Refleksi: Lain lubuk lain ikannya. Lain filsafah lain pula penilaiannya. Apakah 
bukan penghianan bila SBY, mantan Jenderal dan doktor mau belajar pada petani 
coca bernama Morales atau  mantan tukang sikat sepatu bin buruh kasar bernama 
Lula?

 Untuk melakukan perubahan masyarakat harus diketahui ilmu perubahan masyarakat 
serta dedikasi pengabdian kepada rakyat berkebidupan senin kemis. Tanpa bekal 
ini tak mungkin ada perubahan fundamental  perbaikan hidup memada yang 
didengungkan. Dimana bisa belajar ilmu tsb?

http://www.suarapembaruan.com/News/2007/06/07/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 
Morales, SBY, dan Nagabonar
Oleh Usep Setiawan 

Mata dunia kini tertuju ke Bolivia karena keberanian Presiden Evo Morales 
melancarkan reforma agraria yang berintikan tanah, minyak, dan gas, untuk 
rakyatnya di saat globalisasi kapitalisme menderas. Morales bak Nagabonar yang 
sukses "mencopet" kekayaan negerinya dari tangan asing bagi kepentingan bangsa 
dan negaranya. 

Seorang sahabat berkirim pesan singkat; "Bolivia hari ini, Indonesia tahun 
1957. Bolivia hari ini, Indonesia masa depan. Rengkuhlah hari ini, Bolivia!" 
Inspirasi Bolivia penting direfleksikan bagi agenda nasional kita. 

Kesuksesan Morales menasionalisasi migas merupakan bukti keberhasilan 
membumikan sosialisme dalam nyata, bukan hanya retorika. Nasionalisasi 
perusahaan asing di Bolivia tak sekadar mengalihkan kepemilikan, tetapi 
bertujuan memperbaiki kehidupan rakyat banyak. Morales mewujudkan sosialisme 
dengan menciptakan pekerjaan, menghapus kemiskinan, menghilangkan kesenjangan 
pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. 

Sejumlah pihak mendesak Presiden Yudhoyono untuk "belajar" kepada Morales. 
Ketika agenda pemerintah dalam mengurangi kemiskinan dan pengangguran masih 
kusut, Yudhoyono sebaiknya menjadikan Morales sebagai rujukan etis dan model 
kebijakan nasionalisasi migas serta kekayaan alam lain. Yudhoyono diminta 
membuat gebrakan mendasar untuk mengembalikan kekayaan alam yang telah puluhan 
tahun dikuasai asing agar kembali dikuasai negara untuk digunakan bagi 
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Dasar konstitusionalnya, Yudhoyono dapat 
mencantolkan diri pada Pasal 33 (3) UUD 1945. 

Desakan itu sampai sekarang belum direspons Yudhoyono. Indonesia membutuhkan 
jalan baru seperti ditempuh Bolivia. Nasionalisasi migas dan redistribusi tanah 
bagi rakyat miskin mesti diyakini tidak akan menghilangkan kepercayaan negara 
lain kepada kita. Keberanian kita menegakkan kedaulatan atas kekayaan adalah 
bukti tingginya kualitas kebangsaan kita, tanpa bermaksud mengisolasi diri dari 
pergaulan antarbangsa. 

Tampaknya kita perlu menyegarkan kembali keyakinan kolektif bangsa atas 
ideologi nasional yang melandasi kebangkitan nasional kita. Apalagi sampai saat 
ini kita seperti terus saja gamang dan terus mencari working-ideology sebagai 
kompas pemandu arah perjalanan bangsa ke depan. 

Pendiri republik mewariskan ajaran "Sosialisme Indonesia" sebagai rumusan asli 
yang digali dari budaya sendiri dan diabdikan bagi kaum lemah karena dilemahkan 
oleh sistem dan struktur sosial-ekonomi-politik produk kolonial. Bagi pendiri 
republik ini, sosialisme Indonesia dianggap jalan yang paling tepat dianut dan 
ditempuh bangsa yang telah dua abad dicengkeram kolonialis-imperialis asing. 

Sosialisme Indonesia bukanlah sekadar sosialisme yang jamak diterapkan negara 
lain. Sosialisme Indonesia bukanlah komunisme, tapi bersarikan antikapitalisme 
asing maupun kapitalisme bangsa sendiri. Kapitalisme menjadi musuh bersama 
karena ia tak ubahnya ibu kandung kolonialisme- imperialisme, yang terbukti 
menindas dan mengisap. Penindasan dan pengisapan inilah yang hendak kita kubur 
dari Bumi Nusantara. 

Kristalisasi dari semangat mewujudkan nasionalisme dan sosialisme Indonesia 
bagi bangsa ini bermuara pada sebuah konsensus nasional tertinggi yang 
dipantulkan secara utuh dalam lima sila dasar negara, yakni: Ketuhanan, 
Kemanusiaan, Kebangsaan, Kerakyatan, dan Keadilan. Oleh Bung Karno, rangkuman 
dari kelima nilai luhur itu kemudian diistilahkan sebagai Pancasila. Sebegitu 
sakralnya Pancasila, sejak kecil kita ditanamkan untuk menempatkan Pancasila 
sumber dari segala sumber hukum. 

Sepanjang Orde Baru berkuasa, Pancasila diangkat ke langit tinggi sehingga 
mengalami sakralisasi ideologi tapi kering-kerontang dalam realisasi praktis 
bernegara. Penataran Pedoman, Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) 
bukannya menjadi metoda pencerahan anak bangsa, malah terjerumus menjadi alat 
penjinakan dan pengendalian potensi kritis warga negara di tengah tingkah rezim 
otoriter dan totaliter. 

Sejauh ini, kita masih berkeyakinan tak ada soal dengan isi Pancasila itu. 
Hanya saja kerap kali kedodoran dan inkonsistensi pengamalannya dalam praktik 
kehidupan berbangsa-bernegara sehari-hari. 


Keadilan Sosial 

Orientasi sosial dalam konteks sosiologis Indonesia sebagai negeri agraris, 
oleh pendiri Republik dipahatkan dalam Konstitusi 1945 yang memastikan 
penguasaan negara atas bumi, air, ruang angkasa dan segala isinya, sebagai 
mekanisme untuk mencapai tujuan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat (Pasal 33, 
ayat 3). 

Pasal ini diturunkan secara konsisten dalam UU No 5/1960 tentang Peraturan 
Dasar Pokok Agraria (UUPA): "...Pemerintah dalam rangka sosialisme Indonesia, 
membuat suatu rencana umum mengenai persediaan, peruntukan dan penggunaan bumi, 
air dan ruang angkasa serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya" (Pasal 
14). 

Sekalipun kuasa negara ditinggikan dalam hukum agraria, namun hak milik 
individu dan hak komunal/kolektif masyarakat tetap diakui. Pasal 16 UUPA 
mengakui hak milik sebagai salah satu jenis hak. Bahkan Pasal 20 (ayat 1) 
menyatakan: "Hak milik adalah hak turun-menurun, terkuat dan terpenuh yang 
dapat dipunyai orang atas tanah, dengan mengingat ketentuan dalam Pasal 6". 
Pasal 6 memagari: "Semua hak atas tanah mempunyai fungsi sosial". 

Karena keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dewasa ini masih berupa 
asa, maka langkah strategis yang patut diambil Indonesia ialah melaksanakan 
reforma agraria. Pilihan strategi yang ditempuh Evo Morales di Bolivia saat ini 
dan Bung Karno di Indonesia masa lalu, hendaknya menginspirasi kebangkitkan 
nasionalisme dan sosialisme Indonesia baru. Reforma agraria sejati plus 
nasionaliasi aset bangsa sebagai salah satu agenda strategis bangsa hendaknya 
dijauhkan dari stigma "kiri" atau "kanan" karena kita telah bulat menggenggam 
teguh Pancasila dalam pikiran, ucapan dan tindakan. 

Presiden Yudhoyono sudah saatnya berbahasa lebih terang dalam merealisasikan 
reforma agraria sebagaimana dijanjikan akan dimulai tahun 2007 ini. Di saat 
yang sama, Presiden sebagai Panglima Tertinggi TNI harus mengendalikan seluruh 
jajaran tentara agar tak lagi menjadi pihak yang berhadapan dengan rakyat dalam 
kasus tanah. Kekerasan aparat yang terjadi 30 Mei 2007 di Pasuruan Jawa Timur 
hingga menewaskan empat warga, harus menjadi tragedi yang terakhir. 

Walaupun Jenderal Yudhoyono bukan "Jenderal" Nagabonar, tapi ada perlunya 
Yudhoyono bercermin dari gaya Nagabonar dalam mempertahankan nasionalismenya 
yang sering kali menghentak tak terduga. 

Dalam Nagabonar Jadi 2 garapan Dedy Mizwar, Nagabonar menolak dan marah besar 
ketika Bonaga, sang anak Nagabonar, berniat melego tanah leluhur yang di 
dalamnya ada makam keluarga mereka kepada investor asing. 

Saat globalisasi menderas, kita harus menyelamatkan jati diri kebangsaan kita. 
Saat kapitalisme menggurita, segera kita amalkan sosialisme Indonesia 
(Pancasila). Jika terlambat berbenah, celoteh Nagabonar: "Apa kata dunia?!" 


Penulis adalah Sekjen Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) 


Last modified: 7/6/07 

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke