Refeleksi: Mereka sepakat tidak memperpanjangkan polemik, tetapi rujukan tidak 
memberi penjelasan.   Ataukah  memangnya itu kejujuran intelektual politkus 
akal bulus? 

http://www.kaltengpos.com/berita/index.asp?Berita=utama&id=27799

Selasa, 29 Mei 2007


SBY-Amien Rujuk


JOGJA - Perseteruan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan mantan Ketua MPR 
Amien Rais, berakhir. Hari Minggu lalu (27/5), kedua tokoh ini bertemu di 
Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta dan sepakat tidak akan memperpanjang 
polemik seputar aliran dana nonbujeter Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP). 

Ada tiga hal yang disepakati dalam pertemuan yang berlangsung 12 menit itu. 
Pertama, SBY dan Amien akan membuka kran komunikasi yang selama ini buntu. 
Kedua, menghilangkan misunderstanding yang terjadi. Dan ketiga, mengembalilkan 
persoalan aliran dana DKP ke ranah hukum. 

''Kami sepakat tidak akan memperpanjang persoalan ini dan menyerahkan 
pengusutan aliran dana DKP ke aparat penegak hukum untuk diselesaikan,'' ujar 
Amien Rais saat menggelar jumpa pers di pendopo rumahnya, Sawitsari, 
Condongcatur, Depok, Sleman, kemarin. 

Amien sengaja mengundang wartawan sebagai tindaklanjut dari pernyataan yang 
dilontarkan beberapa hari sebelumnya tentang aliran dana DKP. Dalam statemen 
sebelumnya, Amien mengaku akan membebarkan data seputar aliran dana DKP ke 
publik. Namun, sampai akhir acara, Amien tidak jadi membeberkan. 

Jumpa pers sendiri digelar pukul 13.00. Sebelumnya, Amien yang saat itu 
mengenakan baju biru dengan celana hitam, datang ke pendopo dengan mengendarai 
sepeda onthel. Terlihat para petinggi DPP PAN seperti Alvin Lie, Drajat Wibowo, 
Tjatur Sapto Edi dan Asiyah Rais. 

Amien pun mengungkapkan alasannya dengan SBY menghentikan perseteruan, karena 
persoalan ini sudah mulai masuk ranah politik. Bahkan, beberapa pihak mulai 
mencari kesempatan memanfaatkan untuk kepentingan tertentu. ''Sudah ada yang 
menumpangi dengan isu lain seperti impeachment dan lain sebagainnya. Jadi, kami 
sepakat menghentikan," tukasnya, sambil menjelaskan jika alasannya berbicara 
blak-blakan bertujuan untuk membeberkan seluruh data informasi dengan 
sejujurnya. 

Amien menceritakan, sejak bergulirnya polemik kasus dana nonbujeter DKP ia 
mengaku mendapat SMS dan telepon yang mempertanyakan kejelasan kasus ini. 
Bahkan, tidak sedikit yang menyayangkan semakin mencuatnya kasus ini. 

''Masyarakat banyak yang marah dan tidak menyukai para pemimpin negara ini 
justru terlibat pertikaian. Seperti tontonan political boxing atau political 
wrestling. Padahal di sisi lain kemiskinan semakin meluas, pengangguran semakin 
membengkak dan kesehatan yang semakin tidak terjangkau," urainya. 

Sedang terkait pertemuannya dengan SBY, Amin mengungkapkan malam sebelum 
pertemuan ia mendapat telepon seseorang yang menawarkan pertemuan itu. Saat 
itu, ia sedang duduk santai dengan Drajat Wibowo dan Hanum Salsabila (anaknya) 
di pendopo rumahnya. ''Saya ditawari apakah mau bertemu dengan presiden untuk 
membahas persoalan ini," ceritanya. 

Begitu mendapat tawaran itu, Amien mengaku menyanggupi. ''Sebagai warga negara 
yang baik, saya menyambut baik tawaran itu. Hanya, saya minta pertemuan 
dilakukan di tempat netral," ujar Amien. Akhirnya disepakati, pertemuan 
dilaksanakan di Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, sesaat sebelum SBY 
berangkat ke Malaysia. 

''Pagi sekitar pukul 06.00 saya berangkat dan langsung bertemu di salah satu 
ruangan di ruang tunggu Halim. Pertemuan hanya berlangsung selama 12 menit. 
Pukul 09.30, saya sudah kembali ke Jogja," akunya. 

Amien juga mengaku ia dengan SBY bersahabat baik. Ia juga mengaku tidak akan 
mencoba menggulingkan pemerintahan SBY-Kalla. ''Sebenarnya, saya ini sudah 
tidak akan kembali ke dunia politik. Saya sudah kembali ke habitat saya di 
kampus. Namun, tiba-tiba ada persoalan ini yang memaksa loncat lagi ke panggung 
politik. Dan, saya tidak akan mencoba memperpanjang persoalan ini," tuturnya. 

Mantan Ketua Umum DPP PAN ini juga mengatakan, persoalan aliran dana DKP harus 
tetap berjalan sesuai ranah hukum. Hanya saja harus proposional, cool, tidak 
ada politisasi dan krimininalisasi. "Saya setuju persoalan harus the show must 
go on. Seperti Bung Karno pernah mengatakan for a fighting nation, there is no 
journey's end," tandasnya. 

Sementara itu, pengamat politik UGM Prof Dr Ichlasul Amal mengatakan, apa yang 
dilakukan Amien dan SBY adalah sebuah dagelan politik. Dari awal ia memprediksi 
polemik yang terjadi, akan diselesaikan secara adat politik. ''Nggak mungkin 
dilanjutkan itu. Paling nanti yang dikorbankan Rokhmin Dahuri," ujar Amal saat 
dihubungi secara terpisah. 

Ia mengatakan, aliran dana kepada capres sebenarnya memang terjadi. Masalah 
seperti ini seolah sudah menjadi kewajaran dalam proses pemilihan. "Bahkan 
dalam proses pilkada di DKI Jakarta, Rp 3 triliiun uang sudah beredar," 
tukasnya. 

Hanya, lanjut Amal, untuk membuktikan hal itu sangat sulit. Ini tergantung 
aparat penegak hukum dan pelaksan pemilu menyikapinya. (sam/oto/jpnn) 

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke