http://www.indomedia.com/bpost/052007/26/depan/utama2.htm
Pil Pahit Bangsa ALKISAH si peniup seruling memainkan alat musiknya untuk memancing ular ke luar dari sarangnya. Kini Amien Rais bak peniup seruling dalam kasus penyimpangan dana nonbujeter DKP. Berikut wawancara dengan laki-laki kelahiran Solo, 26 April 1944 ini. Presiden menilai pernyataan Anda adalah fitnah? Saya belum mendengar sendiri pernyataan tersebut, sehingga mohon sabar. Satu dua hari ini, saya akan menggelar pers conference yang jujur, terbuka, tidak emosi. Insya Allah. Menurut Anda, presiden emosi? Insya Allah saya menanggapi biasa saja. Karena saya percaya dengan bersikap jujur semua masalah akan terselesaikan. Memang ada pasangan capres-cawapres, tapi saya tidak menyebut nama. Perlu ditilik kembali atas laporan yang disampaikan ke KPU, banyak data fiktif. Jadi kalau kita mau buka-bukaan sampai ke ujung dunia tampak bagus, dengan kejujuran dan kebersamaan menjadi pil pahit. Saya tidak setuju, jika gara-gara ini lantas ada pencabutan, pembatalan. Jadi motivasi Anda bukan pembatalan kekuasaan? Ini sebuah pembelajaran bagi sebuah bangsa yang sedang berdemokrasi. Mudah-mudahan kalau niat kita itu bagus, tidak lantas kalau berfikir terlalu jauh, jadi terlalu jauh, saya mudah-mudahan mengerti sekali kok semangatnya. Jadi perkembangan kasus ini sudah terlalu jauh? Menurut saya ini apa .., masalah ini kalau sudah dibuka semuanya ya jadi PPATK, Panwaslu digelar kembali dan KPU juga dibuka kembali. Anda akan memberikan bukti-bukti? Saya akan ke Jakarta. Tunggu saja. Mudah-mudahan jadi clear. Kalau tidak clear ya betul masih eksis dan tidak masalah lagi. Apa bukti yang Anda miliki? Itu KPU sudah punya. Tolong sabar. Saya tidak akan terlalu jauh. Kita sebagai bangsa besar bisa mengambil pelajaran masa lalu untuk menuju masa yang akan datang dan tidak usah ada risiko pembatalan segala. Tapi presiden merasa tersudutkan? Saya sudah sangat hati-hati dengan tidak menyebut nama. Tapi kalau kemudian ada pihak marah ke saya, ya itu sesungguhnya dia sendiri. Tapi sesungguhnya saya dengan Pak Yudhoyono juga sahabat. Waktu reformasi Pak Yudhoyono di TNI yang reformis dan saya dari kalangan sipil kampus juga reformis. Tapi kenapa sekarang menjadi begini, saya juga sedikit heran, padahal kalau pas ketemu juga banyak masukan. Tapi sekarang lama tidak ketemu, kemudian jadi masalah yang sudah terbuka ya daripada berhenti di tengah jalan dengan niat yang baik dengan betul-betul, semoga kita bisa profesional win-win solution. Bersedia duduk bersama? Kalau memang dibuka kesempatan mengapa tidak. Wong dulunya kita juga bersahabat dan berteman kok. Mungkin ada oknum-oknum yang tak suka akhirnya memanfaatkan hal itu, jadi mengapa tidak, why not. Insya Allah tidak ada yang saya sembunyikan, ini semua demi kebaikan. mtv [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
