RIAU POS 13 Jumadil Awal 1428 Hijriah
TKI, Pasir, dan Wajah Negeri Jiran 29 Mei 2007 Pukul 09:16 Selain kasus-kasus TKI ilegal dianiaya majikan (biasanya non-Melayu), ternyata TKI-TKW legal terus direkrut pemerintah Singapura dan Malaysia karena memang mereka sangat diperlukan. Sampai sekarang, perusahaan-perusahaan perekrut jasa TKI-TKW terus meminta kuota sebanyak-banyaknya. Bahkan, Singapura kini menaikkan upah TKW 30 persen. Yan Syahrial, seorang agen TKW dari perusahaan PT Diarrama Persada, menyatakan, dirinya langsung ditelepon bos Singapura agar segera merevisi standar gaji TKW. Yang dulu tertulis 300 dolar Singapura, kini harus ditulis di form menjadi minimal 350 dolar Singapura. Di Malaysia minimal 450 RM dengan catatan, kini rancangan undang-undang perlindungan tenaga kerja sudah semakin menuju gol. Selain tuntutan sangat berani dari aktivis TKI di Malaysia yang risi karena sebutan "Indon" yang terasa merendahkan, kenyataannya, kalau kita menyaksikan ruang-ruang keberangkatan Bandara Juanda Jatim, Soekarno-Hatta Jakarta, pelabuhan laut Batam serta Dumai, serta perbatasan-perbatasan darat semacam Entikong-Tebeddu, ratusan TKI-TKW mengalir setiap hari tanpa jera ke negara tetangga. Sebab, memang permintaan pasar tenaga kerja tetap terbuka lebar. Lalu Lintas Selat Melaka Dengan demikian, lalu lintas Selat Malaka terus ramai sekarang. Di antaranya disumbang oleh lalu lintas TKI pergi pulang Indonesia-Singapura-Malaysia. Tentu, hal itu di luar lalu lintas para turis, pebisnis, serta para penengok keluarga antar negara, ketika kini semakin banyak orang Indonesia yang membeli apartemen di Singapura dan Johor. Sebaliknya, orang-orang Singapura dan Malaysia menyimpan istri muda mereka di Batam. Aromanya, memang yang dari Indonesia berangkat dari negeri miskin ke negeri maju dan kaya. Dari negeri jiran, mereka ingin bernostalgia membayangkan suasana negaranya ketika masih miskin ratusan atau puluhan tahun lalu. Balapan Maju Sejak kita naik feri dari pelabuhan Internasional Batam Centre, suasana memang sudah modern dengan bangunan yang cukup bermutu internasional. Perbedaannya, budaya yang mengitari pelabuhan itu masih budaya kampung, calo-calo yang licik dan dekil, sopir taksi yang lapar mangsa, dan sampah yang berserakan serta halaman yang becek dan tergenang air sebagai ciri khas Indonesia. Itu melanjutkan kemandekan dan keterbelakangan ekonomi Kepulauan Riau-Lingga seperti suasana abad-abad lalu seperti yang diceritakan dalam babad-babad tersebut. Begitu feri berlepas, sejurus kemudian di hamparan gelombang Selat Melaka, tampaklah sisa-sisa Pulau Kepri yang hampir tenggelam. Mengapa? Sebab, pasirnya sudah dikuras habis oleh tangan-tangan jahat yang bekerja sama dengan pengusaha bangsat. Di tengah laut, tampaklah kapal-kapal tongkang penuh pasir ribuan ton. Seperti sinetron saja runtutannya. Di perairan Singapura, tampaklah pasir itu dicurahkan, lalu digunakan menguruk daratan Singapura yang kini konon sudah bertambah maju 15 kilometer ke arah Indonesia. Sebaliknya, perbatasan Indonesia berkurang sembilan kilometer. Dari tengah laut, sudah tampak daratan Singapura yang berjubel gedung pencakar langit. Sebaliknya, memandang daratan Kepri, hanya tampak satu dua gedung setengah tinggi, selebihnya adalah semak-semak pohon dan hutan ilalang. Pertengahan 2007, daratan tambahan Singapura itu sudah bisa dijual. Sebab, beberapa apartemen supermewah dengan resor serta dunia fantasi yang dibangun di atas tanah urukan tersebut sudah diiklankan di koran-koran besar terbitan kota-kota besar Indonesia pada Maret dan April 2007. Sebentar lagi, tanah pasir yang dibeli agak mahal dari bumi Kepri itu sudah menuai keuntungan besar karena dijual supermahal kepada orang superkaya dari Indonesia juga. Lalu, feri akan bersandar di pelabuhan WTC Singapura yang superluks, sangat necis, dan kurang manusiawi karena sangat mekanis dan orang-orangnya seperti robot, bergerak selalu tergesa-gesa tanpa senyum. Kalau ada kelompok orang yang terlihat masih berbudaya santai dan menoleh kiri dan kanan, dipastikan mereka adalah turis atau TKI dan calon TKI dari Indonesia. Kalau feri terus menyusuri pantai Singapura sebelah kanan, yakni dekat Pelabuhan Udara Changi, dan terus menuju pelabuhan Setulang Laut, Malaysia, kini juga didapati pemandangan yang sama. Malaysia ikut-ikutan mengurug pantainya, sehingga celah laut menuju Setulang Laut semakin sempit saja. Sampai di Setulang Laut, Malaysia, pelabuhannya cukupan, tak lebih mewah daripada Batam. Tapi, kebersihannya terjaga. Budayanya juga sudah profesional dan tepat waktu. Seperti kebudayaan modern atau Barat. Masa Kini Masa lalu itu membayang pada masa kini. Negeri-negeri Selat yang fondasi kemajuannya dibangun Inggris tersebut kini terus dilanjutkan pembangunannya oleh para pemimpin yang bijak dan pro rakyat. Mereka kini semakin maju dan menjadi tujuan wisata maupun tujuan para TKI-TKW mengais rezeki, apalagi negara-negara itu sangat membutuhkan. Para TKI-TKW, jika masuk secara legal, mendapatkan jaminan pekerjaan dan kehidupan yang sangat layak. Sebaliknya, mereka yang masuk ilegal menjadi santapan calo yang banyak berkeliaran di berbagai sektor di negeri salah kaprah RI.(jpnn) Viddy AD Daery, peminat masalah Singapura dan Malaysia [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
