Jeritan Bisu <[EMAIL PROTECTED]> wrote: To: [EMAIL PROTECTED]
From: Jeritan Bisu <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Sun, 27 May 2007 18:07:45 -0700 (PDT)
Subject: [Dharmajala] Usia Bumi Tinggal Seabad Lagi?
PERUBAHAN IKLIM
Usia Bumi Tinggal Seabad Lagi?
YUNI IKAWATI
Ketika karbon dari muka bumi terus dilepas ke atmosfer lewat pembakaran bahan
bakar fosil dan organik oleh miliaran manusia. Ketika jutaan hektar hutan
sebagai pengisap karbon terus ditebang dan kian berkurang. Ketika itulah "bom
waktu" mulai bekerja menghancurkan bumi ini.
Gas karbon dan gas pencemar lain, seperti sulfur dan nitrogen, yang tergabung
dalam kelompok gas rumah kaca (GRK), akibat aktivitas manusia di berbagai
sektor akan terlepas ke udara, terkumpul semakin tebal di atmosfer menyelimuti
bumi.
GRK di lapisan udara atas itu, karena proses kimiawinya, akan memerangkap
sinar matahari yang menembus atmosfer masuk ke permukaan bumi. Akibatnya,
lingkungan planet biru itu menjadi kian panas.
Kondisi suhu bumi yang tak nyaman ini membuat semua sistem yang selama ini
berada dalam siklus yang seimbang mulai terganggu. Salah satu yang terusik
adalah sistem cuaca, yang pada dasarnya terdiri atas proses pemanasan oleh
sinar matahari menjadi uap air yang terkumpul sampai terbentuk awan, lalu
diembuskan angin ke daerah yang bertekanan rendah hingga jatuh menjadi hujan.
Tanpa perubahan perilaku dan pola konsumsi manusia, juga tanpa upaya
mereduksi emisi GRK untuk mengatasi pemanasan bumi, para pakar yang tergabung
dalam Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) memperkirakan usia bumi
tinggal 70 tahun hingga seabad lagi.
Proyeksi itu berdasarkan tren kenaikan suhu udara hingga empat derajat
Celsius (C). Tingkat itu dapat tercapai bila emisi GRK terus bertambah dalam
beberapa dekade ke depan karena tidak ditegakkannya kebijakan mitigasi
perubahan iklim dan pola pembangunan ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Bila melihat data emisi GRK pada kurun waktu 1970 hingga 2004 yang
dikeluarkan IPCC awal Mei lalu, emisi GRK naik 70 persen. Tingkat itu
disumbangkan dari sektor energi yang mencapai peningkatan 145 persen.
Apa yang terjadi bila suhu rata-rata global naik 2 derajat Celsius? Yang
jelas ada sekitar 30 persen spesies yang peka terhadap kenaikan suhu di muka
bumi ini akan punah. Hilangnya sepertiga spesies itu berarti mengganggu
keseimbangan daur hidup, termasuk mengubah pola penularan penyakit melalui
serangga dan hewan. Sementara itu, perubahan pola cuaca meningkatkan kejadian
badai dan curah hujan yang tinggi.
Lalu, bagaimana bila temperatur udara naik dua kali lipat menjadi 4C?
Dampaknya, antara lain, hilangnya 30 persen lahan basah, naiknya kasus penyakit
akibat udara panas, banjir dan kekeringan, mengakibatkan angka kematian naik
drastis.
Ancaman kiamat bumi itu, menurut IPCC, dapat dicegah dengan beberapa skenario
untuk menurunkan GRK hingga tahun 2030. Skenario terbaiknya adalah menahan
kenaikan suhu bumi hanya 2 C-2,4 C sampai 23 tahun ke depan. Untuk mencapai
itu, konsentrasi GRK harus distabilkan pada kisaran 445-490 part per million
(ppm). Skenario lain menyebutkan, kenaikan dibatasi sekitar 3,2 C hingga 4 C
pada kurun waktu yang sama, dengan menjaga jumlah GRK 590-710 ppm.
Saat ini tingkat GRK telah melampaui itu semua. Tahun 2005 konsentrasi GRK
antara 400 dan 515 ppm. Menurut IPCC, target itu bisa dicapai jika diterapkan
kebijakan mitigasi perubahan iklim di tiap negara, yang harus diambil di sektor
energi, transportasi, gedung, industri, pertanian, kehutanan, dan manajemen
limbah.
Di sektor energi, misalnya, harus dikeluarkan kebijakan pengurangan subsidi
dan penetapan pajak bagi bahan bakar fosil. Sebaliknya, mewajibkan penggunaan
dan penetapan harga listrik dari energi terbarukan.
Soal kebijakan yang diterapkan di Indonesia, Kuki Soejachmoen, dari Yayasan
Pelangi Indonesia, menilai sudah mengikuti rekomendasi IPCC berupa penerapan
energi terbarukan seperti yang tertuang dalam Kebijakan Energi Nasional, dan
penggunaan biofuel pada transportasi publik.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutan peresmian Gedung Herbarium
Bogoriense di Cibinong Science Center, Rabu (23/5) di Bogor, mengatakan, untuk
menyikapi perubahan iklim dan mengantisipasi makin susutnya sumber daya alam
harus ditegakkan tiga pilar, yaitu pembuatan kebijakan, perubahan gaya hidup,
dan kontribusi teknologi.
Presiden meminta pencarian keuntungan ekonomi hendaknya sejalan dengan upaya
pelestarian lingkungan hidup, misalnya melalui wisata yang berbasis lingkungan
hidup atau ekowisata.
Dampak kesehatan
Kenaikan suhu pada dekade mendatang membuat kian banyak korban jiwa
berjatuhan akibat gelombang panas, banjir, badai, kebakaran hutan, dan
kekeringan. Di sisi lain juga meningkatkan kasus malnutrisi, penyakit seperti
diare dan infeksi serta masalah gangguan pernapasan dan jantung.
Menurut kalkulasi yang dilakukan Tony McMichael dari Australia National
University, peningkatan suhu di bumi sejak tahun 1970-an telah menimbulkan
dampak berupa 166.000 kematian per tahun pada tahun 2000 akibat penyakit,
termasuk diare dan malaria.
Kasus tingginya kematian ini terutama di alami negara miskin di kawasan
tropis, yang memiliki kemampuan terbatas untuk mengatasinya. Penyakit yang
ditularkan oleh nyamuk akan terus meningkat pada masa mendatang.
Penelitian yang dilakukan di Kenya, misalnya, menunjukkan korelasi yang kuat
antara kenaikan suhu, hujan yang sangat berfluktuasi, dan penyebaran nyamuk
malaria ke dataran tinggi, termasuk Nairobiibu kota Kenyayang sebelumnya
terlindung dari ancaman penyakit parasit ini.
Malnutrisi dan penyakit karena kelangkaan air bersih terutama menyerang dunia
berkembang. Penelitian di Eropa yang dilakukan The European Centre for Disease
Prevention and Control (ECDPC) memperkirakan setiap kenaikan suhu 1C
menyebabkan kenaikan 5 C hingga 10 C kasus pencemaran salmonela pada makanan.
Dampak perubahan iklim tidak hanya dialami negara miskin. Negara kaya pun
yang umumnya berada di kawasan subtropis tak luput dideranya. Gelombang panas
tahun 2003, misalnya, menyebabkan lebih dari 35.000 kematian prematur di Eropa,
di antaranya 14.000 terjadi di Perancis.
Suhu yang lebih hangat membuat kasus malaria kembali muncul di Eropa, di
antaranya di negara perbatasan, seperti Azerbaijan, Georgia, dan Turki, yang
telah dinyatakan tereradikasi penyakit ini setelah Perang Dunia II. Penelitian
yang dilakukan ECDPC tahun lalu juga menyimpulkan Uni Eropa akan terancam
chikungunya, infeksi akibat nyamuk yang telah menyerang India.
Kasus di Indonesia
Kondisi yang tidak jauh berbeda, seperti merebaknya penyakit parasit akibat
vektor nyamuk seperti malaria, demam berdarah, dan chikungunya merebak di
berbagai daerah di Indonesia, sejak beberapa tahun terakhir ini terutama pada
masa peralihan musim. Kasus penyakit ini dari tahun ke tahun kian banyak
menelan korban jiwa.
Pemanasan global, menurut pengamatan Vitus Dwi Yunianto, guru besar Fakultas
Peternakan Universitas Diponegoro, juga telah berpengaruh pada merebaknya
penyakit pada unggas di Indonesia belakangan ini, termasuk flu burung.
"Dengan temperatur lingkungan yang rata-rata di atas 27 C, pertumbuhan unggas
terhambat dan kekebalannya terhadap penyakit berkurang," ujar Vitus saat
memaparkan orasi ilmiah pengukuhannya sebagai guru besar di Semarang, Kamis
(24/5).
Cekaman temperatur yang panas itu juga menurunkan metabolisme pada jaringan
otot unggas yang dapat menghambat pertumbuhan ayam, menyebabkan kelainan organ
dalam tubuh ayam, seperti penurunan ukuran kelenjar tiroid dan adrenalin, serta
hati. "Hal ini kemungkinan karena adanya perubahan fungsi endokrin tubuh, dan
sitensis protein," papar Vitus.
Untuk mengatasinya, perlu dilakukan penambahan hormonal dengan manipulasi
hormonal sehingga mengembalikan ayam dalam kondisi semula. Langkah ini dapat
ditempuh dengan meningkatkan daya tahan tubuh dan mengembalikan fungsi
metabolisme tubuh unggas pada kondisi normal saat mengalami cekaman panas.
(INU/HAN)
---------------------------------
Got a little couch potato?
Check out fun summer activities for kids.
---------------------------------
Get the free Yahoo! toolbar and rest assured with the added security of spyware
protection.
---------------------------------
Get your own web address.
Have a HUGE year through Yahoo! Small Business.
[Non-text portions of this message have been removed]
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/