http://www.indomedia.com/bpost/052007/26/depan/utama1.htm

 


Yudhoyono memang tidak secara langsung menuding pihak yang menyerang dirinya 
terkait kucuran dana nonbujeter Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) dan 
dana luar negeri itu. Namun, dengan lantang dia menyebut sebanyak 15 kali nama 
rivalnya dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2004, Amien Rais, dalam keterangan 
pers di halaman Istana Negara, Jakarta, Jumat (25/5).

"Setelah kami telaah ternyata patut diduga tudingan itu adalah pasangan 
Yudhoyono-Kalla. Jelas opini saya menerima dana asing seperti yang disebutkan 
Pak Amien Rais, sangat keterlaluan, itu finah kejam. Naudzubillah," tegas 
Yudhoyono yang saat itu didampingi Mensesneg Hatta Radjasa dan Menseskab Sudi 
Silalahi.

Menurut Yudhoyono, keterangan pers itu bukan ditujukan kepada Amien Rais tetapi 
untuk masyarakat Indonesia. 

Tetapi inti permasalahannya, pengakuan Amien menerima dana DKP dikembangkan 
menjadi wacana capres lain kemungkinan mendapatkan dana sejenis. 

Mengenakan baju batik cokelat, Yudhoyono dengan lugas membeberkan pendapatnya 
menyangkut tudingan yang dialamatkan kepada dirinya semasa menjadi cares lalu. 
"Penjelasan ini agar tidak menimbulkan gangguan batin saya dengan rakyat. Siang 
malam saya ini kerja untuk rakyat. Opini yang sudah menyebutkan pasangan 
Yudhoyono-Kalla menerima dana dari asing, itu sama sekali tidak sehat dan 
menyesatkan. Tidak boleh memaksa-maksa kami untuk mengaku menerima. Bagi yang 
menerima, silakan mempertanggungjawabkan dan menyelesaikannya sendiri secara 
baik," ujarnya.

Yudhoyono mengungkapkan, saat pilpres 2004 dirinya mendengar rumor adanya 
pasangan capres dan cawapres yang menerima dana asing. 

"Isu melalui selebaran gelap sering terdengar ketika itu. Pasangan 
Yudhoyono-Kalla menerima dana 50 juta dolar AS," ujarnya.

Ketika itu, Yudhoyono menilainya ini sebagai bentuk black campaign. "Ternyata 
desas desus itu kembali muncul. Mungkin inilah yang dimaksudkan itu. Semua 
pendanaan kampanye tim sukses sudah diaudit oleh tim audit independen. Hasil 
auditnya juga sudah diserahkan kepada KPU," kata Yudhoyono yang mengaku telah 
mengecek ke Kalla dan seluruh tim kampanyenya ini.

Menyinggung pernyataan Amien mengenai adanya tawaran dana dari AS yang 
disampaikan Paul Wolfowitz juga dibantahnya. "Saya tidak pernah. Pasti tidak 
pernah. Tahun 2004, saya tidak pernah berkomunikasi dengan Paul Wolfowitz. 
Apalagi menawarkan dana, apalagi menerima dana yang bersangkutan," ujarnya.

Ayah dua pria ini menilai, pernyataan Amien bisa dikategorikan menghina 
presiden. "Saya mengidentifikasi pernyataan Pak Amien Rais. Dan saya sudah baca 
KUHP 2-3 kali. Barang siapa dengan sengaja menyerang kehormatan dan nama baik 
orang supaya diketahui umum maka bisa dikenakan pidana penjara. Saya minta agar 
kita berhati-hati mengeluarkan statement dengan menuduh orang melakukan tindak 
pidana," ujarnya. 

Meski demikian, laki-laki asal Pacitan, Jatim ini mengaku belum berencana 
menuntut Amien. "Hingga sejauh ini saya belum bermaksud untuk menuntut secara 
hukum Amien Rais dan pihak-pihak yang mengatakan saya menerima dana seperti 
itu," tandasnya.

"Saya tidak mau sedikit-sedikit menuduh, sedikit-sedikit menuntut, kecuali 
dalam perkembangannya karena dinamika politik, nyata-nyata Amien Rais atau 
siapapun menuduh saya di depan umum atau secara eksplisit melakukan kejahatan 
menerima DKP, maka saya akan gunakan hak saya secara hukum," lanjut Yudhoyono. 

Di akhir pernyataannya, Yudhoyono mengatakan," Ke depan marilah kita kembangkan 
nilai, etika perilaku dan budaya yang jauh dari fitnah, jauh dari budaya tuduh 
liar, jauh dari kebiasaan black campaign. Ingat saudara-saudara! Kebebasan itu 
harus disertai dengan akhlak dan harus dipertanggungjawabkan." 

Maju Terus
Menyikapi ini, Amien menyatakan dirinya tidak gentar. "Nanti saya akan jawab 
semuanya. Saya maju terus pantang mundur. Insya Allah, saya akan membukanya. 
Mari kita buka semuanya. Saya sudah kepalang basah," tegasnya di Jogja.

Dia berjanji mengungkapkan semua desas-desus dana kampanye pilpres, termasuk 
soal dana dari asing dan DKP. "Saya belum bisa memberitahu, tapi saya yakin 
sekali kalau ini dibuka akan cukup menggemparkan. Insya Allah gayung bersambut. 
Tidak mungkin saya berkelit, lari apalagi bersembunyi. Itu bukan watak saya," 
ujar mantan Ketua MPR ini. (baca wawancara dengan Amien Rais)

Partai yang didirikan Amien, Partai Amanat Nasional (PAN) menyatakan siap 
mengganti dana DKP Rp 200 juta yang telah mereka terima. "Kami sudah ada uang 
Rp 200 juta. Kami sedang mengirim utusan untuk membicarakan waktu yang tepat 
pengembalian uang tersebut ke Pak Rokhmin langsung atau ke kejaksaan," kata 
Sekjen DPP PAN Zulkifli.

Menurutnya, PAN sudah menghubungi KPK untuk mengembalikan dana nonbujeter DKP 
itu. Namun, KPK tidak bersedia menerimanya. KPK mengaku hal itu bukan 
wewenangnya. Selain itu, KPK menilai pemberian bantuan itu terkait pemilu 
legislatif dan pilpres, sehingga tidak ada kaitannya dengan KPK.

"Kita juga ke eks Panwaslu tapi juga nggak bisa. Ya akhirnya kita jajaki 
Rokhmin langsung atau kejaksaan. Nanti kalau sudah jelas, kita kasih tahu," 
tuturnya.

Cawapres 2004, KH Salahudin Wahid mengaku siap diperiksa. "Silakan saja, tidak 
ada masalah. Silakan kalau saya dipanggil, saya datang. Kalau tidak datang 
nanti saya salah," kata pria yang menerima Rp 200 juta ini.

Penerima lain, anggota DPR, Fahri Hamzah juga menyatakan siap mengembalikan 
dana DKP yang diterimanya. Dana itu siap dikembalikan jika hukum 
mengharuskannya. "Saya kan sudah mengaku menerima Rp 150 juta. Kalau ada proses 
hukum yang meminta untuk mengembalikan itu, saya akan cari dan usahakan agar 
dana itu dikembalikan," ujar politisi PKS ini. JBP/ade/bec/yat/amb/dtc


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke