---------- forwarded message ----------
From: feifei_fairy <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 27 Mei 2007 01:32
Subject: [debat_antar_agama] Nubuat-nubuat Palsu Muhammad
To: [EMAIL PROTECTED]
Nubuat-nubuat Palsu Muhammad
AlKitab, yaitu termasuk Kitab-Kitab Taurat, Zabur dan Injil telah
memberikan kita suatu pengujian dan garis-panduan untuk membedzakan
nabi sejati dari yang palsu:
"Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi
namaKu perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya,
atau yang berkata demi Allah lain, nabi itu harus mati. Jika sekiranya
kamu berkata dalam hatimu: Bagaimanakah kami mengetahui perkataan yang
tidak difirmankan TUHAN?' - Apabila seorang nabi berkata demi nama
Tuhan dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah
perkataan yang tidak difirmankan TUHAN; dengan terlalu berani nabi itu
telah mengatakannya, maka janganlah gentar kepadanya."
Ulangan 18:20-22
Berdasarkan penjelasan mengenai apa yang dikatakan Tuhan dalam ayat
di atas, kita akan menguji beberapa ramalan yang dibuat oleh Muhammad
dalam Quran dan tradisi keislaman untuk melihat apakah ia dapat lolos
dan disahihkan dari ujian Allah ini.
Tentang Penaklukan Romawi atas Persia
Surah 30:2-4:
"Kekaisaran Romawi telah dikalahkan - di suatu tempat yang dekat:
Namun mereka, (walaupun) setelah kekalahan mereka (ini), akan segera
berjaya - di dalam beberapa tahun."
Sebagaimana nubuat menyatakan bahwa Byzantium memang meraih
kemenangan atas bangsa Persia/Parsi yang sebelumnya mengalahkan
mereka. Namun ada beberapa permasalahan mendasar mengenai yang orang
dianggap nabi ini:
o Menurut Yusuf Ali kata Arab untuk "beberapa tahun," Bidh'un,
menandakan suatu periode antara tiga hingga sembilan tahun; namun
berdasarkan beberapa cendekiawan kemenangan itu belum terjadi hingga
hampir empatbelas tahun kemudian. Bangsa Parsi mengalahkan Kekaisaran
Romawi Timur (Byzantine/Byzantium) dan menguasai Yerusalem sekitar 614
atau 615 Masehi. Perlawanan Byzantium belum dimulai hingga 622 M dan
kemenangan itu belum terselesaikan hingga 628 M, yang mengakibatkan
suatu periode antara tigabelas hingga empatbelas tahun, bukan
"beberapa tahun" seperti yang disinggung dalam Quran.
o Naskah Quran yang asli tidak memiliki tanda-tanda huruf hidup.
Karena itu, kata Arab 'Sayaghlibuna' - "mereka akan menaklukkan,"
dapat dengan mudah telah diubah, dengan perubahan dua huruf hidup,
Sayughlabuna, "mereka (yaitu bangsa Romawi) akan dikalahkan." Karena
tanda-tanda huruf hidup belum ditambahkan hingga beberapa saat setelah
kejadian ini, sangatlah mungkin bagi seorang ahli tulis untuk secara
sengaja mengubah naskah, memaksakannya menjadi pernyataan yang
bersifat nubuatan (prophetic).
Kenyataan ini dikuatkan oleh pentafsir Muslim terkenal al-Baidawi.
C.G. Pfander menyinggung komentar-komentar Baidawi mengenai
bacaan-bacaan yang berbeda yang melingkupi bagian ini:
" Namun Al Baizawi melumpuhkan keseluruhan argumen kaum Muslim dengan
memberikan informasi pada kita tentang beberapa macam bacaan dalam
ayat-ayat Suratu'r Rum. Ia memberitahukan kita bahwa beberapa orang
telah membaca secara lazimnya dari teks Arab yang asli. Maka
perubahannya akan menjadi: 'Kerajaan Romawi Timur (yaitu Byzantium)
telah berkuasa di bagian terdekat negeri, dan mereka akan dikalahkan
dalam waktu singkat'.
Jika ini merupakan bacaan yang benar, keseluruhan cerita tentang
pertaruhan Abu Bakar dengan Ubai pasti hanyalah suatu dongeng, karena
Ubai telah lama meninggal sebelum kaum Muslim mulai mengalahkan
Byzantines, dan jauh sebelum kemenangan Heraclius atas bangsa Persia.
Ini membuktikan bagaimana tidak dapat dipercayanya
kepercayaan-kepercayaan (tradisi hadis) seperti itu. Penjelasan yang
diberikan oleh Al Baidawi adalah, bahwa Byzantium menjadi penakluk
'daerah subur Syria' (dalam bahasa Arab asalnya) dan bagian itu
meramalkan bahwa kaum Muslim kemudian akan segera mengatasi mereka.
Jika yang dimaksudkan ini, Kepercayaan yang mencatat konon 'turunnya'
ayat-ayat ini pada sekitar enam tahun sebelum Hijrah pastilah keliru,
dan naskah itu berasal dari seawal-awalnya 6 Masehi.
Jelas bahwa, tanda-tanda huruf hidup tidak digunakan saat pertama
kali Qur-an dituliskan ke dalam huruf-huruf Kufa, tak seorangpun yakin
manakah yang benar diantara kedua bacaan tersebut. Kita sudah melihat
terdapatnya banyak ketidakpastian mengenai : Waktu saat ayat-ayat
tersebut 'diturunkan', Bacaan yang sebenarnya, dan Arti, dimana sangat
tidak mungkin untuk menunjukkan bahwa naskah tersebut mengandung suatu
nubuatan yang tergenapi. Maka, tak dapat dianggap sebagai bukti
nubuatan Muhammad."
(C. G. Pfander, Mizan-ul-Haqq - The Balance of Truth, direvisi dan
diperluas oleh W. St. Clair Tisdall [Light of Life P.O. Box 18,
A-9503, Villach Austria], 279-280)
Ini menjadi kasus, seorang Muslim tak dapat secara yakin mengatakan
pada kita manakah bacaan yang sebenarnya dari naskah itu dan oleh
sebab itu tak dapat meyakinkan kita bahwa ayat ini sejak awal
meramalkan kemenangan Byzantine atas bangsa Persia. Walau bagaimanapun
perubahan menghadapkan kita pada nubuat palsu dalam Quran.
o Adalah mengagumkan bahwa nubuat Tuhan tak menunjukkan waktu yang
pasti dari kemenangan itu, mengingat bahwa Tuhan adalah yang maha tahu
dan maha bijaksana, menyatakan akhir dari sejak awal. Ketika Tuhan
menentukan kerangka waktu sebagai suatu bagian yang penting dari suatu
nubuatan kita akan mengharapkan ketepatannya, bukan hanya dugaan
belaka.
Bagi Tuhan untuk memperkirakan Byzantines akan menang pada satu waktu
di dalam "beberapa tahun" seakan menolak untuk menentukan waktu yang
pasti, adalah tak konsisten dengan kepercayaan akan Dia yang Maha
Mengetahui (Omniscient), Maha Kuasa (Omnipotent). Karena itu,
sepertinya tidak akan mungkin bila Tuhan yang sejati akan membuat
nubuat seperti itu.
Menariknya, istilah "beberapa tahun" selanjutnya semakin
mendiskreditkan dan menyangkal apa yang dikatakan nubuat ini. Abu
Bakar percaya bahwa istilah "beberapa tahun" berarti Byzantium akan
menang dalam tiga tahun:
"Bagian ini merujuk kepada kekalahan Byzantium di Syria oleh bangsa
Parsi dibawah pimpinan Khusran Parvis. (615 M - 6 tahun sebelum
Hegira). Walaupun begitu, kekalahan bangsa Parsi akan terjadi sesegera
mungkin 'hanya dalam beberapa tahun'. Dengan petunjuk ramalan ini, Abu
Bakar bertaruh dengan Ubai-ibn-Khalaf bahwa ramalan ini akan tergenapi
di dalam waktu tiga tahun, namun ia dikoreksi oleh Mohammad yang
menyatakan bahwa 'waktu singkat' adalah antara tiga hingga sembilan
tahun (Al-Baizawi).
Kaum Muslim mengatakan pada kita bahwa Byzantines mengatasi
musuh-musuhnya di dalam waktu tujuh tahun. Kenyataannya, akan tetapi,
adalah bahwa Byzantines mengalahkan Persia pada 628 M (penjelasan
Al-Baizawi). Itu artinya duabelas tahun setelah ramalan Mohammad.
Sebagai konsekuensinya bagian itu tak memenuhi syarat sebagai
nubuatan, terutama karena waktu antara nubuat dan penggenapannya
sangat terlalu singkat, dan kejadiannya dapat dengan mudah
diramalkan."
(Gerhard Nehls, Christians Ask Muslims [Life Challenge, SIM
International; Africa, 1992], hal. 70-71)
Tentang Saat Memasuki Mekah
Surah 48:27 memberikan janji berikut ini:
"Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang
kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesunguhnya kamu
pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman,
dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak
merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan
Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat."
Ayat ini diungkapkan berkenaan dengan kegagalan usaha kaum Muslim
memasuki Mekkah untuk melakukan Tawaf (suatu bagian tatacara Haji
yaitu berlari diantara dua gunung yang dimaksud untuk mengingat kisah
pengambilan air oleh Siti Hajar untuk Ismail).
Dalam perjalanannya menuju Ka'bah, mereka bertemu dengan seorang
utusan kaum Mekkah yang dipimpin oleh Suhail b. Amr yang melarang kaum
Muslim untuk menyelesaikan perjalanannya. Pertemuan ini kemudian
berlanjut dengan penandatanganan perjanjian Hudaibiya.
Beberapa masalah timbul dari kejadian ini. Pertama, saat
penandatanganan perjanjian Hudaibiya Muhammad menyetujui kaum musyrik
Mekkah untuk mengembalikan kepada mereka siapapun yang telah menjadi
Islam. Pada saat yang sama Muhammad juga tunduk pada tuntutan mereka
untuk mengganti tanda tangannya dari 'Muhammad, Utusan Allah' menjadi
'Muhammad, putera Abdullah' agar ia diperbolehkan untuk melakukan
perjalanan ziarah ke Mekkah pada tahun selanjutnya. Artikel berikut
ini diambil dari Sahih al-Bukhari, Jilid 3, Kitab 50, Nomor 891:
" Ketika Suhail bin Amr datang, Rasul berkata, 'Kini persoalannya
telah menjadi mudah.' Suhail berkata kepada Rasul 'Mari membuat
perjanjian damai dengan kami.' Lalu, Rasul memanggil juru tulis dan
berkata kepadanya, 'Tuliskan: Demi Nama Allah, Yang Maha Pemurah, Maha
Pengasih.' Kata Suhail, 'Untuk "Pemurah," demi Allah, aku tak mengerti
artinya. Jadi tuliskan: Demi NamaMu ya Allah, sebagaimana sebelumnya.'
Kaum Muslim berkata, 'Demi Allah, kami tak akan menulis kecuali: Demi
nama Allah, yang Maha Pemurah, Maha Pengasih.' Kata Rasul, 'Tuliskan:
Demi NamaMu ya Allah.'
Kemudian ia mendiktekan, 'Ini adalah perjanjian damai yang telah
dibuat oleh Rasul Allah, Muhammad.' Kata Suhail, 'Demi Allah, jika
kami tahu bahwa engkau adalah Rasul Allah kami tak akan menghalangi
kamu untuk mengunjungi Ka'bah, dan tak akan memerangimu. Jadi,
tuliskan: 'Muhammad bin Abdullah.' Kata Muhammad, 'Demi Allah! Aku
adalah Rasul Allah walaupun engkau sekalian tak mempercayaiku.
Tuliskan: Muhammad bin Abdullah.' (Az-Zuhri berkata, 'Rasul menerima
semua itu, karena ia telah menyanggupi menerima semua yang mereka
tuntut jika itu untuk menghormati peraturan Allah, (yaitu dengan
memperbolehkan ia dan kelompoknya melaksanakan 'Umrah'.)')
Rasul berkata kepada Suhail, 'Dengan persyaratan bahwa engkau
memperbolehkan kami mengunjungi Rumah itu (Ka'bah) sehingga kami dapat
melaksanakan Tawaf disekelilingnya.' Kata Suhail, 'Demi Allah, kami
tak akan (memperbolehkan kamu tahun ini) agar tak memberikan
kesempatan bagi bangsa Arab untuk memberitakan bahwa kami telah tunduk
padamu, namun kami akan memperbolehkan engkau tahun depan.' BEGITULAH,
RASUL MEMBUAT HAL ITU SECARA TERTULIS.
'Kemudian Suhail berkata, 'Kami juga menetapkan bahwa engkau akan
mengembalikan kepada kami siapa pun dari kami yang datang kepadamu,
walaupun bila ia telah memeluk agamamu.' Kaum Muslim berkata,
'Terpujilah ya Allah! Bagaimana mungkin orang seperti itu dikembalikan
kepada para musyrik setelah ia menjadi seorang Muslim?'" (huruf tebal
sebagai satu penegasan)
Salah satu dari mereka yang dipaksa untuk kembali ke Mekkah dengan
para musyrik adalah Abu Jandal. Dalam Sirat Rasulullah (The Life of
Muhammad, terjemahan Alfred Guillaume, Oxford University Press), hal
505 karya Ibn Ishaq kami diberitahukan:
'Saat Suhail (perwakilan dari Mekkah dan penyusun perjanjian) melihat
Abu Jandal ia bangkit dan memukulnya di bagian wajah dan merenggut
kerahnya, sambil berkata, 'Muhammad, perjanjian di antara kita
disepakati sebelum orang ini datang kepada engkau.' Ia membalas,
'engkau benar.'
Ia mulai menariknya pada kerah bajunya dengan kasar dan menyeretnya
kembali ke Quraysh, sementara Abu Jandal berteriak sekuat tenaga,
'Apakah aku akan dikembalikan kepada para musyrik dimana mereka dapat
menjauhkanku dari agamaku O kaum Muslim?' dan itu menambahkan
kekesalan orang-orang'" (huruf tebal dan miring menegaskan kami)
Dan:
'Saat mereka dalam keadaan ini Abu-Jandal bin Suhail bin 'Amr datang
dari lembah Mekkah berjalan sempoyongan dengan belenggu-belenggunya
dan terjatuh diantara kaum Muslim. Suhail berkata, 'Ya Muhammad! Ini
adalah persyaratan yang paling utama agar kita dapat berdamai dengan
engkau, yaitu kamu harus mengembalikan Abu Jandal kepadaku.' Kata
Rasul, 'Perjanjian perdamaian belumlah lagi dituliskan.' Kata Suhail,
'Takkan pernah kubiarkan engkau mempertahankannya.' Kata Rasul, 'Baik,
lakukanlah.' Katanya, 'Aku takkan melakukannya: Kata Mikraz, 'Kami
persilahkan engkau (mempertahankannya).' Abu Jandal berkata, 'Oh kaum
Muslim! Akankah aku dikembalikan kepada pada musyrik walaupun aku
telah menjadi seorang Muslim? Tidakkah kalian melihat betapa
menderitanya aku?'
Abu Jandal (sebelumnya) telah disiksa secara kejam karena imannya
pada Allah' (Sahih al-Bukhari, Jilid 3, Kitab 50, Nomor 891)
Kita perlu mempertanyakan apakah Musa pernah menyerahkan orang yang
telah bertobat (terutama yang orang Mesir) kembali kepada berhala
Firaun untuk menyenangkannya agar mendapatkan yang dia inginkan?
Pernahkah Isa menyetujui kebenaran Tuhan dengan mengadakan persetujuan
dengan para Pharisi dengan mengembalikan para pengikutnya sehingga
dapat diterima oleh para penguasa Yahudi? Akankah Musa atau Isa pergi
sejauh mungkin untuk mengingkari kerasulannya agar menyenangkan
kehendak para penyembah berhala'? Akankah keduanya menolak memuliakan
Tuhan yang sejati berdasarkan apa yang diperintahkan oleh sang
Pencipta dan menyetujui permintaan untuk memanggil Tuhan berdasarkan
kehendak orang-orang yang tak percaya, sebagaimana yang Muhammad
lakukan?
Sebagaimana orang akan mengira bahwa kaum Muslim menjadi marah,
terutama Umar b. al-Khattab yang mendebat Muhammad:
'Umar bin al-Khattab berkata, ' Aku menghampiri Nabi dan berkata,
"Bukankah engkau adalah benar-benar utusan Allah?" Rasul berkata, "Ya,
betul." Aku berkata, "Bukankah maksud kita adil dan maksud lawan
tidak?" Katanya, "Ya." Aku berkata, "Lalu mengapa kita harus berendah
diri dengan agama kita?" Katanya, "Aku adalah utusan Allah dan aku tak
menentang Dia, dan Dia akan membuatku menjadi pemenang"'"
(Sahih al-Bukhari, Jilid 3, Kitab 50, Nomor 891)
Kemarahan kaum Muslim dapat dibenarkan ketika kita menyadari bahwa
Muhammad telah menjanjikan pengikutnya untuk dapat memasuki Mekkah
pada tahun yang sama. Ketika hal itu tak terjadi, Muhammad berusaha
untuk meluruskan pernyataannya dengan berkata, "Benar, apakah aku
mengatakan kepada engkau bahwa kita akan pergi ke Ka'bah tahun ini?"
(Ibid)
Dengan kata lain, karena ia tidak menjelaskan bilakah mereka akan
memasuki Mekkah, hal ini tak dapat dikatakan sebagai nubuatan palsu!
Ini hanyalah kekeliruan karena rombongan kaum Muslim sedang dalam
perjalanan mereka menuju Mekkah pada saat utusan dari kaum musyrik
Arab menghentikan mereka. Sebenarnya, salah satu dari kehendak
Muhammad dalam penandatanganan perjanjian adalah bahwa kaum musyrikin
membiarkan kaum Muslim untuk menyempurnakan perjalanan mereka ke
Mekkah dalam melakukan Tawaf. Suhail mengingkari permintaan Muhammad
dan malah kemudian membuat suatu perjanjian dimana kaum Muslim dapat
memasuki Mekkah di tahun selanjutnya. Ibn Kathir lebih jauh mendukung
hal ini dalam komentarnya pada Surah 48:27:
"Dalam suatu mimpi, sang Utusan Allah melihat dirinya sendiri
memasuki Mekkah dan melaksanakan Tawaf disekeliling Rumah. Ia
mengatakan mimpinya ini kepada Sejawatnya saat ia masih di Al-Madinah.
Ketika mereka pergi ke Mekkah pada tahun Al-Hudaybiyyah, tak seorang
pun dari mereka meragukan jika penglihatan sang Rasul AKAN MENJADI
KENYATAAN DI TAHUN ITU.
Ketika perjanjian damai dirumuskan dan mereka harus kembali ke
Al-Madinah tahun itu, dan diperbolehkan untuk kembali ke Mekkah pada
tahun selanjutnya, BEBERAPA REKANNYA TAK MENYUKAI KEADAAN TERSEBUT.
'Umar bin Al-Khattab menanyakan tentang INI, katanya, 'Bukankah kamu
telah memberitahukan kami bahwa kita akan pergi ke Rumah dan
melaksanakan Tawaf disekelilingnya?"'
(Tafsir Ibn Kathir, Ikhtisar, Jilid 9, Surat Al-Jatiyah hingga akhir
Surat Al-Munafiqun, Diikhtisarkan oleh sekelompok sarjana dibawah
pengawasan Shyakh Safiur-Rahman Al-Mubarakpuri [Darussalam Publishers
& Distributors, Riyadh, Houston, New York, London, Lahore; edisi
pertama, September 2000], hal. 171)
Ini membuktikan sebenarnya Muhammad yakin bahwa ia akan memasuki
Mekkah, sebuah rencana yang tak pernah menjadi kenyataan. Untuk
menyelamatkan muka dan mengelak daripada dimalukan dia harus
menyangkal untuk mengakui kalau sebenarnya ia telah menyatakan secara
tak langsung bahwa kaum Muslim akan memasuki Mekkah pada tahun yang
sama.
Kedua, yang lebih buruknya lagi Muhammad melanggar perjanjian dengan
kaum Mekkah dengan menolak mengembalikan seorang mualaf Muslim dari
Quraysh. Penolakan ini jelas merupakan pelanggaran terhadap hal-hal
yang telah ditetapkan dalam perjanjian yang telah Muhammad setujui
untuk ditandatangani:
"Umm Kulthum Uqba b. Mu'ayt menyeberang ke rasul pada masa tersebut.
Dua saudara lelakinya 'Umara dan Walid' anak Uqba datang dan bertanya
kepada rasullullah untuk mengembalikannya kepada mereka berdasarkan
perjanjian antara dia dan Quraysh di Hudaybiyya, namun Muhammad
menolak. Tuhan melarang itu."
(Sirat Rasulullah, hal. 509; huruf miring sebagai penegasan)
Karena itu, Muhammad memberikan alasan pelanggaran sumpahnya dengan
dalih bahwa itu adalah kehendak Tuhan untuk melakukan itu. Sayangnya
untuk kaum Muslim, ini akan membuktikan bahwa Tuhannya Muhammad
bukanlah Tuhan menurut Kitab Suci Alkitab karena melanggar sumpah
adalah jelas dilarang. (banding dengan nas Bilangan 30:1-2)
Berdasarkan semua pertimbangan tersebut kita sekali lagi terdorong
untuk memberikan pertanyakan-pertanyaan berikut ini. Pernahkah Musa
tunduk kepada perintah-perintah Fir'aun agar dapat membawa Israel
keluar dari perbudakan Mesir? Pernahkah Isa Al-Masih mengingkari
kemesiasanNya untuk mendapatkan jalan menuju Bait Suci?
Pernahkah salah satu dari nabi Tuhan yang sejati bersekutu dengan
kaum musyrik untuk menggenapi kehendak Allah? Apakah mereka ini tetap
melanggar sumpah dan janji-janji mereka untuk mendapatkan keuntungan
yang tak wajar dari para orang tidak percaya?
Satu masalah terakhir dari semua ini adalah bahwa kaum Muslim
menyatakan bahwa setiap kata dalam Quran diwahyukan secara langsung
oleh Tuhan kepada Muhammad melalui Jibril. Berdasarkan asumsi ini kaum
Muslim kemudian berpikir bahwa seseorang tak akan menemukan kata-kata
Muhammad yang bercampurbaur dengan kata-kata Tuhan. Ini menjadi
alasan, bagaimana kaum Muslim menjelaskan fakta bahwa pada Surah 48:27
Allah berkata : insha' Allah, yaitu "Bila Allah berkehendak"? Apakah
Tuhan tak memahami keinginannya sendiri? Jika demikian, mungkinkah dia
tak yakin bilakah tujuan dia akan menjadi kenyataan hingga ia harus
membatasi pernyataannya dengan ungkapan, insha' Allah ?
Orang dapat memahami bagaimana manusia yang tak luput dari kesalahan
yang tak peka akan maksud Tuhan dapat membatasi pernyataan-pernyataan
mereka dengan ungkapan "Jika Tuhan berkehendak" (banding nas Yakobus
4:13-15). Namun bagi Tuhan untuk membuat pembatasan itu adalah sama
sekali tidak masuk akal.
Lebih lanjut, jika Tuhanlah yang berbicara lalu siapakah yang
dirujuknya saat ia berkata "Jika Tuhan berkehendak"? Apakah ia
menunjuk pada dirinya sendiri ataukah orang lain? Jika ia merujuk
kepada orang lain, lalu berapa banyak Tuhan yang ada? Atau mungkin
Allah juga merupakan Mahluk multi-personal dengan melihat terdapatnya
lebih dari satu Oknum yang membentuk kesatuan Allah?
Ini mengantarkan kita untuk menyimpulkan bahwa ramalan Muhammad bukan
hanya gagal untuk terwujudkan, namun juga bahwa alasan-alasannya dalam
menciptakan wahyu adalah kekuasaan, uang dan ketenaran. Ayat ini
sekaligus membuktikan bahwa Tuhan bukanlah pengarang Quran.
Tentang Kemunculan Antikristus / Sang Dajjal dan Hari Kiamat
Muhammad menyatakan tanpa bukti bahwa antikristus (disebut Dajjal)
akan muncul segera setelah kaum Muslim mengalahkan Konstantinopel.
Berikut ini diambil dari Sunan Abu Dawud :
Kitab 37, Nomor 4281:
Dikisahkan oleh Mu'adh ibn Jabal:
Rasul berkata: Kejayaan Yerusalem akan terjadi ketika Yathrib dalam
kehancuran, kehancuran Yathrib akan terjadi saat perang agung muncul,
pecahnya perang agung adalah saat penaklukan Konstantinopel dan
penaklukan Konstantinopel adalah ketika sang Dajjal (Antikristus)
muncul. Ia (Rasul) menepuk pahanya atau pundaknya dengan tangannya dan
berkata: Ini adalah benar sebagaimana keberadaanmu di sini atau
sebagaimana kamu duduk (maksudnya Mu'adh ibn Jabal).
Kitab 37, Nomor 4282:
Dikisahkan oleh Mu'adh ibn Jabal:
Rasul berkata: Perang agung, penaklukan Konstantinopel dan munculnya
Dajjal (Antikristus) akan berlangsung di dalam tenggang waktu tujuh
bulan.
Kitab 37, Nomor 4283:
Dikisahkan oleh Abdullah ibn Busr:
Rasul berkata: Waktu antara perang agung dan penaklukan kota
(Konstantinopel) adalah enam tahun, dan sang Dajjal (Antikristus) akan
muncul di tahun ke tujuh.
Oleh karena itu, kaum Muslim menaklukan Yerusalem (Baitul-maqqdis)
pada 636 M. Konstanopel / Istanbul diambil alih oleh kaum Muslim pada
Mei 1453 M. Namun nubuatan mengenai Yathrib (Medinah) menjadi
reruntuhan dan kemunculan Antikristus yang akan terjadi tujuh bulan
setelah penaklukan Konstantinopel / Istanbul tidak terwujud.
Berdasarkan keyakinan sebelumnya Antikristus baru muncul pada November
1453.
Orang dapat berharap untuk mengelak dengan mengatakan bahwa
kejadian-kejadian ini merujuk kepada penaklukan-penaklukan yang akan
datang. Misalnya beberapa orang dapat berharap untuk berkata bahwa
Konstantinople dipakai sebagai sinonim dari Kerajaan Kristen Romawi.
Ini kemudian akan meramalkan bahwa kaum Muslim akan mengambilalih Roma
sebelum kemunculan ad-Dajjal.
Masalahnya adalah bila Muhammad berbicara mengenai Roma ia dapat saja
menggunakan kata bangsa Romawi (Bahasa Arab: Ar-Rum). Sebenarnya,
bangsa Romawi/Ar-Rum merupakan nama yang diberikan pada surah 30 dalam
Quran. Untuk menyebut Roma sebagai Konstantinopel atau bahkan
Byzantium akan menjadi bertentangan dengan jaman. Lihat di atas.
Karena itu, berdasarkan petunjuk faktor-faktor sebelumnya kami
terdorong untuk menyimpulkan bahwa ramalan-ramalan Muhammad gagal
untuk terwujudkan, sehingga itu mendiskualifikasikan kerasulannya.
Muhammad juga percaya bahwa bumi berusia muda dan dunia akan berakhir
secepatnya setelah kemunculannya. Kutipan-kutipan berikut ini diambil
dari The History of al-Tabari, Jilid 1 - General Introduction and from
the Creation to the Flood (terjemahan Franz Rosenthal, State
University of New York Press, Albany 1989), dengan semua huruf tebal
yang menegaskan pendapat kami:
"Menurut Ibn Humayd- Yahya b. Wahid- Yahya b. Ya'qub- Hammad- Sa'id
b. Jubayr- Ibn Abbas: Dunia ini merupakan satu dari beberapa minggu
dunia lain- tujuh ribu tahun. Enam ribu dua ratus tahun telah
terlewati. (Dunia) pasti akan mengalami beratus-ratus tahun, pada saat
dimana di sana tak akan ada para orang percaya pada keesaan Tuhan.
Orang-orang lain berkata bahwa total rentang waktu adalah enamribu
tahun. (Tabari, hal. 172-173; menguatkan pendapat kami)
"Menurut Abu Hisham- Mu'awiyah b. Hisham- Sufyan- al-A'mash- Abu
Salih- Ka'b: Dunia ini berusia enamribu tahun." (Ibid.)
"Menurut Muhammad b. Sahl b. 'Askar- Isma'il b. 'Abd al-Karim- 'Abd
al-Samad b. Ma'qil I- Wahb: Lima ribu enam ratus tahun dari dunia ini
telah berlalu. Aku tak tahu raja-raja dan nabi-nabi saiapa saja yang
telah hidup di setiap masa (jaman) tahun-tahun tersebut. Aku bertanya
pada Wahb b. Munabbih: Berapa lamakah (total berlangsungnya) dunia
ini? Ia menjawab: Enam ribu tahun."
(Tabari, hal 173-174; menegaskan pendapat kami)
Menurut at-Tabari Muhammad percaya bahwa berakhirnya dunia akan
terjadi 500 tahun setelah kedatangannya:
"Menurut Hannad b. al-Sari and Abu Hisham al-Rifa'i- Abu Bakar b.
'Ayyash- Abu Hasin- Abu Salih- Abu Hurayrah: Utusan Allah berkata:
Ketika aku dikirim (untuk menyampaikan pesan agung), aku dan Waktu
seakan seperti dua hal ini, merujuk jari telunjuk dan jari tengahnya."
(Tabaari, p.176; memperkuat pendapat kami, lihat juga hal 175-181)
At-Tabari mengkomentari dan mengulas maksud dari 'Waktu adalah
sedekat antara jari telunjuk dan jari tengah Muhammad':
"Demikian, (bukti mengijinkan) suatu kesimpulan seperti berikut ini:
Awal dari hari adalah terbitnya fajar, dan akhirnya adalah terbenamnya
matahari. Lebih lanjut, kepercayaan (tradisi) yang diberitakan tentang
kewenangan sang Nabi menggema. Sebagaimana kami telah singgung
sebelumnya, ia berkata setelah melakukan sembahyang magrib: Apa yang
terisa dari dunia ini bila dibandingkan dengan apa yang telah berlalu
hanyalah sebagaimana apa yang tersisa dari hari ini dibandingkan apa
yang telah berlalu dari hari ini. Ia juga berkata: Saat aku dikirim,
Aku dan Waktu adalah sebagaimana ini- jari tengah- mendahului yang
ini- jari telunjuk. Kemudian, rentang (waktu) antara pertengahan waktu
sholat magrib- yaitu, saat segala bayangan dua kali ukurannya, menurut
anggapan yang paling tepat ('ala al-taharri)-(hingga matahari
terbenam) adalah merupakan rentang waktu setengah dari tujuh hari,
lebih atau kurang.
Demikian pula, kelebihan panjang jari tengah terhadap jari telunjuk
adalah sesuatu mengenai itu atau mirip seperti itu. Ada juga tradisi
kuat tentang kewewenangan dari Utusan Tuhan, sebagaimana aku
diberitahu oleh Ahmad b. 'Abd al-Rahman b. Wahb- paman dari pihak
ayahnya 'Abd-allah b. Wahb- Mu'awiyah b. Salih- 'Abd al-Rahman b.
Jubayr b. Nufayr- ayahnya Jubayr b. Nufayr- rekan Nabi, Abu Tha'labah
al-Khushani: Utusan Tuhan berkata: Benar, Tuhan tak akan membuat
bangsa ini tak sanggup (bertahan) setengah hari- merujuk kepada hari
dari seribu tahun.
"Semua bukti-bukti ini secara bersamaan menjelaskan bahwa dari kedua
pernyataan yang telah aku singgung mengenai total panjang waktu,
menurut Ibn Abbas, dan menurut Ka'b, yang sepertinya lebih tepat jika
didasarkan informasi yang datang dari Utusan Tuhan adalah yang
merupakan pendapat Ibn 'Abbas yang diteruskan disini oleh kita dibawah
pengawasannya: Dunia adalah satu dari berminggu-minggu dunia lain-
tujuhribu tahun.
"Akibatnya, karena hal ini dan laporan mengenai kewewenangan Utusan
Tuhan yang kuat- yaitu, dimana ia melaporkan bahwa apa yang merupakan
sisa waktu dunia ini selama masa hidupnya adalah setengah hari, atau
limaratus tahun, karena limaratus tahun adalah setengah hari dari
hari-hari, dimana satuannya adalah seribu tahun- kesimpulannya adalah
bahwa masa dari dunia ini yang telah terlewati hingga saat pernyataan
Rasul sesuai dengan apa yang telah kita sampaikan sepengetahuan Abu
Tha'labah al-Khushani dari Rasul, dan adalah 6500 tahun atau sekitar
6500 tahun. Tuhan tahu yang terbaik!"
(Tabari, hal. 182-183, huruf tebal bagi penegasan kami)
Karena itu, berdasarkan kepercayaan-kepercayaan ini Muhammad meyakini
bahwa tidak hanya dunia berusia kurang dari 7000 tahun namun juga akan
berakhir pada hari yang ketujuh, atau tujuhribu tahun sejak
diciptakan.
Berdasarkan hal itu, dunia seharusnya telah berakhir di suatu masa
antara 1070-1132 TM, sekitar 500 tahun setelah kelahiran dan kematian
Muhammad. Ini didasarkan kepada fakta dimana menurut at-Tabari dan
lain-lainnya, kedatangan Muhammad terjadi kira-kira 6500 tahun dari
saat penciptaan. Ini jelaslah merupakan nubuatan palsu.
Namun penanggalan ini menyangkal perhitungan yang diperkirakan oleh
Abu Dawood dalam Sunannya. Di sana, kita membaca bahwa Antikristus
atau Dajjal akan muncul tujuh bulan setelah penaklukan Konstantinopel
(Istanbul), suatu peristiwa yang terjadi pada tahun 1453 TM. Ini
menjadi masalahnya, bagaimanakah mungkin Muhammad menyatakan di tempat
lain bahwa dunia akan berakhir 500 tahun setelah kelahirannya dan
kematiannya sendiri? Yang lebih memperburuk keadaan,
kepercayaan-kepercayaan Islam menyatakan bahwa Antikristus dan sang
Dajjal itu sebenarnya ada selama sepanjang hidup Muhammad. Sebenarnya,
menurut andaian sesetengah umat Islam Antikristus dan Dajjal itu
adalah seorang pria yang bernama Ibn Saiyad:
Sahih al-Bukhari, Jilid 2, Kitab 23, Nombor 437:
Dikisahkan oleh Ibn 'Umar:
'Umar berangkat bersama dengan Rasul dengan sekelompok orang menuju
Ibn Saiyad sampai mereka melihatnya bermain bersama anak-anak dekat
perbukitan kecil Bani Mughala. Ibn Saiyaf pada saat itu hampir pada
tahap masa pubertasnya dan tidak memperhatikan (kami) sampai Rasul
menepuk dengan tangannya dan berkata kepadanya, "Apakah kamu bersaksi
bahwa aku adalah Rasul Allah?" Ibn Saiyad menoleh padanya dan berkata,
"Aku bersaksi bahwa engkau adalah Utusan orang-orang tak terpelajar."
Kemudian Abu Saiyad bertanya kepada Rasul , "Apakah engkau bersaksi
bahwa aku adalah Rasul Allah?" Rasul menyangkal dan berkata, "Aku
percaya kepada Allah dan Utusan-utusanNya." Kemudian ia berkata
(kepada Ibn Saiyad), "Bagaimana menurutmu?" Ibn Saiyad menjawab, "
Orang-orang benar dan para pendusta mengunjungi aku." Rasul berkata,
"Kamu telah menjadi bingung mengenai hal ini."
Kemudian Rasul berkata kepadanya, "Aku telah menyimpan sesuatu (dalam
pikiranku) untukmu, (dapatkan kamu mengatakannya?)" Ibn Saiyad
berkata, "Itu adalah Al-Dukh (asap)." (2) Rasul berkata, "Biarlah
engkau berada dalam kenistaan. Kamu tak bisa melewati
keterbatasan-keterbatasanmu." Tentang itu 'Umar, berkata, "Ya Rasul
Allah! Biarkanlah aku memenggal kepalanya." Kata Rasul , "Bila memang
ia adalah itu (maksudnya Dajjal), maka kamu takkan dapat mengatasinya,
dan jika bukan, maka tak ada guna untuk membunuhnya."
(Ibn 'Umar menambahkan): Kemudian Rasul Allah sekali lagi berlalu
bersama Ubai bin Ka'b hingga ke pepohonan taman kurma dimana Ibn
Saiyad tinggal. Rasul ingin mendengar sesuatu dari Ibn Saiyad sebelum
Ibn Saiyad dapat melihatnya, dan Rasul melihat ia berbaring ditutupi
sehelai kain dan dimana bisikannya dapat terdengar. Ibu Ibn Saiyad
melihat Rasul Allah ketika ia menyembunyikan dirinya di belakang
batang-batang pohon kurma. Ia memanggil Ibn Saiyad, "Hei Saf!
(begitulah Ibn Saiyad dipanggil) Ada Muhammad di sini." Dan Ibn Saiyad
pun bangkit. Rasul berkata, "Jika perempuan ini membiarkannya
(Sekiranya perempuan ini tidak mengganggunya), Ibn Saiyad pasti telah
menyingkapkan kenyataan yang sebenarnya."
Kepercayaan serta andaian tersebut terus berlangsung hingga secara
positif mengidentifikasikan Ibn Saiyad sebagai Antikristus:
Sahih al-Bukhari, Jilid 9, Kitab 92, Nomor 453:
Dikisahkan oleh Muhammad bin Al-Munkadir:
Aku melihat Jabir bin 'Abdullah bersumpah demi Allah bahwa Ibn Saiyad
adalah Dajjal. Aku berkata kepada Jabir, "Bagaimana kamu dapat
bersumpah demi Allah?" Jabir berkata, "Aku telah mendengar "Umar
bersumpah demi Allah mengenai hal ini disaksikan oleh Rasul dan Rasul
tidak menyalahkannya."
Sunan Abu Dawood, Kitab 37, Nomor 4317:
Dikisahkan oleh Jabir ibn Abdullah:
Muhammad ibn al-Munkadir berkata bahwa ia melihat Jabir ibn Abdullah
bersumpah demi Allah bahwa Ibn as-Sa'id adalah Dajjal (Antikristus).
Aku menyatakan keterkejutanku dengan berkata: Kamu bersumpah demi
Allah! Katanya: Aku mendengar Umar bersumpah akan hal itu dengan
disaksikan oleh Rasul Allah, namun Rasul Allah sama sekali tidak
menyatakan keberatan terhadap itu.
Akan tetapi kepercayaan-kepercayaan ini berlawanan dengan
kepercayaan-kepercayaan (tradisi hadist) berikut ini dimana
Dajjal/Antikristus digambarkan bermata satu dan dibelenggu dengan
rantai:
Sahih Bukhari, Jilid 4, Kitab 55, Nomor 553:
Dikisahkan oleh Ibn Umar:
Suatu ketika Rasul Allah berdiri diantara orang-orang, mengagungkan
dan memuji Allah sebagaimana seharusnya dan kemudian menyebut tentang
Dajjal dengan berkata, "Aku memperingatkan kamu akan dia (Dajjal) dan
tak ada seorang rasul pun yang telah memperingatkan bangsanya tentang
dia. Tak diragukan, Nuh memperingatkan bangsanya akan hal itu namun
aku mengatakan kepada engkau tentang dia sesuatu yang mana tak seorang
rasulpun pernah mengatakan kepada bangsanya sebelum aku. Engkau harus
tahu bahwa ia bermata satu, dan Allah tidak bermata satu."
Sunan Abu Dawood, Kitab 37, Nomor 4306:
Dikisahkan oleh Ubadah ibn as-Samit:
Rasul berkata: Aku telah mengatakan padamu begitu banyak tentang
Dajjal (Antikristus) sehingga aku takut engkau takkan memahami.
AntiKristus bertubuh pendek, berjarikaki seperti ayam betina, berbulu
seperti wol, satu mata, berpandangan mata kabur, tidak menonjol maupun
terbenam. Jika kamu bingung karenanya, ketahuilah bahwa Tuhanmu
tidaklah bermata satu.
Sunan Abu Dawood, Kitab 37, Nomor 4311:
Dikisahkan oleh Fatimah, anak dari Qays:
Rasul Allah suatu ketika menunda sholat jemaah malam.
Ia muncul dan berkata: Pembicaraan Tamim ad-Dari menahanku. Ia
menyampaikannya kepadaku dari seseorang yang berasal dari pulau-pulau
ditengah laut. Tiba-tiba ia menemukan seorang wanita yang sedang
mengusap rambutnya. Ia bertanya: Siapakah engkau?
Perempuan itu berkata: Aku adalah Jassasah. Pergilah ke puri itu.
Jadi aku pergi ke situ dan menemukan seorang lelaki yang sedang
mengusap rambutnya, terbelenggu dengan ikat leher besi, dan melompat
diantara Sorga dan Bumi.
Aku bertanya: Siapakah engkau? Ia menjawab: Aku adalah Dajjal
(Antikristus). Apakah Rasul para orang tak terpelajar telah muncul
sekarang? Aku menjawab: Benar. Ia berkata: Apakah orang-orang
mematuhinya atau mengacuhkannya? Aku berkata: Tidak, mereka
mematuhinya. Ia pun berkata: Itu lebih baik bagi mereka.
Orang mungkin menyisipkan disini dan menyatakan bahwa
kepercayaan-kepercayaan (traditions) menyebutkan tentang 30
Antikristus yang akan datang ke dunia:
Sunan Abu Dawood, Kitab 37, Nomor 4319:
Dikisahkan oleh Abu Hurayrah:
Rasul berkata: Saat Terakhir tak akan tiba sebelum munculnya
tigapuluh Dajjal (para pendusta), setiap orang menganggap dirinya
rasul Allah. (lihat juga Sahih al-Bukhari, Jilid 9, Kitab 88, Nomor
237)
Ini secara tak langsung menyatakan bahwa Ibn Saiyad hanyalah satu
dari ketigapuluh antikristus, bukan SANG Antikristus yang akan muncul
sebelum berakhirnya dunia.
Ada beberapa permasalahan dengan penegasan ini. Pertama, tak satupun
dari kepercayaan-kepercayaan itu yang menyatakan bahwa Ibn Saiyad
adalah satu dari tigapuluh antikristus / Dajjal yang akan muncul. Akan
tetapi, kepercayaan-kepercayaan itu secara tak langsung menyatakan
bahwa ia adalah Sang Dajjal atau Antikristus.
Kedua, jika kita mengambil salah satu dari penanggalan yang diajukan
oleh at-Tabari ataupun Abu Dawood, Ketigapuluh Dajjal semuanya harus
telah muncul apakah sebelum 1070-1132 atau 1453 TM. Terakhir, menurut
Perjanjian Baru dan Kitab Injil, Muhammad sebenarnya boleh diandaikan
salah satu dari para Antikristus atau Dajjal tersebut :
"Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang
telah kamu dengar, seorang antikristus -sang Dajjal, akan datang,
sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa
waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir...Siapakah pendusta
itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Isa adalah Kristus? Dia itu
adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak.
Sebab barangsiapa menyangkal Anak, ia juga tidak memiliki Bapa.
Barangsiapa mengaku Anak, ia juga memiliki Bapa."
1 Yohanes 2:18, 22-23
Karena Muhammad menyangkal bahwa Isa adalah Anak Allah maka ia adalah
satu dari banyak antikristus yang akan datang - menurut rasul dan para
hawariyun Yohanes.
Sebab itu, tak peduli dari sudut mana seseorang melihat hal ini kami
akan tetap terpaku pada kontradiksi-kontradiksi dan percanggahan yang
tak terpecahkan dan ramalan-ramalan palsu.
KESIMPULAN
Akhir kata, mari kita selidiki tuntutan orang Islam yang seringkali
dibuat ke atas nubuat dan ramalan dari Buku Ulangan Bab 18 ayat-ayat
15-21, di mana umat Islam seringkali buat andaian kononnya Muhammadlah
nabi yang disebutkan di dalam nas Al-Kitab itu! Adakah tuntutan ini
benar atau pun munasabah ?
Untuk mengetahui kebenarannya, kita harus mendengar apa Isa Al-Masih
sendiri memperkatakan tentang nubuat-nubuat dalam Kitab-kitab Taurat,
Zabur dan tulisan-tulisan para Nabi. Baginda telah menyatakan dengan
begitu jelas dan nyata :
"Inilah perkara-perkara yang telah Aku beritahu kamu tatkala Aku
masih bersama-sama kamu: Setiap perkara yang tertulis tentang diri-Ku,
Yakni Isa sendiri - di dalam Kitab Taurat Musa, Kitab Nabi-Nabi dan
Mazmur (Zabur) MESTILAH BERLAKU."
Injil Lukas 24 : 44
Apa pula dengan pegangan dan andaian para murid-murid dan Hawariyun
Isa mengenai pernyataan Al-Masih Isa di atas ini? Para hawarii sendiri
telah mensahihkan dan mengaminkan kata-kata Rabboni mereka Isa ini,
dengan kata-kata seperti :
"Dahulu kala, melalui Nabi-nabi-Nya, Allah memberitahu bahawa
Penyelamat yang diutus-Nya harus menderita. Demikianlah PERKARA ITU
SUDAH BERLAKU seperti yang dikehendaki-Nya. Oleh itu bertaubatlah
daripada dosa dan kembalilah kepada Allah, supaya Dia menghapuskan
dosa saudara-saudara. Jika saudara-saudara bertaubat, saudara akan
mengalami pembaharuan (kesegaran) rohani.
"Tuhan akan menghantar Isa Al-Masih datang kepada saudara-saudara,
KERANA BAGINDA SUDAH DITETAPKAN OLEH TUHAN UNTUK MENJADI PENYELAMAT
SAUDARA-SAUDARA. Isa harus tinggal sehingga TIBA MASANYA BAGI ALLAH
MENJADIKAN SEMUANYA BARU. Seperti yang difirmankan (DINUBUATKAN) oleh
Allah MELALUI NABI-NABINYA YANG SUCI Pada Zaman Dahulu.
"MUSA PERNAH BERNUBUAT, 'TUHAN, ALLAH KAMU AKAN MENGUTUS SEORANG NABI
KEPADA KAMU SEPERTI DIA MENGUTUS AKU (MUSA).
NABI ITU AKAN DATANG DARIPADA BANGSA KAMU (ISRAEL) SENDIRI. Kamu
harus mendengar SEMUA yang dikatakan-Nya'." *
"Demikianlah ALLAH memilih dan mengutus Utusan-Nya ISA Al-Masih kepada
saudara-saudara terlebih dahulu untuk memberkati saudara sekalian. Dia
berbuat demikian supaya saudara sekalian bertaubat daripada cara hidup
yang jahat."
Kisah Rasul-Rasul 3 : 18 - 21, 26.
Hawariyun dan murid Isa Al-Masih yang menyatakan hakikat diatas ialah
rasul Petrus sendiri - yakni pemimpin kepada para Hawarii yang lain!
Ayat yang bertanda * di atas adalah kutipan dan petikan beliau dari
Kitab Taurat Buku Ulangan 18 ayat 15 dan 18.
Sudah jelaslah ketua Para Hawariyun sendiri, Petrus, menganggap Isa
al-Masih sebagai penggenap dan pemakbulan nubuat yang terkandung dalam
firman Allah kepada Musa dari Kitab Taurat (Ulangan 18:15,18) itu!
Adakah beliau menunggu akan kedatangan Muhammad 600 tahun selepasnya,
sebagai perkabulan Nubuat ini ? Tidak ! Adakah Petrus, ketua
hawariyun, telah berkata : 'Kita kena tunggu untuk datangnya satu lagi
'rasul dan nabi' dari tanah Arab atau 'keturunan Ismail' untuk
pengenapan nubuat Taurat ini?? TIDAK Sama sekali!
SEBALIKNYA, ketua para murid Isa ini telah merujuk kepada Isa
Al-Masih sebagai Nabi Yang Dijanjikan Allah itu! Sebaliknya, lebih
dari 550 tahun sebelum berlahirnya nabi Islam Muhammad itu, semua
pengikut-pengikut Isa Al-Masih sudah pun akui dan menyanjung ISA
Al-Masih sebagai Nabi yang telah dijanjikan dalam Kitab Taurat itu!
Dan jelas sekali bukanlah Muhammad yang harus ditunggu-tunggukan
sebagai 'nabi' apa-apa pun.
Satu lagi kutipan dan pengsahihan ini datang dari satu lagi pengikut
Isa, Stefanus, yang telah mengakui ISA sebagai Nabi Perjanjian Allah
dalam Ulangan 18 itu, dalam Kisah Rasul-Rasul 7 ayat-ayat 35-38!
Sebelum timbulnya nabi Islam Muhammad itu, semua pengikut Isa yang
terawal sudah pun menyanjung ISA AL-MASIH sebagai Nabi Agung seperti
Nabi Musa dari Kitab Taurat itu!
Semua rujukan diatas sudah membuktikan bahawa para rasul-rasul dan
hawariyun Isa Al-Masih TIDAK MENUNGGU UNTUK KEDATANGAN MUHAMMAD
sebagai Nabi yang dinubuat oleh Nabi Musa itu, semua murid-murid Isa
itu TIDAK PERNAH MENGANDAIKAN BEGITU dan tidak pernah mengajari asumsi
kosong tersebut! Karena Apa ? Kerana - Sememangnya Muhammad BUKANLAH
Nabi yang telah dijanjikan atau pun disebut-sebutkan di dalam Kitab
Taurat !
Jadi, adalah TIDAK MUNASABAH sama sekali untuk menganggap Muhammad
sebagai 'nabi seperti Musa itu' atas sebab-sebab : Al-Masih Isa
sendiri telah menyatakan secara terus-terang bahawa semua
nubuat-nubuat dalam Kitab-Kitab Taurat, Zabur dan Nabi-nabi merujuk
kepada Baginda Isa Al-Masih sendiri, bukan kepada orang lain. Injil
Lukas 24 : 44. Semua hawariyun, murid-murid dan para sahabat Isa
Al-Masih telah mengakui bahawa Isa sahajalah yang telah mengenapi
nubuat-nubuat tersebut, termasuk nubuat Nabi Agung yang seperti Musa
itu dalam Ulangan 18:15-18.
Kisah Rasul-Rasul (KRR) 3 : 18-21 dan 26, KRR 7 : 37-38, Ulangan
18:15,18. Para hawariyun dan sahabat Isa Al-Masih adalah saksi-saksi
hidup kepada segala yang telah dilakukan, dikatakan dan diajari oleh
Isa Al-Masih semasa baginda berada di Bumi.
Catatan dari KRR menunjukkan semua pengikut Isa Al-Masih telah
menyanjung Isa sebagai penggenap semua Nubuat-nubuat Kitabiah itu -
ratusan tahun sebelum lahirnya Muhammad. Sebaliknya, Muhammad dan
pengikut-pengikutnya itu tidak pernah menjadi saksi-saksi kepada
pelayanan dan pengajaran Al-Masih Isa itu, padahal mereka belum lagi
dilahirkan sehingga lebih dari 570 tahun kemudian ! Kami lebih yakin
kepada kesaksian semasa hidup Al-Masih daripada tuntutan-tuntutan dan
claim yang bukan punca dari saksi-saksi hidup (tetapi sebaliknya
muncul hanya lebih dari 570 tahun kemudian).
Kami telah menyelidiki baik Quran dan kepercayaan-kepercayaan
(tradisi) Keislaman dan menemukan bahwa kedua sumber tersebut
mengandung ramalan-ramalan serta nubuat palsu.
Berdasarkan petunjuk kriteria nubuatan yang diberikan Allah dalam
Kitab Suci Taurat dari Ulangan Bab 18 kami JUGA menemukan bahwa
Muhammad tidak lulus ujian ini sekalipun. Artinya Muhammad bukanlah
seorang rasul sejati atau seorang nabi sebagaimana Nabi Musa itu.
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/