 65 
juta tahun yang silam. Sampai ketika seekor Coelacanth hidup tertangkap oleh 
jaring hiu di muka kuala Sungai Chalumna, Afrika Selatan pada bulan Desember 
tahun tersebut. Kapten kapal pukat yang tertarik melihat ikan aneh tersebut, 
mengirimkannya ke museum di Kota East London, yang ketika itu dipimpin oleh 
nona Marjorie Courtney-Latimer. Seorang iktiologis (ahli ikan) setempat, Dr JLB 
Smith kemudian mendeskripsi ikan tersebut dan menerbitkan artikelnya di jurnal 
Nature pada tahun 1939. Ia memberi nama Latimeria chalumnae kepada ikan jenis 
baru tersebut, untuk mengenang sang kurator mu-seum dan lokasi penemuan ikan 
itu.


Pencarian lokasi tempat tinggal ikan purba itu selama belasan tahun berikutnya 
kemudian mendapatkan perairan Kepulauan Komoro di Samudera Hindia sebelah barat 
sebagai habitatnya, di mana beberapa ratus individu diperkirakan hidup pada 
kedalaman laut lebih dari 150 meter. Di luar kepulauan itu, sampai tahun 
1990-an bebe-rapa individu juga tertangkap di perairan Mozambique, Madagaskar 
dan juga Afrika Selatan. Namun semuanya masih dianggap sebagai bagian dari 
populasi yang kurang lebih sama.


Pada tahun 1998, enamuluh tahun setelah ditemukannya fosil hidup Coelacanth 
Komoro, seekor ikan raja laut tertangkap jaring nelayan di perairan Pulau 
Manado Tua, Sulawesi Utara. Ikan ini sudah dikenal lama oleh para nelayan 
setempat, namun belum diketahui keberadaannya di sana oleh dunia ilmu 
pengetahuan. Ikan raja laut secara fisik mirip Coelacanth Komoro, dengan 
perbedaan pada warnanya. Yakni raja laut berwarna coklat, sementara Coelacanth 
Komoro berwarna biru baja.
Ikan raja laut tersebut kemudian dikirimkan kepada seorang peneliti Amerika 
yang tinggal di Manado, Mark Erdmann, yang kemudian bersama dua koleganya, RL 
Cald-well dan Mohammad Kasim Moosa dari LIPI, menerbitkan temuannya di Nature, 
1998. Maka kini orang mengetahui bahwa ada populasi Coelacanth yang kedua, yang 
terpisah menyeberangi Samudera Hindia dan pulau-pulau di Indonesia barat sejauh 
+ 10 ribu Km. Belakangan, berdasarkan analisis DNA-mitokondria dan isolasi 
populasi, beberapa peneliti Indonesia dan Prancis mengusulkan ikan raja laut 
sebagai spesies baru Latimeria menadoensis.


Dua tahun kemudian dite-mukan pula sekelompok Coelacanth yang hidup di perairan 
Kawasan Lindung Laut (Marine Protected Areas) St Lucia di Afrika Selatan. Orang 
kemudian menyadari bahwa kemungkinan masih terdapat populasi-populasi 
Coelacanth yang lain di dunia, termasuk pula di bagian lain nusantara, 
mengingat bahwa ikan ini hidup terisolir di kedalaman laut, terutama di sekitar 
pulau-pulau vulkanik. Hingga saat ini status tak-sonomi Coelacanth yang baru 
ini masih diperdebatkan.


Coelacanth memiliki ciri khas ikan-ikan purba, ekornya berbentuk seperti sebuah 
kipas, matanya yang besar, dan sisiknya yang terlihat tidak sempurna (seperti 
batu). Di Bunaken pernah ditemukan seekor Coelacanth hidup berenang dengan 
bebasnya. Ukurannya kira-kira 2/3 tubuh orang dewasa dan tubuhnya berwarna ungu 
gelap.
Jenis betinanya dapat memberikan anak lima hingga 25 ekor, setiap ekor 
Coelacanth segera dapat meyesuaikan diri dengan lingkungannya. Coelacanth 
dikenal sebagai ikan Ovipaparous, yaitu membesarkan embrio yang terbentuk dari 
sel telur dan sperma di dalam perutnya hingga sang anak siap untuk berenang 
baru dilahirkan.
Masa reproduktif Coelacanth tidak diketahui pasti, namun sejumlah ahli 
memperkirakan Coelacanth akan siap secara seksual setelah berusia 20 tahun, 
dengan masa reproduksi selama 13 bulan.(ipa/wik/bov


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke