http://www.indomedia.com/poskup/2007/05/28/edisi28/opini.htm

Mewaspadai penyakit antraks

Oleh Dr. Reko Priyonggo * dan Dr. Budiana, Sp.PD **

BEBERAPA bulan terakhir ini koran terbitan nasional maupun lokal dihiasi oleh 
berita kejadian kematian pada hewan dan manusia akibat penyakit antraks. 
Seperti pemberitaan di Pos Kupang tanggal 28 Februari 2007 yang melaporkan 28 
warga di Dusun Koro Desa Reroroja, Kabupaten Sikka diduga terkena bakteri 
antraks usai makan daging kerbau yang mati mendadak.

Kedua 27 Maret 2007, berita Pos Kupang menunjukkan lima orang warga Kampung 
Bondo Kamodo, Kabupaten Sumba Barat meninggal mendadak sesudah memakan daging 
kerbau yang telah mati. Setelah dilakukan penelusuran secara laboratorium 
ditemukan penyebab kematiannya positif karena antraks. Akhirnya setelah 
kejadian tersebut dinas terkait, dalam hal ini Dinas Peternakan NTT, melakukan 
vaksinasi secara massal terhadap seluruh hewan di Sumba Barat untuk melindungi 
hewan tersebut dari penyakit antraks yang bisa berakibat fatal ini.

Melihat kasus kasus antraks yang dapat menimbulkan kesakitan dan kematian yang 
tinggi pada hewan dan manusia, disamping kerugian secara ekonomi yang dialami 
para peternak hewan dalam jumlah yang tidak sedikit itu, kami ingin menyajikan 
selayang pandang tentang antraks agar kita dapat mewaspadai ancaman penyakit 
ini.

Antraks adalah penyakit zoonosis (menular dari hewan ke manusia) yang 
disebabkan oleh kuman bacillus anthracis. Hampir semua jenis hewan menjadi 
perantara antara lain kambing, domba, kuda, kerbau dan sapi. Kuman bacillus 
anthracis berbentuk seperti batang, termasuk kuman gram positif, menghasilkan 
eksotoksin dan mampu membentuk spora. Bentuk spora dari antraks ini dapat 
bertahan sampai 60 tahun di tanah yang kering. Spora juga bertahan lama di 
kulit , bulu binatang, wool dan pakaian. Dan dengan spora inilah antraks dapat 
sewaktu-waktu menginfeksi hewan dan manusia.

Epidemiologi

Antraks termasuk penyakit yang sudah lama dikenal manusia. Penyakit ini dapat 
ditemukan di seluruh dunia. Di Indonesia, antraks pertama kali dilaporkan oleh 
Javasche Courant yang terjadi pada kerbau di Telukbetung (Sumatra) tahun 1884. 
Kasus berikutnya terjadi di Buleleng (Bali), Rawas (Palembang), dan Lampungpada 
tahun 1885. Pada tahun 1886, wabah penyakit antraks juga terdapat di Banten, 
Pulau Rote (NTT). Pulau Bali saat ini dinyatakan bebas antraks karena sejak 100 
tahun tidak pernah ditemukan lagi kasus antraks di lapangan. Antara kurun waktu 
1980-1995 antraks dilaporkan dari Papua menyerang babi, sapi dan manusia. Di 
Pulau Sulawesi antraks tersebar di Makassar, Watampone, Menado, Palu dan 
Donggala.

Antraks pada hewan

Hampir semua hewan berdarah panas bisa terkena penyakit antraks. Di Indonesia, 
penyakit ini sering dijumpai pada kerbau, sapi, kambing, domba, kuda, dan babi. 
Dari studi epidemiologi bacillus anthracis ini menyukai tanah berkapur dan 
tanah yang bersifat basa (alkalis). Umumnya antraks menyerang hewan pada musim 
kering (kemarau), dimana rumput sangat langka, sehingga sering terjadi pada 
ternak (terutama kuda) tertular lewat makan rumput yang tercabut sampai 
akarnya. Lewat akar rumput inilah bisa terbawa pula spora dari antraks. Gejala 
klinis pada hewan yang terkena antraks mulai dari demam tinggi, keluar keringat 
berlebih, bengkak pada buah zakar, pelipatan paha dan kepala bagian bawah. 
Beberapa hewan juga disertai kolik, diare, dan merusak sistem limfe (kelenjar 
getah bening). Perkembangan penyakit jika sudah masuk aliran darah hewan akan 
mengakibatkan kematian yang sangat cepat. Kematian umumnya oleh pengaruh toksin 
yang menimbulkan gangguan pada saraf pusat, berupa kelumpuhan dan kagagalan 
pusat pernafasan.

Antraks pada manusia

Manusia bisa tertular penyakit antraks melalui kulit yang terluka setelah 
kontak dengan hewan atau hasil hewan, terhirup (inhalasi) atau melalui makanan. 
Orang yang terkena penyakit antraks biasanya peternak, pemotong hewan, pekerja 
pada industri wool, kulit, atau masyarakat luas yang mengonsumsi daging yang 
mengandung bacillus anthacis. Risiko tertular penyakit ini akan sangat tinggi 
di daerah-daerah yang terdapat pemeliharaan hewan ternak dalam jumlah besar, 
seperti di Propinsi NTT yang terkenal sebagai salah satu gudang ternak di 
Indonesia. Masa inkubasi umumnya bervariasi antara 2-7 hari.

Ada tiga bentuk klinis antraks pada manusia, yaitu, pertama, antraks cutaneus 
(kulit). Sekitar 95 % antraks pada manusia merupakan antraks kulit. Kulit yang 
terkena akan lecet, menjadi papula kecil berwarna merah dan menimbulkan rasa 
gatal, yang kemudian menjadi gelembung yang berisi cairan (vesikel), kemudian 
pecah dan bagian tengahnya berwarna hitam. Luka ini tidak nyeri. Kuman dapat 
menjalar ke kelenjar getah bening regional. Apabila penyakit berlanjut 
menimbulkan kuman beredar dalam aliran darah dan menyebabkan kematian.

Kedua, atraks inhalasi (saluran pernafasan). Antraks inhalasi dapat terjadi 
karenaorang menghirup udara yang mengandung spora antraks. Sering terjadi pada 
pekerja pengumpul wool. Dimulai setelah masa inkubasi 1 - 6 hari dengan gajala 
yang tidak khas seperti lesu, lelah, nyeri otot dan demam. Mungkin juga batuk 
yang kering dan rasa tidak nyaman pada dada. Kemudian disusul dengan sesak 
nafas dan nyeri dada yang hebat. Kematian dapat terjadi secara mendadak karena 
lumpuhnya otot pernafasan oleh toksin antraks. Angka kematian akibat antraks 
inhalasi sekitar75 %. Bahkan antraks jenis ini sering terjadi pada daerah 
perang yang menggunakan antraks sebagai senjata biologis untuk melawan musuh.

Ketiga, antraks gastrointestinal (saluran pencernaan). Terjadi bila orang 
mengonsumsi daging yang terkontaminasi kuman antraks. Masa inkubasi 2-5 hari. 
Pasien akan merasa sakit tenggorokan, demam nyeri menelan, mual dan muntah 
kemudian menjadi nyeri perut yang sangat hebat yang dapat disertai muntah darah 
dan diare. Angka kematian pada antraks gastrointestinal sampai 60 %

Diagnosis

Diagnosis antraks baik pada hewan maupun manusia dapat ditegakkan berdasarkan 
adanya gejala klinis antraks pada hewan dan manusia, riwayat kejadian antraks 
di masa lalu, isolasi kuman bacillus anthracis dan pemeriksaan serologi di 
laboratorium.

Pengobatan dan pencegahan

Pengobatan antraks pada hewan maupun manusia memakai antibiotika dosis tinggi, 
biasanya obat pilihan adalah penisilin. Namun pengobatan akan berhasil baik 
apabila penyakit dalam tahap dini dengan gejala klinis ringan. Profilaksis 
dengan imunisasi aktif perlu juga diberikan pada pekerja risiko tinggi tertular 
antraks seperti pekerja di peternakan hewan, industri wool, kulit, atau tentara 
di daerah peperangan yang diduga menggunakan spora antraks sebagai senjata 
biologis.

Untuk pencegahan ada 4 pilar strategis yang bisa dilakukan antara lain (1). 
Pada daerah bebas antraks, dengan tindakan karantina berupa pelarangan masuknya 
hewan dari daerah tertular ke daerah bebas. (2). Pada daerah tertular antraks, 
dengan melakukan vaksinasi terhadap semua hewan. (3). Pada masyarakat yang 
mempunyai risiko tinggi tertular antraks, agar menggunakan perlengkapan kerja 
yang memadai, seperti penggunaan sepatu boot, dan sarung tangan pada peternak 
(4). Untuk masyarakat luas, diberi pengetahuan tentang sanitasi umum seperti : 
hewan yang mati karena antraks dilarang untuk disembelih dan dimakan, harus 
segera dikubur atau dibakar, dan kandang beserta semua perlengkapan harus 
disucihamakan.

Antraks merupakan salah satu penyakit yang sangat menular, menyebabkan kematian 
pada hewan maupun manusia secara cepat. Kuman antraks dengan ciridapat 
membentuk spora yang bertahan lama sampai 60 tahun di dalam tanah dan menyukai 
lingkungan tanah berkapur untuk siklus hidupnya, maka kita harus tetap 
mewaspadainya karena sewaktu-waktu antraks bisa muncul kembali. Untuk itulah 
pengetahuan serta tindakan pencegahan dan pengobatan sedini mungkin sangat 
penting pada penyakit ini.

* Penulis bertugas di RST Atambua

** Penulis bertugas di RSUD Atambua


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke