http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/052007/21/0901.htm


Reformasi Gerakan Mahasiswa
Oleh HEDI ARDHIA 

SETIAP tanggal 21 Mei mahasiswa merasakan suasana "heroik". Memang mahasiswalah 
aktor paling penting dalam gerakan reformasi sembilan tahun silam. Ke manakah 
gerakan mahasiswa pascalengsernya Soeharto? selesaikah agenda 

Tuntutan reformasi '98 adalah menggelar pemilu, hapuskan dwi fungsi ABRI serta 
adili Soeharto, maka hari ini yang menjadi target gerakan pascareformasi harus 
kita perluas. Sejumlah pekerjaan rumah masih tertumpuk tak karuan. Ekonomi 
kalang kabut, rakyat miskin pun tambah banyak. Politik kita masih 
memperjuangkan kepentingan kelompok. Hukum pun masih belum memuaskan,

Kita (mahasiswa) mesti mengakui banyak "mimpi-mimpi" kita yang belum tercipta. 
Gerakan mahasiswa pascalengsernya Soeharto mengalami polarisasi. Tak hanya itu 
saja, gerakan mahasiswa sudah banyak mengalami disorientasi. Bahkan tak jarang 
pula mahasiswa kehilangan ruhnya sebagai agen perubahan sosial atau pengontrol 
roda pemerintahan. Melihat realitas dewasa ini masih pantaskah mahasiswa 
menyandang gelar 'pahlawan' reformasi? Ataukah kita perlu reformasi episode 
ke-2? 

Ida Nashim melukiskan lemahnya gerakan mahasiswa, yakni: (1) tidak memiliki 
perspektif politik karena tidak mampu untuk menjalin front atau aksi politik 
yang strategis; (2) cenderung mengagungkan mitos agent of change atau agent of 
development; (3) sangat dogmatis dan kaku sehingga tak membedakan antara 
strategi perjuangan dan taktik perjuangan; (4) eksklusif dan sektarian, karena 
merasa diri paling benar; (5) tidak memiliki organisasi yang kuat karena tidak 
memiliki pimpinan yang berakar simpul.

Berdasarkan hasil riset Deddy Mulyana, ada empat jenis mahasiswa.

Pertama, mahasiswa akademis, yaitu mahasiswa yang dalam aktivitasnya hanya 
mengaksentuasikan diri khusus pada perkuliahan an sich. Kelompok ini tidak akan 
terlalu peduli dengan gejolak yang sedang terjadi karena menurutnya tugas 
mahasiswa hanyalah belajar.

Kedua, mahasiswa politis/aktivis. Yang termasuk kelompok ini adalah mahasiswa 
yang fokus primernya bukan hanya belajar, tetapi ketimpangan sosial, korupsi, 
ketidakadilan pun turut menjadi media pembelajarannya. Kelompok ini menganggap 
tugas mahasiswa tidak hanya belajar, tetapi lebih dari itu memiliki tugas 
sebagai "manusia setengah dewa" juga. 

Ketiga, mahasiswa vokasional. Mahasiswa yang termasuk dalam jenis ini lebih 
"mengkhusukan" dirinya pada bagaimana mencari keuntungan ekonomis belaka. Bagi 
mereka mengisi isi perut lebih baik ketimbang harus berteriak hidup mahasiswa! 
Hidup mahasiswa! Hidup mahasiswa! 

Keempat, mahasiswa kolega. Mahasiswa yang mindset-nya lebih banyak berisi 
perintah-perintah untuk memperbanyak teman, paca,r dan bentuk-bentuk 
kekerabatan lainnya. Ritualitas hedonis dan konsumtif telah mendarah daging 
dalam hidupnya.

Penulis berasumsi, hanya mahasiswa kategori aktivislah yang sedikit lebih baik 
ketimbang jenis mahasiswa lainnya selama dia bisa menjalankan fungsi-fungsinya 
sebagai kaum pembelajar sekaligus sebagai komunitas pergerakan dalam menyikapi 
problematika masyarakat maupun kebangsaan. 

Kenapa demikian? Karena peran mahasiswa sebagai seorang intelektual tidak boleh 
hanya textbook thinking, meski pengaruh lembaga pendidikan yang menaunginya 
serta mengelola pendidikan dengan gaya manajemen perusahaan, di mana materi 
pendidikan menyesuaikan diri dengan tuntutan pasar. Pendidikan semacam ini 
hanya akan menghasilkan kebodohan atau dalam istilah Syed Husein Alatas 
-generasi bebal. 

Adapun ciri pokok orang bebal tersebut adalah : (1) dia tidak mampu 
menganalisis masalah; (2) jika diberitahu kepadanya, dia tidak bisa mencari 
solusinya; (3) dia tidak mampu mempelajari seni belajar; (4) dia biasanya tidak 
mau mengakui kepandirannya. 

Kemudian bukan berarti mahasiswa kaum pergerakan (aktivis) tidak memiliki 
kelemahan sama sekali. Masalah umum yang sering menerpa para aktivis ini adalah 
mereka sering kali merasa diri paling hebat yang pada akhirnya mendorong mereka 
pada anarkisme-vandalisme. 

Penulis sepakat dengan pernyataan Peter L Berger: pada masa maraknya demokrasi 
mahasiswa AS antiperang tahun 1960-an mereka merasa shock mendengar 
teriakan-teriakan arogansi mahasiswa. Teriakan itu menurutnya senada dengan 
bait lagu Nazi, Horst Wesel Lied, semasa perang dunia II, "die strasse frei den 
braunen bataillonen (bersihkan jalan-jalan untuk batalion-batalion berseragam 
coklat).

Gerakan mahasiswa pun sebaiknya tidak kita pahami hanya sebagai aksi-aksi turun 
ke jalan. Penulis berasumsi, gerakan mahasiswa ada 4 corak: (1) gerakan 
intelektual yang mengaksentuasikan pada kemampuan nalar mahasiswa untuk bisa 
melakukan propaganda guna tercapainya agenda perjuangan. (2) gerakan 
sturuktural, gerakan ini menempuh jalur "kekuasan" sebagai media untuk 
mengejawantahkan gagasan-gagasan lewat "birokrasi-kekuasaan". (3) gerakan 
kultural, upaya yang dilakukan dalam gerakan ini adalah mengidentifikasikan 
diri pada kebiasan-kebiasan yang dilakukan masyarakat dengan sedikit 
menyelipkan pesan-pesan perjuangan. (4) gerakan turun ke jalan atau 
demonstrasi, di mana hal ini sebaiknya menjadi alternatif terakhir. Bukan malah 
sebaliknya. 

Karena fakta berbicara bahwa hari ini efektivitas demo sudah tidak "menggigit" 
lagi, tetapi tidak lebih dari sekadar show of force saja. Yang pada akhirnya 
hasil yang didapat tidak dari lebih sekadar membuat jalan macet dan menjadi 
sumber berita para 'buruh tulis' wartawan. 

Penulis mengajak mahasiswa untuk melakukan upaya-upaya tranformasi demi 
terciptanya tatanan negeri ini yang lebih baik. Karena lengsernya Soeharto 
ternyata bukan garansi bangsa ini lebih baik. Watak dan mental-mental Orba 
masih tetap berkeliaran atau dengan kata lain Neo-Orba masih ada. 

Dengan tekad bulat mengedepankan rasionalitas bukan emosionalitas, persaudaraan 
bukan permusuhan, idealisme bukan pragmatisme. Kita bisa tetap konsisten 
mengawal arah agenda reformasi seraya berteriak lantang untuk menolak 
reinkarnasi rezim otoriter dan pro-status quo dalam bentuk baru di bumi pertiwi 
ini. El publo unido jamas sera vencido (rakyat bersatu tak bisa dikalahkan).*** 

Penulis, sekretaris umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat 
UIN SGD Cabang Kabupaten Bandung dan mantan koordinator Lembaga Penerbitan Pers 
& Jurnalistik "Kreasi"' 2005-2006


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke