http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/062007/07/0903.htm
Kesombongan Pernah Menghancurkan Negara-negara Arab PERANG Enam Hari merupakan perang antara Arab melawan Israel, bulan Juni 1967. Disebut enam hari karena memang hanya berlangsung dari tanggal 3 sampai 8 Juni, ketika pesawat-pesawat tempur Israel menghancurkan seluruh skuadron udara Mesir langsung di landasannya sendiri. Diikuti gerakan pasukan infanteri menyerang Gurun Sinai, Dataran Tinggi Golan, dan Tepi Barat Sungai Yordan. Perbatasan konvensional Jerusalem, yang membelah kota tua itu menjadi barat (dikuasai Israel sejak perang pertama, Mei 1948), dan timur (dikuasai Yordania), jebol. Para pengikut Zionis fanatik menganggap Perang Enam Hari (Milhemet Sheshet Ha-Yamim), sebagai kemenangan utama, karena berhasil mempersatukan kembali Jerusalem. Perluasan wilayah ke Sinai, Golan, dan Tepi Barat hanya sekadar dampak dari keharusan melindungi Jerusalem sebagai ibu kota abadi Eretz Yisrael (Israel Raya). Tanggal 8 Juni, perang dianggap selesai. Negara-negara Arab peserta perang mengibarkan bendera putih. Sedangkan Israel mendongakkan kepala ke langit. Menunjukkan suatu bentuk keangkuhan untuk membuktikan diri sebagai Bangsa Terpilih di muka bumi. Hanya enam hari! Sungguh sangat mengejutkan. Para pemimpin dan seluruh bangsa Arab termangu bingung. Bagi mereka, Harbul Ayyamus sitta, perang yang cuma berlangsung enam hari dengan kerugian berlipat ganda, mulai dari kehilangan wilayah seluas 400 km persegi di kawasan-kawasan strategis Mesir (Sinai), Suriah (Golan), dan Yordania (Tepi Barat), pasukan dan alat-alat tempur, serta yang terpenting harga diri. Bertahan Para pengamat Timur Tengah mempertanyakan, mengapa tahun 1948, untuk menggagalkan proklamasi Israel, pasukan Liga Arab mampu menyerang dan bertahan 6 bulan melawan Israel yang dibantu para veteran Perang Dunia II, tahun 1956 ketika menghadapi krisis Suez, mampu bertahan 6 pekan. Akan tetapi, pada perang Juni 1967, dengan persenjataan lengkap serta modern, hanya mampu bertahan 6 hari? Ternyata, menurut para tokoh kritis, baik di Mesir maupun Arab Saudi, kekalahan itu bersumber dari ketidaksiapan mental bangsa Arab sendiri. Mereka yang terbiasa berperang menggunakan senjata-senjata tradisional, tidak dapat beradaptasi dengan peralatan modern serbacanggih dan serbaotomatis. Terjadilah gagap teknologi. Militer Arab, mulai dari panglima hingga prajurit, sangat memercayai keampuhan senjata-senjata perang mutakhir buatan Uni Soviet. Sehingga mereka berkeyakinan, tanpa disentuh dan dikendalikan manusia, senjata-senjata itu akan beroperasi sendiri melawan musuh. "Maka jangan heran, jika satu jam sebelum serangan udara Israel, masih ada pilot pesawat tempur Mesir terlelap tidur. Ketika bangun, ia melihat pesawat yang dibangga-banggakannya telah hancur berkeping-keping," tulis Muhammad al Ghazali dalam bukunya Li Madza Filistiniya? (1974). Muhammad al Gazhali, dan rekan-rekannya, seperti Muhammad Qutub, Yusuf al Qardhawi, adalah oposisi Mesir. Mereka ditangkapi oleh rezim Presiden Gamal Abdul Nasher, beberapa saat menjelang perang, karena dianggap mengganggu konsentrasi pemerintah. Padahal kritik-kritik mereka justru diharapkan menyadarkan rakyat dan pemerintah Mesir agar jangan terlalu percaya diri, serta terlalu percaya kepada para penasihat militer Uni Soviet. Bagaimanapun, demikian ungkap al Ghazali dan kawan-kawan, orang-orang Uni Soviet itu secara ideologis lebih dekat kepada Zionis Israel daripada kepada bangsa Arab yang notabene Muslim. Buktinya, 450 pesawat tempur AU Mesir yang semuanya buatan Uni Soviet MIG 21 dan Tu-16 ditempatkan di kawasan terbuka, tanpa penyamaran dan tanpa perlindungan. Tidak heran, jika pesawat-pesawat tempur Israel, yang dibantu foto satelit pesawat mata-mata Amerika Serikat, sangat mudah menjadikannya sebagai sasaran tembak. Kesombongan Terlalu percaya diri yang membuahkan kesombongan itu, tampak dari siaran-siaran propaganda radio Timur Tengah. Muhammad Natsir, tokoh Islam Indonesia yang menjadi anggota Rabithah Alam Islami, dalam bukunya Masalah Palestina (1970) mengungkapkan, betapa orang Arab telah kehilangan nalar sehat. Mereka merasa jadi makhluk paling digdaya, dan menganggap Israel hanya seekor serangga. Natsir mengutip isi siaran propaganda Radio As Shautul Arab (Suara Arab), 2 Juni 1967: "Kita ini pasukan malaikat langit yang tidak mungkin dikalahkan pasukan mana pun di muka bumi. Jumlahnya banyak, persenjataannya lengkap. Bahkan malaikatulmaut pun tidak akan mampu mengganggu kita. Apalagi Zionis Israel yang tidak lebih dari sekumpulan nyamuk. Mereka akan musnah hanya sekali tepuk!" Kekalahan Perang Enam Hari sempat sedikit terobati pada Oktober 1973. Perang Ramadan yang dikobarkan Presiden Mesir Anwar Sadat, berhasil merebut benteng Bar Lev di Gurun Sinai dan membuat Israel kocar-kacir dan frustrasi. Akan tetapi, Israel segera bangkit. Melakukan serangan balik mematikan. Gejala Perang Enam Hari mulai tampak setelah infanteri Israel merebut Kota Iskandariah (Alexandria) dan memotong jalur distribusi logistik ke Sinai. Juga merebut kembali beberapa posisi pertahanan di dataran tinggi Golan. Di tengah keadaan amat gawat, Raja Saudi Arabia, Faizal bin Abdul Aziz mengambil tindakan tegas. Embargo minyak bumi untuk Amerika Serikat dan Eropa, yang terang-terangan membantu Israel. Padahal, sesungguhnya Arab menderita kerugian besar. Pertama-tama, Raja Faisal yang heroik dan patriotik dibunuh oleh keponakannya sendiri yang diperalat Mossad (1975). Kedua, Mesir dikucilkan oleh negara-negara Arab yang tidak mau mengakui kedaulatan Israel. Bahkan kemudian, Anwar Sadat, pahlawan Perang Ramadan tewas ditembak oleh anggota pasukan kehormatan Republik Mesir, ketika sedang memperingati 10 tahun kemenangan perang itu. Mengenang 40 tahun kekalahan Arab di medan Perang Enam Hari, sekelompok generasi muda Muslim dari berbagai negara, melakukan renungan singkat di pelataran Masjidilharam, Mekah, awal Juni kemarin. Semacam muhasabah (koreksi diri). (H. Usep Romli H.M., dari berbagai sumber)*** [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
